Bulan pertama proyek berjalan baik. Ozan menelepon setiap malam dan selalu memberi kabar ketika jadwal berubah.
Memasuki bulan kedua, pekerjaan meningkat. Ia melewatkan dua panggilan dengan Emir dan pulang ke Istanbul satu hari lebih lambat.
Jihan marah, bukan karena keterlambatan, melainkan karena Ozan baru memberi tahu setelah tiket berubah.
“Kau mulai memutuskan sendiri lagi,” katanya.
“Aku pikir satu hari tidak akan menjadi masalah.”
“Masalahnya kau berpikir untuk kami tanpa bertanya.”
Ozan mengakui kesalahannya. Ia meminta manajer proyek menyusun jadwal lebih realistis dan berhenti menjanjikan kepulangan yang belum pasti.
Emir juga kecewa. Ozan mengganti waktu yang hilang bukan dengan hadiah, melainkan panggilan khusus untuk membuat pesawat kertas bersama melalui video.
Jihan melihat perubahan itu. Ozan tetap dapat melakukan kesalahan, tetapi kini tidak bersembunyi di balik pekerjaan atau hadiah mahal.
Jarak kedua mereka berbeda dari perpisahan dahulu. Kesalahpahaman tidak dibiarkan tumbuh selama bertahun-tahun. Ia dibicarakan ketika masih berupa luka kecil.
Taylan melamar Ekin setelah mendapat restu keluarga terdekat. Nermin menolak keras karena menganggap keluarga Adskhan membawa kematian bagi Erdem.
Ekin tidak membiarkan bibinya menentukan pilihan. “Taylan bukan Ozan dan aku bukan Jihan. Hubungan kami milik kami.”
Taylan mengakui perannya dalam proyek lama yang membuka jalan bagi Viktor. Ia tidak meminta Ekin melupakan, tetapi bersedia mengikuti konseling pranikah.
Jihan mendukung adik iparnya tanpa memberi tekanan. Ia belajar tidak semua nasihat harus berupa keputusan yang dibuat untuk orang lain.
Pertunangan mereka dirayakan sederhana. Ozan pulang dari Rotterdam untuk hadir dan berdamai dengan Taylan setelah lama saling mencurigai.
“Kita hampir menghancurkan keluarga karena menyimpan rahasia,” kata Taylan.
“Jangan ulangi itu kepada Ekin,” jawab Ozan.
“Kau juga kepada Jihan.”
Mereka tertawa kecil. Dua bersaudara itu tidak melupakan konflik, tetapi berhenti menjadikannya alasan menjaga jarak.
Pada acara tersebut Nermin akhirnya datang. Ia tidak memberi restu penuh, tetapi berhenti mengancam. Itu menjadi langkah kecil bagi keluarga Daymaz untuk menerima bahwa kehidupan orang-orang yang ditinggalkan Erdem tetap berjalan.
Ozan pulang lebih awal agar dapat mengikuti seluruh persiapan terakhir. Ia menyerahkan proyek Rotterdam kepada tim tanpa membawa laptop ke rumah Jihan.
“Kau yakin pekerjaanmu tidak runtuh?” goda Jihan.
“Ternyata ada banyak orang pintar selain aku.”
Emir sibuk berlatih membawa cincin. Ia beberapa kali menjatuhkannya hingga Ozan memutuskan memakai kotak tiruan saat latihan.
Masalah muncul ketika media menerima salinan rekaman pertemuan Erdem dan Ozan. Mereka menuduh Ozan mengetahui ancaman pembunuhan tetapi gagal mencegahnya.
Ozan ingin menunda pernikahan agar Jihan tidak kembali menjadi sasaran. Jihan menolak.
“Kita akan memberi penjelasan yang benar, tapi aku tidak akan membiarkan media menentukan tanggal hidupku.”
Mereka menyerahkan rekaman penuh kepada penyidik dan media. Terbukti Ozan tidak mengetahui lokasi atau waktu serangan.
Pada malam sebelum pernikahan, Jihan mengunjungi makam Erdem sendirian. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada perannya sebagai istri Erdem tanpa menghapus cintanya.
“Besok aku menikah lagi,” katanya. “Emir akan tetap mengenalmu. Aku juga akan tetap mengingatmu, tetapi aku memilih melanjutkan hidup.”
Angin membawa satu daun jatuh ke atas makam. Jihan pulang dengan hati yang lebih tenang.
