1 Januari 2030, Gedung Putih
Mat Damon berjalan mengelilingi meja rapat. Sementara para staf dan mentri mengikutinya dengan pandangan mereka. Sebagian dari mereka merasa terintimidasi hingga memutar leher mereka sewaktu ia ada di belakang mereka.
“Kita harus sadar bahwa rapat kita kali ini, bagi musuh-musuh kita, adalah rapat para bandit merencanakan kejahatan. Entah bagaimana, kita benar-benar terpojok seolah kita tak punya pilihan lain selain mengadakan pertemuan ini,” lalu ia duduk kembali ketempatnya.
“Huh,” ia duduk selonjor, mengambil posisi dengan kepalannya lebih rendah dari ujung sandaran kursi, “Anyway, selamat tahun baru.” , sambil tegak kembali.
“Selamat Tahun baru,” ucap mereka hampir serentak.
Sebenarnya mereka sudah saling berpelukan saat baru bertemu. Bahkan beberapa di antara mereka mengadakan pesta kecil bersama tadi malam. Cuma Presiden yang menghilang malam ini, juga dari keluarganya.
“Mr. Rudi,” kata Matt kepada mentri dalam negrinya.
“Mr. Presiden, salah satu issu yang akan muncul adalah ketidakpastian nasib warga negara Amerika yang berasal dari negara-negara yang bertahan di PBB. Terutama keturunan China dan Indonesia. Kita bisa mengesampingkan Indonesia, karena mereka bisa dibilang sedikit.”
“Detailnya?”
“Akan ada demonstrasi anti-perang dari kelompok ini dan para pendukungnya.”
“Kita belum menyatakan perang.”
“Tapi masyarakat sudah, Pak.”
“Opsi.”
“Ada tiga, pertama mendata ulang mereka, dan meminta mereka bersumpah. Kedua, bapak mempidatokan bahwa tak akan ada yang berubah bagi yang warga negara Amerika, tapi tidak bagi yang bukan warga negara Amerika. Ketiga mendeportasi mereka.”
“Resiko.”
“Untuk yang pertama hampir tidak ada, kecuali bahwa sumpah setia itu tidak pernah benar-benar berguna.”
“Itu benar,” jawab Matt,”Aku menyadarinya beberapa saat setelah disumpah jadi Presiden.”
(Yang lain tertawa)
“Yang kedua, akan ada gejolak di masyarakat. Baik tentang main hakim sendiri, saling mencurigai, intinya ini sangat akan memungkinkan k*******n antar etnis dan rasial. Sedangkan yang ke tiga memakan biaya yang mahal, dan menghianati issu AMERIKA ADALAH TANAH PARA IMIGRAN.”
“Kalau begitu lakukan ketiganya, data ulang, pulangkan mereka ke negara asal mereka bagi yang bukan warga negara amerika. Baik turis tenaga medis, para ekspatriat, penduduk ilegal, buruh kasar dan siapa saja yang bukan warga negara Amerika. Buat anggaran khusus untuk itu. Putuskan semua kontrak dengan undang-undang darurat negara. Apakah itu mungkin dilakukan?”
“Dengan hormat, Pak. Apakah anda akan mengungumkan keadaan darurat?”
“Haruskah?”
Rudi Oswald hanya mengangguk. Dengan mata yang berharap-harap cemas ia menunggu Mr. Presiden melanjutkan kata-katanya.
“Kalau begitu jangan. Aku tak mau kalau kita mengalami krisis karena penghinaan ini. Kalau begitu cukup usulkan anggaran khusus. Gunakan protokol sensus tahunan.”
“Baik, Pak,” katanya sambil menuliskan sesuatu di kertas yang ada di depannya.
“Ada komentar yang lain?”, mereka semua terdiam sambil sibuk dengan kertasnya masing-masing, meyiapkan diri jika dipanggil oleh Presiden.
“Mr. Thompson.”
“Ekonomi dalam negeri kita sedang kuat. Isu pemerataan yang bapak lakukan telah meyakinkan publik akan merek-merek kita sendiri. 90% konsumsi dalam negeri kita adalah produksi dalam negeri. Naik 35% dari sebelum anda menjadi presiden. Permodalan dalam negeri kita pun menguat. Satu-satunya kendala ekonomi kita adalah biaya produksi dari penggajian tenaga ahli asing, jadi menurut estimasi saya, sentimentasi di masyarakat akan meningkat oleh peristiwa ini dan ekonomi kita semakin kuat.”
“Bagaimana dengan pasar modal, atau saham atau pasar virtual lainnya?”
“Pasti dollar akan melemah. Tapi itu tak akan menjadi masalah, karena anda telah berhasil membujuk negara-negara regional untuk mendirikan PAN American-Pasifik dan menghasilkan single currency. Lagi pula volume perdagangan internasional kita mendekati nol, perdagangan kita maximal ada di kawasan PAN American-Pasific.”
