Sudah beberapa hari ini keadaan Kiara sangat buruk. Alan memilih pindah kampus karena tidak ingin terus-terusan melihat Kiara dan membuat keadaan semakin buruk dengan terus memaksa Kiara untuk menjadi miliknya. Ia memilih menyerah saja akan Kiara. Joanna sudah tau semuanya, hanya bisa menarik nafas.
Sedangkan Evans, belum ada kabar sama sekali. Ini sudah hampir seminggu! Seorangpun di cafe tidak ada yang mengetahuinya ada dimana. Ia hanya pernah sekali mengirimkan pesan pada kepala juru masak yang memang sangat dia percaya. Mengatakan kalau dia tidak bisa ke cafe beberapa hari karena ada urusan dan meminta kabar cafe setiap harinya. Dia tidak mengatakan dia ada dimana sekarang.
Kiara benar-benar kacau. Semua ini sepertinya karena dirinya. Kalau saja dirinya tidak pernah ada di kehidupan ini, semua ini tidak akan terjadi. Suasana di cafe baginya bukan kesenangan lagi, tapi kesedihan luar biasa. Bertindak seolah semua baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak pernah bisa.
Atas saran dari Joanna, Kiara akhirnya meliburkan dirinya dari cafe akhir pekan ini dan ingin pergi bersantai entah kemana. Sendirian. Pilihannya jatuh pada pantai. Ia ingin teriak sekencang mungkin ke lautan bebas, agar semua masalah yang ada pada dirinya dibawa pergi oleh angin laut.
Dengan menaiki bus, dia pergi ke tempat yang sudah direncanakannya. Membawa bekal dari cafe dan beberapa barang yang mungkin dia butuhkan, dimasukkan dalam satu ransel yang kini di pangkuannya. Hal ini untuk mengurangi pengeluaran. Dia tetap harus berhemat. Tidak lama lagi dia akan mulai semester baru dan akan ada pembayaran lagi.
Melangkahkan kaki menyusuri jalanan menuju pantai. Memakai rayban hitamnya dan headset yang terhubung dengan mp3 player terpasang di kedua telinganya. Pantai hari ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasangan yang melintas. Padahal ini weekend. Mungkin penghuni kota ini lebih memilih puncak atau mall dibanding tempat dimana Kiara berada kini.
Kiara memilih berhenti di bawah salah satu pohon. Membaringkan tubuhnya di kursi pantai dengan ranselnya di sebelahnya. Ah, sedikit menenangkan ditambah angin pantai yang semilir. Ia mengambil salah satu novel yang dibawanya, membacanya.
Tidak masuk akal. Novel yang dibacanya tidak masuk dalam pikirannya sama sekali. Eh, bukan. Pikirannya yang tidak berada pada tempatnya sekarang. Walau matanya bergerak menelusuri deretan huruf di buku tebal itu, tapi ia tidak benar-benar mengetahui apa yang dia baca.
Kiara meletakkan novelnya di d**a, dan pikirannya melayang jauh. Dimana Evans sekarang, apa yang dia lakukan, apakah dia baik-baik saja, dan masih banyak lagi, pertanyaan seputar Evans yang dia pikirkan. Separah inikah pengaruh Evans padanya? Lalu, dia harus apa sekarang? Nyatanya liburan juga tidak membantunya sama sekali untuk memperbaiki keadaannya. Pikirannya tetap dipenuhi oleh Evans dan rasa bersalahnya.
"Kakak dimana?" racaunya tanpa sadar.
Makanan yang ada di hadapannya sungguh menggoda, tapi dia tidak ada selera sama sekali. Dipandanginya makanan itu, perutnya sudah berteriak minta diisi. Dia menarik nafas lagi. Mengambil satu iris bakso yang sengaja dia masukkan dalam capcai dan mengunyahnya. Tidak ada rasa sama sekali di lidahnya. Ini makanannya yang salah atau lidahnya?
Ditutupnya kembali bekal makannya. Ini tidak benar. Percuma dia ada di sini kalau pikirannya kemana-mana. Sebaiknya dia pulang saja. Lagipula ini sudah hampir jam tiga. Membantu di cafe akan lebih baik.
