Menjemput Mimpi
“Lu dua ikut Simura dan Gopal besok ke Taiwan,” Kata Mr. Lee dalam bahasa Indonesia. Ia sudah belajar bahasa ini sejak ia merencanakan memindahkan pos distribusinya ke Samosir. Namun tetap saja, bahasa Indonesianya sedikit kacau.
“Ada apa bos,” Jonathan masih sibuk dengan joy-stick di tangannya. Sopar meletakkan hand-phone nya.
“Kalian mau jemput Ah Lin Ke Taiwan,” Mr. Lee sibuk bertanding dengan Jonathan di Hollo-Station.
“Biar aja Gopal sama Simura aja yang jemput, Boss,” Kata Sopar, “Kita ada pengiriman ke Brazil besok.”
“Batalkan saja,” lalu ia mengangkat tangannya karena baru membuat gol ke gawang Jonatan. Ia lalu meletakkan stick-nya di meja. Jonathan mengikutinya.
“Besok Ah-Lin ada tanding rebut gelar. Presiden Lim mau tonton. Matt Damon juga. Gua kuatir itu orang ada bikin insiden.”
“Wah kok, bisa. Ah Lin secantik itu sampai di tonton dua Presiden?”, kata Jonathan dengan wajah bodoh.
“Lu b**o atau pekok? Bukan Ah Lin yang mau di tonton. Itu ada juara dari Amerika ditantang orang China, di kelas berat,” jawab Mr. Lee dengan logat Taiwan-nya.
“Gopal dan Simura Cuma tau bikin orang mati. Gua udah jadi penjahat di Taiwan. Jadi Lu berdua paling bisa.”
“Kalau begitu baik Boss,” Jawab Sopar.
“Informan kita kasih tahu kalau itu tanding tak akan jadi. Bom bakal meledak sebelumnya. Kebetulan Ah Lin tarung sebelumnya,” sambung Mr. Lee.
“Tapi untuk apa, Boss Lee?”, Jonathan penasaran.
“Dengan begitu China punya alasan invasi Taiwan dan Amerika punya alasan membiarkan. Ngerti?”
Jonathan dan Sopar mengangguk-angguk. Mereka harus mengakui bahwa Boss Lee memang bukan sekedar bandit. Dia sangat intelektual.
“Bakal ada yang mati?”, tanya Jonathan lagi.
“Informasinya bilang Lim mungkin bakal mati. Tapi gua sangsi. Kecuali Lim Ping sengaja jadi korban, dia terlalu licik untuk dibunuh sama sebuah insiden.”
“Tapi boleh juga, Boss. Dia diganti, seolah-olah dia mati, lalu dari tempat tersembunyi dia tetap memimpin China,” lanjut Jonathan.
“Boleh juga,” jawab Mr. Lee,”Tapi gua nggak terlalu pikir. Ah Lin nggak mau dilarang main. Makanya aku ada atur lu berempat jadi side-ring nya.”
“Apa rencananya Boss?”, tanya Sopar.
“Nggak susah. Lu semua pakai rompi dan topi anti peluru. Simpan Night-vision. Kalau ada apa-apa, Ah-Lin harus tertutup di atas ring dan cepat bawa dia keluar dari sana. Lampu pasti dipadamkan jika ada ledakan. Kalau ledakan tidak terjadi sampai Ah-Lin selesai, cepat bawa dia ke mari. Mengerti?”
Esok harinya informasi itu terbukti benar. Untung saja Ah-Lin telah selesai bertanding dan memenangi pertandingan. Dia menjadi juara kelas ringan MX (Martialart X) setelah menang submissive di ronde pertama.
Bom itu diledakkan tepat saat menyanyikan lagu kebangsaan Republic Rakyat China. Lim Ping yang menyediakan diri memegang bendera telak terkena bom bersama petarung yang ada di sampingnya. Ia tidak tewas, namun petarung tersebut tewas di tempat bersama penyanyinya.
Sementara Matt Damon yang juga tak mau kalah dengan gaya Lim Ping juga terkena serpihan Bom. Ia ikut naik ke atas Ring dan rencananya akan menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat. Namun semua rencana itu “gagal” karena bom keburu meledak.
Bom itu sendiri sebenarnya berkekuatan ringan. Diseludupkan di dalam microfon dan di picu dari jarak jauh. Kemungkinan pemicunya ada di antara penonton, sehingga tahu meledakkannya saat jarak terdekat yang mungkin membunuh Presiden Lim Ping.
Suasana menjadi penuh kepanikan. Orang berlarian kemana-mana, sementara kedua pihak pasukan pengawal presiden membuat parameter mengevakuasi masing-masing orang no 1 di negara mereka. Lalu entah oleh siapa lampu dimatikan yang menambah kepanikan.
