Jihan meletakkan foto itu di meja. “Kenapa kau tidak pernah mengatakan bahwa kau bertemu Erdem?”
Ozan mengaku Erdem mendatanginya tiga hari sebelum penembakan. Ia meminta Ozan melindungi Jihan dan Emir jika penyelidikannya berakhir buruk.
“Dia juga memintaku tidak memberitahumu sebelum bahaya selesai,” kata Ozan.
“Bahaya itu sudah selesai dan kau tetap diam.”
“Aku takut kau mengira aku menggunakan pesan Erdem untuk mendekatimu.”
Jihan melepas cincin pertunangan dan meletakkannya di meja. “Kita baru berjanji tidak menyembunyikan apa pun.”
Ozan tidak mencoba memasangkannya kembali. Ia menyerahkan rekaman percakapan dengan Erdem yang selama ini disimpan pengacaranya.
Dalam rekaman, Erdem mengakui mengetahui cinta Ozan kepada Jihan. Ia meminta Ozan tidak datang sebagai penyelamat, tetapi memastikan keluarganya aman.
Jihan menangis mendengar suara mendiang suaminya. Namun rasa sedih tidak menghapus kemarahannya kepada Ozan.
“Aku butuh waktu,” katanya.
Ozan mengangguk. “Cincin itu tetap milikmu. Tapi kau tidak wajib memakainya.”
Jihan pergi membawa rekaman. Sekali lagi, niat melindungi telah berubah menjadi rahasia yang merusak kepercayaan.
Jihan mendengarkan rekaman bersama Ekin. Suara Erdem menjelaskan bahwa ia pernah melihat Jihan menyimpan foto lama Ozan.
“Aku tahu sebagian hatinya belum benar-benar selesai,” ujar Erdem. “Tapi dia memilih kehidupan bersamaku dan aku menghargainya.”
Erdem tidak meminta Jihan kembali kepada Ozan. Ia hanya tidak ingin kematiannya menjadi penjara.
Ekin menangis. “Kakakku menyimpan ketakutan sendirian.”
Jihan menyadari Erdem dan Ozan melakukan kesalahan serupa: menganggap diam adalah bentuk perlindungan.
Ia menemui Ozan seminggu kemudian. “Aku memahami alasanmu, tapi aku belum bisa menerima caramu.”
“Aku mengerti.”
“Kalau kita menikah, kau harus berhenti menentukan kebenaran mana yang sanggup kudengar.”
“Aku berjanji akan mengatakan semuanya, termasuk hal yang membuatku terlihat buruk.”
Jihan mengambil cincin dari tas, tetapi tidak langsung memakainya. “Kita tunda pernikahan. Bukan dibatalkan.”
Ozan menerima. Mereka akan menjalani konseling pasangan sebelum menentukan tanggal baru.
Keputusan itu membuat media berspekulasi bahwa hubungan mereka berakhir. Jihan tidak memberi penjelasan. Ia tidak lagi menjalani hidup berdasarkan desakan publik.
Pada sesi pertama, Ozan mengaku menggunakan perkataan kejam untuk membalas rasa sakit ketika Jihan menuduhnya membunuh Erdem.
“Aku ingin dia merasakan kehilangan seperti yang kurasakan,” katanya.
Jihan menjawab, “Kau tidak hanya marah. Kau menghina dukaku dan menjadikan status jandaku sebagai senjata.”
Ozan menerima tanpa membela diri. Ia juga mengakui sering menyembunyikan fakta karena takut ditinggalkan.
Jihan menceritakan kecenderungannya membuat kesimpulan sebelum mendengar. Ia pernah meninggalkan Ozan karena Berna dan menuduhnya membunuh berdasarkan bukti pertama.
Konselor meminta mereka membangun aturan: tidak ada keputusan saat emosi memuncak, tidak ada rahasia atas nama perlindungan, dan tidak menggunakan masa lalu untuk memenangkan pertengkaran.
Prosesnya tidak mudah. Dalam satu sesi Jihan pergi karena merasa Ozan mengecilkan cintanya kepada Erdem. Ozan tidak mengejar dengan paksa. Ia menunggu lalu meminta kesempatan memperbaiki kalimatnya.
Setelah beberapa bulan, Jihan mulai mengenakan kembali cincin pertunangan.
“Aku belum melupakan semua luka,” katanya.
“Aku tidak meminta kau melupakan. Aku hanya ingin berhenti menambahnya.”
Mereka belum menentukan tanggal pernikahan, tetapi kepercayaan mulai tumbuh melalui percakapan yang tidak selalu indah.