Membereskan semua barangnya, dia menggendong kembali ranselnya. Masih sama berat dengan sebelumnya. Ya, isinya tidak berkurang sama sekali.
Kakinya melangkah perlahan, menuju halte bis yang bisa membawanya pulang. Ia benar-benar merasa seperti anak hilang sekarang. Datang sendiri, pulang sendiri, tidak ada perubahan sama sekali.
"Kia, Kia! Kia, tunggu!" seseorang berteriak memanggilnya dan terdengar samar olehnya. "Kiara, tunggu!" Terdengar sekali lagi lebih jelas. Kiara yakin itu memanggil namanya.
Kiara menoleh pada sumber suara, penglihatannya tidak jelas. Apa karena terik matahari hari ini, entahlah. Sosok itu semakin dekat, dan penglihatan Kiara semakin buram. Ia tidak bisa mengenali siapa yang mendekatinya tadi.
Bruk!
Tubuh Kiara terjatuh ke tanah tanpa ada yang menahannya. Pria yang memanggilnya tadi masih terlalu jauh dan terlambat. Tubuh Kiara sudah tergolek lemah di tanah.
"Kia, Kiara bangun! Kia, kamu kenapa? Kiara, bangun!" Evans meraih kepala Kiara dan menepuk-nepuk pipinya. Tidak ada reaksi sama sekali. Wajah cantik itu juga semakin memucat.
Evans mengangkat tubuh itu dan membawanya memasuki salah satu bangunan yang terdekat. Rumah milik penduduk pantai. Kiara dibaringkan di salah satu sofa panjang. Melonggarkan semua pakaian Kiara untuk membantunya cepat bangun serta mendekatkan aromaterapi di hidungnya.
Evans berlutut di sebelahnya sambil mengelus-elus wajah Kiara, mencoba membangunkannya. Haruskah dia membawanya ke rumah sakit? Atau menelepon dokter saja? Sepertinya itu ide yang baik.
Dengan cepat Evans merogoh sakunya. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dia kenal.
"Giselle, cepatlah kemari. Jangan membuat banyak alasan lagi. Dia sedang sekarat dan butuh bantuanmu sekarang!"
"Kau jangan melebih-lebihkan, Van. Kalau pingsan saja, sebentar lagi juga akan bangun. Berikan aromaterapi di-"
"Ini sudah hampir satu jam, Giselle. Aku sudah memberikan aromaterapi sejak tadi, tapi tidak ada reaksinya sama sekali. Kau cepatlah kemari. Kutunggu!"
Evans kembali berlutut, tidak bosan-bosannya mengelus atau menepuk pipi Kiara. Gadis ini susah sekali bangunnya, batinnya.
Sepuluh menit menunggu, Giselle akhirnya tiba di rumah yang dimaksudkan oleh Evans. Dan Kiara masih juga belum bangun, membuat Evans semakin panik saja. Dengan tangan lincahnya, Giselle memeriksa keadaan Kiara. Dia adalah seorang dokter kenalan Evans. Mereka berteman cukup baik dan sudah cukup lama. Mungkin lebih dari sepuluh tahun lamanya. Saat itu mereka masih ada di bangku kuliah, tapi pada akhrinya Evans meninggalkan kuliahnya di tahun ketiganya. Hingga sekarang hubungan keduanya masih sangat baik. Pertemanan yang murni teman, tanpa ada tanda kutipnya walau sempat hampir terputus.
"Dia terlalu stres, banyak beban pikiran membuatnya lemah, dan sepertinya tidak pernah makan ya?" tanya Giselle yang dijawab dengan bahu yang terangkat. Pertanda Evans tidak tau. Tapi kemudian kembali memikirkan Kiara. Apa yang dia pikirkan hingga membuatnya tidak nafsu makan?
"Kau ini bagaimana sih? Kau benar-benar cinta tidak sama dia? Kenapa malah tidak tau sama sekali? Bukannya dia setiap hari denganmu?" sembur Giselle emosi pada temannya yang satu ini. Dia tau sejak dulu kalau Evans sosok yang sangat peduli. Tapi dimana kepedulian itu sekarang? Sama gadis yang dicintainya saja seperti ini?