“Bagaimana dengan pembayaran hutang para kreditur kita?”
“Malah akan membaik, Pak. Dollar akan turun dan mereka akan membayar hutangnya lebih banyak. Parsialisasi nilai dollar di berbagai benua akan mengalirkan dollar kembali ke dunia lain secara sistematis. Strategi kita untuk membuat dollar lebih murah di beberapa tempat dan lebih mahal ditempat lain akan memastikan nilai dollar lebih stabil dari sebelumnya.”
“Jangan bilang tak ada masalah…”
“Ada, Bank Dunia. Kita punya terlalu banyak asset di sana. Dari segi sumber daya manusia, finansial, dan kepentingan.”
“Itu bukan masalah, mentri ekonomiku. Kita akan mengalihkan Bank Dunia ke Organisasi yang baru yang akan kita bentuk. Jadi, benar-benar tidak ada masalah. Missis Lough Jones.”
“Jerman, Australia, Inggris, Prancis, dan seluruh negara Eropa akan ikut keluar, dengan satu syarat, bahwa kita akan membentuk organisasi baru. Seluruh negara Pan-Amerika Pasifik juga ikut keluar. Juga India, Jepang, Pakistan, Mongol, Taiwan, Thailand, Malaysia, Brunai, Filipina, Burma, Kamboja, Papua, Nepal, Korea Bersatu. Tapi di Timur tengah kita hanya punya Kuwait dan Israel.”
“Afrika?”
“Sepertinya mereka bermain “wait and see”, Sir. Belum ada sikap resmi, kecuali Afrika Selatan. Namun itu pun akan berubah pendirian jika seluruh Afrika tidak mau keluar. China berinvestasi besar di benua ini, Sir.”
“Bagaimana dengan estimasi strategi China menghadapi situasi ini.”
“Ada empat kemungkinan, Sir. Pertama, mereka akan menarik diri dan membiarkan PBB hancur dengan sendirinya. Namun, saya meragukan kemungkinan ini. Dari data intelegen kita bahwa keluarnya Amerika Serikat dari PBB sudah mereka rencanakan sejak kepemimpinan Deng Xiao Ping. Mereka menyebutnya operasi ‘Memaksa harimau turun gunung’.”
“Bagus kalau mereka masih menganggap kita harimau.”
“Boleh saya lanjutkan, Sir?”.
“Silahkan.”
“Data intelejen kita menyebutkan bahwa Covid-19 sebenarnya virus yang belum sempurna. Bocornya fasiltas karantina virus, meyebabkan pandemi yang menyebar. Itu adalah peristiwa yang tidak disengaja, namun efektif untuk diteruskan. Secara kebetulan virus itu menyebar dan secara cepat bisa mempengaruhi ekonomi negara-negara Eropa dan kita. Ekonomi yang selama ini kita gunakan menguasai dunia, bidang yang menjadi concern utama kita dalam kehidupan global. Saat mereka menguat, kita malah melemah.”
“Agak dipersingkat saja, Missis Jones. Detailnya nanti bisa kamu kirimkan ke meja ku.”
“Baik, Mr. Presiden. Jadi ringkasnya, kemungkinan keduanya adalah bahwa mereka akan mengambil alih PBB bersama Rusia. Kemungkinan ke tiga, adalah bahwa mereka melakukan wait and see. Inilah adalah kemungkinan yang paling besar, mengingat negara-negara yang tersisa hanya negara-negara kecil dan miskin. Tanpa kita, China akan kehilangan Debitur, dan terpaksa harus membayar hutang-hutang mereka. Yang keempat, mereka meminta maaf dan meyakinkan kita untuk tidak keluar.”
“Kita harus memastikan bahwa mereka tidak akan meminta maaf. Karena jika mereka melakukan itu, kita akan semakin terjebak dalam situasi serba salah.”
“Bagaimana mungkin, Mr.Presiden? Saya pikir, mereka tak akan melakukannya.”
“Dulunya saya adalah seorang aktor. Saya sudah terlalu banyak membaca skrip. Jika kita tidak segera bertindak, mereka akan meminta maaf. Mereka akan terlihat sebagai protogonis, sebaliknya apapun sikap kita, kita akan terlihat antagonis.”
Sambungnya, “Kali ini kamu harus melakukan tepat seperti saya katakan,” lalu ia berdiri lagi, memegang ujung bibir bawahnya, “Lobi Rusia, lalu atur pertemuanku dengan Presiden Putin. Janjikan agenda khusus mengenai perdagangan Rusia dan Pan Amerika Pasifik. Katakan pada Beruang Tua itu, kalau Rusia bertahan di PBB ia akan kehilangan banyak uangnya, berikan ia kalkulasi kerugiannya. Kamu bisa mulai dari sekarang. Pergilah, berikan laporannya hari ini juga, di mejaku.”