Lalu entah dari mana terdengar suara tembakan. Beberapa moncong s*****a kemudian di tembakkan ke arah suara asal tembakan itu. Semua menjadi begitu kacau dan mencekam. Teriakan dan tangis kepanikan memenuhi Stadion baseball yang bernama CungCheng itu.
Gopal, Simura, Jo, Parky dan Lin, sudah berada di mobil waktu semua itu terjadi. Semula Lin menolak ikut. Namun saat melihat dan mendengar kepanikan dari dalam stadion ia sadar, kakaknya benar. Dia sedang bicara dengan kakaknya via telephone.
(dalam bahasa Hok-kien)
“Aku tak mau kakak mencampuri urusanku!”
“Lin, tolong dengar mei-mei ku. Aku tak pernah mencampuri urusanmu. Tapi kita ini orang China Daratan. Kamu di Taiwan. Sebentar lagi China dan Taiwan akan berperang. Apa kamu pikir ada gunanya bela diri kalau udah lawan pasukan. Kamu pasti disandera Taiwan,” balas Mr. Lee dari sebelah sana. Jonathan yang ada di kemudi tak berani menyalakan mesin hingga perdebatan mereka selesai.
Baru saja Lin mau membalas kakaknya, suara jeritan menggema dari dalam stadion. Akhirnya Lin berkata (dengan bahasa Inggris), “Ke Bandara,” Ia menutup cell-phone nya dan menaikkan jendela. Gopal dan Sopar berlari ke mobil sebelahnya. Mereka mengawal dari belakang. Jonathan meluncur. Simura menyiagakan tangannya ke dalam jas, bersiap menarik s*****a jika ada yang mengancam.
*******
Dari Taiwan mereka menuju Bandara Sibolga. Disana Pesawat Ampihibi sudah menunggu mereka. Lalu mereka langsung menuju Samosir dengan pesawat itu.
Kecuali Jonanthan, di perjalanan mereka tak ada yang bicara. Mereka asik mencari informasi mengenai apa yang barusan terjadi. Sesekali Jonathan bilang,”Gila!”, atau “Anjing!” atau “Wah, Boss Lee benar nih!”
Dari internet mereka mendapat kabar bahwa 180 orang tewas akibat tembak menembak dan terinjak-injak. Padahal bom itu sendiri hanya menewaskan petarung dan penyanyi. Sedangkan Presiden Lim Ping di kabarkan masih hidup namun menderita kerusakan fisik yang sangat parah dan mungkin akan cacat seumur hidup.
“Tidak,” kata Mr. Lee saat mereka telah sampai di rumah dan menonton TV bersama. Ia tersenyum.
“Ini hanya cara agar Lim Ping dihidupkan lagi sebagai cyborg. Dengan begitu kelemahan fisiknya yang selama ini di kritik dunia internasional sebagai “Mr. Little Presiden” akan hilang untuk selamanya. Artinya julukannya di China sebagai “Little Budha” tidak akan diartikan pihak luar karena ukuran tubuhnya.”
“Sebegitunya kah?”, tanya Simura mewakili mulut kawan-kawannya yang membentuk huruf ‘O’ dan ‘A’ sekaligus.
“Lebih dari itu. Lim Ping membiarkan musuhnya Amerika tahu rencananya dan mengikutinya. Dengan keadaan seperti ini China dan Amerika tidak harus sekarang berperang. Ia tahu Amerika belum siap. Cuma aku sangsi Amerika tahu kalau bom akan di seludupkan di Microphone. Karena itu presiden mereka masih terkena serpihan Bom.”
“Tapi bagaimana Lim Ping mengukur dia hanya akan cacat seumur hidup bukan mati.”
“Itu gampang,” sambar Jonathan,”Karena itulah dia memegang bendera, betulkan boss?”
“Betul. Lu kadang-kadang brilian Jo,” kata Mr. Lee sambil tepuk tangan.
Lin terdengar melangkah menuruni tangga. Semua orang terdiam. Menunggu kedatangannya. Sepertinya mereka semua takut pada gadis itu, termasuk Mr. Lee. Mereka takut masih bakal dimarahi karena memaksanya keluar dari Taiwan.
Sepasang mata kaki menampakkan diri. Lalu lutut. Lalu paha. Tentu saja jantung Jo, Sopar, Gopal dan Simura berubah kecepatan. Mulus dan langsing. Mr. Lee hanya tersenyum, dia berkata, “Terkadang karena wanita banyak pria tak hormat bossnya.”
Mereka semua tersadar, lalu menjadi salah tingkah. Hampir serempak mereka bilang,”Sorry, Boss.”