"Ah, aku..."
"Kak... kak! Kak, maaf..." Kiara meracau dan membuka matanya. Diamatinya keadaan sekeliling setelah matanya benar-benar terbuka. Dia menemukan sosok Evans bersama dua wanita lain.
Evans langsung mendekat pada Kiara. Dielusnya rambut gadis itu dengan lembut dan mencium keningnya, membuat Kiara merasa kalau ini benar-benar Evans, bukan mimpi. "Kamu..." Evans bingung harus mengatakan apa. Semua kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Diraihnya lagi gadis itu dalam pelukannya dan menciumi pucuk kepalanya.
Dua wanita tadi memilih duduk di sofa lain dan diam saja. Tak ada ingin mereka katakan walau sebenarnya Giselle ingin sekali menyembur Evans. Keterlaluan sekali dia tidak memperhatikan gadis cantik itu.
"Kak..."
Evans melepas pelukannya yang cukup lama. Ditatapnya wajah Kiara yang tetap memucat. Tangannya mengelus wajah putih mulus Kiara. Memaksakan senyumnya untuk meyakinkan Kiara kalau dia baik-baik saja.
"Aku lapar." Kalimat bodoh tapi sangat berpengaruh itu keluar begitu saja dari mulut Kiara. Yang dia rasakan saat ini paling dominan memang lapar. Sejak dua hari kemarin dia belum memasukkan apa-apa ke dalam perutnya dan tadi dia hanya menelan sepotong kecil bakso. Beban pikirannya membuatnya tak sedikitpun ada keinginan untuk makan. Hm, rasanya dia tidak berhak untuk makan, bahkan untuk sekedar melanjutkan hidup lagi.
Tanpa memikirkan apa-apa, Evans memerintahkan dua wanita yang sejak tadi menonton mereka untuk mengambilkan makanan untuk Kiara. Sedangkan dia tetap menjaga Kiara dan membantunya untuk duduk di sofa. Kiara bahkan tidak punya tenaga lagi untuk sekedar duduk. Ditopangnya tubuh Kiara dengan tangan kirinya. Kiara hanya bisa menunjukkan senyum tipis.
Dalam beberapa menit, dua wanita yang tadi diperintahkan Evans untuk mencari makanan sudah kembali. Nasi dengan lauk olahan hasil laut. Menyiapkannya di meja sesuai perintah Evans, lantas meninggalkan keduanya.
"Makanlah." Evans menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Kiara. Evans memang lelaki idaman. Saat dia sudah ditolakpun dia masih mau berbuat sebaik ini pada Kiara.
Kiara mampu menghabiskan satu piring nasi dengan lauk-lauknya. Mengeluarkan sendawanya tanpa sedikitpun merasa malu. Evans bahkan tertawa melihatnya.
"Kenapa kakak ada di sini?" tanya Kiara kemudian saat sudah mendapatkan tenaganya kembali.
"Kakak dapat kabar di cafe kalau kamu tidak masuk kerja hari ini karena ingin jalan-jalan. Kakak tau kamu bukan orang yang seperti itu. Saat mereka ngasih tau kalau kamu kesini, maka kakak kesini," jelas Evans tanpa ada rasa canggung. "Dan kenapa kamu tidak bisa dihubungi sama sekali?" lanjut Evans.
Kiara teringat ponselnya, lalu menghela nafas. "Ponselnya rusak kak kena air. Kayaknya gara-gara emang udah butut juga sih." Kiara menyengir. "Kakak kemana selama seminggu ini?" Mereka seakan bergilir untuk mengajukan pertanyaannya masing-masing.
Evans menarik hidung Kiara. "Kamu khawatir sama kakak?"
"Siapa yang tidak khawatir kalau bos, hm, kakaknya menghilang tiba-tiba. Kabur dari rumah tengah malam?"
Evans mengernyit bingung. "Tengah malam?"
"Bukannya kakak pergi malam itu? Aku pikir pergi karena marah samaku."
Evans tertawa. "Kakak berangkat saat subuh. Kakak harus ke Bandung. Ada urusan bisnis dan baru balik tadi pagi."
