Evans terbangun saat merasakan pergerakan kasur. Hm, ternyata dia tertidur dengan menelungkupkan kepala di kasur tempat Kiara. Dilihatnya Kiara, gadis itu sudah terbangun dari tidurnya dan tersenyum tipis saat pandangan mereka bertemu. Diceknya kembali suhu badan Kiara, jauh lebih baik. Syukurlah!
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Kakak kenapa tidur di situ?" Kiara malah balik bertanya.
"Kau malah menanyakan pertanyaan bodoh itu setelah kakak panik dengan panasmu dan akhirnya menungguimu semalaman? Bukannya kau harusnya berterima kasih?" selorohnya, tidak sungguh-sungguh mengatakannya.
"Maaf." Kiara jadi merasa bersalah. Ia segera duduk. "Baiklah, aku akan membuatkan sarapan lagi sebagai permintaan maaf," katanya dan merangkak turun.
"Tidak perlu bersusah payah, Kia. Kakak hanya bercanda. Sebaiknya kau siapkan saja dirimu untuk hari ini. Kau masih harus kuliah dan bekerja bukan?" kata Evans masih dengan nada lembutnya.
Kiara melirik jam di nakas. Ah, ini sudah hampir jam tujuh. Dia tidur cukup lama ternyata dan dalam satu jam dia harus sudah tiba di kampus. Kelas pagi akan diisi oleh pak Arman. Dosen kesayangan hampir semua mahasiswa, dan Kiara tidak ingin melewatkannya. Pasti akan mengembalikan keceriaannya nanti.
"Oh, aku harus segera ke kampus, kak. Titip Bonie." Kiara langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi tanpa mempedulikan Evans. Tingkah konyol itu membuat Evans terkikik geli. Kepalanya sedikit pusing karena kurang tidur. Mungkin dia akan tidur dulu sebelum mengawasi cafe.
Kiara tiba di kampus berbarengan dengan Alan yang juga baru sampai. Terlihat Alan sedang menunggunya yang hanya berjarak belasan langkah darinya.
"Kok naik angkot, Kia? Abis dari mana?" tanya Alan.
Kiara melihat ke belakang. Angkot yang baru saja ditumpanginya masih berhenti di sana. Duh, Alan selalu saja berlagak detektif.
"Hm, itu tadi abis nganterin Lala." Kiara bingung harus cari alasan apa. Hanya itu yang terlintas di otaknya.
Keduanya berjalan memasuki kelas. Joanna sudah ada di sana. Bahkan kelaspun sudah hampir penuh. Seperti itulah keadaan untuk kelas ini. Tidak ada yang ingin tertinggal walau tanpa dipaksa. Kenyamananlah yang membuat ini.
Ada jeda setengah jam, ketiga sahabat ini memilih duduk di kantin. "Jo, kau kenapa? Kenapa murung seperti itu?" tanya Kiara saat menyadari sahabatnya yang satu itu menekuk wajahnya. Bahkan pandangan matanya kosong.
"Jo?" Kiara mengibaskan tangannya di depan wajah Joanna. Ternyata dia melamun. Apa beban pikirannya sangat berat?
"Kau kenapa Jo?" timpal Alan yang datang dengan sepiring nasi uduk. Dia juga baru menyadari kalau Joanna memang murung. "Ada masalah sama keluarga?" sambung Alan lagi.
Joanna melihat kedua temannya dengan tatapan menyedihkan. Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan kedua sahabatnya di kantin. Keduanya menatap dengan wajah tidak percaya tapi tidak berniat mengejar. Mungkin memang Joanna ingin sendiri. Ada apa dengan Joanna?
Kiara masih diam memandangi kesibukan di kantin yang lumayan ramai. Pikirannya masih mencari alasan apa di balik kediaman Joanna. Alan sendiri menikmati makannya sesekali melihat Kiara.
"Happy birthday to you."
