Emir mulai menyukai kehadiran Ozan. Namun ketika teman sekolah mengejeknya karena ibunya dekat dengan lelaki lain, ia marah dan menolak bertemu Ozan.
“Aku cuma mau Papa!” teriaknya kepada Jihan.
Jihan tidak memaksa. Ia menjelaskan bahwa tidak ada siapa pun yang akan menggantikan Erdem.
Ozan menghentikan kunjungan untuk sementara. “Biarkan dia merasa aman dulu.”
Mereka membawa Emir kembali menemui psikolog. Anak itu akhirnya mengaku takut akan melupakan wajah papanya jika mulai menyayangi Ozan.
Jihan membuat album berisi foto dan cerita tentang Erdem. Ozan ikut membantu tanpa memasukkan dirinya ke dalam album tersebut.
“Paman tidak mau jadi papaku?” tanya Emir.
“Aku tidak bisa menjadi Papa Erdem,” jawab Ozan. “Tapi aku bisa menjadi Ozan yang menyayangimu kalau kau mengizinkan.”
Emir memikirkan jawaban itu. Beberapa hari kemudian ia mengajak Ozan kembali membuat pesawat kertas.
Jihan melihat keduanya bermain. Ia tidak menjadikan penerimaan Emir sebagai izin otomatis untuk menikahi Ozan. Namun kebahagiaan putranya menunjukkan bahwa cinta baru tidak harus menghapus cinta lama.
Malamnya Ozan mencium Jihan untuk pertama kali setelah bertahun-tahun. Ciuman itu lembut dan singkat, diberikan setelah Jihan mengangguk.
“Aku masih takut,” bisik Jihan.
“Kita berjalan perlahan.”
Di luar rumah, sebuah kamera tersembunyi merekam mereka melalui jendela. Keesokan paginya foto ciuman tersebut sudah tersebar di seluruh media.
Foto Jihan dan Ozan memenuhi media sebelum mereka sempat memberi penjelasan kepada keluarga. Judul-judul berita menuduh Jihan berselingkuh bahkan sebelum Erdem meninggal.
Emir mendengar kabar itu dari teman sekolah dan pulang sambil menangis.
“Mereka bilang Mama tidak sayang Papa.”
Jihan memeluknya. “Mama sangat menyayangi Papa. Foto itu diambil setelah Papa pergi dan setelah Mama mengatakan semuanya kepadamu.”
Ozan ingin menuntut media, tetapi Jihan meminta fokus menemukan orang yang memasang kamera di rumahnya.
Rekaman keamanan menunjukkan seorang fotografer menerima akses dari salah satu pekerja rumah. Lelaki itu mengaku dibayar oleh perusahaan milik keluarga Daymaz.
Ibu Erdem menyangkal terlibat, sedangkan Ekin marah karena keluarganya kembali mempermalukan Jihan.
Jihan mengadakan pernyataan singkat. Ia tidak meminta maaf karena melanjutkan hidup, tetapi meminta media berhenti menyeret Emir.
Ozan berdiri jauh dari kamera agar keputusan itu tetap menjadi suara Jihan.
Malamnya Jihan berkata, “Aku takut hubungan ini hanya membawa masalah baru.”
“Kalau kau ingin berhenti, aku akan menerima. Tapi jangan biarkan orang asing mengambil keputusan untukmu.”
Jihan menggenggam tangannya. “Aku tidak ingin berhenti. Aku hanya ingin kita lebih berhati-hati.”
Penyelidikan menemukan pembayaran fotografer berasal dari bibi Erdem, Nermin Daymaz. Ia menganggap Jihan merusak nama keluarga dengan kembali kepada Ozan.
Jihan menemui Nermin bersama Ekin.
“Aku tetap ibu Emir dan pernah menjadi istri Erdem,” katanya. “Tapi nama Daymaz tidak memiliki hidupku.”
Nermin menuduh Ozan memanfaatkan duka Jihan. Ekin menunjukkan bukti bahwa Ozan justru menjaga jarak selama dua tahun pernikahan mereka.
“Kak Erdem tidak pernah meminta Jihan berhenti hidup setelah kematiannya,” ujar Ekin.
Nermin akhirnya mengaku menyebarkan foto untuk memaksa Jihan menjauh. Jihan melaporkan pelanggaran privasi tersebut tanpa mencabut hubungan keluarga Emir.