Kiara menarik nafas lega. Ternyata bosnya itu tidak marah padanya. Atau dia yang mungkin terlalu bawa perasaan.
"Dan jelaskan sama kakak kenapa kamu pergi ke tempat ini sendirian, dan apa itu tidak makan sama sekali dua hari ini? Kamu ingin menyiksa diri kamu sendiri? Bagaimana kalau kakak tidak menemukanmu tadi? Mungkin saja ada yang berniat tidak baik denganmu. Atau bagaimana kalau tidak ada yang membantumu tadi?" cecar Evans tanpa jeda. Dia memang baik hati, tapi dia juga tau kalau tidak semua orang sepertinya. Bukan menuduh, tapi memang seperti itu kenyataan yang dia lihat selama hampir dua puluh sembilan tahun hidupnya.
Kiara menundukkan kepalanya, bingung mau menjelaskan. "Hanya ingin menghibur diri kak, dan nafsu makanku hilang," jawabnya pada akhirnya. Terserah deh apa tanggapan bosnya itu nanti.
Evans menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Ayo pulang!" Evans berdiri dan menarik tangan Kiara. Kiara menyambar ranselnya yang terletak di lantai dengan cepat. Mengikuti langkah besar Evans keluar dari rumah itu. Mereka menemukan dua sosok wanita tadi ada di sana sedang berbincang.
"Terima kasih, bu, atas tumpangannya. Kami akan pulang sekarang. Dan, thanks Giselle," kata Evans. Kembali menyeret Kiara.
"Mereka siapa, kak?" tanya Kiara saat langkahnya masih terseok-seok mengikuti Evans.
"Teman," balas Evans singkat tanpa menoleh. Ada apa dengan pria ini? Kenapa tiba-tiba berubah dingin begini? Rasanya Kiara tidak melakukan kesalahan apa-apa lagi setelah bangun tadi.
Mereka tiba di cafe saat hari sudah hampir gelap. Tidak ada yang heran jika Evans datang bersama salah satu karyawannya. Sudah menjadi hal yang biasa. Evans bersikap layaknya seorang saudara yang sangat menyayangi semua karyawannya.
"Sebaiknya kau istirahat saja. Tidak perlu membantu di cafe. Besok kau masih kuliah bukan?" perintah Evans.
Kiara hanya mengangguk walau sebenarnya dalam hati masih ingin ikut bekerja. Berdebat sekarang bukan pilihan yang tepat.
"Gimana liburanmu kemarin?" tanya Joanna.
Kiara menarik nafas panjang saat mengingat bagaimana akhir dari liburannya itu. Sangat memalukan untuk diceritakan pada orang lain. "Biasa aja, Jo," balasnya. Berakhir dengan pingsan karena kelaparan walau akhirnya bertemu dengan kak Evans, batinnya.
Joanna ikut-ikutan menarik nafas panjang. Sarannya tidak terlalu berhasil menenangkan sahabatnya. Diraihnya Kiara dalam pelukannya membuat Kiara bingung sendiri. Apa wajahnya sangat menyedihkan?
"Semangat Kia!" seru Joanna.
"Sekarang udah lebih baik kok, Jo. Kak Evans udah balik. Ternyata dia ada urusan di bandung, katanya dih bisnis," jelas Kiara.
Joanna menggetok kepala Kiara pelan. "Kau kenapa gak bilang dari tadi? Nyesel kan aku udah kasihan sama kau!" kata Joanna.
Kiara yang awalnya cemberut karena getokan Joanna di kepalanya menjadi tertawa. Tidak menyangka akan reaksi sahabatnya satu itu.
"Kau ada dapat kabar dari Alan?" tanya Joanna. Kiara menggeleng. Sahabat laki-lakinya itu benar-benar pergi. Tak ada kabar setelah kepergiannya.
"Nggak ada Jo. Lagipula kan hp ku rusak, mau dapat kabar dari mana? Emang gak ada kabar juga dari dia setelah ngasih tau pindah?"
"Nggak ada, Kia. Semoga dia baik-baik aja, dimana aja deh yang dia suka. Nanti juga kalau kangen pasti ngabarin." Yah, semoga saja seperti itu. Haruskah Kiara merasa bersalah dengan semua ini? Atau bagaimana dia harus bersikap sekarang?
