3 April 2030, Tokyo, Kompetisi Tehnologi Perang Yang Ramah (Friendly WarTech Competition)
Seluruh hadirin menyambut dengan tepuk tangan, ketika pembawa acara mempersilahkan Jean Fujiyama, selaku direktur kompetisi ini, sekaligus pemilik perusahan SamuraiZ Robot, naik ke podium.
(Dalam Bahasa Inggris)
“Di filim-filim fiksi, pertemuan-pertemuan seperti ini akan dihadiri penjahat-penjahat yang kaya raya, lalu mereka saling menawar harga.”
(Para hadirin tertawa)
“Sayangnya, kemudian mereka semua mati terbunuh oleh pemeran utama, karena sutradaranya menginginkan mereka hanya jadi pemeran pendukung yang dibayar murah.”
(Hadirin tertawa lagi)
“Kakek buyut saya adalah seorang Tentara Dai Nippon yang terlibat secara langsung dalam Perang Dunia ke dua. Ia berpangkat kolonel, dan mengakui banyak kekejaman perang. Tapi di sisa-sisa hidupnya dia meyadari bahwa mereka hanya bidak catur dari sifat kejam manusia yang serakah dan sering mengambil keputusan yang tak bisa ditarik kembali.”
“Lalu karena itu kakekku menjadi seorang pemabuk.”
(Para hadirin tertawa lagi)
“Ya, memang ngga ada hubungannya. Tapi itu membuat ayahku, yang lahir di Amerika, menjadi anti terhadap perang dan anti alkohol. Ia menyibukkan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak dilakukan anak sebayanya oleh rasa malu terhadap kakek dan ayahnya. Hingga akhirnya ia menemukan minatnya terhadap robot.”
“Ayahku bahkan sempat berencana membuat robot yang bisa dinikahi, sebelum beliau menemukan ibuku.”
(Semua orang tertawa, termasuk yang ada di panggung)
“Puji Tuhan dia sadar, dan aku bisa berdiri di sini.”
(Orang-orang melanjutkan tawa mereka)
“Sekarang tehnologi bukan lagi sesuatu yang unik dan rumit. Hampir semua anak-anak dan remaja telah diajari untuk membuat chip. Kita berada pada zaman di mana semua orang lebih penting mengarahkan kesibukan-kesibukan anak kita menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan, sebelum lahir seseorang yang terpikir untuk menghancurkan dunia.”
“Kompetisi ini berasal dari ide tentang perang yang tidak mematikan. Bagaimana jika tentara-tentara di dunia menggunakan tehnologi yang bisa melumpuhkan musuh, tanpa harus membunuhnya. Karena itu kita berharap, bahwa perang lebih menjadi sebuah sport, yang hanya mencari pengakuan pihak yang kalah kepada pemenang. Kompetisi ini berharap bahwa tak akan adalagi s*****a pembunuh massal, tetapi s*****a pelumpuh massal. Sehingga kemanusiaan tidak hilang oleh kemajuan, karena kemanusiaan itu adalah tujuan peradaban kita. Terimakasih.”
(Semua orang tepuk tangan, Tuan Fujiyama turun podium setelah membungkuk, digantikan oleh pembawa acara.)
“Semua sudah tahu aturannya, kompetisi dimulai!”
Kompetisi ini sebenarnya telah berlangsung selama hampir setahun. Bisa dibilang Tokyo hanya menjadi tuan rumah bagi putaran final. Karya-karya robotic yang terpilih dan dianggap aplikatif dengan tema Friendly WarTech, diberikan tiket untuk berangkat ke Tokyo setelah menandatangani kontrak kerja untuk 3 bulan.
Para pesertanya tidak mewakili negara. Semuanya berasal dari badan-badan pemberi bea-siswa internasional. Umurnya tidak dibatasi, selama karya mereka autentik, dan aplikatif.
Untuk memastikan ke autentik an karya mereka, peserta diharuskan merakit karya mereka di depan para tamu dan panitia selama 2 minggu, dari keadaan nol. Mereka diizinkan bekerja sesuka mereka, tetapi hanya bisa dilakukan di depan publik. Artinya jika mereka keluar ruangan, mereka tidak mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan karya mereka. Namun selama mereka di ruangan, selama apapun mereka sanggup kerja, bahkan hingga tertidur, mereka dipersilahkan.
