Laporan lengkap itu tiba di akhir minggu keempat, diantar langsung oleh detektif swasta bernama Pak Hendro — lelaki pensiunan kepolisian yang direkomendasikan Maira — dalam dua map tebal di atas meja kerja Bram.
Map pertama: perselingkuhannya. Foto-foto dengan tanggal dan jam: Tiara dan Radit di lobi apartemen Kuningan, di parkiran sebuah restoran di Sentul, di balkon kamar hotel di Bali — dua tahun ke belakang, tertata kronologis seperti buku tahunan yang memuakkan. Rekaman resepsionis yang mengenali 'pasangan langganan'. Struk makan malam bertanda tangan Radit dengan inisial yang sama yang muncul di ponsel kedua itu.
Map kedua: kebocorannya. Hasil audit forensik digital yang dipesan lewat konsultan keamanan independen — log akses server perusahaan, perbandingan dokumen penawaran Bimasakti dengan dokumen internal Adiwangsa, dan satu tabel yang membuat Bram menatapnya sangat lama:
Setiap kebocoran besar terjadi dalam empat puluh delapan jam setelah Tiara 'pulang ke rumah orang tuanya'. Tujuh kali dalam dua tahun. Tujuh dari tujuh.
'Dua tahun,' kata Bram pelan. 'Sejak tahun ketiga pernikahan kami.'
Pak Hendro berdehem. 'Maaf, Pak. Biasanya klien tidak mau tahu detail awalnya.'
'Aku justru harus tahu awalnya.' Bram menatap foto pertama di seri itu — Tiara tertawa di meja makan restoran, tangannya digenggam Radit, tanggalnya dua bulan sebelum ulang tahun pernikahan ketiga mereka. 'Aku harus tahu di titik mana aku kehilangannya, supaya aku yakin tidak ada yang bisa diselamatkan.'
Pak Hendro menimbang-nimbang, lalu menjawab dengan hati-hati seperti orang menyampaikan hasil autopsi. 'Dari hasil kami, Bu Tiara dan Pak Radit sudah saling kenal sejak sebelum pernikahan Bapak — satu lingkaran pertemanan kampus. Hubungan mereka... tidak pernah benar-benar putus. Hanya sempat jeda.'
Tidak pernah benar-benar putus.
Kalimat itu duduk di dada Bram seperti batu. Artinya, sejak hari pernikahannya — hari ketika Radit berdiri di sampingnya sebagai saksi, tersenyum, menjabat tangannya — semuanya sudah cacat. Bukan pernikahannya yang rusak di tengah jalan. Pernikahannya lahir sudah rusak, dan ia merayakannya lima tahun seperti orang merayakan rumah yang fondasinya berongga.
Malam itu Bram tidak pulang sampai larut. Ia menyetir keliling kota tanpa tujuan, melewati tempat-tempat dari lima tahun hidupnya: restoran lamaran, gedung resepsi, apartemen pertama mereka. Semua lokasi itu kini terlihat seperti panggung sandiwara yang lampunya sudah dimatikan.
Ia berhenti di bahu jalan layang yang sepi, dan untuk pertama kalinya sejak lampu merah Sudirman, ia membiarkan dirinya merasakan semuanya. Bukan marah — marah sudah lewat. Melainkan kesedihan yang sangat dalam dan sangat sunyi: kesedihan seorang lelaki yang mencintai dengan utuh kepada orang yang tidak pernah ada.
Kesedihan itu berlangsung satu jam penuh. Bram menghitungnya di jam dasbor, seperti ia menghitung segalanya.
Lalu ia menyeka wajahnya, menyalakan mesin, dan kembali menjadi senjata.
Di rumah, Tiara sudah tidur. Bram masuk ke kamar kerjanya, membuka brankas, dan menata dua map bukti itu di samping dokumen perusahaan. Di depannya, kertas rencana berikutnya menunggu — umpan kedua yang sedang ia rancang: sebuah akuisisi fiktif bernama *Proyek Arunika*, pengambilalihan jaringan hotel yang 'akan mengubah peta industri' dan 'menelan dana delapan ratus miliar'.
Umpan ini lebih besar dari Cakrawala. Cukup besar untuk membuat Bimasakti Group mempertaruhkan seluruh isi dadanya.
Bram menulis satu catatan kecil di sudut rencana itu, kebiasaan lamanya sejak mahasiswa:
*'Penjudi yang kalah akan menggandakan taruhan. Beri dia meja yang tidak bisa ia tinggalkan.'*
Ia mematikan lampu kamar kerja, berjalan menyusuri lorong yang gelap, dan masuk ke kamar tidur dengan langkah seorang suami yang tidak tahu apa-apa.
Di ranjang, Tiara bergerak dalam tidurnya, bergumam pelan, dan tangannya mencari tangan Bram seperti biasa.
Bram membiarkan tangan itu menggenggam tangannya. Ia bahkan menggenggamnya balik — lima persen lebih hangat, sesuai takaran.
'Besok aku ada rapat panjang,' bisiknya dalam gelap, seolah istrinya mendengar. 'Mungkin pulang malam.'
'Mm,' gumam Tiara dalam tidur.
Bram menatap langit-langit dan tersenyum pada kegelapan.
Tidur yang nyenyak, Sayang. Besok aku mulai membangun meja judi untuk kekasihmu — dan kamu yang akan mengantarkan chip-nya ke tangannya, seperti biasa, tanpa pernah tahu bahwa bandar di meja itu adalah suamimu sendiri.