Meja makan itu tertata sempurna: lilin, mawar putih, dan masakan terbaik koki rumah tangga mereka. Tiara memakai gaun yang dibelinya khusus untuk malam ini — gaun ulang tahun pernikahan kelima. Ia bahkan memeluk Bram di pintu, lebih lama dari biasanya.
Dunia kekasih gelapnya sedang terbakar. Ia butuh pernikahannya sekarang lebih dari sebelumnya.
'Aku pusing dengan semua berita bisnis akhir-akhir ini,' katanya saat hidangan utama datang. 'Untung kita berdua baik-baik saja. Kamu selalu jauh dari masalah, ya, Sayang. Aku bangga.'
'Kamu baca berita soal Bimasakti?' tanya Bram sambil menuang anggur.
'Sedikit. Kasihan Radit.' Tiara menggeleng, berakting prihatin. 'Temanmu itu. Ambisinya menelannya.'
'Temanku itu.' Bram mengulangi pelan. 'Lucu ya. Aku mengenalnya sebelas tahun, dan baru tahun ini aku benar-benar mengenalnya.'
Tiara tersenyum, tidak menangkap apa pun. 'Maksudmu?'
Bram meletakkan botol anggur. Lalu, dengan gerakan yang tenang seperti orang menaruh serbet, ia mengeluarkan sebuah map dari sisi kursinya dan meletakkannya di tengah meja, di antara lilin.
'Aku mau memberimu hadiah ulang tahun pernikahan duluan,' katanya. 'Buka.'
Tiara membuka map itu dengan tawa kecil yang masih tersisa — dan tawa itu mati di halaman pertama.
Foto. Dirinya dan Radit di lobi apartemen Kuningan. Tanggal dan jam tercetak di sudutnya. Halaman kedua: Bali. Halaman ketiga: tabel log akses server perusahaan. Halaman keempat: catatan nomor ponsel prabayar dan menara BTS — apartemen Kuningan, dan rumah ini. Rumah mereka.
Tiara mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Bram melihat istrinya tanpa topeng apa pun: pucat, telanjang, ketakutan.
'Bram— aku bisa jelaskan—'
'Sudah. Tidak usah.' Suara Bram tetap pelan, tetap suara yang sama yang setiap pagi berkata *jangan lupa sarapan*. Justru itu yang membuatnya mengerikan. 'Aku tidak butuh penjelasan. Aku sudah tahu semuanya, Tiara. Sejak setahun lalu. Ponsel di dasbor mobilmu — aku menemukannya di lampu merah Sudirman, sehari sebelum kamu memasakkan sup untukku.'
Wajah Tiara berubah dari takut menjadi sesuatu yang lebih telanjang lagi: ngeri. Ia menghitung mundur — setahun. Setahun makan malam, setahun kue hari Selasa, setahun *jangan lupa sarapan*.
'Setahun...' bisiknya. 'Kamu... setahun ini kamu—'
'Cakrawala,' kata Bram, membantunya berhitung. 'Proyek fiktif. Kamu memotretnya di akhir pekan dan mengirimkannya ke Radit sebelum Senin. Tanah Ceger itu kubeli khusus untuk kalian berdua — tiga kali harga pasar, dengan sengketa waris di lampiran yang tidak dibaca siapa pun yang terburu-buru. Senen Raya? Angkanya tidak pernah ada di meja kerja rumah, karena aku tahu meja itu bocor. Dan Arunika...' ia menyesap anggurnya, '...Arunika adalah surat cintaku untuk kalian berdua. Delapan ratus miliar perangkap hukum, ditelan bulat-bulat, di antar langsung oleh tanganku ke meja kerja yang kamu foto.'
Tiara berdiri. Kursinya jatuh ke belakang. 'Kamu... kamu memakai aku. Setahun penuh kamu—'
'Aku memakaimu?' Bram akhirnya berdiri juga, dan untuk pertama kalinya malam itu suaranya naik satu tingkat — hanya satu tingkat, dan itu cukup. 'Aku memakaimu seperti kamu memakai rumah ini, Tiara. Bedanya, aku tidak pernah bersumpah di altar untuk setia kepadamu lalu memotret meja kerjamu untuk lelaki lain.'
Hening. Lilin-lilin itu masih menyala, romantis, mengolok-olok.
'Kamu mau apa?' Suara Tiara pecah. 'Hah? Kamu sudah menghancurkan Radit. Sekarang kamu mau menghancurkanku juga?'
'Aku tidak menghancurkan siapa-siapa.' Bram merapikan ujung jasnya. 'Radit menghancurkan dirinya dengan tamak. Kamu menghancurkan dirimu dengan ponsel murah di dasbor mobil. Aku cuma... menyediakan mejanya.'
Ia mengeluarkan satu dokumen terakhir dari map — gugatan cerai, sudah ditandatangani, dengan lampiran bukti yang ditandai rapi.
'Perjanjian pranikah kita memisahkan harta. Kamu keluar dari pernikahan ini dengan apa yang atas namamu — aku tidak menyentuhnya, tidak seperti kalian yang menyentuh milik orang lain. Gugatan ini masuk Senin. Kamu bisa melawan, dan semua bukti ini akan dibacakan di pengadilan terbuka, termasuk untuk keluargamu di Menteng. Atau kamu bisa menandatanganinya, dan kita berpisah seperti orang dewasa.'
Bram berjalan menuju pintu, lalu berhenti di ambang, tanpa berbalik.
'Oh ya. Sup buatanmu malam itu enak. Aku tidak pernah bilang, tapi itu sup terbaik yang pernah kamu buat.' Ia berhenti sejenak. 'Sayang sekali pembuatnya tidak pernah ada.'
Pintu tertutup. Di meja makan yang romantis itu, Tiara Adiwangsa runtuh ke kursinya, dikelilingi mawar putih dan bukti-bukti yang tersusun rapi — sementara di dapur, kue ulang tahun pernikahan mereka masih utuh, tidak pernah sempat dipotong.