Triad
Suara bising bercampur dengan sinar laser yang membelah gelapnya malam. Remang-remang membuat wajah semua gadis-gadis yang ada di pesta itu menjadi cantik jelita. Apa lagi para lelaki sudah mabuk semua. Mereka berjoget-joget dalam alunan musik tecnomojo yang lagi tren di kalangan muda global generasi Triple Z (2030), atau sering juga disebut Generasi Z.o.3, atau terkadang disebut “Uncle Zoe Generation”.
Aliran musik ini menghadirkan vocal-vocal penyayi masa lalu, namun dengan lagu-lagu baru yang belum pernah mereka nyayikan. Lalu lagu-lagu tersebut di beri bit techno dan dicampur dengan suara-suara alat musik kultural. Terkadang raungan suara gitar diselipkan, adapula yang mengisi melodinya dengan suara organ atau piano.
Sopar dan Jonatan ada dalam kerumunan itu. Tetapi tidak ikut mabuk, atau tepatnya setengah mabuk. Mereka menjaga kewaspadaan mereka dengan orang-orang di sekitar mereka. Dengan Gogle Id di mata mereka mengenali semua orang yang ada dalam kerumunan itu sambil tetap berbaur. Mereka akan tahu kalau ada polisi atau aparat negara yang menyamar dalam kerumunan.
Malam ini adalah waktu kedatangan barang ilegal yang akan tiba dengan pesawat amphibi tanpa awak. Mereka diberi kepercayaan oleh sang “King Pin” asal Taiwan, untuk mengawal barang itu pasti masuk tanpa terdeteksi. Ini hanya bagian akhirnya.
Barang yang mereka sebut dengan corona-x di produksi di salah pulau di kepulauan Madagaskar, milik boss mereka. Gunanya semacam metavitamin yang membuat tubuh menjadi kebal terhadap banyak virus secara stimulatif. Jenis Narkotik ini memberi efek “hi” yang sama dengan kokain.
Namun karena memiliki efek ketergantungan yang tinggi, Corona-x dilarang dijual bebas. Karena ia sebenarnya tidak membunuh virusnya hanya menghilangkan efek dari virus-virus yang banyak sekali merebak pada masa itu. Jadi jika seseorang berhenti mengkonsumsinya, pada tingkat ketergantungan yang tinggi, maka orang itu akan langsung mati.
Jonathan dan Sopar terlibat dalam semua urusan ini sejak Bapak Uda mereka tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Sialnya semua beasiswa dan kontrak kerja yang mereka dapat dari Tokyo “ditinjau ulang untuk waktu yang tak terbatas”, hanya karena perwalian mereka dinyatakan telah meninggal dunia. Tidak masuk akal.
Sopar tersinggung dengan pembekuan itu. Ia tidak menunggu lebih lama untuk langsung keluar kerja. Ia mengajak Jonatan untuk juga keluar dari kuliahnya, dan sepakat mengembangkan tehnologi yang mereka temukan. Walaupun sebulan kemudian ia menerima surat --kalau kontraknya sudah kembali berjalan.
Mereka menjual semua sawah dan rumah Bapak Uda mereka, dan berangkat Ke Tokyo. Mereka bertekat menjual Laba-Laba Terbang setelah melakukan beberapa perubahan, diantaranya dengan memperbanyak bola yang bisa dikendalikan dengan satu remote. Mereka yakin bahwa dengan alat mereka, orang akan tertarik, sebab dapat diprogram ulang sesuai kebutuhan.
Akhirnya tujuan mereka tercapai. Seorang Taipan Taiwan membelinya, dengan syarat mereka berdua bekerja untuknya, tanpa kontrak, hanya kesepakatan. Mereka menerima uang 100.000 U$ untuk alat mereka dan mereka akan digaji 5000 U$ perminggu, dengan semua fasilitas yang mereka mau akan dipenuhi. Keduanya langsung menerimanya.