Terdengar suara yang sudah sangat dikenal Kiara itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dengan tempo yang dibuat lambat seakan mendramatisir keadaan. Dengan cepat Kiara memutar wajahnya dan Joanna ada di sana memegangi sebuah kue tart ukuran sedang dengan lilin angka dua puluh menyala di atasnya. Joanna berjalan mendekati Kiara dan Alan.
"Happy birthday to you."
Joanna yang tadinya sendiri, kini sudah diikuti oleh beberapa teman sekelas mereka. Menyanyikan lagu itu bersama sama. Melanjutkan langkah dan berdiri di hadapan Kiara
"Happy birthday, happy birthday."
"Happy birthday, Kia."
Dengan tepuk tangan yang ramai, hampir semua seisi kantin itu ikut merayakan momen indah ini. Alan menarik tangan Kiara untuk berdiri, karena pesta ini ada untuknya. Ya, hari ini hari ulang tahunnya yang ia sendiri bahkan lupa. Dan pesta ini adalah ide kedua sahabatnya.
Dengan Joanna yang berpura-pura diam, dia mengambil kesempatan itu untuk mengambil kue dan menyalakan lilinnya. Sementara Alan duduk tenang menemani Kiara, memastikan gadis itu tidak pergi kemana-mana.
Sekali lagi menyanyikannya untuk Kiara dengan tempo cepat.
"Happy birthday to you."
"Happy birthday to you."
"Happy birthday, happy birthday."
"Happy birthday to you."
Momen ini tak ayal membuat Kiara menitikkan air mata, terharu. Teman-temannya masih sangat peduli dengannya.
"Make a wish dulu," perintah Joanna.
Kiara menyatukan kedua tangannya di depan dagu dan menutup kedua matanya. Mengucap doa di dalam hati. Dalam sekali hembusan, lilin-lilin itu mati dan disertai tepukan riuh. Kiara menarik nafas lega. Merasa sesuatu di dalam dirinya terlepas bebas.
Hm, Kiara sudah dua puluh tahun sekarang, sudah cukup dewasa. Sejak beberapa tahun yang lalu sudah dewasa sih. Disaat dia harus menjadi b***k di rumahnya sendiri dan harus memenuhi kebutuhannya sendiri.
Pesta menghabiskan kue tart harus berakhir karena kelas berikutnya akan dimulai. Satu per satu meninggalkan tempat itu, hingga ketiga sahabat yang salah satunya adalah ratu pesta itu juga meninggalkan kantin.
Jam dua belas, mereka sudah menyelesaikan kuliah untuk hari ini. Kiara dan Alan masih menunggu angkot Kiara ke cafe. Sedangkan Joanna sudah lebih dulu pulang. Tadi dia dijemput oleh ayahnya.
"Kia..."
Kiara menoleh. Ada sesuatu yang aneh dengan Alan. "Sorry, aku nggak bisa jaga persahabatan kita."
Kiara mengerutkan keningnya. "Maksudnya nggak jaga persahabatan?" tanyanya. Kiara tidak ingin menebak apapun itu.
"Aku sayang sama kamu, Kia. Bukan, bukan sayang sebagai sahabat. Hm, aku cinta sama kamu, Kia."
"Jangan bercanda, Lan. Nggak lucu. Kita ini sahabat."
"Tapi aku nggak bisa bohongin hati aku, Kia. Aku cinta sama kamu, dan aku ingin kita lebih dari sekedar sahabat. Kalaupun kamu nggak cinta sama aku, aku nggak masalah. Aku akan buat kamu jadi cinta sama aku."
Kiara menatap tak percaya pada Alan. Bukan ini yang dia harapkan dari kebersamaan mereka selama dua tahun ini. Kiara hanya ingin mereka tetap menjadi sahabat sampai kapanpun. Tidak ada kata cinta ataupun melibatkan hati dan perasaan di dalamnya. Apalagi sampai ada yang namanya hubungan kekasih. Karena selama ini Kiara juga demikian. Tidak ada perasaan ingin tertarik pada sahabatnya itu. Persahabatan itu lebih penting dibandingkan mereka memiliki hubungan spesial yang bisa saling menyakiti. Lalu, inikah maksud dari perhatian Alan selama ini padanya. Perhatian yang memang ingin merebut hati Kiara. Tidak bisa! Mereka adalah sahabat, dan selamanya akan jadi seperti itu! Tidak ada yang akan mengubahnya.
