Sekitar jam 6:30 pagi aku baru pulang dari bar, ya beginilah pekerjaan aku setiap hari, setelah aku sampai di rumah aku langsung mandi, sehabis mandi setelah aku mengena pakaian aku pun merebahkan diri di kasur, sebab tidak tidur salaman di mana aku memilih pagi sebagai malam sudah hampir tiga tahun aku kerja sebagai bartender di sebuah bar. Tapi pagi ini aku beda dari pagi sebelum nya di mna aku susah sekali memejamkan mata walaupun rasa kantuk ada,. Aku buka hp yang sedari tadi di sampingku, seperti biasa aku selalu menyapa Yana dari BBM.
"Selamat pagi tuan putri" tidak begitu lama langsung di balas.
"Pagi juga pangeran, kenapa baru ada kabar?"
"Ini baru sampai rumah"
"Udah mandi?"
"Sudah"
"Sarapan?"
"Sudah"
"Ya sudah tidur ya, aku mau berangkat kerja"
"Ia I love you"
"I love you to"
Setelah Chet dengan Yana mataku pun masih tidak mau terlelap juga aku masih kepikiran dengan percakapan ayah Yana kemarin.
Aku bangun dari kasur aku mengambil sebungkus rokok yang ada di atas meja dan aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya dan sambil mendengarkan lagu dari band Dewa 19 Risalah hati di mana musik mengalun sendu di dalam kamar, setelahku menghabiskan sebatang rokok itu aku kembali merebahkan badan lagi di atas kasur tapi tidak kunjung juga mau terlelap, karena setiap kata yang ayah Yana ucapkan selalu menggema di kepala. Kurang lebih satu jam aku merasa tersiksa seperti itu akhirnya aku pun terlelap, mungkin aku mulai lelah dengan pikiran yang berkecamuk tak menentu.
Sekitar jam 11 siang aku terbangun dari tidur mungkin pengaruh di mana perut mulai merasa lapar, Tampa mandi setelah aku mencuci muka aku pergi keluar mencari makan tidak jauh dari rumah ada warung nasi yang biasa tempat aku dengan Yana makan kalau di sore hari sebelum dia pulang dia selalu mampir ke kosanku.
Setelah sampai aku mengambil nasi, tempe dan telor dadar aku pun memesan es teh kepada mas yang jaga warung nasi itu.
"Mas es teh nya satu ya kayak biasa"
"Ia bang" tidak begitu lama es teh itu pun sampai.
"Ini bang"
"Terimakasih mas" hampir separuh aku melahap makanan itu, tiba-tiba ada telfon masuk.
"Ya hallo"
"Tolong ya saya sudah peringatkan jangan lagi dekat dengan Yana" aku tidak menjawab aku membiarkan orang itu ngomong sendiri, orang yang ngomel-ngomel di hp itu tidak lain tidak bukan adalah ayah Yana.
Hp itu aku letakan begitu saja aku tetap lanjut menikmati makanan yg ada di piring, tidak jarang suara dari dalam hp itu sumpah serapah yang tiada habis nya menghina dan sebagai macam. Tapi aku tidak peduli akhirnya suara itu hilang dan pembicaraan terputus, tapi tetap aku tidak pedulikan.
Setelah aku selesai makan aku langsung membayar ke mas yang pemilik warung itu.
"Berapa mas?
"Dua belas ribu bang" setelah aku membayar aku langsung pulang ke kos.
Sekitar setengah jam sampai di kos masuk messenger dari Yana,
"Sore ini bisa ketemu tidak"
"Apa sih yanga tidak bisa, buat kekasihku"
"Tempat biasa ya"
"Siap tuan putri"
Tapi kali ini messenger kita berdua tidak panjang lebar kayaknya Yana ada masalah jangan-jangan dia sudah tahu kalau dia akan di jodohkan.
Gadis yang menghabiskan berapa gelas minuman itu dengan kekacauan hatinya malam itu membuat dia larut dengan malam di mana orang ramai dengan kesenangan tapi dia tidak.
Ibaratkan dia dimana hamparan rumput liar terdapat setangkai bunga yang indah yang layu terhimpit rumput liar itu.