"Lepaskan aku! ini di tempat umum Apa kamu mau melakukan kekerasan di tempat umum?" ucap Diandra saat itu pada Rey, terlihat tatapan mata lelaki itu yang begitu tajam menatap ke arahnya membuat degupan jantung Gadis itu kian menggila.
"Kenapa, kenapa kamu masih melakukannya bukankah kamu tahu jika Apa yang kamu lakukan itu salah, kenapa kamu masih melanjutkannya? Kenapa kamu tidak memutuskan hubunganmu agar rasa bersalahmu itu segera berakhir," ucap lelaki itu kemudian pada Diandra.
"Yang kamu maksud itu apa, berhenti melakukan apa? bukankah sejak awal kamu dan juga Gerry sudah tahu tapi kalian berdua malah melibatkanku dan sekarang jika aku tahu tapi aku tidak bisa mundur dan hanya bisa maju karena karirku di sini yang menjadi taruhannya apa menurut kamu kamu pantas mengatakan hal itu padaku?" ucap Diandra pada Rey dan terlihat lelaki itu mulai terdiam di tempatnya kemudian perlahan mengendurkan tangannya dari pergelangan tangan Diandra di sana.
"Maksud kamu bicara seperti itu apa? bukankah sejak awal kamu sudah tahu jika lelaki yang kamu kencani itu adalah suami wanita lain?" ucap Rey saat itu pada Diandra lagi.
"Jika aku tahu sejak awal mana mungkin aku menerima ajakan kencannya? jika kau ingin tahu lebih banyak sebaiknya temui aku di lain waktu karena di sini tempat umum Aku tidak mau terlibat gosip yang tidak menyenangkan terlebih lagi bersama denganmu," ucap Diandra kemudian yang lalu segera pergi masuk ke dalam kamar mandi atau toilet yang ditujunya sedangkan Rey hanya bisa terdiam mematung di sana dan terlihat ada seseorang yang juga akan masuk ke dalam toilet tersebut akhirnya memutuskan untuk berbalik dan pergi meninggalkan toilet wanita di sana.
"Malam ini mari kita bertemu secara pribadi Aku ingin tahu lebih lanjut dari mulutmu sendiri," ucap Rey saat itu pada pesan yang ia kirimkan untuk Diandra dan gadis itu pun masih berada di dalam toilet segera melihat dan membuka pesan dari lelaki tersebut.
"Kamu mau main-main ya denganku? mungkin dulu Aku adalah gadis yang mudah dipermainkan tapi sekarang jangan harap!" ucap Diandra saat itu dengan begitu lirihnya ketika ia sudah membaca pesan dari Rey.
"Sepertinya malam ini aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu karena aku sudah memiliki janji lain jadi lain kali saja," ucap balasan pesan gadis itu yang ia kirimkan untuk Rey.
"Sial!" dengus kesal lelaki itu kemudian hingga Rey pun kembali ke tempatnya semula dan untuk beberapa saat lamanya terlihat Diandra yang juga baru saja tiba di tempat tersebut. Setelah acara itu selesai Diandra pulang satu mobil dengan Rey dan juga bersama Gerry. Gerry dan Diandra berada di baris kedua mobil tersebut sedangkan Rey berada di depan bersama dengan Pak sopir yang biasanya menyupiri mobil tersebut.
Gery sesekali melirik dan menoleh ke arah Diandra ketika ia merasa gadis itu tidak seperti biasanya tetapi tampak sedikit acuh dan hanya diam saja tidak seperti kemarin ketika dalam perjalanan menuju ke hotel tersebut. Perlahan jemari tangan Gery bergerak meraih jemari tangan Diandra, Gadis itu hanya bisa membalasnya dengan satu kali lirikan saja karena memang saat itu di dalam mobil yang sama terdapat orang lain selain keduanya dan Diandra tidak mau membuat gosip yang kian menyebar apalagi Diandra tahu lelaki yang saat itu memegang jemari tangannya adalah suami wanita lain.
"Apa kamu tidak mengantuk?" ucap tannya Gary sembari sedikit berbisik dan tangannya yang tadinya menggenggam jemari tangan Diandra beralih mengusap lembut salah satu paha Diandra di sana membuat gadis itu terjaga dan segera tahu apa isi otak lelaki itu pikirkan.
"Aku jadi tahu jika setiap kata-kata yang keluar dari bibirmu semuanya mengandung keinginan lelaki egois yang tersembunyi, aku baru menyadarinya benar-benar konyol," ucap Diandra dalam hatinya saat itu yang mungkin dulu akan merasa senang jika mendapat sentuhan dari lelaki yang ia kencani saat itu tapi sekarang Gadis itu malah merasa jijik ketika Gerri menyentuh bagian tubuhnya. Dan setelah beberapa jam melakukan perjalanan akhirnya mobil yang ditumpangi ketiganya tiba di Kota yang dituju saat itu sengaja Gerry meminta pak sopir untuk menurunkan terlebih dahulu karena dia ingin mengajak Diandra ke apartemennya.