Pada awalnya mereka tidak tahu untuk apa Mr. Lee menyuruh mereka untuk membuat bola-bola mereka menjadi sebesar bola rugby sungguhan. Lalu mereka diminta untuk membuat bola-bola itu bisa bergulir di atas air, mengikuti sinyal magnetik yang dikirimkan kapal tertentu, lalu jika diinginkan bisa tenggelam, untuk bisa dipanggil lagi kepermukaan.
Mereka diberi tahu bahwa alat mereka itu akan digunakan untuk memegang jala ikan nelayan. Jadi sebuah kapal tak perlu punya banyak awak, cukup satu saja. Begitu kata Mr. Lee kepada mereka. Mereka diberi waktu 1 tahun untuk menyelesaikan proyek ini.
Hanya delapan bulan proyek ini bisa mereka selesaikan.
Ujicoba pun dilakukan. Bola-bola itu diletakkan disekeliling kapal. Lalu sepanjang satu kilometer bola-bola itu berprilaku layaknya “anak-anak” dari kapalnya. Ia bisa menyelam hingga ke dalaman 50 meter, lalu muncul lagi.
Hebatnya bola-bola ini tidak membutuhkan pengisi daya atau sejenisnya, dengan memanfaatkan kapasitas mesin kapal, energi eletromagnetik yang biasanya tidak berguna pada mesin, di pepatkan dan di gunakan untuk bola-bola itu.
Mr. Lee sangat senang. Tapi dengan dingin ia berkata (dalam bahasa Inggris),”Besok aku akan memberimu 100.000 U$ lagi, lalu kalian boleh pergi. Datanglah ke Hotel besok sebelum makan Siang.”
Mereka berdua bingung. Mr. Lee mengaku puas, namun caranya berbicara, menyiratkan bahwa mereka akan diberhentikan. Sekejap saja rasa senang yang mereka rasakan beberapa menit yang lalu, seperti ikut dengan kepergian Mr. Lee.
“Gimana nih, Par. Kayaknya kita besok akan selesai.”
“Bodoh amat. Kita sudah lakuin tugas kita. Kita bisa pulang dan menebus rumah dan sawah Uda. Kita sekarang punya tabungan lebih untuk bikin proyek baru, atau melanjutkan proyek kita.”
“Okeh lah, aku hanya sempat berpikir, kita akan terus kerja sama dia.”
“Kita nggak pernah dibikin rugi, kok Dek. Semua uang yang seharusnya kita terima sudah kita terima. Apalagi. Kalaupun dia berubah pikiran untuk nggak jadi ngasih janjinya besok, dia nggak punya hutang apa-apa. Besok hanya hari kita menerima bonus.”
Mereka pun pulang dengan sepeda motor yang disediakan untuk mereka. Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam. Begitu juga malamnya. Begitu juga paginya. Begitu juga waktu sarapan, juga waktu berjalan ke Hotel.
Sebelum masuk ke lobi Hotel Shangri-La Tokyo, mereka berdua saling melihat. Mencoba saling tersenyum, yang terlihat hanya senyum yang dibuat-buat.
Seorang pria bertubuh langsing menyapa mereka (dalam bahasa Inggris), “Mr. Lee send me. Please come with me.”
Mereka mengikutinya. Rupanya Mr Lee menunggu mereka di Hellipad dengan meja permintaan pribadi. Saat mereka tiba di sana, orang tadi berdiri di pintu untuk berjaga-jaga.
“Please,” sapa Mr. Lee, “I Can’t wait, I’m very starving, so I already start before you come,” katanya melanjutkan tanpa berhenti mengunyah,”Please.”
Mereka berdua mengambil kursi masing-masing. Jonathan hendak berbicara, tapi Mr. Lee, melarangnya, “We”ll talk later. Please eat anything on this table at your will.”
Jonathan dan Sopar selesai lebih dulu. Tapi Mr. Lee terus makan seakan tidak memperdulikan mereka berdua. Sesekali keduanya mencomot sesuatu dari meja makan. Namun tak seintens seperti yang dilakukan Mr. Lee. Sang Taipan baru berhenti setelah semua makanan di meja itu habis.