Dalam bekerja, semua alat dan fasilitas, juga komponen telah disediakan panitia. Hal itu tidak sulit karena sebelumnya karya mereka telah diterima panitia. Peserta hanya harus menyiapkan asisten yang mereka butuhkan, yang keberangkatannya juga ditanggung panitia.
“Hei, Jo, kamu masih ingat semua kalkulasinya?”
“Ada di catatanku.”
“Program ulang. Debug drive ini, bandingkan dengan catatanmu. Nggak usah di recode lagi.”
“Passwordnya?”
“Wartech underslice Com.”
“O.K.”
“Bikin cepat, kita masih harus me las beberapa bagian dan membuat bola besinya dari magnit ini.”
“Kuusahakan. Lagian nggak usah terlalu tegang, sampai sini aja kita sudah hebat. Tokyo, Men!”
“Sory, aku terlalu semangat.”
Mereka adalah dua bersaudara sepupu yang berasal dari kota Pematang Siantar. Umur mereka sebenarnya terpaut 12 tahun. Sopar berusia 27 tahun dan Jonathan 15 tahun. Tapi mereka selalu berbicara selayaknya mereka sebaya.
Mereka termasuk anak yang beruntung sekaligus tidak. Keduanya adalah yatim piatu. Namun mereka memiliki paman yang tidak menikah dan memboyong mereka ke rumahnya.
Tidak tepat juga mengatakan mereka diangkat anak. Karena mereka tetap memanggil paman mereka itu sebagai "Pak Uda”, bukan “Bapak” atau “Ayah”. Ini sesuai dengan adat orang batak untuk panggilan kepada adik dari bapak biologis mereka.
Paman mereka itu tidak terlalu kaya, tapi ia adalah orang yang berpendidikan. Ia selalu mendukung keduanya dalam hal pendidikan. Seperti soal robot ini, pamannya lah yang mencarikan mereka pendananya. Karena itu, di luar panggilan mereka terhadap pamannya, mereka menganggapnya sebagai orangtua mereka.
Karya yang mereka bawakan juga berkaitan dengan niat mereka membantu pamannya menangkap burung di sawah. Mereka menyebutnya laba-laba terbang. Biarpun bentuknya sama sekali tidak mirip laba-laba. Lebih mirip bola rugby mini, yang bisa digulirkan, dilempar jauh atau berdiri tegak dan tiba-tiba terbang, lalu menyemprotkan gel bermuatan pasir hitam dan butiran magnit dalam radius 10 meter. Lalu bola itu jatuh kembali dalam posisi tegak dan mengeluarkan energi magnetik yang super kuat. Tak ada kesempatan bagi burung-burung itu untuk melawan. Tubuh mereka berlengketan, saling menempel dan ditahan oleh kekuatan magnetik untuk menjauh.
Itu idenya Jonathan, sewaktu kakaknya pulang dari Bandung liburan. Tidak seperti biasanya, ia ditemani oleh kakaknya menjaga sawah dari burung, mereka menyebutnya “mamuro”. Mereka ngobrol ngawur sana sini, hingga sopar bertanya apa yang dilakukan kakaknya diperkuliahan.
“Bikin drone. Makanya kadang-kadang aku bosan, Dek. Amerika dan Jepang sudah bikin hyper-IFO (identified flying objek) yang bisa bergerak melebihi kecepatan peluru tanpa kendali manual. Sementara kami masih belajar tehnologi 20 tahun lalu.”
“Kenapa nggak kau bikin sendiri aja?”
“Di negara kita itu ilegal, Jo. Masih termasuk tehnologi militer. Nanti kena undang-undang Bela Negara.”
“Alah, gitu aja perduli.”
“Aku nggak mau ngecewain Uda kita. Entah nanti kalau udah selesai kuliah.”
“Gimana kalau kita bikin drone pengusir burung, Par? Dari pada bunyiin kaleng-kaleng kayak gini?”
“Ah, kau ada-ada saja. Kau pikir bikin drone murah. Peralatannya dari mana. Belum lagi bahannya.”
