Anggit berhenti di tengah halaman gedung, tepat di bawah lampu taman. Napasnya sudah ngos-ngosan padahal baru dua puluh langkah dari tempat mobil Felix tadi berhenti. “Nad, gue bukan ojek. Ojek aja ada tarifnya.”
“Catat di daftar hutang. Sekalian, Nggit.” Nadia menempelkan dagu di bahu Anggit dan mengayun-ayunkan kakinya. “Ponsel baru, ongkos gendong. Nanti gue bayar pas gajian.”
“Gaji lo kan dipotong bos, Bego.”
“Dih, jangan ingetin. Jalan terus, Pak Sopir.”
Anggit menghela napas panjang, lalu melangkah lagi. Paving halaman terasa lebih panjang dari biasanya. Dari pos kaca di dekat pintu lobi, seorang satpam menurunkan koran yang sedang dia baca. Matanya membesar. Bahunya mulai berguncang.
“Pak, jangan ketawa,” desis Anggit.
“Maaf, Mas.” Satpam itu menutup mulut dengan koran. “Tapi Mbak Nadia dari tadi kayak koala.”
“Nah, dengerin tuh!” Anggit menggoyangkan punggungnya. “Koala! Turun lo!”
Nadia memajukan bibir. Dia melirik satpam yang kini terang-terangan terbahak, lalu melorot turun sambil merapikan bajunya dengan gaya setinggi-tingginya. “Ya sudah. Saya turun karena saya mau, bukan karena disuruh.”
“Iya, Tuan Putri.”
Brak! Pintu kaca lobi bergeser terbuka. Nadia melangkah masuk sambil memeluk paper bag-nya. Dua pria berseragam di meja resepsionis mengangguk padanya. Di dekat deretan lift, seorang pria berkemeja abu-abu bangkit dari sofa tunggu.
“Nad?”
Nadia menoleh. “Eh, Mas Evan. Ngapain di sini malam-malam?”
“Menunggu kalian.” Evan tersenyum tipis dan mengangkat dua amplop krem. “Besok malam acara ulang tahun perusahaan. Saya panitia, jadi undangan untuk kamu dan Anggit saya antar sendiri. Kebetulan saya juga tinggal tidak jauh dari sini.”
Anggit menerima satu amplop dan menimangnya. “Wih, kertasnya tebal. Mas Evan niat banget.”
“Namanya juga acara pemilik.” Evan memandang Nadia. “Besok saya jemput saja. Searah, kok. Tidak perlu repot cari taksi.”
Nadia mengerjap. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal dan menyengir. “Hehe, makasih banget, Mas. Tapi nggak usah, aku berangkat bareng Anggit aja.”
“Gue?” Anggit menoleh. “Kapan gue bilang…”
Dug! Sepatu Nadia mendarat di kaki Anggit.
“Aduh! Eh, iya. Iya, bareng gue. Pasti.”
Evan melihat keduanya bergantian. Senyumnya tidak berubah, hanya matanya yang berhenti sebentar di wajah Nadia. “Baiklah. Kalau berubah pikiran, kabari saja.”
Ting!
Pintu lift terbuka. Nadia menarik Anggit masuk lebih dulu dan melambai pada Evan sampai pintunya menutup.
“Lo nginjek gue, Nad.”
“Lo hampir bilang nggak.”
“Memangnya kenapa kalau bareng Mas Evan?”
“Nggak kenapa-kenapa.” Nadia menatap angka lantai yang menyala satu per satu. “Cuma, males aja. Tau sendiri kantor gimana.”
***
Lorong lantai mereka sepi dan sejuk. Unit A di ujung kiri, unit B di sebelahnya. Tapi pintu unit B sudah terbuka separuh, dan dari dalam keluar seorang wanita berambut sebahu sambil membawa panci kecil bertutup. Uap tipis mengepul dari sela tutupnya.
“Mas Anggit, supnya sudah aku…” Wanita itu berhenti. “Oh. Ada Nadia.”
Anggit mematung. Sedetik kemudian dia gelagapan seperti orang yang kepergok mencuri sandal. “Net! Eh, anu, itu, gue, kan, ini baru pulang, terus…”
“Mas Anggit, kan, tadi bilang jam sembilan.” Anet menaikkan alis. “Ini sudah lewat jam sembilan.”
“Tadi ada insiden,” kata Anggit. “Koala.”
Nadia menekan bibirnya supaya tidak tertawa dan gagal. Pffft. “Kak Anet, ya? Akhirnya kelihatan juga! Gue pikir lo cuma karangan Anggit, kayak pacar-pacarannya yang lain.”
“Dih! Gue cuma punya satu!”
Anet tersenyum geli. Dia menyodorkan panci kecil itu ke tangan Nadia. “Ini sup iga. Aku masak kebanyakan, bawa saja. Kata Mas Anggit kamu doyan makan.”
“Doyan banget, Kak. Makasih!” Nadia mengangkat panci itu seperti piala. Aroma kaldunya langsung membuat perutnya berbunyi. “Kunci cadangan unit B sekarang resmi di tangan Kak Anet, ya?”