Kiara mengambil langkah menjauhi Alan. Tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Mungkin saja Alan lagi stres atau ada beban pikiran hingga membuatnya seperti itu. Kiara sedang tidak ingin ada di dekatnya saat ini. Ah, itu dia angkot yang ditunggu Kiara. Dia berlari cepat dan langsung masuk. Kebingungan melanda hatinya saat ini. Baru saja senang mendapat surprise ulang tahun, sudah disuguhi hal seperti ini. Mungkin dengan melibatkan diri di cafe akan mengurangi bebannya.
"Kau kenapa? Wajahmu sangat jelek kalau ditekuk seperti itu." Sapaan itu yang pertama dia dengar setibanya di cafe. Astaga, dia lupa merubah ekspresi wajahnya bahkan saat sudah tiba di cafe.
Evans yang menyapanya langsung mengangkat kedua tangannya. Menyentuh kedua pipi Kiara dan mendorongnya ke atas hingga ujung bibirnya terangkat. "Nah, kalau senyum gini kan manis," tambah Evans.
Kiara menepis dua tangan kokoh itu. "Apaan sih, kak? Memangnya siapa yang murung? Nggak kok. Nih, aku senyum nih." Kiara lantas memamerkan senyumnya. Evans jadi tertawa sendiri melihat tingkah konyol gadis itu.
Kondisi cafe yang sangat ramai karena jam makan siang, membuat Kiara segera mengganti pakaiannya menjadi seragam biru-hitamnya. Seragam cafe. Sang bos tidak bisa menahannya, hanya memandangi Kiara yang menjauh. Dengan cafe yang seramai ini, kadang Evans juga ikut melayani pelanggannya. Tidak ada masalah dengan itu. Dia bahkan sudah sangat biasa. Semua pelayan di cafe ini, dia yang mengajari bagaimana bersikap di cafenya. Termasuk melayan.
Hanya dalam hitungan menit, Kiara sudah datang kembali dengan seragam dan rambut yang sudah dirapikan. Kerapian salah satu prinsip utama mereka. Ikut bergabung dengan pelayan lain, mengantarkan pesanan.
Dua jam keramaian itu cukup membuat kaki dan pinggang pegal. Tidak hanya Kiara saja, tetapi semua yang terlibat. Beberapa di antara mereka terlihat saling memijat punggung hingga membuat deretan pijatan. Sungguh membuat hati kembali senang melihatnya. Jadi lupa akan lelah dan pegal.
Hanya ada beberapa orang yang masih duduk di cafe dan menikmati late lunch mereka. Para pelayan cafe bergantian melayani, termasuk Kiara.
Deg!
Jantung Kiara berdegup kencang melihat siapa yang ada di meja memintanya untuk mendekat. Kenapa Alan ada di sini? Apa Alan tadi mengikutinya? Kiara sudah tidak bisa mengelak lagi. Bersikap profesional saja.
"Selamat siang, selamat datang di Evans Cafe. Dengan saya Kiara Sanjaya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kiara ramah sama seperti saat menyapa tamu lainnya. Alan hanya diam memandangi Kiara. Sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Kiara. Seformal itu Kiara padanya?
"Bapak ingin pesan apa?" ulang Kiara lagi tetap dengan sikap ramah sebagai pelayan. Alan terkesiap dan menyebutkan satu makanan disertai minumannya.
Kiara mengulang pesanan Alan untuk memastikan kembali. "Baik, silahkan ditunggu lima menit," katanya dan berlalu membawa catatannya.
Alan memandangi sahabat yang dicintainya kini sedang ada di balutan seragam pelayan. Niatnya ke tempat ini tadi memang untuk melihat Kiara. Namun karena sangat ramai di jam makan siang, dia memilih untuk menunggu sepi. Dan penantiannya terbalas saat Kiara-lah yang mendatanginya.