Nyonya Jones bergegas mengumpulkan berkas-berkasnya setelah mengangguk dan berkata, “Baik Mr. Presiden.”. Ia pun keluar dari ruang rapat.
Matt kembali ke kursinya. Ia menatap keliling, “Gentlemen, jika Rusia bergabung, kita belum menang. Tapi itu akan memberi tekanan agar mereka melakukan kesalahan. Bagaimana Jendral?”
“Mr. Presiden, jika ini delik perang, saya sarankan kita membuat pangkalan militer di Taiwan, Filipina, dan Israel. Untuk mengurangi biaya, kita bisa bekerjasama dengan negara-negara lain, apa lagi kalau Rusia bergabung.”
“Saya setuju. Tapi bukan di Taiwan. Di Jepang atau Korea. Taiwan akan segera diserbu China, seperti laporan intelejen. Kita tidak boleh terlalu cepat mengobarkan perang. Itu hanya akan menguatkan pernyataan-pernyataan PBB terkutuk itu. Dan coba untuk meyakini Rusia pasti bergabung.”
“Baiklah, kalau begitu Mr. Presiden. Saya setuju.”
“Nah, sekarang setelah Jendral Jhonson bicara, saya ingin mendengar bidang-bidang lain mengutarakan estimasi dan kalkulasi masalah apa yang akan terjadi pada bidangnya masing-masing setelah kita mengusir PBB. Jika tidak ada, dipersilahkan untuk pergi. Kecuali Menteri Sekretaris, banyak yang harus kami bicarakan.”
Satu-persatu mereka pergi, Kecuali Mentri bidang Tehnologi dan Energi, Clifford Dean. Dia menyatukan kedua tangannya dan meletakkan sikunya di atas meja. Wajahnya sedikit galau. Ia menunggu dipersilakan bicara.
“Okey, Mr. Dean sepertinya wajahmu menyiratkan kalau anda akan menyampaikan banyak keluhan.”
“Benar, Mr. Presiden. Saya harap anda sudah mempertimbangkan kalau sumber nikel terbesar di dunia ada di Indonesia. Tanpa nikel, tehnologi flying objek kita akan berhenti produksinya.”
“Tapi, bukankah Peru dan Venezuala juga ada, walaupun lebih sedikit?”
“Itu sudah benar, Mr. Presiden. Tapi skenario anda menarik Rusia dan membuat China musuh tunggal kita akan melemahkan kita dan menguatkan China. Kita harus berbagi nikel dengan Rusia dan membiarkan China memonopoli Nikel Indonesia.”
“Mengapa begitu?” kening Matt Damon berkerut.
“Perjanjian Pan Amerika-Pasifik berbunyi bahwa setiap anggota berbagi sumber daya dan pasar bagi anggota yang lain ekuivalen dengan jumlah produksi, Rusia masuk. Dengan kuantitas produksi Flying objek kita dan Rusia yang berimbang, akan mengurangi jatah kita –yang sebelumnya negara produsen terbesar di kawasan. Kedua, sebelumnya kita menjadi pesaing China menguasai Perusahan-perusahan tambang nikel di Indonesia. Dengan estimasi permodalan China di Asia, bisa di pastikan China akan menguasai Nikel Indonesia.”
“Mr. Clifford Dean, anda tahu mengapa saya menyatukan departemen Energi dengan Tehnologi? Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Tapi saya sewaktu muda sering jengkel dengan pseudo-tehnologi yang hanya bisa dihayalkan tapi tak mungkin terjadi. Dulu saya sering dicekoki dengan mitos anti-materi, mesin teleportasi, mesin waktu. Semua itu membuat para pemabuk dan pecandu berpikir bahwa mereka pintar. Jadi Mr. Tehnologi dan Energi lakukan tugasmu, kirim astronot ke bulan untuk menambang, buat nikel sintetis, atau buat sesuatu yang lain yang sehebat atau lebih dari flying objek yang terbuat dari gandum, atau apapun. Kuharap anda tidak membuat ragu Amerika dan dunia bahwa kita melakukan keputusan yang benar. Anda mengerti Tuan Mentri?”
Clifford Dean tunduk dan tersenyum, “Maafkan saya Mr. Presiden saya tak bermaksud begitu,” ia menghela nafas, mengerti maksud Sang President, “Baiklah, Sir. Kalau begitu saya permisi.”
“Bagus, sampai jumpa,” ia menghela nafas, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Mentri Sekretarisnya, “Bagaimana menurutmu?”
“Bukankah kita sebaiknya bicara di ruanganmu, Mr. Presiden?”
