1 Januari 2030, Beijing
Sudah lima tahun sejak China menjadikan Guidhur sebagai Provinsi khusus orang Muslim, China berhasil merangkul banyak negara Islam. Mereka tetap melarang penyebaran agama Islam di luar Guidhur, juga menetapkan Paspor khusus bagi mereka jika bepergian ke luar provinsi di dalam wilayah RRC. Sikap ini dianggap dunia Islam sebagai sikap yang sangat melegakan dan saling menghormati.
Presiden Lim Ping di kenal orang yang sangat piawai dalam memahami berbagai agama. Ia belajar tentang Tao, Konfu, Nasrani, Islam, Hindu, Budha, bahkan Zoroaster hingga kepercayaan kepercayaan aneh di Afrika seperti voodo, atau di Indonesia tentang roh-roh jahat yang bisa dikendalikan oleh apa yang mereka sebut sebagai datu.
Ia memang seorang antropolog. Keaktifannya di partai untuk kembali ke garis komunis merupakan penyebab ia mendapat dukungan. Ia dengan setia membeberkan tujuan-tujuan komunis dalam pengertian sebenarnya dengan cara yang benar-benar baru. Penekanan terhadap garis Mao namun yang disesuaikan dengan zaman membuat ia banyak mendapat simpati dari anggota Komite Sentral Partai Komunis China. Mereka mendorongnya menjadi pemimpin, di saat Partai mulai bingung menghadapi perilaku generasi muda yang semakin liar dan tidak terkendali.
Trauma akan peristiwa Tianan-men, memaksa mereka mengunci senapang-senapang militer untuk membunuh anak-anak mereka sendiri, walaupun sikap berseberangan dengan partai semakin meluas di kalangan Pemuda China. Mereka mulai meragukan sistem mereka sendiri.
Lalu datanglah Lim Ping. Ia mengingatkan kembali Partai akan pentingnya “One China Policy” sebagai bentuk harga diri Bangsa China. Ia mengingatkan bahwa China tak akan utuh jika potongan tubuhnya yang telah hilang itu tidak dipersatukan lagi. China adalah sebuah bangsa bukan Negara. China adalah satu-satunya bangsa yang bisa mempertahankan budaya politik dan hegemoninya tanpa ditelan oleh zaman, seperti Mesir dan India –begitulah katanya.
Ia tidak menyukai bau rokok dan tidak minum alkohol. Ia juga tidak menikah dan hidup selibat. Karena itu ia digelari Little Budha.
(Dalam bahasa Mandarin)
“Ingatkan aku lagi mengapa kita melakukan ini,” kepada orang kepercayaannya --Ziang Ling, di balkon kamarnya.
“Untuk kebesaran China, Yang Mulia.”
“Mengapa kita harus besar?”
“Karena jika kecil, kita tak akan pernah keluar dari bayangan yang lebih besar.”
“Apa yang salah dengan itu?”
“Kita akan hidup dalam kegelapan.”
Sebenarnya pembicaraan ini adalah pidato yang di ucapkan Lim Ping sewaktu ia dianggkat Komite Central menjadi Presiden di depan Sidang Umum Partai, yang di siarkan langsung di berbagai Televisi dan Media Sosial secara Live (streaming). Pidato itu berjudul “Saatnya China Keluar dari Bayangan para Raksasa Barbar”. Setiap kali dia memanggil Ziang Ling, ia harus memberi jawaban yang sama.
Langkah pertama yang diambilnya sewaktu menjabat Presiden adalah memberi dukungan dana kepada perusahaan-perusahan yang berinvestasi ke luar negeri –dalam bentuk share saham sebesar 50:50. Sebaliknya bagi investor asing yang menanam modal di China di fasilitasi dan diberikan pajak yang sama dengan perusahaan lokal. Dengan otomatis orang China lebih banyak berinvestasi di luar negeri, sedangkan kehidupan dalam negeri orang China dipelihara uang orang asing.
Kemudian ia menaikkan biaya pengapalan yang berangkat dari China dan menurunkan biaya masuk. Dengan demikian perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di China akan lebih memilih untuk menjual produknya di China. Sedangkan di sisi lainnya para importir dirangsang untuk lebih aktif, sehingga harga kebutuhan di China menjadi murah.
Ia juga membuka organisasi buruh non-partai yang disebutnya sebagai Komunis Sipil di berbagai pelabuhan sebagai pengelola bongkar muat, setelah memperbanyak pelabuhan-pelabuhan. Langkah ini mengikis habis pengangguran, setelah sebelumnya ia mengeluarkan penghentian semua tambang batu-bara.