Usai mengantarkan pesanan Alan, Kiara langsung berbalik dan bersembunyi di dapur. Ia masih tidak ingin melihat Alan. Tapi bukankah seharusnya dia memaafkan Alan? Entahlah. Tapi untuk saat ini, belum.
"Kau kenapa bersembunyi di situ?" Aish, Kiara ketahuan bosnya.
Kiara menundukkan kepalanya. "Maaf, kak," balasnya dan melangkah keluar dapur tapi tangannya dicekal Evans.
Evans mendekatkan wajahnya pada Kiara, melihat ke dalam mata hitam Kiara. "Kau ada hubungan apa dengannya?" tanya Evans.
Kiara menatap tidak percaya pada bos yang dianggap kakak itu. Apakah pria ini tadi melihat sikapnya dan dapat mengetahuinya? Kiara memberengutkan wajahnya. "Dia, dia sahabatku, kak." Sahabat yang telah menyatakan cinta, lanjutnya dalam hati.
"Sahabat yang telah menyatakan cinta?" Aduh, Evans bisa membaca pikiran?
Kiara meringis. Tapi kenapa juga Evans harus mempermasalahkan hal itu? Bukankah semua orang berhak menyatakan dan menerima pernyataan cinta? "Tapi aku tetap setia dengan persahabatanku, kak. Aku tidak mau sahabatku menjadi pacar," sanggahnya kemudian.
"Kakak juga tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Kamu yang mengaturnya sendiri. Tetapi berpikirlah bijak, Kia." Evans meninggalkannya.
Kiara mengerti maksudnya. Mungkin dari sikapnya tadi terlalu menunjukkan kalau dia ada masalah dengan Alan. Kiara akan mencoba lebih baik lagi. Mungkin dengan menganggap pernyataan cinta Alan tadi sebagai angin lalu.
"Test... test..." Evans ada di panggung kecil di satu sisi cafe. Tempat dimana biasanya penyanyi-penyanyi mereka melantunkan lagu mengiringi aktivitas di dalam cafe.
Semua perhatian karyawannya beralih pada Evans. Tidak ada seorangpun tamu disana, karena Evans tadi sengaja membalikkan sesuatu di balik pintu cafenya dan tak ada yang menyadari. Hingga mereka bingung sendiri kemana para tamu perginya, tidak yang datang.
"Hari ini, seorang teman kita sedang berulang tahun bukan?" Semua mata saling melirik, mencoba mengingat siapa di antara mereka yang sedang berulang tahun. Kiara yang merasa dirinyalah itu, menundukkan kepalanya. Wajahnya memanas seketika. Bagaimana bisa pria itu mengingat dengan benar hari ulang tahunnya. "Ya, Hari ini Kiara berulang tahun, yang ke... berapa, Kia?"
Kiara mengangkat wajahnya. Memberi isyarat dengan tangannya.
"Ya, yang keduapuluh ternyata. Selamat, anda sudah menjadi tua," kata Evans yang diiringi kekehan. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga beberapa teman lainnya. "Jadi, untuk merayakannya, kita akan makan bersama sepuasnya di sini, tanpa ada tamu, tanpa ada gangguan lainnya." Beberapa pasang mata langsung menyadari maksud Evans dan menoleh ke pintu masuk. Mereka tertawa pelan dan menggelengkan kepala. "Ah, pintunya sudah aku tutup sejak tadi," lanjut Evans dengan santai.
Semua orang akhirnya menyadari mengapa mereka tidak kedatangan tamu sejak tadi. Pelayan, kasir, pengiring live music, hingga juru masak dan juga petugas keamanan.
"Tapi sebelumnya, ada baiknya kalau kita mengucapkan selamat ulang tahun untuk teman kita." Dalam pimpinan Evans, mereka menyakikan lagu selamat ulang tahun untuk Kiara. Setelahnya menyalaminya dan mengucapkan selamat secara pribadi. Kiara tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat semua orang di sini masih menyayanginya.