“Tak usah terlalu formal, Jhon. Kini hanya ada kita berdua. Tapi boleh juga, aku ingin menghisap cerutu."
Mereka berjalan menuju ruangan kerja Presiden. Keduanya diam. Jhon tahu betul bagaimana menghadapi Matt saat kesal. Mereka sudah bersahabat lama. Jhon lah yang mendorong Matt untuk terjun ke dunia politik. Selama bertahun-tahun ia berusaha untuk menjaga Matt agar tidak merubah pandangan hidupnya, lalu memperkenalkan pandangan itu lewat media massa dan media sosial. Hasilnya ia terlalu banyak mendapat perhatian.
Matt punya pandangan-pandangan hidup yang unik, namun sangat sedikit yang tahu. Ia pertama kali mendengar Matt bicara adalah sewaktu Matt mabuk di rumah Robert de Niro, yang juga seorang artis ternama, sekaligus anggota kongres. Kebetulan mereka berdua di Undang. Matt karena dia seorang aktor, dan dia di undang karena adalah seorang anggota partai Demokrat.
Acaranya hanya barbeque, plus tequilla. Sebenarnya acara ini sering dilakukan Robert di loteng apartemennya. Hanya kali ini ia ikut di undang. Matt sudah sering, karena Robert menyukai tingkahnya kalau mabuk. Sama seperti Robert, Matt tak suka ada perempuan di sekitarnya saat mabuk, “Itu mengalihkan kenikmatan mabuk menjadi kenikmatan lain, sangat menggangu,” jawabnya jika di tanya dengan pertanyaan sejenis, selalu.
Malam itu Jhon diundang oleh Robert, karena ia anggota termuda partai demokrat yang aktif sepuluh tahun, tanpa berhenti. Ia bertugas dibagian surat menyurat tanpa upah yang terlalu menonjol. Robert tertarik mendengarnya, saat salah seorang koleganya memberi tahunya.
Itu sewaktu Robert berkata, “Kita tak perlu munafik, kita semua di sini hanya ingin menjadi senator, bukan menjadi idealis bodoh. Jadi kalau Mr. Biden beralih ke Republik, tak perlu dibesar-besarkan. Itu wajar, karena ayahnya pernah menjadi Presiden.”
“Maksudmu siapa? Kita? Tidak, kamu salah. Ayo kutunjukkan sesuatu,” Koleganya itu mengajaknya ke ruang surat-menyurat.
“Hei Nak, sudah berapa lama kamu di sini?”
“Sepuluh tahun.”
“Terus di sini?”
“Ya, Sir.”
“Mengapa?”, Robert menyela.
“Hanya hobi menulis mungkin. Di sini aku bisa online sepanjang hari dan terus bisa menulis tentang berbagai hal tanpa terlalu banyak gangguan.”
“Lihat,” kata Robert,”Dia juga punya kepentingan di sini, jadi bukan idealis.”
“Bukan, Bukan. Poinnya adalah dia tak ingin jadi senator seperti yang kau katakan.”
“Hei itu bukan poinku, poinku adalah tak ada yang idealis di partai ini! Titik!”
“Kau tadi tidak bilang persis begitu. Ayolah, apa perlu kita membuka cctv?”
Robert menariknya keluar ruangan, ia tak mau anak itu mendengar perdebatan mereka, ia punya rencana lain, yang mungkin akan dilakukannya di akhir perdebatan ini.
“Kamu membuat debat kusir.”
“O.K, coba tanya dia apa dia ingin jadi seorang senator. Kalau ia bilang sesuatu yang mendekati saja, kau boleh bilang aku sengaja mendebatmu!”
“Kau saja, kalau ada aku, mungkin dia akan berbohong. Aku akan mencuri dengar dari sini.”
“Hei, Nak. Apa pendidikanmu sebenarnya, kenapa kau betah di ruangan ini?”
“Aku seorang Magister, sir, tapi dari Leeds, Inggris. Ilmu Komunikasi Politik.”
“Ou, jadi kamu ingin menjadi senator, ya.”
“Saya kira tidak. Saya menyukai pekerjaan saya. Saya seorang ilmuan.”
Begitu ia selesai bicara Robert masuk ke ruangan, “Mungkin karena kau orang Inggris yang baru jadi warga negara Amerika.”, sambar De Niro sambil berkacak pinggang.
Jhon hanya tersenyum, “Kau dengar aksen ku, Sir. Aku lahir dan besar di sini. Tapi kata orang, Inggris adalah tempat terbaik belajar ilmu politik dan hukum.”
De Niro menatapnya, ia berharap menemukan satu kebohongan di sana. Sayangnya anak itu bahkan tak merasa terintimidasi dan fokus pada layar hologram di depannya.