Penghentian tambang batu bara ini mendapat penghargaan yang sangat besar dari badan lingkungan hidup dunia. Ia menutupnya dengan alasan terlalu banyak mengambil nyawa manusia dalam kecelakaan kerja, dan akan dibuka kembali jika tehnologinya lebih aman bagi pekerja dan masyarakat, juga lebih ramah untuk lingkungan. Ia juga menambahkan, bahwa tambang-tambang ini akan menjadi deposito generasi berikutnya, karena ia akan terus bertambah mahal.
Semula Partai menentangnya. Namun setelah dijelaskan bahwa strategi ini akan membuat China unggul dari negara-negara lain soal keseriusan dan komitmen penyelesaian masalah pemanasan Global. Akhirnya Partai mengizinkannya untuk melakukan penutupan semua tambang batubara di China. Apalagi ia menambahkan, bahwa budaya terunggul dari China adalah berdagang –dengan membangun sejumlah pelabuhan, Partai malah jadi mendukungnya.
Banyak orang bilang ia melakukan itu, karena ia menjadi yatim piatu akibat meledaknya tambang batubara. Seluruh keluarganya yang tinggal di dekat pertambangan batubara, tewas ditimpa longsor akibat ledakan tambang batu bara. Tapi itu tak membuat semua orang tak mendukungnya. Karena sebagai gantinya ia membuka pelabuhan, dengan visi bahwa dalam waktu tiga tahun, pelabuhan-pelabuhan ini akan menjadi kota metropolitan, yang di dekatnya juga akan dibangun Bandara oleh pihak investor asing.
“Kita akan menarik uang seluruh dunia ke China. Anak-anak kita yang berinvestasi di luar akan pulang membawa uang. Dan anak-anak kita yang di rumah akan makan kenyang dilayani oleh orang-orang yang menghormati mereka. China akan menjadi tuan dari tuan, anak-anaknya akan dihormati semua bangsa,” begitulah pidato pertanggungjawabannya pada tahun pertamanya.
Berbeda dengan pemimpin sebelumnya yang memilih lebih diplomatif dan kompromis, Lim Ping bermain dengan sangat keras dalam politik Internasional. Ia menempatkan sikap yang selalu berbeda dengan pemegang Hak Veto lainnya, yang adalah berasal dari dunia orang kulit putih.
“Komunis itu adalah wujud dari anti-imperialisme kapitalis. Jadi pastikan sikapmu harus selalu berseberangan dengan mereka,” instruksinya kepada Duta Khusus Cina untuk PBB. Ia memang memisahkan tugas mentri luar negri dengan urusan diplomasi di PBB. Sebuah perubahan lainnya yang menurutnya akan memudahkan mentri luar negeri melobi berbargai negara tanpa terikat sikap diplomasi China di PBB.
Tetapi sebenarnya yang membuat ia populer bukan karena semua strateginya itu. Di luar sikapnya yang anti kompromi dalam berbagai bidang, sebagai Presiden ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama rakyatnya. Terkadang ia mengajar ke sekolah-sekolah dasar mengajarkan mereka untuk mengeja kata “KOMUNIS”, “Ketua Mao”, “Bapak Sun Yat Sen”. Atau dia mengajarkan tentang filsafat “Cogito Ergo Sum”, “Dialektika” di Sekolah Atas, dan memberi kuliah terbuka di Universitas-universitas mengenai Marxis dan Kritik Mao terhadap Marxis, dan sejarah Partai Komunis China (Kungchantang).
Yang membuat orang terkagum padanya, adalah bahwa ia tidak membedakan ekspresinya saat berhadapan dengan anak 5 tahun ataupun didepan para anggota Komite Central. Ia secara alami memberi kesan yang sama pada setiap orang tanpa membuatnya menjadi sosok yang menakutkan atau berpura-pura merakyat.
“Tuan Ling, katakan apa yang sesungguhnya terjadi?”
“Yang Mulia, perhitungan anda benar. Amerika Serikat resmi keluar dari PBB.”
“Apakah mereka tahu kalau data intelegen yang mereka miliki sengaja kita berikan?”
“Sepertinya tidak Yang Mulia.”
“Kapitalis akan runtuh oleh sistem yang mereka ciptakan sendiri. Amerika Serikat keluar dari PBB, bukankah itu kedengarannya mirip?”
