Diandra kemudian membuka pintu apartemennya ketika ia sudah tahu siapa lelaki yang saat itu tengah mengetuk pintu apartemennya tersebut.
"Sedang apa kamu hampir tengah malam seperti ini datang bertamu ke rumah orang lain?" ucap Gadis itu kemudian ketika ia sudah berhadapan langsung dengan Rey saat itu.
"Jelas aku ingin bertemu denganmu apa kamu tahu itu?" ucap lelaki itu kemudian pada Diandra dan tanpa permisi lelaki itu langsung masuk ke dalam apartemen Diandra dan Gadis itu tidak bisa untuk menghalangi langkah kaki Rey, terpaksa Diandra hanya bisa menutup kembali pintu apartemennya itu rapat-rapat.
"Untuk apa?" tanya Diandra kemudian.
"Untuk mencari tahu kebenaran," balas Rey lagi.
"Ada masalah apa kamu memangnya, kebenaran apa yang kamu ingin tahu?" tanya Diandra yang tampak merasa kesal.
"Ayolah Di, jangan bertele-tele," ucap Rey lagi.
"Baiklah aku mengerti jika kamu ingin bertemu denganku tapi ini sudah tengah malam aku lelah dan aku ingin tidur. Jika kamu ada pertanyaan silakan tanyakan karena aku ingin segera selesai dan aku ingin istirahat," ucap Diandra kemudian pada Rey dengan kedua tangan yang saat itu tengah bersedekap. Orang yang mendengar ucapan Diandra di sana hanya bisa berbalik menghadap ke arah Gadis itu berada dan Rey segera berjalan mendekat menuju ke arah Diandra.
"Kamu masih berhutang jawaban padaku Diandra jadi mengapa kamu terus melanjutkan hubunganmu dengan Gerry jika kamu sudah tahu lelaki itu sudah memiliki seorang wanita dalam hidupnya?" ucap tanya Rey saat itu yang ingin tahu jawaban Diandra, lelaki itu serius ingin tahu jawaban Gadis itu agar ia bisa menempatkan dirinya ke depannya untuk memperlakukan Diandra.
"Kenapa aku harus memberi tahu kamu?" balas Diandra kesal.
"Di aku serius!" jawab Rey.
"Bukankah aku sudah bilang aku tidak tahu jika Gerry sudah memiliki istri tapi Garyy memanfaatkan ketidakberdayaan aku itu dengan ancamannya yang ingin memecatku dari pekerjaan yang aku dapatkan sampai saat ini dan dia terang-terangan memberitahu padaku bahwa ia sudah memiliki istri aku tidak bisa mundur saat itu sampai entah kapan karena aku membutuhkan pekerjaan ini. Apa kamu mengerti itu Rey? meskipun kamu mengecam apa yang aku lakukan, menghujat atau sejenisnya, aku tidak peduli karena aku mencari makan di sini dan bukan kamu yang menghidupiku jadi aku tidak peduli apa katamu atau kata orang lain," ucap Diandra saat itu pada Rey yang membuat lelaki itu segera terdiam di tempatnya karena memang Rey saat itu begitu terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Memang nggak waras itu Si Gery bisa-bisanya dia menduakan istrinya, aku akan memberi perhitungan kepada lelaki itu lain kali saja meskipun saat ini kekuatanku tidak bisa untuk menandinginya tapi aku yakin suatu hari nanti aku pasti akan bisa mengalahkannya," ucap lelaki itu kemudian yang tampak begitu marah di sana pada lelaki yang bernama Gerry. Namun karena Diandra merasa jika Rey sama seperti Gerry yang hanya memanfaatkan tubuhnya saja, Diandra tidak berpikir terlalu jauh, Diandra juga tidak ingin memikirkan hal yang tidak ia inginkan.
"Terserah apa kamu bilang, terserah aku tidak peduli!" ucap dalam hati Diandra saat itu yang tampak kesal.