Jihan berjalan menuju Ozan dengan menggandeng Emir. Tidak ada ayah yang menyerahkannya. Ia datang sebagai perempuan yang menentukan pilihannya sendiri.
Ozan menahan air mata. Dalam janjinya ia tidak menjanjikan kesempurnaan.
“Aku berjanji tidak akan memakai diam sebagai perlindungan dan kemarahan sebagai balas dendam. Aku akan menghargai kenanganmu tanpa merasa harus mengalahkannya.”
Jihan membalas, “Aku memilihmu bukan untuk menggantikan seseorang. Aku memilihmu sebagai Yozan Adskhan yang kukenal kembali, dengan masa lalu dan perubahanmu.”
Emir menyerahkan cincin. Setelah mereka dinyatakan menikah, anak itu memeluk keduanya.
Nermin duduk bersama keluarga Daymaz. Berna dan Elif mengikuti melalui panggilan video dari Belanda. Taylan berdiri di samping Ekin.
Di meja kenangan terdapat foto Erdem dengan sebuah pesawat kertas. Ozan sendiri yang menempatkannya di sana.
Malamnya Jihan dan Ozan berada di rumah baru. Mereka tidak lagi membawa status mantan kekasih, janda, atau lelaki pendendam ke dalam kamar.
“Apakah kau bahagia?” tanya Ozan.
“Aku tenang,” jawab Jihan. “Dan untuk malam ini, itu terasa lebih berharga.”
Ozan mencium keningnya. Pernikahan itu bukan akhir dari luka mereka, tetapi awal kehidupan yang dibangun tanpa menjadikan cinta sebagai perlombaan dengan masa lalu.
Ozan pindah ke rumah Jihan agar Emir tidak harus kehilangan lingkungan yang baru saja membuatnya nyaman. Ia hanya membawa barang pribadi dan tidak mengubah ruangan tanpa bertanya.
“Paman tidur di sini setiap hari?” tanya Emir.
“Kalau kau dan Mama mengizinkan.”
Hari-hari pertama terasa canggung. Emir masih memanggilnya Paman, sementara keluarga Ozan menganggap anak itu seharusnya mulai memanggilnya Papa.
Ozan menolak tekanan tersebut. “Nama panggilan adalah pilihan Emir.”
Masalah kecil muncul ketika Ozan memindahkan foto Erdem dari ruang tamu agar tidak jatuh. Jihan mengira ia sengaja menyembunyikannya.
“Aku hanya memindahkan karena bingkainya hampir tersenggol,” jelas Ozan.
Jihan mengakui dirinya terlalu cepat membuat kesimpulan. Foto itu dikembalikan ke tempat aman setelah dibicarakan bersama.
Mereka belajar bahwa rumah baru bukan berarti menghapus segala sesuatu yang ada sebelum Ozan datang. Ia menjadi ruang bersama yang tetap menyimpan kenangan Erdem dan memberi tempat bagi kehidupan mereka sekarang.
Ozan kembali ke Rotterdam untuk menyelesaikan bulan terakhir proyek. Ia berjanji pulang pada ulang tahun Emir.
Badai salju membuat penerbangan dibatalkan. Ozan segera memberi kabar, tetapi Emir tetap kecewa.
“Paman bilang pasti pulang,” katanya.
Ozan tidak memberikan alasan panjang. Ia meminta maaf karena memakai kata pasti pada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Ia mengikuti perayaan melalui panggilan video. Setelah bandara dibuka, Ozan mengambil penerbangan pertama dan tiba sehari terlambat.
Ia tidak membawa hadiah besar. Ia datang membawa pesawat kertas yang dibuat selama menunggu di bandara.
“Paman tetap telat,” kata Emir.
“Iya. Kau boleh marah.”
Emir akhirnya memeluknya. “Besok kita ulang ulang tahunnya.”
Mereka membuat kue kecil bersama. Jihan melihat bagaimana Ozan tidak mencoba membeli pengampunan Emir, melainkan hadir dan menerima kekecewaannya.
Proyek Rotterdam selesai minggu berikutnya. Ozan menolak perpanjangan dan memilih mengembangkan pekerjaan dari Istanbul.
“Kau menolak karena kami?” tanya Jihan.
“Aku menolak karena hidup yang kuinginkan ada di sini. Itu pilihanku, bukan pengorbanan yang kelak akan kusalahkan kepadamu.”