“Benar yang Mulia.”
“Apa beda Komunis dan Kapitalis Tuan Ling?”
“Kapitalis mengambil terlalu banyak dari yang mereka berikan, akibatnya mereka menjadi terlalu gendut dan lamban.”
“Ya, komunis menjaga kesehatan akalnya dengan tidak membiarkan dirinya lengah oleh kemajuan atau pun kemunduran. Sebaliknya bagi para kapitalis kebahagiaan adalah sama dengan eforia. Karena itu mereka gampang dijebak. Kabar lainnya?”
“Seperti perhitungan anda, Rusia juga ikut keluar.”
“Dua singa jantan dalam satu kandang. Sebentar lagi mereka akan saling memangsa. Besok pagi undang semua mentri untuk rapat kabinet. Ingat hanya ada tiga orang yang tahu rencana ini berasal dari saya: kamu, saya, dan ketua Komite Zhi Yi. Lebih mudah mencari jarum ditumpukan jerami, dari pada mencari penghianat bangsa.”
“Saya setuju yang mulia,” Ziang Ling menunduk. Ia teringat bagaimana Lim Ping mengatur agar Zhi Yi naik menjadi Ketua Komite Central. Mirip seperti film-film fiksi kerajaan China, orang di depannya ini mencari bukti-bukti petinggi Komite yang terlibat korupsi dan menyuruh mereka mundur melalui Zhi Yi.
“Sebaiknya bapak mundur, dari pada bukti ini akan menghancurkan kamu dan keluargamu,” ancam Zhi Yi kepada mereka.
Entah kenapa, mereka selalu bertanya, “Apakah Presiden tahu?”, lalu Zhi Yi selalu menggeleng. Saat mereka benar-benar mundur, mereka lalu ditangkap dan segera di adili.
Ziang Ling sendiri adalah seorang perwira muda yang baru lulus dari akedemi militer saat mulai ditugaskan partai (Kungchantang) menjadi ajudan Presiden. Keberadaanya di sisi Lim Ping sebenarnya digunakan komite Central untuk memata-matai sang Presiden. Namun ia menyadari bahwa loyalitasnya kepada Lim Ping akan lebih bernilai di bandingkan jika ia bertahan sebagai mata-mata Partai. Pandangan-pandangan Lim Ping dan cara hidupnya membuat perintah Partai kepadanya menjadi kabur.
Termasuk waktu ia di ajak berdiri di samping Lim Ping saat bertemu Zhi Yi. Ia merasa seolah diberi perintah untuk mengambil keputusan memilih sisi yang mana. Dengan kentara ia dibiarkan mendengar pembicaraan mereka.
“Kita harus membersihkan Partai sebelum maju ke perang sesungguhnya,” Lim Ping memulai.
“Apa yang bisa kita lakukan. Partai bertambah lama bertambah korup dan lemah. Kita bisa saja terjebak dalam permainan kita sendri,” sahut Zhi Yi.
“Tidak sedramatis itu. Kita hanya perlu operasi di bawah permukaan menggalang kekuatan muda dan menarik kembali orang-orang yang tersingkir oleh kekuatan sekarang.”
“Mereka ada dimana-mana.”
“Ini bukan permainan, Kamrad. Dukungan untukku sedang dalam keadaan terkuat. Kau bisa memanfaatkannya untuk informasi-informasi yang kita butuhkan.”
“Apakah mereka boleh tahu bahwa inisiasinya berasal dari anda? Anda pasti jatuh, Kamrad Presiden.”
“Tidak perlu. Tapi kau akan ditemani Ziang Ling dalam mencari dan mengumpulkan informasinya. Jadi mereka akan tahu tanpa harus membicarakannya. Sebaliknya pihak Komite tidak akan langsung curiga, karena kamrad kita ini adalah pilihan mereka untuk menjadi ajudan pribadiku. Hanya saja harus dilakukan secara cepat, sebelum mereka mencurigainya.”
Mendengar namanya dilibatkan –Ziang Ling terdiam, sadar bahwa ia harus segera membuat keputusan. Di sini dan saat ini juga. Lim Ping benar-benar memaksanya memutuskannya sekarang juga.
Zhi Yi mengangguk-angguk, “Baiklah, kita akan melakukannya.”
Ziang Ling tersadar dari lamunannya, Lim Ping sudah tak ada di depannya, tapi ia masih sempat mendengar suara pintu kamar tidur ditutup. Ia berharap tak melewatkan satu-pun kata-kata Tuannya.
