Aylin lahir dua minggu lebih awal. Ozan menemani Jihan sepanjang persalinan dan mengikuti setiap keputusan medis yang dipilih istrinya.
Ketika tangis bayi terdengar, Emir menunggu di luar bersama Ekin dan Taylan. Ia berlari masuk setelah diperbolehkan.
“Dia kecil sekali,” katanya.
“Kau juga sekecil itu dahulu,” jawab Jihan.
Ozan menggendong Aylin dengan tangan gemetar. “Selamat datang, Putri kecil.”
Emir memperbaiki ucapannya. “Adik kecil kita.”
Nermin datang dan membawa selimut milik Erdem ketika bayi. Ia memberikannya kepada Emir, bukan Aylin.
“Ini bagian dari papamu,” katanya.
Kemudian ia memberikan selimut baru untuk Aylin. Sikap itu menunjukkan Nermin mulai menerima dua keluarga tanpa mencampur identitas mereka.
Jihan menjalani pemulihan dengan dukungan semua orang. Ozan mengambil cuti dan tidak membuka pekerjaan di kamar rumah sakit.
Pada malam pertama di rumah, Emir meletakkan pesawat kertas di dekat tempat tidur Aylin.
“Ini dari Papa Erdem dan Papa Ozan,” katanya.
Jihan serta Ozan saling memandang. Anak itu menemukan cara sederhana menyatukan cinta yang selama ini terasa rumit bagi orang dewasa.
Hari-hari bersama bayi membuat rumah mereka kacau. Aylin sering menangis malam hari, Jihan kelelahan, dan Ozan beberapa kali salah memasang popok.
Emir mulai cemburu ketika seluruh perhatian tertuju kepada adiknya. Ia sengaja membuat masalah di sekolah agar Jihan datang.
Jihan tidak memarahinya langsung. Dalam konseling keluarga, Emir mengaku takut tidak lagi dibutuhkan.
Ozan membuat waktu khusus setiap minggu untuk Emir, tetapi tidak menjadikannya sebagai ganti rugi dengan hadiah.
“Kau tetap anak kami bahkan ketika Aylin menangis lebih keras,” katanya.
Jihan juga mengalami suasana hati yang berubah setelah melahirkan. Ia meminta bantuan dokter dan tidak berusaha terlihat sebagai ibu sempurna.
Ozan belajar tidak menyelesaikan semua masalah sendiri. Ia menerima bantuan Ekin, Taylan, dan pengasuh paruh waktu.
Suatu malam mereka makan bersama dalam keadaan rumah berantakan. Aylin tertidur, sedangkan Emir bercerita panjang tentang sekolah.
“Kita jauh dari keluarga sempurna,” kata Jihan.
“Aku tidak membutuhkan kesempurnaan,” jawab Ozan. “Aku hanya ingin kita tetap jujur ketika keadaan berantakan.”
Jihan menyandarkan kepala ke bahunya. Selama ini gelar Perfect Lady membuatnya merasa harus selalu kuat, cantik, dan benar. Kini ia menemukan kebahagiaan justru ketika berani mengakui bahwa hidupnya tidak sempurna.
Enam bulan setelah Aylin lahir, Jihan menerima tawaran kembali ke dunia kerja. Ia ingin menerimanya, tetapi rasa bersalah membuatnya ragu meninggalkan anak-anak.
“Kau tidak berhenti menjadi ibu ketika bekerja,” kata Ozan.
“Aku takut melewatkan sesuatu.”
“Kita berdua akan melewatkan beberapa hal. Itu sebabnya kita saling berbagi.”
Jihan menerima pekerjaan dengan jadwal bertahap. Ozan menyesuaikan rapat agar keduanya tidak bergantung penuh kepada satu orang pengasuh.
Pada hari pertama, Aylin menangis ketika Jihan pergi. Jihan hampir membatalkan semuanya, tetapi pengasuh mengirim kabar bahwa bayi itu tenang beberapa menit kemudian.
Di kantor, Jihan kembali dikenal sebagai dirinya sendiri, bukan hanya janda Erdem atau istri Ozan. Ia menyelesaikan presentasi dengan baik dan pulang sebelum anak-anak tidur.
Emir menunjukkan tugas sekolah, sedangkan Aylin merangkak menuju kakinya.
“Aku takut mereka melupakanku,” kata Jihan malam itu.
Ozan tersenyum. “Mereka tahu siapa ibunya. Kau juga berhak mengingat siapa dirimu di luar rumah.”
