Emir mengalami demam tinggi beberapa hari setelah pindah rumah. Jihan panik karena anak itu terus memanggil Erdem dalam tidurnya.
Ozan datang membawa dokter keluarga. Ia menunggu di luar kamar sampai Jihan memintanya masuk.
Dokter mengatakan Emir mengalami infeksi ringan dan akan pulih. Namun rasa kehilangan membuat kondisinya lebih gelisah.
Ozan duduk di samping ranjang dan membacakan cerita yang dahulu sering dibacakan Erdem. Ia mengetahui cerita tersebut dari album yang dibuat Jihan.
Ketika sadar, Emir menggenggam tangannya. “Paman jangan pergi.”
Ozan menatap Jihan sebelum menjawab. “Aku ada di sini selama Mama mengizinkan.”
Malam itu Ozan tidur di sofa. Jihan menemukannya masih mengenakan pakaian lengkap dengan satu tangan memegang ponsel, tetapi ia tidak sedang bekerja. Ia menunggu jika Emir membutuhkan sesuatu.
Pagi harinya demam anak itu turun. Emir meminta Ozan membuat sarapan. Hasilnya terlalu asin, tetapi Emir tetap memakannya sambil tertawa.
Jihan melihat mereka dan merasakan harapan yang menakutkan. Ozan tidak menggantikan Erdem. Ia sedang membangun hubungan berbeda dengan Emir.
Setelah Emir kembali tidur, Jihan mencium Ozan lebih dahulu.
“Aku mencintaimu,” katanya. “Aku belum tahu ke mana ini akan membawa kita, tapi aku tidak ingin terus menyangkalnya.”
Ozan memeluknya. “Aku mencintaimu sejak dahulu. Kali ini aku akan menjaganya tanpa menyembunyikan kebenaran.”
Jihan dan Ozan sepakat mengumumkan hubungan setelah lebih dahulu berbicara kepada Emir. Anak itu mendengarkan dengan wajah serius.
“Paman akan jadi papaku?” tanyanya.
“Tidak ada yang menggantikan Papa Erdem,” jawab Jihan. “Tapi Paman Ozan ingin menjadi bagian dari hidup kita.”
Emir memandang Ozan. “Paman tetap mau bikin pesawat?”
“Selama kau mau mengajariku.”
Emir mengangguk. Jawaban sederhana itu cukup untuk memulai.
Mereka membuat pernyataan kepada media tanpa menjual kisah duka sebagai romantisme. Jihan menegaskan hubungannya dimulai setelah kematian Erdem dan penyelesaian kasus pembunuhan.
Sebagian masyarakat mendukung, tetapi komentar kejam tetap ada. Ozan ingin membalas setiap tuduhan, namun Jihan menahannya.
“Kita cukup melindungi Emir dan kehidupan pribadi kita.”
Ozan mengikuti keputusannya. Mereka tidak perlu meyakinkan semua orang bahwa cinta mereka benar.
Malamnya Jihan melepas cincin pernikahan Erdem dan memasukkannya ke dalam kotak kenangan Emir. Ia menangis, tetapi tidak merasa mengkhianati siapa pun.
“Aku siap berjalan ke depan,” katanya.
Ozan mencium keningnya. “Kita berjalan perlahan.”
Ozan membeli cincin, tetapi Jihan mengetahui rencananya dari Taylan. Ia meminta Ozan menunda lamaran.
“Apa kau tidak ingin menikah denganku?” tanya Ozan.
“Aku ingin. Tapi aku belum siap membuat Emir menghadapi perubahan besar lagi.”
Ozan terluka, namun tidak memaksa. Ia menyimpan cincin dan setuju menunggu.
Beberapa minggu kemudian keluarga Daymaz mengajukan permintaan agar hak pengasuhan Emir diawasi karena hubungan Jihan dengan Ozan. Nermin menuduh Jihan tidak stabil setelah kematian Erdem.
Ekin berdiri membela Jihan dan menyerahkan catatan terapi Emir yang menunjukkan perkembangan baik.
Ozan diminta tidak terlalu terlibat agar masalah tidak semakin besar. Ia menjaga jarak dari proses hukum dan hanya memberi dukungan ketika Jihan meminta.
Pengadilan menolak permintaan keluarga Daymaz. Jihan tetap memiliki hak penuh sebagai ibu.
Setelah keputusan, Ozan mengira Jihan akan siap menerima lamaran. Namun ia tidak mengeluarkan cincin.
“Aku bilang akan menunggu, bukan menunggu sampai masalah selesai lalu langsung memintamu,” katanya.
Jihan tersenyum. Kesabaran Ozan membuktikan perubahan lebih kuat daripada kejutan romantis apa pun.