“Kita bilang sama Pak Uda. Pasti dia punya jalan keluar.”
Begitulah awal mula ceritanya. Paman mereka Cuma tertawa pada mulanya. Namun ia diam-diam mengintip apa yang mereka kerjakan. Ia memperhatikan bahwa kedua keponakannya itu begitu asik, tapi juga tak melupakan tugas sehari-hari mereka. Drone pertama pun tercipta hanya dalam waktu 3 hari.
Mereka menyatukan kipas angin CPU komputer sebanyak 8 buah dalam rangka fiber octagon dan kemudian melengkapinya dengan tehnologi infra merah remote. Mereka mengujinya. Hasilnya lumayan. Namun ada masalah. Jika dronnya terbang kurang rendah, burungnya tidak lari. Kalau terlalu rendah kipas-kipasnya bisa menjatuhkan bulir padi. Mereka berdiskusi lagi.
“Bagaimana kalau kipasnya kita kurangi?”
“Nggak bisa Jo. Nanti terbangnya terlalu rendah.”
“Jadi, Gimana?”
“Mungkin jalan keluarnya kita bakal membuat suara-suara di dalamnya. Suara-suara pemangsa mereka.”
Tapi kemudian itu pun tak cukup. Karena sawah paman mereka terlalu luas mereka terpaksa harus berjalan juga mengikuti dronenya. Mereka kemudian menggunakan tehnologi wifi remote, tapi juga tak cukup. Burung-burungnya hanya pergi sebentar, lalu datang lagi. Belum lagi masalah baterai yang hanya bisa bertahan 2 jam dan harus di cas lagi.
“Jangan putus asa, Par. Kita istirahat dulu besok. Waktunya berpikir, bukan aksi.”
“Tapi minggu depan aku harus balik Bandung, Jo.”
“Bisa aja nanti aku yang teruskan. Atau kita lanjutkan semester depan, kalau kau pulang lagi.”
“Itu namanya bukan pilihan, Bro. Kecuali, kalau aku yakin kita bisa, dan aku bilang sama Uda untuk cuti semester ini. Toh aku tinggal skripsi, dan alat ini bisa kujadikan skripsiku.”
Mata Jonathan berbinar-binar, ”Kalau gitu kita istirahat tiga hari. Biar kubantu nanti kau dapat izin dari Uda.”
Sopar hanya tersenyum, “Aku berencana bikin tehnologi AI, agak sulit. Tapi jika perhitungannya benar, kita pasti bisa.”
“Aku bisa bantu perhitungannya, tapi penulisan kodenya aku tak bisa.”
“Kau ngerti hitungan integral limit 0 menuju 1?”
“Gampang.”
“0 menuju tak terhingga?”
“Gammmmpang…”
“Pemetaan matriks?”
“Kalau itu agak susah. Tapi nanti kupelajari lagi.”
“Differensiasi matriks?”
“Apaan itu?”
“Itu perlu, biar drone kita bisa mengambil keputusan yang berbeda pada situasi yang mirip. Jadi dia bakal selalu mengambil keputusan yang benar.”
“Wah ini canggih, bro. Padahal aku hanya membayangkan pegang remote, sambil ngusir burung. Tadinya kupikir kita hanya akan bikin dronenya lebih banyak. Jadi kalau baterainya habis diganti yang baru.”
“Tanggunglah. Mana tahu setelah ini aku tak punya kesempatan lagi, bikin sesuatu yang seberguna ini. Kita bakal bikin yang bukan saja anti burung juga anti tikus. Kita hanya perlu mencari variabel-variabel yang bisa dikomputasi dan variabel-varibel yang tidak berubah,…”
“Udah, udah, udah, ah. Nanti aja aku diajari sambil kerja. Kepalaku kayaknya mulai teleng ini. Makanya kurasa kau nggak pernah punya cewek.”
“Hahaha, aku nggak punya cewek karena jelek, bukan karena ngomong kayak gini, bodoh! Tapi okelah, aku hanya mau bilang kalau kita perlu riset yang sangat panjang, juga dananya. Serat optik, modul multi chip, soft display, pokoknya banyaklah. Kemarin Uda udah bilang setuju, dia pasti juga setuju sekarang.”