Ia berjalan tenang dan keluar dari ruang pribadi Presiden. Menyusuri koridor, menuruni tangga dan keluar dari istana. Segera sebuah Flying Objek mendatanginya. Benda itu menembakkan sinar ke mata nya lalu pergi meninggalkannya. Tak lama kemudian sebuah mobil golf datang. Mobil tanpa awak ini kemudian membawanya ke parkiran. Dari situ ia masuk ke mobil dinas Presiden. Lalu meluncur ke luar ke kediaman Ketua Partai Zhi Yi.
Ia mendapat banyak kewenangan sejak mengambil sisi yang tepat waktu itu. Lim Ping benar-benar memperlakukannya dengan baik. Ia diberi izin untuk menggunakan fasilitas kepresidenan dalam tugas-tugas khususnya berkordinasi dengan ketua partai, walaupun pangkatnya masih seorang Kapten.
Ia menjadi orang kepercayaaan dua orang terkuat di China dalam usianya yang sangat muda, dan pangkatnya yang tidak seberapa. Ia tahu betapa beruntungnya dia, tetapi juga sekaligus betapa bergantungnya nasibnya kepada kedua orang itu. Ia sadar para perwira di atasnya siap menerkamnya jika salah satu dari kedua orang itu melepaskannya. Karena itu ia sangat menjaga agar kedua orang itu tetap sejalan. Jika mereka pecah, maka ia pasti dibunuh salah satu pihak.
Di depan rumah ketua Partai, ia keluar dari mobil dan berbisik kepada supirnya untuk pergi ke rumah Sekretaris Negara dan menyerahkan sebuah surat, “Ingat kamu harus menyampaikan langsung. Aku akan menelepon mentri setengah jam dari sekarang.”
Supir itu menutup jendelanya dan berangkat. Ziang Ling memencet sebuah tombol di arlojinya, sebuah hologram muncul, lalu wajah Sang Menteri Sekretaris muncul di layar, “Yang mulia mentri, mobil Presiden sedang meluncur ke rumah anda. Perintah Presiden untuk menjadwalkan sidang kabinet besok. Harap Pak Mentri bersedia.”
Sang mentri hanya mengangguk, menunggu Ziang Ling mematikan alat komunikasinya. Ziang Ling lalu merapikan pakaiannya. Ia melangkah mendekati gerbang. Sebuah Flying objek memeriksa retinanya lalu pergi. Gerbang terbuka untuk ukuran satu orang. Kamera yang dipersenjatai mengikuti semua gerakannya. Lalu tak berapa lama, mobil golf tanpa awak mendatanginya. Ia dibawa ke depan pintu Rumah Ketua Partai Komunis China (Kungchantang).
Seorang bintara muda mempersilahkannya dan menuntunnya ke ruang kerja Ketua Zhi Yi. Mereka melewati beberapa pasang bintara lain sebelum tiba di depan pintu yang mereka tuju. Bintara itu mengetuk pintu. Pintu terbuka. Ketua partai langsung terlihat. Sekilas Ziang Ling melirik kepada orang yang membuka pintu, seorang wanita berdinas militer dengan senyum yang ramah.
“Ketua sudah menunggu anda, silahkan.”
“Terima kasih,” Ziang Ling menunduk memberi hormat kepada si Wanita. Ia lalu berjalan dengan protokoler militer menuju ketua Partai.
“Hormat Jendral, prajurit Ziang Ling melapor!”, katanya sambil memberi salut ala militer Tiongkok.
“Silahkan, ambil tempat duduk mu,” balas sang ketua.
“Siap, Jendral!”
Ia melepaskan topinya, menggeser bangkunya lebih kesamping agar tidak langsung berhadapan dengan Jendral Zhi Yi. Ini sebuah tradisi tak tertulis militer Tiongkok untuk tidak berhadapan langsung dengan atasannya, atau menatap matanya. Terkecuali tentunya atasannya memintanya.
“Geser ke tengah. Aku tak ingin kehilangan informasi apapun darimu.”
Ziang Ling menggeser kursinya sesuai dengan perintah sang Jendral. Kini mereka berhadapan langsung.
“Apa yang belum kuketahui, Prajurit?”, tambah sang Jendral.
“Akan ada deportasi besar-besaran.”
“Kapan?”
“Paling lama akhir tahun ini.”
“Itu bukan situasi yang tidak kita perhitungkan sebelumnya, Kamrad.”