Koleganya yang berkulit hitam itu menahan tawa. Robert menatap mereka berdua bergantian. Ia ingin menemukan sesuatu yang berbau Prank di sana. Akhirnya ia mengangkat bahunya, “Kalau begitu kau harus datang ke rumahku malam ini. Kalau tidak, ini hari terakhirmu kerja,” Robert meletakkan kartu namanya di atas meja. Jhon tersenyum.
“Terimakasih, Sir. Saya senang sekali,” katanya sambil mengambil kartunya dan mengangkatnya setinggi kepala.
“Tapi tolong berhenti berbahasa Robot,” Kata Robert sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. Ia lalu berbalik merangkul koleganya.
“Kalau dia berbohong, aku akan membunuhmu. Kalau dia bodoh, aku akan membunuhmu. Kalau dia gila, aku akan membunuhmu,” kata Robert menirukan adegan film yang pernah dimainkanya. Koleganya melepaskan rangkulannya sambil tertawa-tawa.
*****
“Hei, Jhon!”, sambut Robert ketika ia datang ke loteng apartemennya –malam itu. Robert langsung memeluk Jhon. Jhon membalasnya. Ia melihat hanya ada 3 orang lain di sana. Ia langsung mengenali Matt Damon.
“Mari kukenalkan pada Liga Kecil ini,” Robert berjalan di depannya menuju kelompok kecil yang sedang bicara setengah mabuk. Mereka melambaikan tangan ke Jhon, tapi hanya sekejap. Setelah itu tidak memperdulikannya.
“Itu kau sudah kenal, Bernard Simon, orang yang mengenalkanku padamu. Itu Matt Damon penerus peran-peranku dulu…”, Matt memotongnya,”Itu tidak benar. Kau selalu jadi orang jahat, aku selalu jadi orang baik. Wajah kita punya karakter yang berbeda.”
“Itu sama saja, buddy. Hanya zamannya yang berbeda,” balas Robert.
“Tapi berbeda khan?”
“Sudahlah, kau sulit mengakui bahwa kau menikmati hasil dari peran-peran yang sudah aku mulai,” Matt hendak mendebatnya, Robert tersenyum sambil menarik Jhon ke arah lain sambil memperkenalkan yang terakhir, “Silva Belmani, penata rambutku.”
Mereka lalu duduk bersama di dua sofa berwarna kuning yang saling berhadapan. Di samping mereka ada panggangan berisi arang. Sepertnyai acara panggang-memanggang sudah selesai. Daging matang sudah dihidanggkan di atas meja. Beberapa tangkai daun mint, tomat, cabai potong yang diberi pasta, mentimun, dan beberapa lembar selada menemani hidangan malam ini.
“Karena itu menurutku, Amerika harus mulai mengkuatirkan perang saudara,” kata Belmani. Sepertinya mereka meneruskan pembicaraan mereka sebelum Jhon datang.
“Bukannya sepanjang sejarah memang begitu? Perang antar Mafia, Perang spionase antar perusahaan, kompetisi antar klub-klub olah raga, sabotase di dunia perfilman, bukankah kita selalu perang?”, Matt Damon mengoceh.
“Itu terlalu metaforis. Kita bicara tentang perang dengan s*****a. ‘Perang Sipil’, bukan yang analog dengan perang,” kata Belmani.
“Hei, Boss, maksudku, Amerika tak akan pecah walaupun terjadi Perang Sipil. Itu karena kita sudah terbiasa dengan perang, dan menganggapnya hal yang biasa. Amerika itu lahir dari perang semesta, mengalahkan penduduk lokal untuk kemudian mengalahkan tuannya sendiri. Lalu sesama saudara saling membunuh, tapi kita semua baik-baik saja,” Matt menjelaskan.
Robert dan Bernard bersandar dengan mata tertutup. Jhon melirik mereka, dia duduk di sebelah kanan kursi. Simon di tengah, sedang Robert duduk di depannya. Ia tahu mereka berdua tidak tidur, pupil mata mereka kelihatan bergerak. Mereka mendengarkan. Jhon mencondongkan badannya agar tidak terhimpit Bernart.
“Kenapa begitu?”, Robert tiba-tiba duduk tegak, “Tak ada yang baik tentang perang, apa lagi Perang Sipil. Itu adalah perang yang pasti meninggalkan bekas. Seperti sampai sekarang ada orang yang disebut Yankees, sebagai peninggalan perang saudara sebelumnya. Jangan minum lagi, Matt, kamu sudah terlalu mabuk,” ia lalu menuangkan tequila ke dalam sloki, meminumnya habis.
