Hari pengumuman tender kawasan Senen Raya menjadi hari yang ditunggu seluruh dunia properti ibu kota. Nilai proyeknya satu koma dua triliun. Dua finalis: Grup Adiwangsa dan Bimasakti Group — seperti dua tahun terakhir, dua nama yang selalu berhadapan di meja final.
Bram datang ke Kementerian dengan tim kecil dan dokumen yang ia susun sendiri sampai halaman terakhir. Kali ini tidak ada satu lembar pun yang melewati meja kerja rumahnya. Kali ini istrinya hanya tahu bahwa suaminya 'ikut tender kecil-kecilan'.
Di ruang tunggu, Radit menyapanya dengan pelukan hangat seperti sahabat lama.
'Bram! Lama nggak ketemu di luar meja tender. Tiara sehat?'
Sebelas tahun pertemanan, dan lelaki itu bisa menyebut nama istri Bram sambil tersenyum penuh hormat. Bram memeluknya balik, menepuk punggungnya, dan mengagumi — sungguh mengagumi — kualitas akting lawannya. Hampir sama bagusnya dengan miliknya sendiri.
'Sehat. Sibuk spa, kamu tahulah perempuan.' Bram tertawa ringan. 'Kamu sendiri gimana? Dengar-dengar Bimasakti baru beli lahan besar di Ceger. Langkah berani.'
Sesuatu berkedip di mata Radit — kemenangan kecil yang disembunyikan buru-buru. 'Investasi strategis. Kami yakin lokasi itu masa depan.'
'Aku juga dengar begitu,' kata Bram ramah. 'Semoga beruntung di dalam, ya.'
'Amin. Semoga yang terbaik yang menang.'
Yang terbaik memang menang. Empat jam kemudian, Grup Adiwangsa dinyatakan sebagai pemenang tender Senen Raya dengan penawaran yang lebih efisien dua belas persen — karena Bimasakti, yakin sudah tahu angka lawannya, menawar dengan struktur biaya yang dikopy dari dokumen umpan: penuh margin bantalan untuk risiko-risiko fiktif yang tidak pernah ada.
Radit keluar dari ruang evaluasi dengan wajah yang dipaksa netral. Bram menjabat tangannya di koridor.
'Lain kali, kawan,' kata Radit, masih tersenyum.
'Kamu kuat, pasti bangkit lagi.' Bram menepuk lengannya. 'Lahan Ceger itu masih simpanan bagus untukmu.'
Malamnya, Bram membawa pulang bunga dan sebotol anggur untuk merayakan kemenangan tender bersama istri. Tiara memasakkan hidangan spesial, menuang anggur, dan bersulang untuk 'suamiku yang luar biasa'. Sepanjang malam, perempuan itu tampak tulus berbahagia — dan sepanjang malam itu pula, ponsel utamanya beberapa kali bergetar dan beberapa kali pula ia balik menghadap meja.
Bram tidak bertanya. Ia sudah tahu siapa yang menelepon: kekasih gelap yang baru saja kehilangan tender satu triliun lebih karena angka-angka yang dikirim istrinya ternyata sampah.
Betapa ironis, pikir Bram sambil memotong steaknya. Dia menghukumku atas kekalahan kekasihnya, di meja makan kemenanganku.
Besoknya, dari laporan Maira, Bram membaca ulang kronologi yang tersusun dari sisi lain: Bimasakti Group panik. Lahan Ceger yang mereka beli tiga kali harga pasar ternyata terkendala status tanah — sengketa waris yang tidak pernah selesai, informasi yang dengan mudah ditemukan siapa pun yang melakukan uji tuntas sepuluh menit. Tetapi Radit tidak menguji tuntas. Ia percaya pada 'analisis internal Adiwangsa' yang bocor ke tangannya — percaya sepenuhnya pada mata-matanya.
Ratusan miliar rupiah Bimasakti kini terkubur di tanah sengketa.
'Radit akan mulai berhati-hati,' kata Maira. 'Atau sebaliknya: dia akan semakin bergantung pada saluran rahasianya, karena sekarang dia butuh kemenangan besar untuk menutup lubang Ceger.'
'Dia akan memilih yang kedua.' Bram mengenal sahabatnya lebih baik dari siapa pun. 'Radit itu penjudi yang kalah, Maira. Penjudi yang kalah tidak berhenti — dia menggandakan taruhan.'
'Dan istrimu?'
Bram terdiam sejenak, menatap foto pernikahan di mejanya. 'Istriku akan terus mengirimkan apa pun yang aku tinggalkan di meja kerja. Karena dia tidak punya alasan untuk berhenti. Baginya, aku adalah lelaki bodoh yang mencintainya — dan kebodohan itu, menurutnya, tidak punya tanggal kedaluwarsa.'
Ia menutup laporan itu.
'Siapkan umpan kedua. Lebih besar dari yang pertama. Kali ini bukan tanah — kali ini sebuah akuisisi.'