“Benar, tapi Presiden ingin tahu sikap anda terhadap deportasi yang bisa kita lakukan juga dari China.”
“Apa sikap Presiden.”
“Presiden berpendapat ini adalah waktunya bagi kita menjatuhkan Amerika. China akan menunjukkan sikap kosmopolitan sesungguhnya kepada dunia. Tidak ada deportasi dari kita. Tak akan ada pembalasan. Siapapun orang yang tinggal di China tak akan dideportasi, walau mereka memihak PBB atau tidak.”
“Begitu. Secara militer aku mengkuatirkan mereka akan menjadi mata-mata, tapi Lim Ping lebih berpikir terbuka dan melihat kesempatan ini sebagai cara berikutnya memepermalukan Amerika. Di satu sisi ini berbahaya, di lain sisi Presiden benar.”
Ziang Ling menunduk. Baginya sikap diam dan patuh kepada kedua orang itu lebih masuk akal dari pada mencoba sesuatu yang lain. Kedua orang ini bisa dibilang seperti bisa tahu apa yang akan terjadi sebelum itu benar-benar terjadi. Bukan karena ia takut salah bicara, ia hanya tahu kalau ia bicara, ia sudah pasti salah.
Menjadi penghubung kedua orang ini, sebenarnya bukan tugas yang sulit. Sewaktu Ziang Ling mulai berpikir mengapa Lim Ping memilihnya, Lim Ping tak menunggu untuk mengatakan,”Sebenarnya aku hanya seorang ilmuan yang beruntung menjadi Presiden bagi rakyat terbesar di dunia. Tapi bagaimanapun aku bukan seorang militer. Aku memilih Zhi Yi bersekutu, karena ia mewakili semangat baru untuk kembali ke garis revolusi. Jiwa muda militer. Dan kau adalah bagian dari semesta itu. Apakah aku salah, Ziang Ling?”
Ziang Ling ingin menjawab, tapi yang keluar dari mulutnya hanya,”Aku tak pernah memikirkannya Yang Mulia.”
Baginya Lim Ping adalah sebuah misteri tanpa ujung. Dia bisa menduga apa yang akan dilakukan atau diputuskan oleh Jendral Zhi Yi yang sekarang ada di depannya, tapi ia tak pernah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Lim Ping detik berikutnya. Terkadang ia tak merasakan apapun saat Lim ping memintanya melakukan sesuatu.
“Baiklah,” kata Sang Jendral akhirnya, “Katakan pada Presiden, bahwa aku setuju, tapi harus dengan pengawasan yang ketat.”
“Aku akan menyampaikannya, Kamrad Ketua.”
“Tadinya aku berpikir bahwa beliau akan memintaku melakukan Rapat Istimewa Partai. Ini, lihat aku sudah menyiapkan draft pembicaraan rapat. Ternyata beliau lebih memilih rapat kabinet. Dia akan melakukanya bukan?”
“Benar, Jendral. Besok jam Tujuh Pagi, di Zhongnanhai. Aku sudah mengkontak Menteri Sekretaris.”
“Kau boleh pergi.”
“Siap Jendral!”, Ia berdiri sambil memberi salut,”Prajurit Ziang Ling siap melakukan perintah!”
Ia lalu mengembalikan posisi kursi ke tempat semula. Lalu berbalik dan berjalan dengan gaya tentara berbaris menuju pintu.
“Ziang Ling,” hardik Zhi Yi.
Ziang Ling berhenti.
“Apakah kau pernah bertanya mengapa Presiden begitu percaya padamu? Sampai-sampai beliau menyerahkan semua data intelejen padamu?”
Ziang Ling berbalik dengan gaya militer. Memberi salut,”Izin bicara Jendral!”
“Silahkan.”
“Saya tidak berani. Selesai!”
“Bagus. Jika kelak Presiden tidak membunuhku, maka sekarang aku tahu kaulah yang akan melakukannya.”
“Tidak berani, Jendral!”
“Sudahlah. Bubar!”
Ziang Ling berbalik lagi setelah memberi salut. Ia berjalan menuju pintu membukanya, kemudian menutupnya setelah kembali memberi salut. Penjaga di pintu memberiny salut, ia membalasnya. Tapi untuk wanita di depannya ia hanya membungkuk memberi hormat. Wanita itu membalas sambil tersenyum. Bintara yang tadi mengantarnya dengan sigap kembali mengantarnya ke pintu rumah sang Jenderal.