Ozan menawarkan rumah baru dengan keamanan lebih baik. Jihan menolak pindah ke tempat milik Ozan karena tidak ingin bergantung.
“Aku akan mencari rumah sendiri,” katanya.
“Aku bisa membantu memeriksa keamanannya tanpa menentukan pilihan.”
Jihan menerima bantuan itu. Mereka menemukan rumah dekat sekolah Emir dengan halaman kecil.
Di rumah baru, Jihan meletakkan foto Erdem di kamar Emir dan tidak menyembunyikannya ketika Ozan datang.
“Ia akan selalu menjadi bagian dari keluarga ini,” kata Jihan.
“Aku tahu.”
Ozan tidak merasa harus menghapus nama Erdem agar mendapatkan tempat. Untuk pertama kalinya, ia belajar bahwa cinta Jihan bukan ruang sempit yang hanya dapat diisi oleh satu kenangan.
Berna mengetahui media kembali menyebutnya sebagai perebut Ozan. Ia datang ke Istanbul dengan amarah dan meminta Ozan memberikan pernyataan lebih tegas.
“Aku sudah terlalu lama membayar harga dari rahasia yang kau simpan,” katanya.
Ozan mengakui dirinya bersalah. Ia membuat pernyataan bahwa Berna tidak pernah menjadi kekasihnya dan meminta media berhenti mengganggu Berna serta Elif.
Jihan juga berbicara kepada Berna. “Aku minta maaf karena dulu menuduhmu tanpa mendengar.”
“Aku juga seharusnya menjelaskan setelah keadaanku aman.”
Mereka tidak langsung menjadi dekat, tetapi berhenti saling melihat sebagai penyebab utama kehancuran hubungan. Rahasia dan ketidakjujuranlah yang menciptakan luka tersebut.
Berna mengungkap satu hal lain. Sebelum meninggal, Erdem pernah menemuinya untuk menanyakan hubungan Ozan dan Jihan.
“Erdem tahu Ozan masih mencintaimu,” katanya. “Dia tidak membenci Ozan. Dia hanya takut suatu hari kau menyadari perasaanmu belum selesai.”
Jihan terdiam. Ia mencintai Erdem dengan tulus, tetapi kini menyadari suaminya juga hidup dengan ketakutan kehilangan.
Dalam surat yang dititipkan Erdem kepada Berna, terdapat pesan untuk Jihan: Jangan jadikan kenanganku penjara jika aku tidak sempat pulang.
Jihan menangis membaca tulisan itu. Erdem seolah memberi jawaban atas rasa bersalah yang selama ini menghentikannya.
Berna memutuskan pindah bersama Elif ke kota lain di Belanda. Ia ingin memulai kehidupan tanpa terus dikaitkan dengan Ozan dan masa lalunya.
Ozan mengantar mereka ke bandara. Jihan ikut atas permintaan Berna.
“Jaga dia,” kata Berna kepada Jihan. “Bukan karena dia lemah, tetapi karena dia sering menyembunyikan luka sampai berubah menjadi kemarahan.”
“Aku akan mengingatnya.”
Berna memeluk Ozan. Pelukan itu tidak membuat Jihan cemburu. Ia sudah memahami bentuk hubungan mereka.
Setelah pesawat berangkat, Ozan mengaku pernah berpikir membangun hidup bersama Berna karena merasa tidak mungkin kembali kepada Jihan.
“Apakah kau mencintainya?” tanya Jihan.
“Aku menyayanginya. Tapi aku tidak pernah bisa memberikan seluruh hatiku.”
“Aku tidak ingin menjadi alasan kau memperlakukan perempuan lain setengah hati.”
Ozan mengangguk. “Karena itu aku tidak menjanjikan hubungan yang tidak bisa kuberikan.”
Mereka pulang ke Istanbul dengan perasaan lebih ringan. Berna pergi bukan sebagai perempuan yang kalah, tetapi seseorang yang memilih masa depannya sendiri.
Di pesawat, Ozan bertanya apakah Jihan siap mengumumkan hubungan mereka.
“Belum,” jawab Jihan. “Bukan karena malu. Aku ingin Emir benar-benar aman lebih dulu.”
“Aku akan menunggu.”