"Baiklah Rey sekarang kamu sudah tahu kan alasanku apa jadi lebih baik kamu sekarang pergi saja aku sedang ingin istirahat Aku begitu lelah seharian Apa kamu mengerti itu?" ucap Diandra kemudian, tapi lelaki itu bukannya pergi menjauh tetapi malah melangkah mendekat menuju ke arah Diandra berada.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan Diandra, Aku tahu kamu di sini tertekan, maafkan aku karena aku tidak bisa untuk membantumu sekarang," ucap lelaki itu dengan kedua tangan yang sudah meraih kedua sisi pundak Diandra kemudian mengusap pundak itu beberapa kali dengan ujung ibu jarinya dengan usapan lembutnya.
"Biarkan aku malam ini untuk sesaat menghapus kesedihanmu agar kamu tidak merasakan kesedihan itu," ucap Rey kemudian yang sudah menundukkan wajahnya kemudian lelaki itu segera mengecup bibir Diandra dan kecupan itu kian lama kian membuat Gadis itu tenggelam dalam buaian lembut yang menghanyutkan. Tanpa sadar Diandra pun segera meraih jenjang leher lelaki itu di sana, mengalungkan kedua tangannya dan menaut tepat di belakang tengkuk lelaki itu. Keduanya terbimbing menuju ke sofa yang tidak jauh dari tempatnya saat itu.
"Apa kau membenciku?" tanya Rey di sela-sela kesibukan jemari tangannya yang mulai melepas pakaian yang ia kenakan, dan di tambah lagi sibuk dengan melepas celana yang saat itu Rey pakai hingga tampak tubuh itu polos di sana. Rey tepat berdiri di hadapan Diandra yang saat itu masih terduduk di tempatnya. Gadis itu menyentuhnya, menggenggamnya erat dan mulai memainkannya di sana, tampak kedua mata lelaki itu yang sudah terpejam saat itu, sesekali desisan keluar dari bibir Rey saat itu ketika merasakan sentuhan ujung bibir Diandra di sana dan ujung lidah yang mulai bermain-main saat itu.
"Di, aku rasa aku tidak bisa bertahan sehari saja tanpamu," ucap Rey saat itu pada Diandra. Namun Diandra asyik dengan mainan baru yang tidak asing ia lihat dan tidak canggung ia mainkan. Hingga kuluman demi kuluman itu mulai Diandra lakukan.
"Di, jawab aku! apa kamu membenciku?" ucap Rey lagi yang mengulangi pertanyaannya. Akhirnya Diandra mulai menyudahi aktivitas itu dan terjaga, wajah gadis itu mendongak menatap Rey yang tampak menjulang di hadapannya.
"Awalnya aku membencimu, namun sekarang aku tidak," ucap Diandra saat itu yang lalu membuat Rey segera meraih kedua tumit tungkai kaki Diandra dan mengangkatnya naik ke atas keduanya membuat Diandra harus menjatuhkan tubuhnya ke belakang hingga menyandar pada sandaran tepian sofa seolah gadis itu memakai bantal pada kepalanya. Rey kemudian melangkah naik ke atas sofa dengan satu kaki yang masih menapak pada lantai dan satu lengan tangannya mulai menekuk kedua kaki itu tepat di bagian bawah lutut Diandra.
"Terimakasih Di, aku khawatir kamu membenciku dan terluka, biarkan aku membuatmu meracau dan memakiku agar kamu puas," ucap lelaki itu kemudian yang lalu segera terjaga tepat di depan kedua lutut Diandra yang tertekuk di sana, namun lelaki itu mulai meraih dan menyentuh area inti Diandra saat itu.
"Rey..." ucap gadis itu yang tertahan dan berganti dengan lenguhan ketika beberapa jemari tangan Rey sudah berhasil menyeruak dan bermain-main dengan lincah di bagian inti sana. Dan memang benar, tubuh gadis itu menggeliat bak cacing kepanasan ketika lelaki itu mengalihkan jemari tangannya itu berganti area inti miliknya yang mulai mendorong dan melesak masuk ke dalam sama.
"Sial," ucap Diandra dengan racauan yang lain yang benar-benar mengatakan sesuatu yang tidak pernah sebelumnya Diandra bayangkan. Terlihat Rey kian bersemangat ketika menyadari jika Diandra mulai meracau saat itu, tanda apa yang ia lakukan benar-benar memuaskan.