Tiara menemukan kenyataan pahit itu di kantor seorang pengacara keluarga yang ia datangi diam-diam, dengan dalih 'konsultasi umum'.
'Perjanjian pranikahnya sangat rapi, Bu,' kata pengacara itu setelah membaca salinan yang Tiara bawa. 'Pemisahan harta total. Kalau terjadi perceraian, Ibu hanya membawa harta atas nama Ibu sendiri. Yang jumlahnya...' ia menimbang, '...tidak sebanding dengan gaya hidup Ibu sekarang.'
'Tidak ada celah sama sekali?'
'Perjanjian ini ditulis oleh orang yang tahu semua jebakan. Satu-satunya celah adalah kalau suami Ibu melakukan pelanggaran berat yang terbukti di pengadilan — KDRT, penelantaran. Dari cerita Ibu, beliau justru suami yang...' pengacara itu meneliti catatannya, '...membawakan kue setiap Selasa.'
Tiara keluar dari kantor itu dengan dunia yang bergeser. Selama dua tahun ia merasa memegang dua kemenangan: suami kaya yang memanjakannya, dan kekasih berkuasa yang memujanya. Sekarang ia melihat papan caturnya dengan mata baru: kalau Bram menceraikannya, ia jatuh miskin. Kalau ia menceraikan Bram, ia jatuh lebih miskin lagi. Satu-satunya posisi aman adalah tetap menjadi Nyonya Adiwangsa — sambil terus memompa informasi untuk Radit, yang berjanji akan 'menyelesaikan segalanya' begitu Bimasakti cukup besar.
Janji itu sekarang terasa sangat jauh. Ceger menjadi kuburan uang. Senen Raya lepas. Dan Bram — Bram memagari semuanya dengan yayasan.
Malam itu, di apartemen Kuningan, untuk pertama kalinya Tiara dan Radit bertengkar sungguhan.
'Kamu bilang suamimu bodoh,' Radit berdiri di jendela dengan gelas wiski yang tidak habis-habis. 'Lelaki bodoh tidak membentuk yayasan pengaman tepat setelah kita mulai mengincar sahamnya.'
'Dia memang sedang menata waris, semua orang kaya begitu—'
'Atau dia sudah tahu.' Radit menatapnya, dan ada ketakutan di matanya yang membuat Tiara merinding. 'Pernah terpikir olehmu? Angka Cakrawala itu terlalu manis. Aku menelannya bulat-bulat, dan dua minggu kemudian dia menang Senen Raya dengan angka yang tidak pernah kamu lihat. Kamu pernah bertanya-tanya kenapa kamu tidak pernah melihat angka Senen Raya?'
Tiara membuka mulut, lalu menutupnya. Tidak. Tidak pernah. Dia hanya menerima apa yang ditinggalkan di meja kerja — dan Senen Raya tidak pernah ditinggalkan di sana.
'Dia mencurigaimu,' kata Radit pelan. 'Mungkin bukan tentang kita. Tapi tentang bocor.'
'Kalau dia tahu tentang kita, Radit, kamu pikir aku masih duduk di rumah itu?' Tiara tertawa gugup. 'Bram itu kalau marah kelihatan. Dua tahun aku mengenalnya — kalau dia tahu, dia sudah meledak sejak lama.'
Itulah kesalahan terakhirnya: mengira lelaki yang tidak meledak adalah lelaki yang tidak tahu.
Di rumah, di jam yang sama, Bram membaca laporan harian Pak Hendro — pertemuan apartemen itu tercatat, durasi dua jam, nada tinggi terdengar sampai koridor. Bram meletakkan laporan itu dan tersenyum kecil di ruang kerjanya yang gelap.
Mereka mulai saling mencurigai. Bagus. Retakan dalam aliansi musuh adalah peluru gratis.
Ia membuka laci, mengeluarkan map biru bertuliskan *Proyek Arunika — Rahasia*, dan membacanya sekali lagi seperti sutradara memeriksa naskah. Besok, map ini akan 'tertinggal' di meja kerja rumah. Isinya: rencana akuisisi jaringan Hotel Arunika — dua belas properti, nilai delapan ratus miliar, dengan satu detail mematikan yang disembunyikan di lampiran: pemilik jaringan hotel itu sesungguhnya sudah terikat perjanjian eksklusif dengan pembeli lain, dan akuisisi apa pun akan tersangkut gugatan hukum bertahun-tahun.
Siapa pun yang menyerobot akuisisi ini akan membeli perangkap hukum seharga delapan ratus miliar.
Bram meletakkan map itu kembali ke laci dan menatap foto pernikahannya. Tiara tersenyum di sana, cantik, di hari yang ternyata sudah cacat sejak awal.
'Kamu mau jadi Nyonya Adiwangsa selamanya?' tanyanya pelan pada foto itu. 'Tenang. Kamu akan kuingat selamanya — sebagai pertandingan terbaik yang pernah kumainkan.'
Besok pagi, seperti biasa, ia mencium kening istrinya sebelum berangkat kerja. Seperti biasa, ia berkata, 'Jangan lupa sarapan.' Seperti biasa, senyumnya tidak bocor.
Dan seperti biasa, Tiara tidak melihat bahwa suaminya sedang membawa perang di balik jasnya.