“Nad!” Wajah Anggit memerah sampai ke telinga. “Masuk sana, tidur!”
“Iya iya, Calon Suami Orang.” Nadia melangkah ke pintu unit A.
Panel sensor di sebelah kusen berkedip. Dia menempelkan ibu jarinya, dan pintu berbunyi pelan lalu terbuka. Di sudut layar kecil itu masih ada tulisan yang sama sejak dia mengaturnya waktu marah: satu akses diblokir. Nadia menatapnya agak lama, lalu menghela napas dan masuk tanpa menyentuh apa-apa.
Pintu menutup di belakangnya. Hening.
***
Panci sup dia taruh di meja dapur. Paper bag Anggit dia bongkar di atas kasur. Ponsel baru itu masih terbungkus plastik, mengilap, dan harum seperti barang yang belum pernah dipegang siapa-siapa. Nadia mencabut plastiknya, menyalakan layar, dan memasukkan akun lamanya sambil bersila.
“Ayo, ayo, jangan lemot,” bisiknya.
Bar pemulihan bergerak pelan. Foto-fotonya kembali. Daftar kontaknya kembali. Lalu satu per satu pesan lama turun ke layar, dan paling atas ada nama yang sudah dia hafal: Felix. Nadia menggulir ke atas. Ada belasan pesan yang tidak pernah dia balas waktu ponselnya retak. Isinya pendek-pendek, kaku, dan semuanya berujung pada kata yang sama.
Maaf.
Maaf. Saya salah.
Tolong buka pintunya.
“Dasar kulkas,” gumam Nadia. Tapi bibirnya melengkung sendiri.
Ponselnya bergetar. Nama Felix muncul di layar, dengan foto yang dia pasang diam-diam dulu, Felix sedang melotot pada piring kosong. Nadia menyambar ponsel itu dan hampir menjatuhkannya.
“Halo?”
“Kamu sudah di dalam?” Suara Felix terdengar rendah dan agak serak. Latarnya sunyi, seperti orang yang menelepon dari dalam mobil yang berhenti.
“Sudah. Kok kamu tahu nomor baruku?”
“Anggit mengirimnya. Dia bilang ongkos gendong kamu mahal.”
“Dih, dasar tukang lapor.” Nadia menjatuhkan punggung ke kasur. “Jadi kamu nelepon cuma mau nanyain aku sudah masuk apa belum? Padahal tadi di depan gedung bilangnya sibuk banget.”
“Ada dua hal.” Felix berdehem. “Pertama, besok di acara itu kita tidak boleh terlihat dekat. Bukan karena saya malu. Banyak mata. Kamu tahu sendiri.”
“Backstreet lagi,” kata Nadia datar. Dia memutar bola mata ke langit-langit.
“Kedua. Mamah memaksa Gladys ikut sebagai tamunya. Saya sudah coba menolak. Mamah bilang ada alasannya, tapi tidak mau menjelaskannya di telepon.”
Nadia terdiam. Sup iga di dapur masih mengepul, dan tiba-tiba aromanya tidak seenak tadi. “Tante Gladys. Besok. Duduk di mana?”
“Saya belum tahu denahnya.” Felix menarik napas. “Nad. Satu hal lagi, dan ini yang paling penting.”
“Apa?”
“Apa pun yang kamu lihat besok, tanyakan langsung ke saya. Jangan menebak sendiri, jangan mengambil kesimpulan, jangan menghapus akses saya lagi.”
“Heh, yang terakhir itu mencurigakan.”
“Saya serius.”
Nadia memandang layar yang menyala, nama itu dan semua kata maaf di bawahnya. Dia menarik napas dan menghembuskannya pelan. Suaranya jadi lebih lembut dari yang dia rencanakan. “Oke. Aku tanya langsung. Bukan nuduh, bukan ngambek dulu. Janji.”
“Saya pegang janji itu.”
“Kamu pegang, aku tagih balik. Kalau kamu bohong, aku kunci pintunya selamanya.”
Di ujung sana Felix tertawa pendek, hampir tak terdengar. “Selamat tidur, Nad.”
Sambungan terputus. Nadia menjerit kecil ke dalam bantal, menendang-nendang selimut, lalu berhenti mendadak karena perutnya berbunyi keras sekali.
“Oke. Sup dulu. Mikir belakangan.”
Dia menyeret langkah ke dapur, membuka tutup panci, dan menyendok langsung dari panci tanpa repot mencari mangkuk. Kaldunya hangat, iganya lembut sampai lepas dari tulang. Dalam tiga suapan, rasa gelisahnya mengecil sedikit. Anggit memang beruntung. Orang yang masak seenak ini tidak pantas dikecewakan.
“Awas lo, Nggit,” gumamnya sambil mengunyah. “Kalau lo sampai nyakitin Kak Anet, gue sendiri yang jitak.”
Kembali di kamar, dia memeluk bantal dan menatap amplop krem yang tergeletak di nakas. Tinta emas di sudutnya berkilat tertimpa lampu. Besok malam, tulisan itu akan mengajaknya masuk ke satu ruangan penuh orang yang tidak boleh tahu apa-apa.