Jhon memperhatikan kalau gelas di atas meja hanya ada satu, sementara ada 10 botol tequila tersedia. Tiga diantaranya telah kosong. Ia mengambil alih gelas yang sudah di letakkan Robert. Ia menuangkan dua kali, meneguknya sekaligus. Simon berdiri dan tepuk tangan,”Yahoo, aku mendukungmu jadi anggota klub baru.”
“Simon, tolong duduk,” Belmani menatapnya dengan mimik serius, “Kita sedang berbicara tentang Perang Sipil. Dan itu bukan untuk dirayakan.”
“Santai, Men. Masa kejayaan Roma sudah berakhir. Nenek moyangmu dan Robert hanya tinggal kenangan.”
“Apa artinya itu? Hah! Aku anti perang! Kau tak pantas bangga karena hidupmu sekarang jauh lebih baik dari nenek moyangmu yang datang ke Amerika dengan kaki dan tangan terbelenggu,” Robert berbicara setengah teriak.
“Hei, itu rasial. Aku akan menuntutmu besok pagi!”
“Terserah, kau yang mulai,” kata Robert dengan santai. Jhon kembali meneguk tequila dengan cara yang sama.
“Kalian lihat itu? Matt biasanya sudah mulai ngalor kalau minum gelas ke dua. Kawan kita ini sudah ke empat,” ucap Simon sambil tepuk tangan dan membungkuk.
“Simon, kalau kau tak mengadukan Robert besok, aku pasti akan mebunuhmu,” kata Matt lirih. Kali ini dia yang bersandar dan menutup matanya.
“Jangan molor dulu, Matt. Kita belum selesai,” Belmani menyatukan jari tengah dan jempolnya hingga berbunyi di depan wajah Matt.
“Apa?”, jawab Matt masih bersandar malas.
“Apa alasanmu bilang kita tak perlu kuatir perang saudara?”
Jhon melakukannya lagi. De Niro melirik ke arah yang lain. Mengejapkan kedua matanya memberi kode, seolah berkata, “Ini dia.”
Matt kembali duduk tegak. Sekali lagi Jhon melakukannya, kali ini hanya segelas. Matt dan Robert mencoba mencari sesuatu di mata Jhon, tetapi secepat mungkin mengalihkan pandangan.
“Apa yang saya katakan bukan soal saya setuju atau tidak tentang perang saudara. Maksudku dibanding keadaan sekarang, yang menurut Belmani hanya analogi perang, perang saudara sepertinya bukan situasi yang lebih buruk. Kalaupun itu terjadi, kita akan bisa mengatasinya. Kenapa? Karena orang Amerika tak pernah merasa janggal dengan perang.”
“Apa itu?” Robert mengkerutkan keningnya.
“Maksudku, jika perang saudara terjadi mungkin para n***o di jalanan akan berhenti saling menembak. Mereka akan lebih suka menembak orang kulit putih. Orang Rusia akan berhenti menjual minuman keras pada orang Irlandia, karena mereka akan butuh lebih banyak stok alkohol musim dingin. Maksudku, perang saudara bukan keadaan yang lebih buruk dari keadaan saat ini. Kalau perang saudara terjadi, itu bukan sesuatu yang harus kita hindari.”
“Ngawur! Bagaimana mungkin perang saudara itu bagus! Malam ini aku tak mau mendengarmu bicara!”, Belmani mengeluarkan ekspresi acuh dengan menampiskan tangannya.
“Aku tak bilang itu bagus. Aku hanya bilang keadaan sekarangpun tidak bagus. Jadi apa masalahnya?”
“Jadi maksudmu tak perlu menghindari perang saudara? Kamu sudah gila!”, Simon mendukung Belmani.
“Untuk apa? Agar kita disebut bangsa yang cinta damai? Bersatu? Bullshit! Setengah perang di dunia dikreasi oleh Amerika! Anak-anak muda kita mati membela negara lain! Mengapa kita keberatan mati untuk negara kita sendiri? Aku yakin jika perang saudara terjadi, itu hanya akan menjadi sejarah yang menciptakan Amerika yang baru.”
“Kau tau apa masalahmu, Matt?”, Robert mendukung Simon dan Belmani, “Kau berlagak Superman, padahal persamaan kalian hanya --kau dan dia memakai celana dalam di luar.”
Semua orang tertawa, termasuk Jhon.
“Ok, Ok,” Matt membuat bahasa tubuh menenangkan dengan tangannya, sambil masih tertawa, “Kalian mungkin terlalu kuno dan munafik. Otak kalian sudah terlalu penuh dengan acar ikan Salmon dicampur kentang busuk. Mari kita tanya sama anggota baru kita.”
Jhon baru saja menuangkan tequilanya, mendengar namanya disebut, tangannya berhenti tepat disloki. Ia memandang berkeliling, semua orang sepertinya menuntut jawaban. Lalu bergegas meminumkannya.