“Tak apa. Lin memang cantik. Sayang banyak yang takut karena dia jago berkelahi. Lu harus bisa kalahin dia baru dia mau sama lu.”
“Aku bisa boss?”, tanya Shimura
“Lu udah punya istri. Mau bikin adik gua jadi gundik?”
Mereka semua tertawa. Lin muncul dengan bikini, namun ia membalutnya dengan kaos oblong di atas.
(dalam Bahasa Inggris)“Aku mau berenang. Enak di danau atau di kolam?”, ia menatap ke arah Sopar.
Sopar menunduk. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Jo. Jo hanya angkat bahu. Lalu ke Gopal.
“Kalau malam lebih enak di danau airnya hangat,” Gopal menjawab tatapannya.
Lin melirik kakaknya, lalu Simura. Keduanya mengangguk. Ia berjalan ke arah luar. Mereka mengikutinya dengan pandangan, termasuk Jo dan Sopar. Kecuali Mr. Lee yang sibuk menunggu berita terbaru tentang peristiwa tadi, atau tepatnya kemarin malam.
“Dengar! Lihat itu!”, kata Mr. Lee pada yang lain setelah beberapa lama. Yang lain langsung mengalihkan pandangan. Gopal berdiri di belakang Mr. Lee, memegangi puncak kursi malas Mr.Lee. Yang lain mengambil tempat duduk.
(Suara Televisi dalam bahasa Inggris)
“The bom in Chungceng Stadium has been identified as Flash bom, made of Taiwan. This bom is kind of omni-radiant bom, that will burn all or anything that’s touched by its light. It has answered the question how Mr. Lim Ping survive from this tragedy. The Flag of Republic of China protected him to have more vital injury, or even lost his life.”
Kalimat ini kemudian diikuti tayangan berulang detik-detik meledaknya bom --dan bagaimana secara “tidak sengaja” bendera itu telah menghalangi cahaya bom itu mencapai bagian kepala sang Presiden. “Hanya” menghanguskan bagian bahu hingga kaki kanannya.
Secara berulang juga ditayangkan bagaimana penyayi dan petarung habis dilalap api pijar itu karena berhadapan langsung dengan cahaya yang dikeluarkan bom itu. Sebaliknya yang lain masih sempat melompat ke luar ring sehingga hanya bagian tertentu saja yang cidera, termasuk Presiden Matt Damon.
Gopal dan Simura tepuk tangan sambil melirik Jo yang Sumringah. Sebelum boss Lee menyuruh mereka diam dengan issyarat.
“And the question of how then China Leadership estabilish, also have been determined as the Central Committee Leaders said that there will be no exchange, because China are best in cyborg technology. He added that in China --as long as someone brain is still alive, they can still live normally by cyborg technology. That’s breaking News for now, we’ll be back.”
Kali ini semua orang tepuk tangan untuk Mr. Lee yang baru saja mematikan TV. Ia sumringah dan dengan isyarat menyuruh mereka untuk berhenti memujinya.
“Nah, sekarang bagian tersulitnya. Kita orang harus omong ini kejadian punya dampak apa sama bisnis kita,” katanya sambil memandang berkeliling dan menyuruh Gopal untuk duduk.
(Dalam Bahasa Inggris)“Yang terburuk, kalau Korea Utara ikut-ikutan menginvasi Korea Selatan dan Jepang. Karena ini telah memastikan Amerika sedang tidak siap membantu negara manapun, karena sibuk menagih hutang,” Lin masuk dengan pakaiannya yang basah yang menambah mata laki-laki di ruangan itu melotot.
(Dalam Bahasa Inggris)“Lin, jangan gitulah,” kata Mr. Lee, “Ganti baju dulu. Nanti otak ini orang jadi jorok!”
Semua orang tertawa. Lin tersenyum bangga, tapi mengikuti saran kakaknya, ia naik ke atas melalui tangga yang sama tadi dia turun.
“Betul dan lebih sulit lagi, kalau semua negara akan bersiaga. Banyak operasi kita harus ditutup untuk sementara. Kita harus kordinasi dibeberapa negara, dan yang bisa kita lakukan hanya lah menunggu. Wait and see.”
“Saya pikir tidak juga, Boss. Ini malah kesempatan kita melebarkan sayap. Kebanyakan relasi kita adalah orang-orang militer. Artinya situasi ini akan membuat mereka menjadi lebih penting, dan kita bisa memanfaatkannya,” Parky menanggapi.
Boss Lee memegangi ujung bibirnya, jari tangan kannnya mengetuk-ngetuk meja sambil memandang berkeliling. Ia menunggu tanggapan lain.
“Aku setuju sama Parky,” Jo akhirnya bicara.