"Kau sendiri kenapa cemberut gitu, Jo? Ada masalah? Gue bukan ulang tahun sekarang, jadi nggak usah ada drama-drama lagi."
Joanna menundukkan kepala. Ya, walaupun sejak tadi dia berusaha menghibur Kiara, terlihat semangat di depan Kiara, tidak bisa diabaikannya sesuatu yang membebani pikirannya. "Kemarin papa bawa teman ke rumah. Yang lebih mengejutkan adalah, katanya mereka akan menikah, padahal mereka baru pertama kali bertemu hari Jumat kemarin. Saat membawa ke rumah, itu pertemuan ketiga mereka, dan papa memutuskan menikahi wanita itu. Entahlah, mungkin papa juga bosan dengan kehidupannya selama ini."
Kiara jadi teringat dengan kisah hidupnya dua tahun yang lalu saat ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Yang dirasakan Joanna sekarang ini pasti sama seperti apa yang dirasakan Kiara saat itu. Tidak ingin posisi ibunya digantikan, namun tidak ingin ayahnya bersedih.
Kiara mengulurkan tangannya ke pundak Joanna. "Terus kau jawab apa?"
"Kau juga tau aku sejak dulu, Kia. Aku nggak pernah setuju kalau papa menikah lagi. Entah apa yang udah dilakuin wanita itu sama papa. Padahal menurutku dia biasa aja. Hm, menor malah. Tapi kedua kakakku malah mendukung mereka menikah. Kata kak Vera, ayah harus mendapatkan kebahagiaannya di ujung usianya. Jadi mereka setuju aja."
Pikiran Kiara melayang pada wanita yang ditinggalkannya dua minggu yang lalu. Wanita itu memiliki penampilan yang sama seperti yang dikatakan Joanna. Kiara menggelengkan kepala menepis pikiran buruknya. Tidak mungkin wanita itu adalah wanita yang pernah menikahi ayahnya.
Ayah Joanna memang seorang konglomerat. Ibunya yang adalah keturunan orang berada, meninggal tiga tahun yang lalu dan meninggalkan warisan yang didapatkan dari orang tuanya pada suami dan anak-anaknya. Hartanya tak terhitung jumlahnya, tapi Joanna tidak ingin terlihat memamerkan kekayaan orang tuanya. Dia lebih memilih tampilan sederhana saja. Naik angkot ke kampus walau tersedia deretan mobil yang bisa dipilih dan dibawanya kemana-mana. Memotong uang jajannya layaknya anak yang biasa saja. Alasannya, kakaknya pernah dijadikan atm berjalan oleh pacarnya. Jadi dia tidak ingin hal yang sama terjadi padanya. Hingga akhirnya, sampai di usia ini belum pernah berpacaran sekalipun.
"Aku bukannya mau nakut-nakutin, Jo. Tapi sebaiknya kau bujuk papamu biar nggak jadi. Kau tau sendiri pengalamanku gimana. Dan aku jujur aja deh sekarang."
Joanna menatap Kiara, hal apa yang disembunyikan sahabatnya itu darinya.
"Aku pergi dari rumah, bukan kabur tapi diusir." Mulai Kiara. Mengalirlah cerita bagaimana dia bisa pergi dari rumah hingga dimana dia tinggal sekarang. Memberitaukan hal yang sebenarnya tanpa menambah ataupun mengurangi dari cerita yang sebenarnya.
"Dan kau sekarang tinggal berdua dengan kak Evans, bosmu itu." Joanna memasang wajah menggoda.
"Tapi kan aku nggak terlibat apa-apa sama dia. Kau juga udah aku kasih tau kalau aku nggak nerima dia. Sampai-sampai dia pergi, aku pikir karena aku nolak dia."
"Aku heran deh sama kak Evans. Dia itu jelmaan malaikat kali ya? Baik banget sumpah. Kau udah nolak cintanya, dia tetap aja mau nampung kau di rumahnya. Kayaknya aku harus jadiin dia pacar nih. Cari dimana lagi coba cowok kayak dia? Gantengnya juga nggak ketulungan. Dan aku juga heran sih, gimana kau bisa nolak dia? Kau sama sekali nggak naksir sama dia?"