Tak lama kemudian tiga gelas dan tiga botol wine datang. Para pelayan itu membersihkan meja lebih dulu, dan meletakkan Botol dan gelas di depan masing-masing. Mr. Lee menuangkan untuk dirinya sendiri. Mereka mengikuti.
Lalu seorang pelayan lagi meletakkan tapak berbentuk petak di hadapan mereka bertiga: sebatang g***a dan sebatang cerutu. Jonathan dan Sopar saling berpandangan, Mr. Lee melihatnya.
Dengan tenang Lee membakar ganjanya lebih dahulu. Sopar menendang kaki Jonathan agar mengikuti Mr. Lee. Merekapun menyulut ganjanya. Begitu juga saat Mr. Lee meminum anggur segelas sekaligus mereka berdua mengikutinya.
Tiba-tiba Mr. Lee tertawa, “What are you doing, you act like my own shadow?’
Mereka berdua ikut tertawa. Sepertinya pengaruh ganjanya sangat cepat.
“You know my friend, The precioust thing about the lunch it’s not the food. It’s what we are doing know. Relaxing, chill, and feels the happyness with our stomach full. “
Dia diam sebentar. Jonathan dan Sopar begitu tegang, karena mereka sangat ingin terus bekerja dengan Mr. Lee dan takut melakukan kesalahan.
“My attention of your project started from the ball’s shaped. I’ve seen many of this kind. And I wonder why did both of you did that. Than I find that you fix the shape as it is, coming for two reason: the Aerodynamic, and the magnitude of earth gravitation. It’s Genius. By Distorting the gravitation, you can move something with no baterry power, just like compas.”
Jonathan yang mulai mabuk, mencondongkan tubuhnya dengan wajah heran, “How did you understand that? That’s our secret of this entire project.”
Sopar menendang kaki Jonathan. Mr. Lee tertawa, “I was a scientist. But destiny had choosen me become a bussinessman and also rich. Not like other people who dream become rich but always poor. I hate being rich, but money sieges me from every direction.”
Beberapa saat wajahnya serius. Lalu ia tertawa sekeras-kerasnya, membuat dua bersaudara itu ikut tertawa.
“I’m just joking. The really things are, I realize, that if I’m staying with my scientist figure, I did too much for this world, but nothing to my self. Yes, it’s selfish, but it’s real. Where do this world when someone humiliated me? When was this world care about me and my family’s feast? Then I know, if keep mine do so, it’s just insanity. That’s megalomanic thought.”
Sopar mulai menangkap arah pembicaraan ini. Ia mulai menduga bahwa kekayaan Mr. Lee tidak 100% legal. Tapi ia belum membuat suatu keputusan apapun. Bagaimanapun kemampuan Mr. Lee menemukan cara kerja alat yang diciptakannya, bukan hal yang terbantahkan. Walau secara tehnis pasti Mr. Lee tak akan mampu merlakukannya sendiri. Ia mencium bahwa Mr. Lee ingin mengatakan dua hal sekaligus, “Bekerjalah untukku, atau aku akan menyewa orang lain. Tapi pekerjaanku ini bukan sesuatu yang baik-baik saja.”
“ I came from a poor family. My father work as gardener, and my mother work as a waitress in small club. I have only one sister. Everything is O.K until I graduate and become a teacher. Then s**t happened, the virus Covid had taken my Father and Mother. Then I realize that happines is as fragile as glass,” Mr. Lee melanjutkan.
Ia menghela nafas sebentar,”So I took my sister to Madagascar. We start all over, but different direction. We do not believe anymore to a simple happiness to the other happiness is the best way of living, like our parents told us. We have new believe. Happyness is created, not being. By this new believe, I become rich, and my sister have found her way.”
“Tell me, if you look at me. What’s these all about?” tanpa menunggu jawaban dari keduanya ia melanjutkan, “No, not money! It’s Power. Happyness come from Power not material. Happy people is powerfull people, out side of it, is fake happyness. Am I wrong?”