Penyelidikan Erdem mempertemukan Taylan dan Ekin berkali-kali. Perselisihan mereka perlahan berubah menjadi kedekatan yang tidak disadari.
Jihan melihat Ekin tersenyum ketika menerima pesan Taylan. “Kalian dekat?”
“Kami hanya membicarakan kasus.”
“Kasusnya sudah selesai.”
Ekin tersipu. Ia mengaku takut hubungan tersebut melukai keluarga karena Taylan pernah dicurigai membunuh Erdem.
Taylan datang menemui keluarga Daymaz secara terbuka. Ia menjelaskan keterlibatannya dalam proyek lama dan meminta maaf karena pernah merahasiakan konflik dengan Erdem.
“Aku tidak meminta kalian langsung mempercayaiku,” katanya. “Aku hanya ingin mengenal Ekin tanpa bersembunyi.”
Nermin menolak keras, tetapi Ekin tidak membiarkannya menentukan hidupnya.
“Aku sudah kehilangan kakakku karena terlalu banyak rahasia,” kata Ekin. “Aku tidak akan mengulangi hal yang sama.”
Ozan mengingatkan Taylan agar tidak mempermainkan perasaan Ekin. Taylan tertawa getir.
“Kau bukan orang yang pantas memberi ceramah tentang cinta.”
“Justru karena aku pernah menghancurkannya, aku tahu akibatnya.”
Kedua bersaudara itu akhirnya berbicara jujur tentang kesalahan keluarga mereka. Hubungan Taylan dan Ekin menjadi cerita baru yang tumbuh dari kebenaran, bukan alat untuk menyatukan dua keluarga.
Pada hari ulang tahun Erdem, Jihan membawa Emir ke makam. Ozan tidak ikut sampai Emir sendiri mengundangnya.
“Papa mungkin mau kenal Paman,” kata anak itu.
Mereka membawa bunga dan pesawat kertas. Emir bercerita tentang sekolah, rumah baru, dan sarapan asin buatan Ozan.
Jihan menangis sambil membaca surat terakhir Erdem. Ia mengucapkan terima kasih atas kehidupan yang pernah dibangun bersama.
Ozan berdiri tanpa mencoba menghibur secara berlebihan. Ia memahami duka tidak harus segera dihentikan.
“Aku pernah cemburu kepada orang yang sudah meninggal,” katanya setelah mereka pulang. “Aku malu mengakuinya.”
“Perasaan itu boleh ada. Yang penting kau tidak menggunakannya untuk menghapus Erdem.”
Ozan mengangguk. Emir kemudian memberikan satu pesawat kertas kepadanya.
“Ini buat Paman. Yang tadi buat Papa.”
Ozan menerima dengan mata basah. Kedua pesawat itu tidak bersaing. Masing-masing membawa tempat berbeda dalam hati Emir.
Malamnya Jihan membuka kotak cincin yang selama ini disimpan Ozan.
“Aku siap,” katanya.
Ozan menatapnya terkejut. Namun ia menutup kotak itu kembali. “Aku akan bertanya ketika kau tidak sedang tenggelam dalam emosi hari ini.”
Jihan tersenyum. Ozan benar-benar telah belajar menunggu.
Seminggu kemudian Ozan mengajak Jihan dan Emir ke taman di tepi Bosphorus. Tidak ada media atau pesta besar.
Ozan berlutut di depan Jihan, tetapi lebih dahulu menatap Emir.
“Aku ingin menikahi ibumu. Aku tidak akan menggantikan papamu. Apakah kau bersedia membiarkanku menjadi keluarga kalian?”
Emir berpikir cukup lama. “Paman harus tetap buat pesawat dan gak boleh bikin Mama menangis.”
“Aku akan berusaha. Kalau aku salah, kau boleh mengingatkan.”
Ozan kemudian menghadap Jihan. “Aku pernah mencintaimu dengan cara yang penuh rahasia dan kebencian. Sekarang aku ingin mencintaimu dengan jujur. Maukah kau menikah denganku?”
Jihan menangis. “Iya.”
Ozan memasangkan cincin dan memeluknya. Emir ikut masuk ke dalam pelukan mereka.
Kabar pertunangan diumumkan tanpa menyembunyikan penghormatan kepada Erdem. Berna mengirim ucapan selamat, sedangkan Ekin membantu persiapan.
Nermin tetap menolak menghadiri acara. Jihan tidak memaksanya.
Pada malam pertunangan, sebuah surat tanpa nama tiba. Isinya foto Erdem bertemu Ozan beberapa hari sebelum kematian.
Di belakangnya tertulis: Mereka menyembunyikan perjanjian terakhir darimu.
Jihan menatap Ozan. Wajah pria itu pucat. Pertemuan tersebut ternyata benar-benar terjadi dan selama ini tidak pernah ia ceritakan.