Emir menyadari pernikahan ditunda. Ia takut Ozan akan pergi seperti papanya.
“Paman dan Mama sedang belajar supaya tidak saling menyakiti,” jelas Jihan.
“Kalau bertengkar, Paman pulang ke rumahnya?”
Ozan berlutut. “Aku mungkin butuh waktu untuk tenang, tapi aku akan memberi kabar. Aku tidak akan menghilang.”
Mereka mengajak Emir dalam sesi keluarga. Psikolog membantu anak itu memahami bahwa cinta kepada Ozan tidak menghapus Erdem.
Emir kemudian membuat gambar tiga orang dewasa dan dirinya. Erdem digambar di langit, sedangkan Jihan dan Ozan berdiri di sampingnya.
“Papa bisa lihat kita,” katanya.
Jihan menahan tangis. Ozan memuji gambar tersebut tanpa mengubah posisi Erdem.
Beberapa hari kemudian Emir menyerahkan kembali kotak cincin kepada Ozan.
“Paman boleh tanya Mama lagi. Tapi jangan di tempat ramai.”
Ozan tersenyum. “Aku akan mengingatnya.”
Malam itu Ozan tidak membuat lamaran kedua. Ia bertanya apakah Jihan sudah siap menentukan tanggal bersama.
Jihan mengangguk. “Aku siap. Bukan karena Emir atau Erdem meminta. Karena aku memilihmu.”
Mereka memilih tanggal enam bulan kemudian. Acara akan dilaksanakan di taman rumah Jihan dengan tamu terbatas.
Nermin kembali menentang. Ia mengancam tidak akan mengizinkan nama Daymaz dipakai Emir jika Ozan menjadi ayah sambungnya.
Jihan menolak ancaman tersebut. “Nama Emir berasal dari ayahnya dan tidak akan dihapus. Ozan juga tidak pernah memintanya.”
Ekin berdiri bersama Jihan. Taylan membantu memastikan urusan hukum keluarga tidak digunakan untuk menekan mereka.
Hubungan Taylan dan Ekin juga semakin serius. Namun keduanya sepakat tidak mengumumkan pertunangan pada hari pernikahan Jihan.
Ozan melibatkan Emir dalam persiapan. Anak itu memilih kue dan bersikeras ada hiasan pesawat kertas.
“Pernikahan kita akan terlihat seperti pesta anak-anak,” keluh Ozan.
“Emir bagian dari pernikahan ini,” jawab Jihan.
“Kalau begitu pesawatnya harus berwarna coklat.”
Jihan tertawa. Lama sekali sejak mereka dapat memperdebatkan sesuatu tanpa luka besar.
Di tengah persiapan, Ozan menerima tawaran memimpin proyek dua tahun di Rotterdam. Kariernya akan berkembang, tetapi kepindahan itu berarti mengubah sekolah serta kehidupan Emir.
Ozan tidak langsung menolak atau menerima. Ia membawa tawaran tersebut kepada Jihan pada hari yang sama.
“Kali ini kita memutuskan bersama,” katanya.
Jihan membaca dokumen itu. Ujian berikutnya bukan lagi rahasia masa lalu, melainkan masa depan yang harus mereka pilih sebagai keluarga.
Jihan membaca seluruh dokumen proyek. Tawaran itu sangat penting bagi Ozan, tetapi mengharuskan mereka tinggal di Rotterdam setidaknya selama satu tahun pertama.
“Aku tidak ingin Emir merasa hidupnya dipindahkan tanpa ditanya,” katanya.
Mereka mengajak Emir berbicara. Anak itu takut meninggalkan sekolah dan makam papanya.
“Papa tetap ada meskipun kita tinggal di kota lain,” kata Jihan. “Tapi kau boleh mengatakan tidak nyaman.”
Ozan menawarkan jalan tengah kepada perusahaan: ia memimpin proyek selama enam bulan pertama dengan perjalanan rutin, lalu menyerahkan operasional kepada tim lokal.
Perusahaan meminta waktu mempertimbangkan. Ozan tidak memakai pernikahan sebagai alasan, tetapi menjelaskan dirinya memiliki tanggung jawab keluarga.
Tawaran baru akhirnya diterima. Ozan akan tinggal di Rotterdam dua minggu setiap bulan selama enam bulan.
“Itu tetap berat,” kata Jihan.
“Kita bisa mencoba. Kalau hubungan kita terganggu, kita bicara lagi.”
Mereka tidak menganggap keputusan tersebut sempurna. Namun kali ini masa depan tidak ditentukan oleh Ozan seorang diri atau oleh pengorbanan diam-diam Jihan.