Keduanya bingung, tak tahu harus mengatakan apa. Ini baru pertama kali mereka mendengar yang seperti ini. Mereka berdua bahkan lupa untuk saling melihat. Leher mereka seolah terkunci hanya untuk mengangguk.
“What the great thing about rich anyway? A w***e can be rich, a beggar so. Many of this reach people are thives. You both believe me? My vision is not for richness, but to over rule, to order,” Mr. Lee menatap mereka bergantian.
“Two of you are stupid, everyone else stupid, if, “ katanya dengan menggantung, “if you think by folowing law, rules, or anything like it, you are a good people. The are no good people, there’re only victims, there are only slained people. The other side, we call them the ruler, a new order. That’s you and me, and the rest differents of us.”
“That man,” Katanya lagi sambil menunjuk orang yang tadi menjemput mereka, dan sekarang sedang menjaga pintu masuk, “That man can kill us in a blink, but I’m sure he won’t. Because I’m the ruler, I’m the law, he won’t get nothing by killing me, but got everything if he keep me alive. See? Tell me if I’m wrong.”
“No, Sir,” Jonathan menjawab seolah dipaksa, Sopar hanya mengangguk.
Mereka terus bicara sampai menjelang malam. Sebenarnya itu lebih mirip sebuah monolog. Mr. lee bicara, dan kedua sepupu itu hanya mengangguk-angguk, atau sekedar berkata, “Yes, Sir” atau “No, Sir”. Tapi belum ada kelihatan tanda-tanda kejenuhan keduanya. Apalagi g***a dan anggur terus disajikan sepanjang hari dan makanan datang silih berganti.
Saat hari mulai gelap, Mr. Lee berdiri. Ia berdiri ke pinggir gedung, “Come here kids, help me to just this.”
Mereka berdua dengan sempoyongan mendapatkan Lee. Lalu Lee berkata,”Our civilization are made beautiful in darkness. Look at this city. In days there are no different between it and thousand of cities in the world. But look at this,” Mr. Lee menunjuk seluruh kota dengan bibirnya, tangannya diam di kantung celananya.
Jonathan dan Sopar terpana. Seolah-olah mereka lupa bahwa mereka telah tinggal di Tokyo lebih dari 1 tahun. Sejenak efek alkohol dan g***a seolah tenggelam dalam lampu-lampu dan kilatan kota.
“Let’s take our own chair and sit here,” Mr. Lee mengajak mereka. Seperti anak sekolah dasar yang mengikutkan gurunya. Mereka ikut mengambil bangku, sambil tak lupa mebawa gelas dan angggurnya masing-masing.
“When everyone talk about artificial intelegence, I have been forming what I call Artificial Alchemy,” katanya memulai pembicaraan saat mereka mulai duduk di tepi gedung menikmati pemandangan malam Tokyo. Ia seolah menunggu respon dari keduanya.
“What was that, Sir?” Jonathan bertanya terpancing sikap Mr. Lee yang diam beberapa saat.
“It’s a d**g. A medicine that can save you of any pain of any desease. It’s a chemicall stuff that can redeem any sympthon of any sick. And I settled all of it by my own.”
Sopar mendapat poinnya. Dari tadi ia sudah meyakini bahwa mereka akan diajak ke sesuatu yang tidak “biasa-biasa saja”. Namun ia merasa dihargai dengan cara Mr. Lee menyediakan waktunya seharian untuk membujuk mereka. Dia hanya menunggu seburuk atau sebaik apa tawaran Mr. Lee.
“Last Year I’ve made 20 Milion US Dollar of it. But now days I have problem because some countries, include yours, have categorized my stuf as an illegal drugs. So I closed my company in Hongkong. But I’m not give up yet.”
“I’ve already set hundred of Fabric in many countries before they think can pull me down. I still have million of Dollars in many account, and million of Pound, And millions of Euro. And I won’t let my lots of client dissapointed of this situation.”