Semua orang kini mengambil posisi duduk masing-masing. Mereka ada sekitar dua puluhan orang dalam ruangan itu. Semua berbaur. Sangat jarang mereka melakukan hal seperti ini. Ya, terakhir kali saat ulang tahun salah satu karyawan juga sekitar dua bulan yang lalu. Ini sangat menyenangkan, terlebih mempunyai bos besar sebaik Evans. Dimana lagi bisa menemukan bos seperti dia.
Suasana sangat mencair di sini. Tidak ada karyawan, tidak ada bos. Semuanya sama, apalagi dengan sikap Evans yang sangat santai pada karyawannya. Menikmati berbagai makanan yang disediakan para juru masak, bahkan mereka memesan beberapa makanan dari luar. Tepatnya Evans yang memesannya.
Cafe ditutup tepat jam sebelas malam saat acara makan malam bersama mereka selesai. Semua orang sudah berpulangan, kecuali Kiara dan Evans. Mereka kan tinggal di sini.
Kiara menarik nafas lega setelah semuanya pergi. Mematikan lampu cafe sebelum akhirnya menaiki tangga. Evans juga sudah naik sejak tadi.
Langkah Kiara terhenti saat bosnya itu menghadangnya sebelum masuk ke kamar. Ia menengadah menatap Evans yang lebih tinggi darinya. Dia hanya sebatas dagu Evans. "Ada apa, kak?" cicitnya sedikit takut.
Pria itu melingkarkan kedua tangannya ke punggung Kiara. Dia memeluk Kiara erat dan menyandarkan kepalanya di atas kepala Kiara. "Ugh, kakak kenapa?" tanya Kiara merasa sesak. Sikap pria ini sedang aneh.
Evans melepas pelukannya pada Kiara dan menunduk, menatap mata hitam itu. "Happy birthday, Kiara. Kakak punya hadiah untukmu, tapi jangan marah."
Kenapa harus marah dikasih hadiah? Bukannya berterima kasih? batin Kiara. Ia menganggukkan kepalanya. Menunggu hadiah apa yang akan dia terima dari bosnya ini setelah pesta makan malam yang sepenuhnya adalah tanggung jawab Evans tadi.
Kedua tangan besar Evans menangkup wajah mungil Kiara. Membuatnya begitu terlihat jelas di depannya. Matanya meneliti setiap centi wajah Kiara. Cantik, ucapnya dalam hati. Tanpa menunggu lagi, dia memberikan hadiah yang dia maksud pada Kiara. Ya, ciuman di bibirnya. Meski hanya pagutan singkat, tapi sepertinya penuh arti.
Kiara menegang saat merasakan bibirnya bertabrakan dengan sesuatu yang lembut dan basah. Matanya membulat. Ia masih melihat wajah Evans yang sangat dekat dengannya, menyadari kalau Evans menciumnya.
Kiara mengerjapkan matanya beberapa kali saat ciuman itu terlepas. Perasaannya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Antara bingung, kaget, penasaran, atau apalah. Evans masih memasang wajah datar.
"I love you, Kiara. Please be mine." Kalimat itu keluar dari bibir Evans beberapa detik kemudian. Benarkah dia telah terjatuh dalam pesona Kiara yang bahkan Kiara sendiri tidak pernah menyadarinya?
Kiara mencoba menggunakan logikanya. Rasanya tidak mungkin Evans mencintainya. Bosnya itu hanya merasa kasihan padanya, dan memang pria itu juga baik pada semua orang. Bukan hanya pada dirinya. Dan Kiara tidak mau menjadi merasa spesial karena Evans sangat banyak membantunya, terlebih mengijinkannya tinggal di cafe ini beberapa hari ini. Ah, dia lupa mencari kosan baru. Apa tinggal di sini terlalu melenakan?