"Sepertinya Malam ini aku harus pulang ke apartemen karena aku benar-benar merasa lelah. Bisakah Pak sopir mengantarkanku kembali ke apartemen terlebih dahulu?" ucap Diandra saat itu yang meminta Pak sopir Yang menyupir mobil kantor tersebut mengantarkannya pulang kembali ke apartmen. Dan saat itu jelas Gerry tidak bisa untuk menolak keinginan Diandra karena Diandra sudah mengatakan langsung pada Pak sopir dan jika menolak keinginan Gadis itu dan meminta Pak sopir untuk melajukan mobil tersebut menuju ke apartemennya mungkin juga isu baru akan beredar di kantornya nanti akhirnya mau tidak mau Gerry mengiyakan keinginan Diandra di sana.
"Terima kasih banyak bos terima kasih banyak Pak sopir, kalau begitu Aku turun dulu," ucap Diandra kemudian berpamitan dengan Gerry dan pak sopir karena sudah mengantarkannya sampai ke apartemen dengan selamat, lalu Gadis itu segera akan beranjak pergi.
"Haruskah aku ikut turun dan masuk ke dalam untuk minum teh?" ucap pesan Gerry saat itu yang ia kirimkan pada Diandra Gadis itu pun tidak langsung membaca pesan tersebut, cukup lama Diandra sengaja tidak langsung membuka pesan dari Gery dan setelah beberapa saat ia masuk ke dalam apartemennya Iya melihat ke bawah terlihat mobil yang ia tumpangi bersama dengan Gerry tadi sudah pergi dari tempat itu barulah Diandra membuka pesan tersebut.
"Maafkan aku pak Gery karena baru membuka pesan anda, karena saya jadi kebelet ingin ke kamar kecil jadi saya baru membuka ponsel, dan saya rasa Anda sudah pergi," ucap Diandra saat itu kemudian lalu Gadis itu pun segera merebahkan tubuhnya di atas pembaringan karena ia benar-benar merasa lelah hari itu bagi Diandra hari itu adalah hari yang paling berat dalam hidupnya di mana ia sudah masuk ke dalam perangkap dua lelaki dan ia sudah masuk dalam permainan yang mungkin akan Ia sesali untuk seumur hidupnya. Ketika gadis itu memejamkan kedua matanya tiba-tiba lelehan air mata mengalir dari ujung pelupuk matanya, mengalir begitu saja membasahi bantal yang ada di kanan kiri yang saat itu Ia tempati, dan kemudian terdengar suara ponselnya yang tengah berdering kembali awalnya Diandra tidak ingin melihat layar ponselnya karena ia pikir saat itu yang tengah menghubunginya kalau bukan Rey adalah Gerry tapi ternyata ketika ia meraih ponsel tersebut melihat Siapa orang yang mencoba untuk menghubunginya ternyata itu adalah mamanya. Dulu awalnya kedua orang tua Diandra adalah orang yang mapan serba kecukupan tapi setelah Kakak Diandra meninggal dan ternyata memiliki banyak hutang membuat keluarganya menjual banyak kaset dan hidup serba pas pasang akhirnya Diandra hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya ditambah lagi gadis itu menyisihkan sedikit uang untuk dia kirimkan pada kedua orang tuanya meskipun Diandra tahu jika kedua orang tuanya memiliki pekerjaan di rumahnya di mana kedua orang tua Diandra bekerja sebagai guru di salah satu sekolahan di Kota tempat tinggal kedua orang tuanya. Seketika itu pula ia langsung mengangkat panggilan mamanya saat itu.
"Halo Mama Diandra baru saja pulang kerja sekarang baru saja nyampe rumah habis dari luar kota," ucap gadis itu kemudian ketika ia baru saja mengangkat panggilan dari mamanya.
"Iya nak Mama tahu pekerjaanmu sangat sibuk Mama juga tahu pencapaianmu sampai saat ini mama hanya ingin mengatakan jika kami baik-baik saja jangan mengirimi kami uang lagi kami bisa mencukupi kebutuhan kami Sendiri. Lebih baik uangnya kamu tabung buat bekal ke depannya nanti bukankah kamu juga butuh untuk pernikahan kamu kelak dan mama berharap saat ini kamu sudah Memiliki seseorang yang bisa menjaga kamu dan begitu mencintai kamu," ucap Mama Diandra saat itu, dan Sedetik kemudian nangis Diandra mulai pecah, air mata Gadis itu mulai meleleh begitu saja membasahi wajahnya seakan Gadis itu tidak bisa membendung air matanya di mana doa mamanya benar-benar begitu menyayat hati dan jelas ia begitu menginginkan seorang lelaki yang mencintainya dan juga bisa menerimanya apa adanya. Namun ternyata lelaki yang ia pikir bisa ia andalkan malah membuatnya begitu menjijikan. Diandra mulai mengusap lelehan air matanya di sana karena ia tidak ingin mamanya sampai tahu jika saat itu ia tengah menangis, gadis itu lalu terjaga dan terduduk di tempatnya.
"Iya Mah baiklah Diandra mengerti nanti kalau mama atau Papa membutuhkan sesuatu bisa bilang Diandra ya jangan sungkan-sungkan," ucap Gadis itu kemudian pada mamanya dan terdengar suara yang bergetar di sana.