“So when I saw your technology, I thought both of you have been my way out. I’m not intrested the way yours attacked anything, but I was passsionated to make them as a cargo.”
“You mean like smugling, Sir?”, Jonathan ternyata malah tertarik.
“Yes, From the sky we will drop a tank of your balls,” tiba-tiba dia tersenyum, “No, not that balls, I mean those balls,” mereka serempak tertawa, kali ini bukan basa-basi.
“Then from the ocean, we’ll send a ship to catch them on, and then control them right in front of every officer of any country.”
“I think we better drop it in a lake, Sir. Ocean are still risking. We’ll drop it on a lake,” Sopar berbicara.
Mr. Lee tersenyum, karena itu berarti persetujuan dari kedua sepupu itu,”You right, we’ll drop it in a lake.”
Beberapa saat kemudian mereka mendiskusikan masalah tehnis, hingga akhirnya Mr. Lee dijemput Helikopter, dan mereka dijanjikan untuk berangkat ke Madagaskar dan mulai berkerja.
Di perjalanan pulang, kedua sepupu ini tak berhenti antusias. Mereka merasa bersyukur bisa bekerja terus dengan Mr. Lee. Mereka membayangkan tak akan sulit menebus tanah dan rumah Bapak Uda-nya dan masa depan mereka untuk menjadi “ruler” seperti yang dikatakan Mr. Lee. Dan seperti saat takdir berpihak, dua tahun kemudian Indonesia membuat kebijakan untuk membuka semua daerah parawisata untuk di kelola investor asing dengan kontrak maksimal 50 tahun, Mr. Lee membeli dua resort di Pulau Samosir. Mereka diberi kepercayaan untuk mengelola Covid X di Indonesia.
******
“Sopar?”
“Tahan Jo, tiga orang ini sepertinya Polisi. Dari tadi mereka tidak minum.”
“Udah kau coba ngasih minuman gratis?”
“Perempuan pun udah kukirim. Mungkin orang ini homo.”
Jonathan tertawa spontan, “Tunggu di situ. Coba cek lagi datanya.”
“Udah. Sepertinya data mereka dihapus. Mungkin operasi kita sudah bocor.”
“Tahan, Bro. Tunggu aku ke situ.”
Tapi Jonatan sudah tidak sabar menunggu sepupunya. Ia menghampiri ke tiga orang yang dicurigainya itu, “Boss, dari tadi kalian tidak minum. Kalau begini, hotel kami bisa tutup.”
Orang pertama yang paling tinggi menjawab, “Kami dalam tugas. Jangan menggangu, ini tugas negara,” katanya sambil menunjukkan tanda pengenalnya.
Dalam hatinya Jonathan tertawa, “Ini manusia g****k, terlalu cepat ngaku,” katanya dalam hati.
“Maaf, Pak,” ia beringsut dan mendatangi salah satu banci yang dipakainya sebagai pelayan di tempatnya, “Pecahkan kepalanya dengan botol bir. Abis itu berteriak lah ada polisi.”
Banci itu menuruti perintahnya. Kehebohan pun terjadi. Ketiga orang itu terdiam karena pesta jadi berhenti dan semua orang melototi mereka. Sopar baru sampai, ia seolah menjadi pahlawan kebenaran, “Tolong kawan-kawan, bapak-bapak ini kawan saya.”
Mereka masih tak percaya, semua orang memelototi polisi-polisi itu --sambil mengeluarkan s*****a masing-masing.
Para polisi pun tahu diri. Mereka tidak menolak sewaktu Sopar mempersilahkan mereka ke pintu keluar. Orang yang dipukul pakai botol bir masih memegangi kepalanya. Jonathan mengantar mereka ke pintu sambil bilang, “Lain kali Pak, kalau mau jadi polisi di kantor aja, jangan di sini.”
Ketiga orang itu masuk mobil dan langsung berangkat. Jonathan geleng-geleng kepala. Sopar mendatanginya.
“Harusnya kau tunggu aku.”