Kiara menarik dirinya dari hadapan Evans. Melangkah mundur satu kali memberi jarak di antara mereka. "Jangan terlalu mudah mengambil kesimpulan, kak. Yang kakak rasakan itu bukan cinta. Kakak hanya kasihan denganku. Bukannya kakak yang bilang untuk berpikir bijak?" tolak Kiara.
Evans kembali meraih kedua tangan Kiara. "Kia, dengerin kakak. Kakak ngelakuin ini semua bukan karena kakak kasihan sama kamu. Kakak sudah suka sama kamu sejak lama. Kakak hanya ingin menunggu waktu yang tepat saja."
Kiara melepas tangannya. "Maaf, kak. Tapi aku nggak bisa."
Kiara melangkahkan kakinya lagi tapi mendapat cekalan -lagi. "Kia, please percaya sama kakak. Kakak serius," jelas Evans.
"Maaf kak." Hanya itu yang Kiara ucapkan sebelum akhirnya benar-benar lepas dari cekalan Evans. Dia melangkah ke kamarnya. menelungkupkan badannya di atas kasur empuk secara sembarang. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Haruskah dia pergi dari cafe ini atau sekalian pindah tempat kerja? Tapi kemana? Belum tentu ada yang mau menerimanya seperti yang Evans lakukan. Dan belum tentu juga semua akan berubah jadi baik lagi jika dia pergi. Malah itu namanya menghindar dari masalah. Itu tidak benar.
Tanpa disadarinya, air mata terjatuh dari pelupuk matanya. Hari ini sungguh ada banyak sekali kejutan baginya. Seberat itukah yang akan dia alami nanti? Mengapa jadi rumit begini?
Kiara menarik nafasnya panjang. Mengusap wajahnya dengan kasar. Membenarkan letak tubuhnya dengan benar. Masih banyak hal yang harus dia hadapi di depan nanti. Tidak boleh menyerah sekarang.
Kiara terbangun dari tidurnya saat jarum jam hampir menunjukkan angka tujuh. Astaga, dia tertidur lagi. Dia segera bangkit dan tujuan utamanya setelah kamar mandi adalah dapur. Membuatkan sarapan untuk dirinya dan Evans. Kebetulan dia ke kampus jam sepuluh nanti, dia bisa membantu di cafe dulu sebelum berangkat.
Kiara sudah siap dengan sarapannya, tapi Evans belum juga keluar. Mungkin dia kelelahan, batin Kiara. Tidak ada niat untuk membangunkannya sama sekali. Lebih baik dia sarapan sendiri dan segera bersiap membantu membuka cafe. Sebentar lagi akan ada banyak pengunjung.
Hampir jam sepuluh, Kiara bahkan sudah siap dengan setelan kuliahnya, tapi Evans belum juga memunculkan dirinya. Kiara memutuskan untuk mengeceknya ke kamar.
Kiara mematung mendapati kamar Evans kosong. Kemana pria itu? Tidak mungkin kalau dia pergi semalam. Tapi sejak pagi tadi juga tidak terlihat. Eh, apa dia benar-benar pergi? Tapi kemana? Kau lupa, Kiara, dia kan punya rumah, batin Kiara kesal.
Kiara merasa berbuat salah telah menolak pria itu. Bukannya dia tidak menyukai Evans, tapi rasanya tidak mungkin kalau pria itu juga menyukainya. Ini bukan dongeng atau drama dimana seorang bos akan jatuh cinta pada bawahannya. Pria itu hanya merasa kasihan padanya.
Lalu apa yang harus Kiara lakukan sekarang? Mencari Evans? Kemana? Menghubunginya? Ponsel Kiara bahkan sudah tidak bernyawa lagi sejak kepergiannya dari rumah.
Ah, Kiara benar-benar bingung sekarang.
Belum lagi nanti di kampus akan bertemu dengan Alan. Pasti akan sangat canggung. Dan Joanna pasti akan bertanya jika saja melihat kecangggungan mereka. Tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Persahabatan mereka akan lebih hancur lagi jika Joanna tau hal itu, dia pasti akan sangat marah pada Alan. Aargh...