“Aku hanya berusaha menyamakan frekwensi, Men,” katanya dengan senyum tak jelas.
“Bukan itu,” sambar Robert, “Bagaimana menurutmu tentang pembicaraan tadi.”
“Oh, itu. Aku ini seorang ilmuan Politik, bukan politisi. Jadi aku tak memihak siapapun.”
Robert tertawa mengejek, “Simon, sebelum kau mengadukan aku, aku akan membunuhmu.”
Matt dan Belmani tertawa, Simon menatap Jhon seolah berkata, “Jadi kau memang bodoh.”
Jhon baru saja memegang gelas, hendak menuangkan tequila lagi. Robert menahannya, “Tequila ini nggak gratis,” katanya dengan mimik serius. Jhon kelihatan bingung, lalu Robert dan yang lain tertawa melihat mimik wajahnya.
“Nggak, kok. Minumlah sebanyak yang kau mau,” Robert bersandar merasa menang dari Simon. Simon masih mengkerutkan dahinya.
Jhon sebenarnya bisa menduga kalau undangan Robert De Niro bisa saja sebuah test dari pembicaraanya tadi siang di kantor partai. Ia hanya mencoba untuk tidak terlibat dalam perdebatan, karena ia memang lebih suka menulis daripada berbicara. Tapi cara duduk Robert dan pandangan Simon mengganggu egonya untuk membela diri.
Ia meminum dua sloki sekaligus, lagi. Isi botol habis. Dengan santai ia mengambil sebotol lagi, yang membuat Robert, Matt, dan Belmani tertawa. Simon meletakkan tangan kanannya di kening seolah berkata,”Ya Tuhan, betapa bodohnya aku.”
“American Joke,” kata Jhon memulai, “Itu istilah yang tepat untuk perdebatan tadi. ‘Bad a*s’ itu juga prasa yang menggambarkan tingkah laku sejarah orang-orang Amerika. Kita sering membuat lelucon dari hal-hal yang serius. Yesus, Abraham Lincoln, dan banyak lagi, menjadi korban parodi. Kita membuat seolah-olah komunis itu anti Tuhan ke seluruh dunia, tapi negara kita menerima Atheis sebagai bagian dari kebebasan. Kita menertawai sejarah, sekaligus memujanya. Kita Amerika percaya bahwa tidak setiap perdebatan harus mempunyai jawaban yang benar. Aku pikir itu.”
Matt bangkit, “Benar. Itu yang inginku katakan. Orang-orang tua ini berpikir sudah kenyang dengan pengalaman dan menjunjung sejarah. Kenyataannya Amerika sudah terlalu lama tak lagi membuat sejarah. Kita kalah di Vietnam, Korea, Palestina, Afganistan. Tetapi kita tetap merasa kita bangsa yang hebat karena semua orang di dunia memuja Microsoft dan Apple. Yang sebenarnya, orang tak lagi menghubungkan keduanya dengan Amerika. Apple dan Microsoft lebih terkenal dari Amerika.”
Kali ini Simon dan Belmani yang tertawa. Robert De Niro memisahkan telunjuk dan jari-jarinya diatas alisnya. Lalu ia mencoba tenang dengan memotong daging panggang sambil terus menatap Jhon, ia mencelupkkannya ke cabai potong yang dicampur dengan pasta, lalu m******t jarinya dan melahap sedikit mint.
“Omongan mu tak jelas Jhon. Kau sepertinya sudah mabuk. Jangan menggunakan bahasa Roh, gunakan bahasa Inggris yang bisa kami mengerti,” katanya mengintimidasi Jhon dengan tidak melepaskan pisau yang baru digunakannya. Ia melirik Simon, Simon menutup mulutnya agar tak terlihat tertawa senang.
“Ya, seperti yang dikatakan Matt. Orang-orang Amerika sekarang puas jika calon presiden mereka menang, sama seperti presidennya yang senang karena menang pemilu. Kenyataannya perubahan yang ditunggu-tunggu tidak terjadi. Seolah-olah orang Amerika begitu merindukan perubahan dari seorang bintang rock atau sepakbola untuk kemudian memilih bintang baru empat tahun kemudian.”
Robert memainkan pisau daging layaknya dalam film-film mafia yang pernah diperankannya. Ia berharap bisa mengintimidasi Jhon. Tapi Jhon melanjutkan,”Kita akui atau tidak, kita perlu sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran sejarah di masa depan, bukan sejarah berupa kliping koran yang membosankan. Jika itu memang perang saudara, kenapa tidak? Toh hari ini kita hanya berpura-pura bahwa masalah rasial itu sudah selesai. Mungkin hanya di sini masalah rasial itu bisa dijadikan lelucon. Saya seratus persen yakin Mr. Robert tak akan berani bicara seperti tadi di luar sana.”
