Tiga minggu menjadi suami yang sempurna, Bram menemukan bahwa akting terbaik bukanlah berlebihan — melainkan persis seperti biasa, ditambah lima persen kehangatan.
Lima persen itu perhitungannya matang. Terlalu hangat akan membuat Tiara curiga; persis sama akan membuang peluang. Maka ia menambahkan detail-detail kecil: pulang membawa kue favorit istrinya setiap Selasa, mengirim pesan singkat di tengah rapat, mengusap punggung tangan Tiara saat makan malam. Detail-detail yang membuat seorang istri merasa aman — dan perempuan yang merasa aman adalah perempuan yang lengah.
'Akhir-akhir ini kamu perhatian banget,' kata Tiara suatu malam, menyandarkan kepala ke bahunya di sofa. 'Kok tiba-tiba?'
'Baca artikel,' jawab Bram, mengeklik remot televisi. 'Katanya pernikahan tahun kelima rawan. Aku tidak mau jadi statistik.'
Tiara tertawa kecil dan memeluk lengannya. Di dadanya, Bram merasakan kehangatan tubuh istrinya seperti merasakan es batu. Tetapi wajahnya — wajahnya tetap wajah suami yang tersanjung.
Di akhir pekan ketiga, ia menjalankan bagian rencana yang paling halus: kecerobohan yang disengaja.
Jumat malam, Bram 'bekerja' di meja kerja rumah sampai larut — meja yang sama yang dulu difoto Tiara. Di atasnya, terbuka lebar, map merah bertuliskan *SANGAT RAHASIA: Proyek Cakrawala — Analisis Internal*. Isinya adalah mahakarya fiktif yang disusun Bram bersama dua analis paling senior: sebuah proyek kawasan komersial dengan proyeksi keuntungan empat ratus persen, titik masuk yang tampak terbuka, dan — kunci utamanya — asumsi harga tanah yang salah total. Siapa pun yang membeli tanah berdasarkan dokumen ini akan membeli di atas harga pasar tiga kali lipat.
Sabtu pagi, Bram berpamitan golf — kebiasaan yang tidak pernah berubah — dan 'lupa' membawa map merah itu. Ia meninggalkannya terbuka di meja kerja, dengan laptop dalam keadaan tidak terkunci.
Ia tidak perlu menunggu lama. Senin pagi, Maira masuk ke ruang kerjanya dengan secarik kertas.
'Ikan menyambar.' Maira meletakkan kertas itu. 'Bimasakti Group baru saja mengajukan penawaran resmi untuk lahan di Ceger — persis lokasi fiktif di dokumen umpanmu. Penasihat mereka bahkan memakai frasa yang sama dengan analisis palsumu. *Potensi pengembangan terintegrasi berorientasi transit.* Tidak ada orang kedua di negeri ini yang menulis frasa itu.'
Bram membaca kertas itu, lalu menyandarkan punggung ke kursi.
Istrinya memotret map merah itu di akhir pekan dan mengirimkannya ke kekasih gelapnya. Saluran itu masih mengalir — dan sekarang, saluran itu membawa racun yang Bram racik sendiri.
'Radit akan membeli lahan itu,' kata Maira. 'Tiga kali harga pasar. Dia akan mengikat ratusan miliar dalam tanah yang salah.'
'Biarkan dia membeli.' Bram menatap langit-langit. 'Biarkan dia merasa menang dulu. Orang yang merasa menang tidak memeriksa angka dua kali.'
Malam itu, di rumah, Tiara menyambutnya dengan kabar gembira palsu: 'Aku dapat voucher spa dua minggu dari teman! Jadi akhir minggu depan aku menginap di tempat Mama ya, sekalian spa.'
Pola itu. Pola yang nanti dibuktikan audit forensik: setiap 'pulang ke rumah Mama' berarti apartemen Radit di Kuningan.
'Boleh saja, Sayang.' Bram tersenyum dari balik koran. 'Kamu memang jarang istirahat. Nikmati spanya.'
'Kamu nggak kesepian?'
'Aku ada kerjaan menumpuk kok.' Bram membalik halaman korannya. 'Oh ya — soal spa itu, jangan pakai kartu kredit. Pakai rekening pribadimu saja. Aku lagi merapikan laporan keuangan keluarga, biar bersih untuk audit akhir tahun.'
Tiara mengangguk tanpa membaca jebakan kecil itu. Setiap rupiah yang keluar dari rekening pribadinya sekarang tercatat, terpisah, terdokumentasi — Maira yang mengaturnya.
Malam itu, ketika Tiara tertidur, Bram berdiri di jendela kamar menghadap taman yang gelap.
Tiga minggu akting, dan ia sudah memetakan istrinya lebih dalam dari lima tahun pernikahan: kapan ia berbohong (selalu sambil menyentuh rambut), kapan ia menyembunyikan sesuatu (selalu terlalu manis), dan kapan ia merasa menang (selalu memasak makanan favorit Bram, seolah memberi upeti kepada berhala).
Baiklah, Tiara. Masaklah untuk berhalamu.
Dewa yang kamu sembah sedang menulis kitab hukumanmu.