“Ah, cecunguk macam itu, tak perlu basa-basi, Bro.”
“Maksudku, harusnya aku yang mukul kepalanya.”
Mereka berdua tertawa. Musik masih bising. Lalu Jonathan membuat panggilan, “Muat sekarang.”
*********
Setelah bekerja untuk Boss Lee, begitu mereka kemudian memanggilnya, Jonathan dan Sopar tahu bahwa kehidupan Mafia itu sebenarnya tak seperti yang dalam filim-filim fiksi. Mereka terkadang menyaksikan bahwa orang-orang di sekitar Mr. Lee penuh dengan orang orang yang memilih memberi uang dari pada berkelahi. Padahal kalau di bioskop banyak orang terkagum-kagum karena tokohm-tokohnya dingin dan tak punya perasaan.
Misalnya, Tuan Simura, anak buah Lee yang dikenal paling brutal di luar kelompok mereka. Dia pernah tak makan empat hari hanya karena ayam Bangkoknya mati. Atau Tuan Gopal, orang India yang dikenal ahli memainkain pedang ular (pedang Elastis) pernah memarahi istrinya karena ikan cupangnya mati.
Intinya mereka bukan orang-orang yang dingin seperti dalam filim. Mereka malah sering emosi berlebihan. Mungkin lebihnya cuma satu, jika mendapat perintah dari boss, mereka selalu menganggap itu sebagai kesempatan cari nama, jadi mereka jarang melepaskan kesempatan.
Jonathan dan Sopar sering berdiskusi tentang itu. Bagaimana mereka “terjebak” dalam dunia hitam, dan sangat menikmatinya. Bukan karena imbalan yang mereka dapatkan, tapi lebih kepada semua orang menghormati mereka, tanpa mereka harus terjebak dalam situasi basa-basi bermuka dua. Mereka sering ngobrol berdua bagaimana ironisnya dunia. Bahwa di dunia “orang baik” kata-kata tak bisa dipegang, Sebaliknya dalam dunia yang kelam, kata-kata berarti nyawa. Bukan hanya nyawanya, kemungkinan besar nyawa keluarganya.
Jonathan dan Sopar pernah menjadi saksi bagaimana Lee membantai satu keluarga besar di depan hidung mereka. Itu terjadi karena akuntannya, ternyata selama bertahun-tahun telah menambahkan beban pajak keuangannya sebesar 1 % setiap hari.
Sebenarnya, kata Lee, dia tak marah karena uang yang mereka ambil, tapi katanya mereka telah membuat dirinya seperti orang bodoh, karena mereka dibayar untuk meringankan pajaknya. Lee yakin bahwa di belakangnya semua orang ini telah menertawakannya. Dia membunuh keluarga besar itu dari yang kakek-kakek hingga bayi. Di depan semua orang.
Waktu itu Jonathan sampai depresi dan mengajak Parky (begitu Jo terkadang memanggil Sopar) untuk keluar. Di depan semua orang Lee membunuh lebih dari lima belas orang dengan sebilah pisau. Membiarkan mereka menggelepar seperti ayam.
“Dia itu iblis, Par. Pokoknya aku udah mau gila.”
“Kita sudah membicarakannya dulu, Dek. Dunia mereka itu, atau dunia kita sekarang, dipenuhi orang yang tak punya kesempatan. Sebagian dari mereka orang miskin, dan sebagian lagi pasti orang bodoh. Jadi kalau mereka kejam itu hanya karena kedua keadaan itu. Kita tak mau miskin dan dianggap orang bodoh!”
“Tapi khan nggak perlu begitu. Setidaknya bayinya bisa di kasih sama panti asuhan!”
“Trus apa, hah? Gimana kalau yang lain berpikir aku bisa menghianati Boss, setidaknya anakku selamat, itu gimana?”
“Udah diam kau. Ngomong dikit lagi kau, kulempar kau pake HP ini!”