Lalu Jhon bersandar, “Mungkin aku sudah mabuk.”
Robert berdiri dan mengambil satu botol, “Sebaiknya aku minum di kamar saja. Aku ngantuk.”
Yang lain tertawa sambil bertepuk tangan. Jhon tersenyum sembunyi-sembunyi. Simon tertawa sambil memegang perutnya. Besok paginya, di akun media Sosial Partai Demokrat Jhon menulis; “Haruskah kita Perang Saudara”, Matt Damon Idea.
Robert, Matt, Belmani dan Simon terperanjat membaca tulisan itu. Apalagi Jhon tidak mengklaim itu pemikirannya, dan mengakui itu adalah pemikiran Matt. Berbagai cuitan masuk ke akun Matt yang ingin lebih dalam mengetahui maksud tulisan Jhon.
Robert geleng-geleng kepala, “Seandainya lima tahun lalu aku mengenalmu aku akan mencalonkan diri menjadi Presiden,” katanya di pesta barbeque berikutnya.
Sejak saat itu wajah lain Matt yang sebelumnya hanya dikenal sebagai aktor laga terlihat. Setiap minggu, Jhon menulis tentang pemikiran-pemikiran Matt yang selalu ditentang ke tiga sahabatnya, dan selalu mendapat dukungan dari Jhon.
Ia kian terkenal dalam dunia politik. Apalagi ketiga sahabatnya mendukungnya untuk masuk dalam dunia politik. Hanya dalam setahun ia memenangkan kursi senator. Begitulah ceritanya awalnya Jhon menjadi orang terdekat Matt Damon, Presiden Amerika Serikat.
“Jadi, bagaimana pendapatmu,” ulang Matt setelah tiba di ruang kerjanya. Ia membakar cerutunya, lalu menawarkannya ke Jhon. Jhon mengambil satu, lalu mengambil pemantik yang ditawarkan Matt, tapi tidak membakarnya.
Ia mengambil wishky dan menuangkannya ke dua gelas, dan menawarkan satu ke Mr. Presiden, “Kamu harus lebih santai, Matt. Bertingkahlah seperti Robert De Niro saat berakting, jangan seperti Matt Damon.”
“Maksudmu soal pidatoku kemarin?”
“Bukan, pidatomu bagus. Ekspresif, yang membuatmu dicintai rakyat Amerika. Yang kumaksud adalah strategi yang akan kita jalankan harus bersifat klasik dan khas Amerika.”
“Bagian mana yang tak kau setujui.”
“Masalah Energi dan Pangkalan Militer. Sebaiknya kita menyelesaikan masalah ini sekaligus.”
“Jelaskan padaku.”
“Timor Leste, bukan Filipina. Kita akan mengatur penyeludupan nikel dari sana, dan kita akan membiarkan PBB membebaskan Pulau Moro dari Filipina.”
“Lanjutkan.”
“Prinsipnya perang dingin itu memakan banyak biaya, dan melemahkan mental pasukan. Indonesia tidak akan berpikir bahwa kita sengaja membiarkan Filipina terbuka, sekaligus kita bisa mencuri Nikel melalui Timor Leste dengan biaya yang lebih murah. Jika pangkalan militer kita kembali ke Filipina maka perang yang kita tunggu akan lebih lama dari yang seharusnya.”
“Bagaimana kau tahu kalau Pulau Moro akan dibebaskan?”
“Laporan Inteligen mengatakan kalau China akan berusaha merangkul negara-negara Islam, bukan negara bekas komunis. Mereka akan menjadikan Indonesia sebagai jembatan penghubung untuk strategi itu. Sementara itu, untuk sekian lama, Indonesia menjadi negara kelas 3 setelah Singapura, Thailand, dan Malaysia. Ini adalah kesempatan mereka menunjukkan hegemoni di Asia Tenggara. Dan satu-satunya cara adalah dengan membebaskan Moro dengan bantuan pasukan PBB. Dengan begitu negara-negara di Asia Tenggara akan mengakui Indonesia, tepatnya takut,” Jhon duduk dan membakar cerutunya.
Matt memutar kursinya menghadap jendela, membelakangi Matt. Lalu ia berputar lagi dan mengangkat kakinya di atas meja, “Apa kita seyakin itu, bahwa ini akan terjadi? Berapa tahun lagi?”
“Saya hampir terlalu yakin. Indonesia adalah negara yang paling vokal mendukung China. Maklumat PBB itu sendiri hampir persis seperti argumen Indonesia di sidang PBB, kemarin. Besar dugaanku, China menjanjikan sesuatu selain menyuap mereka mentah-mentah.”
“Berapa tahun lagi?”
“Perkiraan Intelegen lima. Secara pribadi aku mengestimasi enam atau tujuh.”