Sekitar jam 16:20 aku sampai di cafe yang sering ketemu, aku memarkirkan motor di tempat biasa aku melihat ke parkiran mobil rupanya sudah ada mobil Yana terparkir di sana aku pun bergegas masuk ke dalam melihat ke salah satu sudut sebagai tempat favorit kita berdua apa bila bertemu di cafe itu rupanya Yana tidak ada di sana aku keluar balkon mencarinya rupanya dia duduk di kursi paling pojok di sana lumayan sepi pengunjung tidak begitu ramai di balkon, ini sepertinya bukan pertanda baik, aku melihat dari kejauhan Yana sangat gelisah, aku pergi menghampiri meja dia.
"Hai.." sapa aku pertama.
Dia tidak menjawab dia memandang ku cukup dalam pandangannya beda dari pandangan sebelumnya.
"kamu kenapa?" Tanyaku pada dia
"Wil aku mau nanya sama kamu, bolehkan?"
"Ya boleh aja lah, gak ada ngelarang hehehe" sambil aku bercanda
"Ini bukan waktu bercanda Wil"
"Ya aku tahu silahkan mau tannya ap?"
"Wil kau benar mencintai aku tidak?"
"Mau berapa kali ya aku jawab aku selalu mencintai kamu"
"Kalau kamu mencintai aku kita Nikah malam ini" kata terlontar dari mulut Yana membuat aku diam Tampa harus berkomentar apa.
"Kok mendadak gini emg duit mau dapat dari mana?"
"Kalau masalah duit aku masih punya tabungan"
"Tapi..."
"Tidak ada pakai tapi Wil, kamu tahu kan ayah mau menjodohkan aku dengan orang lain"
"Tapi nikah itu bukan prihal main-main na"
"Ia aku juga tahu kalau nikah itu bukan prihal mudah"
"Na coba kamu tenang dulu kita pikir solusinya"
"Solusi apa lagi Wil, kamu itu pengecut ya Wil" Yana mulai mengeluarkan suaranya
"Tenang dulu na"
"Apa lagi, apa yang harus di tenang, kamu kayak nggak tahu ayah bagai mana"
"Ia nikah ya nikah tapi gak mungkin secepat ini, kamu ngaco kalau ngomong na"
"Terserah Wil kalau kamu gak mau malam ini pasti ada penyesalan kamu seumur hidup"
Yana langsung pergi.
"Yana... Yanaaa" sedikit pun Yana tidak menoleh, aku kembali terduduk di kursi itu lagi sambil memijit kepalaku, aku tidak peduli pada sore itu orang melihat kebodohan kita. Sekitar beberapa menit aku pun kembali keluar sampai di luar mobil Yana sudah pergi aku ke parkiran dimana motor aku di parkir, tidak begitu lama aku pergi mengendarai motor itu dengan kecepatan yang begitu kencang menyusuri jalan itu dimana kondisi jalan lumayan ramai sebab jam itu jam orang pulang kantor, aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan hidupku. Di sepanjang motor aku hannya bisa memaki diriku sendiri, benar kata Yana kalau aku ini pengecut, benar kata ayah Yana kalau aku tidak bisa membuat Yana bahagia yang ada membuatnya tersiksa, di sepanjang jalan yang tidak tahu mana arahnya aku memacu gas motor aku dengan cepat sehingga aku sampai di perempat jalan diana ada lampu merah, aku hampir menabrak seorang ibu-ibu yang sudah dulu berhenti di depanku. Setelah berhenti tidak begitu lama di lampu merah aku lanjut berjalan tidak begitu jauh aku singgah di cafe di sana ada sahabatku yang sebagai barista.
Setelah aku parkiran motor aku masuk kedalam, aku langsung di sambut sahabat aku.
"Sendiri aja Wil?" Tanya dia
"Sendiri Van"
"Kusut bangat mukamu?, Lagi berantem sama Yana?
"Panjang cerita, oh ya kopi seperti biasa" Evan langsung membuat kopi yang aku pesan, tidak begitu lama kopi itu selesai di buat, Evan dengan membawa nampan untuk mengantar kopi di mna tempat aku duduk, aku duduk memilih di teras cafenya.
"Ini kopinya Wil"
"Terimakasih Van"
"Jadi masalah kamu apa sebenarnya?, kok kamu sampai berantakan seperti ini gak biasa-biasanya?" Tanya Evan lagi, Evan berani bertanya seperti itu karena Evan sudah tahu atas hubungan aku dengan Yana bukan tentang percintaan aku dengan Yana saja hampir seluruh hidup aku Evan tahu, dia memang sahabat dari sejak kecil, jadi dari itu dia tahu begitu juga dengan dia.
"Entar aja dah aku cerita, lagi bingung mau cerita dari mana"
"Oke lah siap jadi pendengar hehehe"
Evan tidak lama di depan sebab tidak begitu lama datang pelanggan memesan kopi Evan kembali sibuk, sedangkan aku kembali dengan pikiran yang tidak jelas.