Emir berlari memeluk Jihan ketika ia pulang. Anak itu bertanya tentang luka Ozan dan apakah pria tersebut akan mati seperti papanya.
“Paman Ozan akan sembuh,” jawab Jihan.
“Dia baik seperti Papa?”
Jihan menahan napas. “Mereka orang yang berbeda. Tapi keduanya menyayangimu.”
Emir masih sering terbangun memanggil Erdem. Jihan membawa putranya menemui psikolog anak. Ia tidak ingin rasa kehilangan Emir disembunyikan demi terlihat kuat.
Ozan kembali ke Istanbul dua minggu kemudian. Ia tidak langsung menemui Jihan, melainkan meminta izin melalui pesan.
Jihan mengundangnya makan malam. Pertemuan itu canggung. Emir justru memecah suasana dengan menunjukkan mainan kesukaannya kepada Ozan.
Setelah Emir tidur, Jihan dan Ozan duduk di teras.
“Aku membaca suratmu,” kata Jihan.
“Kau tidak perlu menjawabnya. Surat itu milik masa lalu.”
“Perasaanku kepadamu belum sepenuhnya mati. Tapi aku juga masih berduka dan mencintai kenangan Erdem.”
“Aku tidak memintamu melupakannya.”
“Aku membutuhkan waktu. Jika kau ingin berada dalam hidupku, jangan datang sebagai orang yang hendak memenangkan aku dari lelaki yang sudah meninggal.”
Ozan menatapnya. “Aku ingin mengenalmu lagi sebagai Jihan yang sekarang. Bukan perempuan yang pernah meninggalkanku atau janda Erdem.”
Jihan mengangguk. Mereka tidak berciuman atau membuat janji. Ozan pulang setelah memastikan keamanan rumah.
Di kamar, Emir menggenggam foto ayahnya. Jihan berbaring di sampingnya dan menyadari bahwa membuka hati kepada Ozan tidak berarti mengkhianati Erdem. Namun ia juga tidak boleh terburu-buru hanya karena cinta lama kembali mengetuk.
Perjalanan mereka baru dimulai, kali ini tanpa kesalahpahaman yang sengaja dibiarkan tumbuh.
Ozan mulai mengunjungi Emir setiap akhir pekan setelah mendapat izin Jihan. Ia tidak mencoba mengambil peran Erdem. Ia hanya menemani anak itu bermain dan mendengarkan cerita tentang papanya.
“Papa pandai membuat pesawat kertas,” kata Emir.
“Kalau begitu kau harus mengajariku,” jawab Ozan.
Jihan memperhatikan dari kejauhan. Sikap lembut Ozan mengingatkannya pada lelaki yang pernah dicintainya sebelum kebencian mengubah mereka.
Setelah Emir tidur, Ozan mengajak Jihan minum kopi. Mereka berbicara tentang lima tahun hubungan yang berakhir karena rahasia Berna.
“Aku seharusnya mengatakan dia tinggal di apartemenku sejak awal,” kata Ozan.
“Dan aku seharusnya memberi kesempatan kepadamu menjelaskan.”
Mereka tidak mencari siapa yang paling bersalah. Kesalahpahaman tersebut lahir dari keputusan keduanya.
Ozan meminta izin mengajak Jihan makan malam minggu berikutnya. “Bukan untuk mengulang masa lalu. Aku ingin memulai dari awal.”
Jihan menerima, tetapi menetapkan batas. Hubungan mereka belum boleh diumumkan dan Emir tidak boleh diberi harapan sebelum keduanya yakin.
“Aku akan mengikuti waktumu,” ujar Ozan.
Jihan tahu kesabaran itu akan diuji. Cinta lama memang belum mati, tetapi kepercayaan tidak dapat hidup kembali hanya melalui satu permintaan maaf.
Kencan pertama mereka berlangsung di restoran kecil jauh dari media. Ozan datang tanpa pengawal berlebihan dan tidak membawa hadiah mahal.
Percakapan berjalan baik sampai seorang pelayan menyebut Jihan sebagai Nyonya Daymaz. Tubuh Jihan menegang dan bayangan Erdem muncul dalam ingatannya.
“Aku belum siap mengganti nama itu,” katanya.
“Aku tidak meminta kau menggantinya.”
“Apa kau tidak cemburu ketika aku masih mengenakan cincin pernikahanku?”