"Oh iya Diandra Kenapa suara kamu begitu apa kamu tengah flu sekarang? Apa perlu mama meresepkan obat untuk kamu yang bisa Kamu buat sendiri di tempat kamu?" ucap Mama Diandra pada putrinya yang tampak begitu khawatir.
"Tidak apa-apa kok mah, hanya Diandra butuh istirahat saja, lelah sekali hari ini," ucap Gadis itu kemudian.
"Apa kamu sudah makan malam ini sudah lewat waktunya makan malam sudah pukul 10.00 malam," ucap tanya Mama Diandra saat itu yang ingin tahu keadaan putrinya.
"Sudah ma Diandra tadi sudah makan saat perjalanan pulang," ucap Diandra kemudian.
"Oh ya nak bulan depan mama dan papa akan mengadakan acara mengenang 1000 hari kepergian nenek kamu apakah kamu bisa pulang?" ucap Mama Diandra saat itu yang bertanya pada putrinya mengingat jadwal pekerjaan putrinya itu pasti selalu padat dan terlebih lagi jika putrinya itu pulang pasti ada saja gunjingan yang selalu ditujukan pada Sang Putri membuat Mama Diandra tidak yakin untuk memberitahu kepada Gadis itu apakah meminta Diandra untuk pulang atau tidak. Tapi paling tidak Mamanya sudah memberitahu pada gadis itu bisa pulang ataupun tidak Itu terserah Diandra Mama Diandra tidak memaksa putrinya.
"Baiklah Ma Mama kirim saja waktu dan tanggalnya biar aku meluangkan waktu untuk cuti agar aku bisa pulang untuk mengikuti acara di rumah," ucap Diandra saat itu pada mamanya kemudian panggilan itu pun berakhir. Gadis itu kemudian menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya begitu saja Ia lalu beranjak dari tempatnya dan menuju ke arah lemari pendingin yang ada di dapur di mana ia ingin mencari Apakah ada makanan yang bisa ia makan malam itu karena ia tidak makan banyak tadi ketika makan malam, mengingat banyak orang yang tengah memperhatikannya. Dan di sana Diandra menemukan ada beberapa apel merah akhirnya ia mengambil satu apel itu dan membawanya menuju ke arah sofa di depan televisi, gadis itu lalu menyalakan televisinya sembari menonton acara televisi Ia menikmati buah apel merah yang ada di tangannya. Gadis itu masih ingat jika terakhir kali ada acara di rumahnya Ia yang menjadi bahan pembicaraan saudara-saudara dari keluarga Papanya di mana Diandra cukup umur tetapi belum memperkenalkan satupun lelaki pada keluarganya dan juga belum mengajak satupun lelaki untuk pulang ke rumah tanda Gadis itu belum memiliki tambatan Hati.
"Apakah bulan depan nasib aku saat pulang ke rumah nanti akan mendapatkan perlakuan yang sama Akankah mereka benar-benar akan menyudutkan keluargaku lagi?" ucap Diandra dalam hati yang merasa menyedihkan di mana ia mengira jika atasan yang menjalin hubungan dengannya adalah orang yang bisa ia andalkan dan paling tidak bisa Ia perkenalkan pada keluarganya nyatanya sudah pasti tidak bisa ia kenalkan dengan siapapun mengingat lelaki itu adalah suami wanita lain dan ia mengingat sendiri jika hubungan Gerry dengan dirinya tidak boleh diketahui oleh orang. Diandra baru tahu jawabannya saat itu jika ternyata Diandralah yang menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga Gerry dan istrinya.
"Sebenarnya dosaku apa sih kenapa sampai aku semenyedihkan ini apalagi kisah percintaanku Aku benar-benar tidak pernah membayangkan jika aku akan menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga orang lain aku pun juga tidak pernah menginginkannya Aku tidak pernah berharap akan mengganggu hubungan orang lain tetapi kenapa aku terpaksa mengiyakan hubungan yang hanya didasari rasa khawatir jika aku akan dipecat dan juga tidak akan ada perusahaan yang akan menerima aku lagi kenapa aku memiliki hati yang begitu picik," ucap Diandra yang terasa sakit saat itu namun sebelum Diandra menyelesaikan aktivitas makan malamnya saat itu dengan satu buah apel di tanganya terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu apartemen Diandra pun mengingat-ingat kembali apakah dia memiliki janji dengan seseorang dan ia jelas ingat bahwa ia tidak memiliki janji dengan siapapun. Gadis itu kemudian berjalan menuju ke arah pintu apartemennya dan sebelum ia membuka pintu apartemen tersebut terlebih dahulu Ia tetap mengintip siapa orang yang ada di luar pintu apartemennya dari lubang intip pintu dan ia melihat jika di sana ada Rey yang telah berdiri mematung di depan pintunya saat itu.
"Ada apa lelaki itu kemari tengah malam begini?" ucap tanya Diandra dengan gerutu lirihnya sebelum ia membuka pintu apartemen itu.
"Apa dia ingin tidur denganku?" ucap gadis itu lagi.