Taylan dan Ekin menikah setelah menjalani konseling pranikah. Acara itu menyatukan keluarga Adskhan dan Daymaz dalam satu ruangan, sesuatu yang dahulu terasa mustahil.
Nermin masih bersikap dingin kepada Ozan. Namun ketika Emir berlari memeluk Ozan, ia tidak lagi menegur.
Dalam pidatonya, Ekin mengenang Erdem tanpa menjadikan hari pernikahannya sebagai hari berkabung.
“Kakakku mengajarkan keberanian mencari kebenaran,” katanya. “Hari ini aku memilih hidup dengan kebenaran yang sama.”
Taylan mengakui dirinya pernah menyimpan rahasia yang membahayakan Erdem. Ia berjanji tidak mengulangi pola tersebut dalam pernikahan.
Berna dan Elif hadir dari Belanda. Jihan menyambut Berna dengan lebih hangat. Hubungan mereka tidak lagi dipenuhi rasa bersalah.
Ozan melihat semua orang menari dan berkata kepada Jihan, “Dulu aku ingin membuat keluargamu merasakan kehilangan.”
“Dan sekarang?”
“Aku ingin melihat mereka hidup tanpa terus dihukum masa lalu.”
Jihan menggenggam tangannya. Kebencian Ozan telah berubah bukan karena waktu semata, melainkan karena ia berani melihat luka yang diciptakannya sendiri.
Emir pulang sekolah dengan wajah murung. Gurunya meminta murid menulis tentang ayah, dan ia bingung harus menulis Erdem atau Ozan.
“Kau boleh menulis keduanya,” kata Jihan.
“Tapi cuma ada satu halaman.”
Ozan duduk di sampingnya. “Tulislah tentang Papa Erdem. Aku tidak akan sedih.”
Emir menggeleng. “Aku juga mau tulis Paman.”
Ia akhirnya membagi halaman menjadi dua. Di bagian pertama ia menggambar Erdem sebagai papa yang membuat pesawat kertas. Di bagian kedua ia menggambar Ozan sebagai orang yang tetap datang meski penerbangannya terlambat.
Saat membaca tugas itu, Ozan menangis.
“Aku boleh panggil Papa Ozan?” tanya Emir.
Ozan menatap Jihan, lalu kembali kepada anak itu. “Kalau itu yang kauinginkan.”
“Papa Ozan,” ucap Emir mencoba.
Ozan memeluknya dengan hati-hati. Ia tidak merasa mengalahkan Erdem. Nama Papa yang diberikan Emir bukan piala, melainkan kepercayaan yang harus dijaga.
Malamnya Ozan meletakkan tugas itu di samping foto Erdem. Dua lelaki tersebut kembali berbagi ruang tanpa salah satunya harus dihapus.
Jihan mengetahui dirinya hamil beberapa bulan setelah pernikahan. Ia menatap alat tes dengan perasaan bahagia sekaligus takut.
Ozan menemukan Jihan menangis di kamar mandi.
“Apa yang terjadi?”
Jihan menunjukkan hasil tes. Ozan tersenyum, tetapi bertanya lebih dahulu, “Apa yang kau rasakan?”
“Aku senang. Aku hanya takut Emir merasa digantikan.”
Mereka memberi tahu Emir setelah pemeriksaan dokter. Anak itu diam cukup lama.
“Kalau ada bayi, Papa Ozan masih main sama aku?”
“Tentu,” jawab Ozan. “Kehadiran adik tidak mengurangi tempatmu.”
Emir kemudian bertanya apakah bayi itu juga akan mengenal Papa Erdem. Jihan menjawab bahwa mereka akan menceritakan tentang lelaki yang pernah menjadi bagian penting keluarga.
Kehamilan diumumkan hanya kepada keluarga terdekat. Nermin terkejut, tetapi akhirnya mengirim selamat. Berna juga menghubungi dari Belanda.
Ozan hampir membeli seluruh perlengkapan bayi dalam satu hari. Jihan menghentikannya.
“Kita punya waktu. Jangan mengubah kebahagiaan menjadi proyek.”
Ozan tertawa dan membatalkan sebagian pesanan. Mereka akan menyambut kehidupan baru tanpa membuat Emir kehilangan ruang dan tanpa menjadikan bayi sebagai simbol kesempurnaan keluarga.