Besoknya, “AI? Apa kamu bisa, Par. Itu susah lho. Uda bukan nggak setuju, gimana kalau gagal? Itukan buang uang.”
“Nggak akan gagal, Da. Lagian ini Cuma AI sederhana. Sebenarnya ini lebih tepat disebut automation yang rumit. Hasilnya nantinya tidak respon terhadap bahasa tapi gerak, bunyi, sama daya magnetik.”
Jonathan menyambung kakaknya, “Iya, Da. Karena prinsipnya, nanti ini bisa menjaga sawah kita siang dan malam. Manfaatnya luar biasa, Da.”
Si Uda terdiam sebentar, menatap keponakannya secara bergantian. Dia berusaha mencari keraguan di mata mereka, “Begini aja. Kamu berdua siapkan program kerjanya, gambar detailnya, dan bahan-bahan yang dibutuhkan. Nanti kita lihat apa yang bisa Uda bikin.”
Mereka berdua melompat memeluk Udanya, “Tapi ingat, ini harus berhasil,” katanya sambil balas memeluk mereka.
“Udah, Jo?”
“Dikit lagi, tinggal nyiapin terminal virtualnya.”
“Ini modulnya juga udah siap. Sebentar lagi kita harus istirahat dan makan.”
Mr. Jean Fujiyama kebetulan lewat, “You are two brothers from Indonesia.”
“Yes, we are sir,” Jonathan menjawab.
“I hope I’m not interupting. Am I?”
“Not really, Sir. We are happenly gonna have lunch for our next minute.”
“Ou. Where are your other crew? Only two of you?”
“We are, Sir. Only two of us.”
“What are you making?”
Jonathan senyum setengah tertawa,” We call it as “flying spider”, though its shape doesn’t match as its name.”
“Must be the function, I Guess. Tell me a bit.”
“Yes, it play its role as a teritorial guardian. So when it combine with riffle, it can very efective for a single soldier.”
“You mean like flying objek in fiction movie?”
“No, things like that will costly too much for energy. Our spider must be thrown to the area, then it’s sensor will detect any movement and interprete while that move was danger or not. Its cam will show to the contoller display, and give suggestion to take action.”
“How wide?”
“Wifi Radiant. But can be wider.”
“So, what the use of the riffle?”
“It’s a remote, Sir and a prevention at once.”
“You mean, can kill?”
“Ours is not. Its bulet is not a material, it bang a low electric pulse. The offending won’t die, just parallize.”
“Have you think how if your wartech assemble to an aircraft?”, Mr. Fujiayama tersenyum lalu pergi.
“Kau orang kaya enak aja ngomong. Bukan nggak kepikir, nggak ada duit, g****k!”, Jonathan ngedumel. Sopar yang dari tadi diam sambil asik bekerja terkekeh mendengarnya.
“Ayo Jo! Aku dah lapar nih.”
Kompetisi itu akhirnya dimenangkan oleh orang Jerman bernama Andree Heinz. Karyanya yang berjuluk “Soft Thunder” diputuskan menjadi yang terbaik. Ia menciptakan alat yang bisa mengkreasi awan yang bisa dikendalikan dengan perintah pengguna. Awan ini bisa bertambah besar jika kondisi kelembapan udara tinggi, jadi sangat aplikatif untuk perang di atas laut atau udara. Ia juga dapat menjadi penghalang sinyal musuh pada kondisi perang jarak jauh. Lucunya seluruh awan ini bisa dalam sekejap menjadi air dan langsung tumpah ke musuh. Dan tiba2 semua musuh yang basah itu tersengat listrik dan lumpuh.
Tehnologi ini juga aplikatif untuk pemboman besar2 an. Karena jika di jatuhkan pada gedung semua peralatan elektroniknya akan rusak. Jadi Pantas juara I.
Jonathan dan Sopar hanya menduduki peringkat ke empat. Itupun sudah lumayan. Jonathan dapat bea siswa selama 10 tahun dan Sopar mendapat kontrak kerja 10 tahun. Sayangnya keduanya harus kembali ke Indonesia. Sama seperti Sopar yang dikontrak perusahaan Indonesia, Jonathan juga mendapat beasiswa di Indonesia.
“Udah, Par. Perjuriannya adil, kok.”