Ozan ditawari posisi utama di perusahaan internasional. Jabatan tersebut membutuhkan perjalanan panjang dan kehidupan berpindah-pindah.
Dahulu ia pasti menerimanya tanpa berdiskusi. Kali ini ia membawa dokumen itu pulang.
“Apa kau menginginkannya?” tanya Jihan.
“Sebagian diriku menginginkan pencapaiannya. Tapi aku tidak menginginkan hidup yang harus dibayar.”
Ozan melakukan negosiasi dan meminta peran sebagai penasihat yang dapat dijalankan dari Istanbul. Perusahaan menolak pada awalnya, lalu memberi tawaran lebih kecil.
“Kau kecewa?”
“Sedikit. Tapi aku tidak merasa kehilangan hidupku.”
Ia menerima peran baru yang lebih terbatas. Keputusan itu bukan pengorbanan yang kelak digunakan untuk menyalahkan Jihan.
Emir bertanya mengapa Ozan tidak menjadi bos paling besar.
“Karena menjadi paling besar bukan selalu hal yang paling penting,” jawab Ozan.
“Yang penting Papa pulang?”
Ozan memeluknya. “Salah satunya.”
Jihan melihat lelaki yang dahulu menyimpan luka dalam ambisi kini mampu memilih batas. Cinta mereka tidak membuat Ozan lebih kecil. Cinta membantunya melihat bahwa hidup memiliki ukuran lain selain kemenangan.
Sebuah media menerbitkan berita bahwa Jihan menikahi Ozan demi menguasai perusahaan Adskhan. Foto-foto masa lalunya bersama Erdem digunakan sebagai perbandingan.
Jihan merasa lelah terus dinilai melalui lelaki yang berada di sampingnya.
“Aku ingin menggugat,” katanya.
Ozan mendukung, tetapi meminta Jihan menjadi pihak utama dalam keputusan hukum. Mereka mengumpulkan bukti bahwa berita tersebut dibuat berdasarkan pembayaran anonim.
Pelakunya ternyata seorang mantan mitra Viktor yang ingin menjatuhkan keluarga Adskhan sebelum persidangan banding.
Jihan memberikan pernyataan sendiri. “Saya pernah menjadi istri Erdem dan kini menjadi istri Ozan. Namun saya bukan kepunyaan salah satu nama keluarga. Pekerjaan dan kehidupan saya tidak dapat dikurangi menjadi hubungan dengan seorang pria.”
Pernyataan itu mendapat dukungan luas. Nermin bahkan berbicara kepada media untuk membela Jihan.
“Dia mencintai Erdem dengan baik,” katanya. “Melanjutkan hidup bukan bentuk pengkhianatan.”
Jihan terkejut mendengarnya. Hubungan mereka belum sepenuhnya pulih, tetapi Nermin akhirnya berhenti menjadikan duka sebagai hak untuk mengontrol kehidupan orang lain.
Berita palsu ditarik dan media meminta maaf. Jihan tidak merasa menang. Ia hanya lega suaranya akhirnya didengar sebagai miliknya sendiri.
Setiap ulang tahun Erdem, mereka tetap datang ke makam. Kali ini Aylin ikut dan meletakkan bunga kecil yang dipilih Emir.
Emir sudah lebih besar dan mulai bertanya tentang kematian ayahnya. Jihan menjelaskan dengan bahasa yang sesuai usianya tanpa menyembunyikan bahwa Erdem dibunuh karena mencoba mengungkap kejahatan.
“Orang jahatnya sudah dihukum?”
“Sudah,” jawab Ozan. “Tapi yang paling penting, kebenaran papamu tidak dilupakan.”
Emir memandang Ozan. “Papa Ozan kenal Papa Erdem?”
Ozan menceritakan pertemuan terakhir mereka dan permintaan Erdem agar keluarga dijaga.
“Kenapa baru cerita sekarang?”
“Karena dulu kau terlalu kecil. Dan aku juga pernah terlambat menceritakannya kepada Mamamu.”
Jihan menggenggam tangan Ozan. Kejujuran itu tidak terasa seperti membuka luka. Ia menjadi jembatan yang membuat Emir mengenal ayahnya dengan lebih utuh.
Sebelum pulang, Emir meletakkan dua pesawat kertas. Satu di makam dan satu lagi di tangan Aylin.
“Biar adik juga tahu ceritanya,” katanya.