Pemeriksaan memastikan kehamilan Jihan berusia enam minggu. Dokter mengatakan kondisinya baik, tetapi Jihan tetap diliputi ketakutan.
“Aku takut Emir merasa digantikan,” katanya kepada Ozan.
“Kita bicara kepadanya sebelum dia mendengar dari orang lain.”
Emir terdiam ketika mengetahui kabar tersebut. Ia bertanya apakah Ozan masih akan membuat pesawat bersamanya setelah bayi lahir.
“Tentu. Adikmu tidak mengambil tempatmu,” jawab Ozan.
Jihan tidak memaksa Emir langsung bahagia. Ia memberi anak itu waktu memahami perubahan.
Pada malam hari Emir masuk ke kamar dan menyentuh perut Jihan.
“Adiknya belum bisa dengar?”
“Mungkin belum.”
“Aku mau bilang dia punya dua papa juga kalau dia mau.”
Jihan memeluknya sambil menangis. Rasa takut tidak hilang seluruhnya, tetapi kejujuran membuat mereka menghadapinya sebagai keluarga.
Ozan mengurangi perjalanan kerja tanpa menjadikan keputusan itu sebagai pengorbanan. Ia mengatakan kepada dewan bahwa ingin menjaga keseimbangan hidupnya sendiri.
“Aku tidak mau anak-anak hanya mengenalku dari foto,” katanya kepada Jihan.
Memasuki bulan keempat, Jihan mengalami perdarahan ringan. Ozan membawanya ke rumah sakit dengan wajah pucat.
Dokter mengatakan bayi masih aman, tetapi Jihan harus mengurangi aktivitas. Kenangan kehilangan Erdem membuat ketakutannya membesar.
“Aku tidak sanggup kehilangan lagi,” katanya.
Ozan duduk di samping ranjang. “Aku juga takut, tapi kita dengarkan dokter dan menjalani satu hari pada satu waktu.”
Ia tidak menjanjikan bahwa semuanya pasti baik. Kehadirannya membuat Jihan merasa tidak harus menanggung ketidakpastian sendirian.
Ekin membantu menjaga Emir. Nermin juga datang membawa makanan tanpa mengucapkan kata-kata menyakitkan.
“Aku masih tidak menyukai banyak keputusanmu,” katanya kepada Jihan. “Tapi kau tetap ibu Emir dan bayi itu tidak bersalah.”
Itu belum menjadi perdamaian, tetapi cukup membuka jalan.
Kondisi Jihan membaik setelah beberapa minggu. Ia tetap mengikuti konseling karena kecemasan tidak langsung hilang.
Ozan bekerja dari rumah pada jam tertentu dan menghentikan pekerjaan ketika waktunya selesai. Jihan melihat bahwa perubahan Ozan tidak hanya muncul saat keadaan tenang. Lelaki itu tetap menjaga batas bahkan ketika ketakutan mendorongnya ingin mengontrol semua hal.
Dokter memberi tahu bayi mereka perempuan. Ozan tersenyum lebar, sedangkan Emir mulai membuat daftar nama.
“Namanya harus bisa dibuat jadi pesawat,” kata Emir.
“Nama bukan kertas,” jawab Jihan sambil tertawa.
Mereka memilih nama Aylin, yang berarti cahaya bulan. Nama tersebut tidak berasal dari keluarga Adskhan ataupun Daymaz.
“Dia boleh membangun namanya sendiri,” kata Ozan.
Ozan menyiapkan kamar bayi bersama Emir. Mereka menempatkan foto keluarga yang juga memuat Erdem di rak. Ozan tidak merasa kehadiran foto tersebut mengurangi tempatnya.
Berna mengirim pakaian bayi dari Belanda. Jihan menerimanya tanpa rasa cemburu. Hubungan mereka sudah berubah menjadi penghormatan yang tenang.
Saat Aylin bergerak untuk pertama kali, Ozan menempelkan tangan ke perut Jihan. Matanya berkaca-kaca.
“Aku pernah berpikir kebahagiaan hanya bisa kudapatkan kalau kau kehilangan Erdem,” katanya. “Sekarang aku malu pernah memiliki pikiran itu.”
“Yang penting kau tidak lagi menjadikan cinta sebagai kemenangan.”
Ozan mengangguk. Putri mereka bukan bukti bahwa cintanya lebih besar daripada cinta Erdem. Aylin adalah kehidupan baru yang lahir dari pilihan mereka sekarang.