“Simura?”
“Ya benar juga. Cuma mungkin khususnya kawasan China kita harus tutup. Terlalu beresiko terlibat dalam pertikaian mereka, terlalu banyak orang yang harus di bayar.”
“Betul, Boss. Kalau aku, lebih suka yang boss bilang tadi. Tunda semua operasi, tunggu kabar dari setiap perwakilan. Baru kita bisa memutuskan sesuatu,” kata Gopal.
“Tapi sikap seperti itu bisa bikin perwakilan-perwakilan yang bermasalah menambah masalah Boss. Ini bakal jadi alasan mereka untuk lepas dari kewajiban,” Jo memberi pendapat.
Telepon Mr. Lee berbunyi, ada pesan masuk.
“Itu aku Boss. Itu adalah jumlah tagihan yang akan hilang kalau kita bersikap seperti yang boss katakan,” Parky menerobos perdebatan sambil masih memegang Cell-phonenya.
Mr. Lee mengambil Cell-phone. Dia memencet mode hologram agar semua orang melihat apa yang baru dikirim Parky. Totalnya U$ 1.500.000.
Gopal dan Simura menganggu-angguk. Mereka baru mengerti mengapa Parky langsung keberatan dengan sikap bossnya.
“Sementara jika kita menaikkan insentif kita 10% dari biasanya kepada para perwira, kita bisa menaikkan harga kita sebesar 15 %. Artinya penghasilan kita akan naik 5 %.”
“Kita punya pasukan, Boss,” akhirnya Simura mendukung Parky,”Tak usah kuatir masalah teknisnya di lapangan. Kita punya orang di mana-mana.”
Mr. Lee mengangguk. Ia sengaja tak melirik Gopal. Karena ia tahu bahwa salah satu yang bermasalah adalah sepupu dekat Gopal yang beroperasi di Singapura. Kalau bukan karena Gopal, mungkin ia sudah mengirim pembunuh ke sana. Tapi ia hanya meminta satu jari tangannya sebagai bukti kesetiaan. Dan Gopal telah berjanji akan membawa satu jari setiap bulan jika sepupunya itu terlambat membayar cicilan hutangnya. Jadi ia tidak melirik Gopal, agar Gopal tidak merasa sedang dihakimi.
“Baiklah, tetapi siapa yang memimpin. Aku sudah tak bisa terlalu banyak bergerak. Namaku dibeberapa negara sudah menjadi penjahat.”
(Dalam Bahasa Inggris) “Aku,” Lin turun dari tangga. Mereka tak menyadari dari tadi Lin sudah di tangga.
“Tak usah pura-pura, Boss Lee. Kau menarikku ke mari, bukan hanya untuk menyelamatkanku. Kau mengirim ke empat orang ini juga agar aku tahu kualitas mereka dalam bekerja. Aku juga tahu kalau kau telah menyuap lawanku agar aku cepat selesai bertanding dan bisa sampai ke mari.”
(Dalam Bahasa Inggris)”Jangan gitu, mei-mei. Aku tak pernah mau melibatkanmu. Aku tulus-lah.”
(Dalam bahasa Hok-Kien)“Omong-kosong. Tak pernah, sampai kau mendengar Taiwan akan di Invasi. Kau tahu aku pasti mulai jenuh di MMA (Mix Martial Art). Lalu kau mau mengikat salah satu anak buah baru mu ini dengan menjodohkannya denganku. Dengan begitu mereka selamanya milikmu dan aku tak pergi jauh lagi.”
Mr. Lee ketawa ketahuan,(dalam bahasa Hok-Kien),”Kira-kira yang mana yang kau suka?”
(Dalam bahasa Hok-Kien)“Dua-duanya berwajah seperti dadu, tapi aku mau lihat dulu mengapa kau sangat mengandalkan mereka. Aku belum putuskan yang mana.”
“Kalian sudah dengar, Lin akan memimpin operasi kita selanjutnya,” Mr. Lee memberi keputusan. Yang lain menunduk. Tak ada yang keberatan.
“Aku hanya akan duduk di sini dan melakukan pengawasan. Mulai hari ini Lin mengambil alih kepemimpinan di lapangan. Kalian akan membawanya dan memperkenalkannya ke setiap Rekanan dan perwakilan di seluruh dunia.”
“Ayo, siapa yang melawan aku,” ia memutarkan pandangannya sambil memegang salah satu stick game, hanya Jonathan yang tertarik. Sedang Simura dan Gopal memberi hormat kepada Mr. Lee dan mencium tangan Lin. Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan. Parky duduk di pinggiran jendela sambil memandangkan mata ke ujung danau Toba. Lin meliriknya lalu naik ke kamarnya.