Ozan menatap cincin tersebut. “Aku cemburu. Tapi rasa cemburuku tidak memberiku hak meminta kau melepaskannya.”
Jawaban itu membuat Jihan menangis. Ozan tidak menyentuhnya sampai ia sendiri mengulurkan tangan.
Beberapa hari kemudian keluarga Erdem mengetahui kedekatan mereka. Ibu Erdem menuduh Jihan terlalu cepat melupakan putranya.
“Aku tidak pernah melupakannya,” jawab Jihan. “Tapi aku juga masih hidup.”
Ekin membela Jihan. Ia mengetahui kakaknya pernah berkata ingin Jihan bahagia jika sesuatu terjadi kepadanya.
Ozan memilih tidak menghadapi keluarga Daymaz. Ia tidak ingin keadaan berubah menjadi persaingan dengan lelaki yang sudah meninggal.
Malamnya Jihan menyimpan cincin Erdem dalam kotak, bukan karena Ozan meminta. Ia ingin mengenakannya sebagai kenangan pada saat yang ia pilih, bukan sebagai hukuman agar dirinya tidak melanjutkan hidup.
Berna datang ke Istanbul bersama Elif untuk memberi kesaksian dalam persidangan Viktor. Media kembali menghubungkan namanya dengan Ozan.
Sebuah foto lama dari apartemen Rotterdam disebarkan dengan judul yang menuduh hubungan rahasia mereka belum berakhir.
Jihan merasakan kecemburuan, tetapi tidak langsung menuduh. Ia bertanya kepada Ozan mengenai pertemuannya dengan Berna.
“Aku menjemput mereka dari bandara karena tim keamanan meminta begitu,” jelas Ozan. “Aku seharusnya memberitahumu lebih dulu.”
“Iya. Aku tidak ingin mengetahui sesuatu tentangmu dari media.”
Ozan meminta maaf dan mengenalkan Jihan kepada Elif. Anak perempuan itu bercerita bagaimana Ozan menyelamatkan ibunya saat melarikan diri dari ayah yang kasar.
Berna kemudian berbicara empat mata dengan Jihan.
“Aku tahu keberadaanku pernah menghancurkan hubungan kalian,” katanya. “Aku berterima kasih karena Ozan menjaga rahasiaku, tetapi kami salah membiarkanmu tidak mengetahui apa pun.”
Jihan menerima penjelasan tersebut. Ia tidak harus menjadi sahabat Berna, tetapi juga tidak lagi melihatnya sebagai musuh.
Saat persidangan, Viktor dinyatakan bersalah atas pembunuhan Erdem, penculikan, dan pencucian uang. Kebenaran resmi akhirnya didapatkan.
Jihan menangis di makam Erdem setelah putusan. Ozan menunggu jauh di luar pemakaman dan tidak masuk sampai Jihan memanggilnya.
Ozan berdiri beberapa langkah dari makam. Jihan meletakkan bunga dan memperkenalkan Ozan kepada Emir sebagai teman yang akan tetap membantu mereka.
Setelah Emir pergi bersama Ekin, Jihan berbicara kepada mendiang suaminya.
“Aku mencintaimu, Erdem. Bagian itu tidak akan berubah. Tapi aku juga ingin mencoba hidup lagi.”
Angin bergerak lembut di antara pepohonan. Jihan merasa seolah beban di dadanya sedikit berkurang.
Ozan tidak mengatakan bahwa Erdem pasti merestui. Ia hanya berdiri di samping Jihan ketika perempuan itu menangis.
“Aku takut orang menganggapku tidak setia,” kata Jihan.
“Kesetiaan kepada kenangan tidak harus membuatmu berhenti hidup.”
Jihan menatapnya. “Dan kau? Apa kau masih ingin membalas dendam kepadaku?”
Ozan menggeleng. “Aku malu pernah menginginkannya. Kebencian itu hanya cara buruk untuk menyembunyikan bahwa aku masih mencintaimu.”
Ia meminta maaf atas perkataan tentang Jihan menjadi janda. Jihan mengatakan luka tersebut belum hilang, tetapi ia melihat penyesalan Ozan.
Di depan makam Erdem, mereka tidak berciuman. Jihan hanya menggenggam tangan Ozan ketika berjalan keluar.
Itu bukan pengkhianatan terhadap masa lalu. Itu adalah langkah kecil menuju kehidupan yang belum diketahui akhirnya.