Sopar hanya terdiam, dia tau adiknya tak bermaksud seperti itu. Dia sadar bahwa hatinya pun tak setuju dengan perilaku Lee. Tapi dia juga tahu kalau Lee akan membunuh mereka jika tahu mereka keluar karena peristiwa tadi siang.
Hati Jonathan baru kembali setelah beberapa kali ia mendengar anak buah Lee mendebatnya –tanpa mendapat hukuman apapun. Termasuk waktu Boss memutuskan memberi Resort di Pulau Samosir dan menunjuk mereka menjadi perwakilan di Indonesia.
(Dalam Bahasa Inggris)
“Boss Arif, kita harus menyingkir dari Taiwaan dan Madagaskar. Putin dan Damon sudah sepakat. Tak ada lagi yang bisa mencegah China menginvasi Taiwan dan tak ada orang Madagaskar yang akan menolak China.”
“Boss Lee, kita ini pengusaha bukan penjahat, juga bukan politisi.”
“Ya, benar. Tapi kita juga bukan orang bodoh yang menunggu nasib untuk dipotong lancau-nya.”
“Seharusnya aku lebih takut, Boss Lee. Lancau ku lebih besar dari lancau mu!”
“Apa bedanya kalau sudah dipotong? Kita sama-sama tak punya lancau…”
Arif khan terdiam, “Jadi apa solusimu?”
“Kita pindah ke Indonesia, Pulau Samosir. Kita akan melindungi keluarga dan bisnis kita dari sana.”
“Gimana kalau Inggris dan Amerika menyerang Indonesia. Samosir juga bakal kena?”
“Dasar kau India bodoh! Ratusan orang Amerika sekarang tinggal di sana!”
“Kau pikir orang Amerika benar-benar perduli berapa rakyat mereka yang mati, China babi? Kalau didata korban perang dingin dan perang teroris jauh lebih besar dari perang Vietnam, tahu kau itu!”
“Hei India tukang kawin, g****k mu nggak usah kau besar-besarkan! Kau sudah tahu, Amerika besar belakangan ini karena Si Damon anjing itu tukang cari muka sama rakyatnya, bodoh!”
“Jadi, maksudmu siapa yang bakal menjaga bisnis kita? Mau kau suruh aku ke Samosir? Mati aja kau!”
“Bukan, bukan begitu. Operasi kita tetap tidak terpusat di satu tempat. Hanya masalah pergudangan dan distribusi.”
Sopar dan Jonathan bingung melihat pertengkaran itu. Merekamencoba mencari keterangan dari ekspresi yang lain yang hadir dipertemuan itu, untuk menemukan jawaban yang tidak terucap. Mereka tak menemukan ketegangan di sana, setidaknya setegang mereka.
“Aku punya calon terbaik untuk menjaganya. Mereka berdua ini anak sekolahan, tak pernah terlibat kejahatan di mana pun. Mereka juga pemberani, dan yang terpenting, mereka Mereka ini orang Indonesia,” katanya sambil menunjuk ke arah Jonatan dan Sopar.
Sopar bergidik sewaktu Mr. Lee menatap langsung ke matanya. Ia sudah lama takut –kalau suatu waktu Mr. Lee akan menggila dan membunuh mereka berdua. Kebiasaan Lee menggorok leher dengan pisau sungguh membuatnya risau.
“Orang siapa mereka? Orang mana?”
“Itu bagusnya. Mereka belum pernah kerja pada siapa pun di dunia Narkotik, dan mereka orang daerah sekitar Samosir.”
“Tapi Narkotika di Indonesia jadi musuh Pemerintah. Bagaimana dengan itu?”
“Kita punya perwira Polisi dan Angkatan Udara di sana, jangan kuatir tentang itu.”
“O.K. Lah kalau begitu. Aku setuju, mari kita cerita yang lain sekarang.”
Keduanya tertawa, lalu saling tersenyum, “Rif, kalau bukan karena uangmu, sudah lama aku membunuhmu!”
Arif Khan membalas, “Kau tak akan membunuhku, karena kau kagum sama lancauku.”
Keduanya tertawa.
*****