"Aku masih lebih mentingin kerja daripada pacaran, Jo."
"Tapi kau suka kan sama dia? Siapa sih yang nggak suka sama dia? Aku yakin di cafe juga nggak cuma kau yang suka sama dia. Tapi tetap aja aku masih belum percaya kau nolak dia. Kalaupun kau jadi pacarnya kan masih tetap bisa kerja di sana? Malah enak kerja sama pacar sendiri."
"Tapi aku nggak mau dibilang penggoda bos sendiri, Jo. Aku masih sayang sama diriku. Masa depan masih panjang."
Joanna tertawa lebar. Tanpa sadar Kiara sudah mengakui kalau dirinya memang menyukai bosnya itu. "Ya, aku harap kau akan segera menerimanya secepatnya sebelum dia diembat orang lain, Kia. Jangan membuat penyesalan nanti. Aku nggak akan mau dengar kata-kata itu nanti darimu apalagi meminta bantuanku."
"Aku yakin dengan pilihanku, Jo. Dan semoga saja aku tidak akan menyesal. Eh, lima menit lagi kelas udah masuk. Yuk." Kiara berdiri dan diikuti oleh sahabatnya itu.
Kiara tiba di cafe saat cafe terlihat cukup ramai. Langkahnya tergesa untuk segera bergabung dengan teman-temannya.
"Selamat sore, selamat datang di Evans Cafe. Dengan saya Kiara Sanjaya. Ada yang bisa saya bantu?" Tamu di meja itu menatap Kiara. "Nyonya?" gumam Kiara pelan. Dilihatnya juga siapa yang duduk di hadapan wanita itu. Seorang pria yang wajahnya sepertinya sangat familiar bagi Kiara. Tapi dia bingung siapa pria yang ditebaknya berusia enam puluhan itu. Tidak ingin dinilai aneh, Kiara memasang wajah profesionalnya dan siap menerima pesanan.
"Kamu kenal dia?" tanya laki-laki di depannya pada wanita yang dipanggil nyonya oleh Kiara.
Kiara bisa melihat ada senyum licik di wajah wanita itu. Wanita paling kejam dan tidak punya hati yang pernah ditemuinya. "Dia mantan pembantu saya, saya memecatnya karena kerjanya tidak becus," jawab wanita itu.
"Maaf pak, bu, apakah ada masalah?" Seseorang datang menemui mereka. Kiara melirik pria yang berdiri di sebelahnya.
"Oh, tidak ada. Kami hanya masih memikirkan makanan apa yang cocok untuk siang ini," jelas pria paruh baya itu.
Evans mendampingi Kiara sampai kedua tamu itu memilih makanannya. Lalu keduanya berlalu bersamaan. Menemui juru masak untuk membuatkan pesanannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Evans pada Kiara. Gadis itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kiara menoleh, lantas mengangguk. "Hm, aku baik-baik saja kak. Ada apa?"
"Kakak hanya mengkhawatirkanmu. Apa kau kenal mereka?" tanya Evans.
Kiara menggeleng pelan, tapi dua kali menggeleng berganti menjadi mengangguk. "Wanita itu adalah wanita yang pernah menikah dengan ayah. Tapi aku masih belum mengingat siapa pria itu. Sepertinya dia sangat familiar denganku."
"Bukankah dia si konglomerat kaya itu? Hm, siapa ya namanya, hm..." Evans berpikir keras mengingat nama laki-laki tadi. Dia memang mengenal beberapa orang dari kalangan atas seperti itu. "Ah, pak Utomo. Iya, pak Rusdin Utomo. Kau dimana pernah melihatnya?"
Kiara menggeleng lagi. "Entahlah, kak. Aku hanya merasa pernah melihatnya. Tapi aku tidak tau dimana. Seingatku, aku juga tidak pernah bertemu dengan kalangan konglomerat seperti itu." Keduanya terdiam.
"Ah iya, itu kan papanya Joanna?" Kiara menutup mulutnya yang menganga lebar. Jadi yang akan jadi ibu tiri Joanna adalah wanita itu? Ini tidak bisa terjadi.