Tekanan itu datang lewat jalur paling halus: makan malam ulang tahun ayah mertua.
Keluarga Tiara berkumpul di rumah besar di Menteng — meja panjang, lilin, dan doa bersama. Bram duduk di samping istrinya sebagai menantu idaman: sopan, murah senyum, membawakan hadiah lukisan yang langsung dipuji semua orang. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa di saku jasnya tersimpan salinan foto-foto yang bisa membakar meja makan ini dalam lima menit.
Baru setelah kue dipotong, Tiara melempar bolanya — pelan, di sela obrolan, seolah spontan.
'Sayang, Papa tadi nanya. Katanya... kenapa Adiwangsa nggak lepas sebagian sahamnya ke investor strategis? Kata Papa, perusahaan yang terlalu padat modal sendiri itu berisiko.'
Bram menyeruput tehnya. 'Papa bilang begitu?'
'Iya. Dan... aku juga kepikiran sih.' Tiara meraih tangannya di bawah meja, jurus andalannya. 'Kamu kerja terlalu keras, Bram. Kalau ada investor masuk, bebanmu berkurang. Kita bisa lebih sering liburan. Aku kangen kita yang dulu.'
Bram menatap mata istrinya dan membaca kalimat yang tidak diucapkan, sejelas membaca laporan keuangan: *Radit butuh jalan masuk.* Setelah kekalahan Senen Raya dan kuburan tanah Ceger, Bimasakti butuh sesuatu yang lebih dalam dari bocoran dokumen — mereka butuh kaki di dalam struktur kepemilikan Adiwangsa. Dan 'investor strategis' adalah pintu yang paling sopan.
'Papa memang selalu melihat risiko dengan baik,' jawab Bram hangat. 'Kebetulan aku juga sedang mempertimbangkan restrukturisasi. Nanti aku pelajari ya, Sayang. Kalau memang bagus untuk kita, kenapa tidak?'
Tiara tersenyum menang. Di seberang meja, ayah mertuanya mengangguk puas. Bram tersenyum balik kepada semuanya, dan mencatat dalam hati: umpan kedua baru saja mendapatkan panggungnya. Mereka sendiri yang memintanya.
Seminggu kemudian, Bram 'mengambil saran' istrinya — dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.
'Tanda tangani ini hari ini,' kata Maira di kantornya, menyodorkan tumpukan dokumen. 'Enam puluh persen saham pribadimu dipindahkan ke yayasan keluarga yang baru dibentuk, dengan pengawas tiga orang yang kupilih sendiri. Struktur barunya: tidak ada satu lembar saham pun yang bisa dijual tanpa persetujuan tertulis ketiganya. Kalau istrimu menekanmu menjual, kamu secara hukum *tidak bisa* — bukan tidak mau.'
'Dan dari luar?'
'Dari luar terlihat seperti efisiensi pajak waris. Lumrah untuk orang sekaliber kamu.' Maira melepas kacamatanya. 'Tapi Bram, langkah ini akan terasa olehnya. Kamu menutup pintu yang sedang ia gedor.'
'Justru itu tujuannya.' Bram menandatangani lembar demi lembar. 'Radit sedang lapar. Aku ingin melihat apa yang dia suruh Tiara lakukan ketika pintu sopan tertutup. Orang yang kehabisan pintu sopan mulai memakai jendela — dan jendela selalu lebih berisik.'
Benar saja. Malam-malam berikutnya, rumah itu mulai berubah suhu.
Tiara mencoba pendekatan baru: manja berlebihan, lalu merajuk, lalu — ketika keduanya gagal menggerakkan Bram — argumen-argumen bisnis yang terlalu teknis untuk seorang istri yang 'tidak mengerti perusahaan'. Bram mendengarkan semuanya sambil tersenyum sabar, dan di kepalanya mencatat setiap kata yang jelas bukan kosakata istrinya: *dilusi kepemilikan*, *likuiditas ekuitas*, *kursi dewan penasihat*. Kata-kata itu punya satu guru, dan guru itu bernama Radit.
'Kamu berubah,' kata Tiara suatu malam, akhirnya meledak kecil di kamar. 'Dulu kamu selalu diskusi sama aku soal perusahaan. Sekarang semuanya sudah kamu putuskan sendiri. Yayasanlah, pengawaslah. Aku ini istrimu atau bukan?'
Bram menutup buku yang sedang ia baca, menatap istrinya dengan ekspresi terluka yang ia latih selama berminggu-minggu di cermin.
'Kamu istriku,' katanya lembut. 'Justru karena itu aku melindungi perusahaan ini. Kalau sesuatu terjadi padaku besok, yayasan itu yang menjamin hidupmu seumur hidup. Aku menyusunnya sambil memikirkanmu, dan kamu marah?'
Tiara terdiam — dipukul oleh logika yang tidak bisa ia lawan tanpa membuka kedoknya sendiri.
'Makanya,' lanjut Bram, menarik selimut dan mematikan lampu sisinya, 'tidak usah khawatir soal saham. Aku yang pikirkan. Kamu cukup jadi istri yang tenang.'
Dalam gelap, Bram mendengar istrinya berbaring gelisah di sisinya — menghitung, memutar otak, mencari jendela.
Tidur saja, Tiara, batinnya. Jendelanya juga sudah kukunci.