Map biru Proyek Arunika 'tertinggal' di meja kerja rumah pada hari Kamis malam. Pada hari Senin, Maira melaporkan bahwa sebuah perusahaan cangkang di Singapura — terdaftar atas nama nomor dua Bimasakti Group — mulai menghubungi pemilik jaringan Hotel Arunika.
'Ikan besar masuk perangkap,' kata Maira. 'Mereka bahkan tidak menghubungi lewat jalur resmi. Langsung menawar di atas harga "rahasia" yang ada di dokumenmu. Radit mau memastikan Adiwangsa kalah cepat.'
'Dia bukan mau menang lagi,' kata Bram, menatap layar berita pasar. 'Dia mau membalas Ceger dan Senen Raya sekaligus. Emosi. Bagus sekali. Orang yang emosi tidak membaca lampiran.'
Selama tiga minggu berikutnya, Bram menyaksikan jebakannya bekerja seperti menonton bangunan runtuh dalam gerakan lambat.
Bimasakti Group mengumpulkan dana dari mana-mana: menerbitkan obligasi, menggadaikan aset, menarik pinjaman jembatan dengan bunga mencekik. Semuanya untuk satu tujuan — mengikat jaringan Hotel Arunika sebelum 'Grup Adiwangsa sempat bergerak'. Radit bahkan mengumumkan ke media bahwa Bimasakti akan 'mengubah peta industri perhotelan nasional'. Saham mereka naik dua hari karena kabar itu.
Lalu palu itu jatuh.
Pemilik lama Arunika — yang sudah dihubungi diam-diam oleh tim Maira sejak awal dan dibayar dengan harga pasar yang jujur oleh konsorsium lain — mengumumkan penjualan jaringan itu ke pihak ketiga. Di hari yang sama, kuasa hukum mereka mengajukan gugatan terhadap Bimasakti: dugaan pendekatan tidak sah dan pelanggaran perjanjian eksklusif, dengan tuntutan ganti rugi yang membuat bank-bank penyandang dana menjadwalkan 'peninjauan ulang' dalam waktu dua puluh empat jam.
Saham Bimasakti anjlok tiga puluh persen dalam seminggu. Obligasi mereka masuk daftar pengawasan. Dan pinjaman jembatan itu — pinjaman dengan bunga mencekik — jatuh tempo seperti algojo yang tepat waktu.
Radit Bimasakti, dalam waktu tiga puluh hari, berubah dari penantang menjadi mayat bisnis yang belum selesai dingin.
Tetapi Bram belum selesai. Masih ada satu benang yang harus ia tarik: benang yang menghubungkan semua kebocoran ini ke meja makan rumahnya.
Benang itu ditarik oleh orang lain, tanpa perlu ia sentuh. Auditor independen yang disewa bank penyandang dana Bimasakti — mencari tahu bagaimana perusahaan sebesar itu bisa termakan jebakan setransparan Arunika — menemukan polanya: dokumen-dokumen internal 'milik kompetitor' yang menjadi dasar keputusan, diterima lewat jalur pribadi, dari sebuah nomor ponsel prabayar yang beberapa kali tercatat mengirimkan foto dokumen.
Nomor prabayar itu, ketika dilacak lewat catatan pengisian pulsa dan lokasi BTS, berada di dua tempat: sebuah apartemen di Kuningan, dan sebuah rumah mewah di kawasan elit.
Rumah mewah itu milik Bram Adiwangsa.
Ketika Maira menyampaikan ini, Bram sedang menandatangani dokumen terakhir restrukturisasi. Ia meletakkan pulpennya, menyandarkan punggung, dan menatap langit-langit kantornya lama sekali.
'Jadi sekarang, secara resmi,' katanya, 'investigasi pihak ketiga menyimpulkan bahwa kebocoran itu datang dari rumahku.'
'Bukan darimu. Dari penghuni rumahmu yang satunya.' Maira menatapnya. 'Bram, ini berarti panggung terakhirmu sudah siap. Kapan pun kamu mau. Semua bukti sudah berada di tangan orang-orang yang bukan kamu — auditor bank, konsultan keamanan, detektif swasta. Tanganmu bersih dari awal sampai akhir.'
'Tanganku tidak bersih, Maira.' Bram berdiri, berjalan ke jendela. 'Aku meracuni dua orang selama setahun. Pelan-pelan, dengan dokumen dan senyum. Tanganku tidak bersih — tapi nuraniku selesai. Itu yang lebih penting.'
'Lalu?'
Bram menatap kota yang menyala di bawahnya. 'Lusa pernikahan kami genap lima tahun. Tiara pasti sudah menyiapkan sesuatu — dia selalu menyiapkan sesuatu untuk tanggal itu.' Ia tersenyum tipis. 'Tahun ini, aku juga menyiapkan sesuatu.'
'Jamuan makan malam?'
'Jamuan makan malam.' Bram mengangguk pelan. 'Terakhir kali kami makan berdua sebagai suami istri.'