Pagi itu Nadia masuk kantor dengan tas kain sebesar karung beras, dan orang pertama yang melihatnya adalah orang yang paling tidak dia harapkan.
“Itu apa?”
Lucas berdiri di ambang ruangannya dengan satu alis terangkat. Matanya tertuju pada tas kain besar yang menggantung di bahu Nadia, tas yang menggembung seperti kantong belanja ibu-ibu pulang dari pasar.
“Ini persiapan, Pak.” Nadia menepuk tasnya dengan bangga. Kertas di dalamnya berkeresek. “Susunan acara, tiga rangkap. Denah meja, tiga rangkap. Daftar tamu, sama. Saya fotokopi semuanya tadi pagi di toko depan, untuk jaga-jaga kalau panitia kehilangan yang asli.”
“Kamu memfotokopi daftar tamu.”
“Dan cadangan daftar tamu, Pak.”
Lucas menyemprotkan sanitizer ke telapak tangannya, menggosoknya dua kali, lalu menunjuk ke Nadia dengan dagu. “Mesin fotokopi berjalan. Hari ini kamu saya tugaskan mengurus persiapan terakhir bersama panitia. Tapi sekarang, serahkan satu rangkap yang paling tipis. Saya mau lihat. Taruh di meja, jangan kamu sentuh punggung kertasnya dengan tangan yang habis memegang gagang pintu.”
“Saya cuci tangan kok tadi.”
“Dua puluh detik?”
“Em. Sepuluh. Sekitar.”
“Nadia.”
“Baik, Pak, saya ulangi.”
Dari balik pintu kaca, Nadia sempat melihat Lucas menggeleng sambil menahan senyum. Dia mengira itu hanya pantulan lampu. Satu jam kemudian dia berdiri di ruang panitia di lantai dua, menyerahkan rangkap demi rangkap kepada orang-orang yang tampak lelah dan kebingungan. Rak di sudut ruangan penuh balon yang belum ditiup, sementara dua staf bertengkar soal letak pintu masuk tamu.
“Nad, tolong tenangin mereka,” bisik Anggit sambil menarik lengan bajunya. “Gue udah dua kali dikira panitia.”
“Lo kan emang berbakat jadi tukang parkir.”
“Sialan.”
Bunyi langkah tegas terdengar di lorong, diikuti tawa ringan seorang wanita. Seseorang berdiri di pintu dengan kamera menggantung di leher dan tripod lipat di punggung.
“Selamat pagi. Saya Gracia, fotografer acara malam ini.”
Nadia mengenali suara itu sebelum wajahnya, dan baru kemudian matanya melebar. “Grace?”
“Nad!” Gracia melambai, lalu masuk dengan senyum lebar. Rambutnya diikat rapi dan dia memakai kemeja linen sederhana. “Dunia sempit sekali, ya. Panitia menghubungi saya lewat Pak Evan dua hari lalu. Saya bahkan belum tahu kantornya yang mana.”
“Mas Evan?” Nadia menoleh ke Evan yang berdiri di sudut ruangan dengan papan klip. Evan mengangkat tangan sedikit, ramah seperti biasa.
“Saya cari fotografer yang rapi dan tepat waktu,” kata Evan. “Kebetulan Mbak Gracia dapat rekomendasi dari kenalan saya.”
“Saya hanya tepat waktu kalau bawa kopi.” Gracia menurunkan tripod dan membukanya di lantai sambil menepuk lutut. “Bagus. Kakinya kokoh.”
Pintu ruang panitia bergeser. Lucas masuk dengan jas rapi, memegang selembar kertas dengan dua jari seolah kertas itu bisa menggigit. Matanya langsung jatuh ke kaki tripod yang menempel di lantai.
“Itu dari mana?” tanyanya.
“Lantai, Pak?” kata Gracia ramah.
“Tripodnya. Tripod itu pernah menyentuh apa saja sebelum ke sini?”
Gracia berkedip, lalu menahan tawa. “Rumput, tanah pantai, satu kali aspal, dan seekor kambing di Selandia Baru.”
“Seekor…”
“Kambingnya tidak menggigit.”
Lucas menatap tripod itu seperti menatap tersangka. “Semprot. Sebelum masuk ballroom. Dua kali.”
“Siap, Komandan.”
Anggit tersedak diam-diam di samping Nadia. Nadia sendiri sibuk menggigit bibir supaya tidak tertawa. Rasanya aneh melihat Lucas dibalas dengan jawaban jenaka tanpa wajah takut. Dia juga baru sadar bahwa dari tadi dia belum menengok denah yang dia bawa. Dia menarik satu lembar dari tas dan membukanya.
Meja utama di panggung kecil, urutan kursi: Felix. Gisel. Gladys. Lucas. Empat nama di meja yang paling dekat dengan podium.
Dia menggeser jarinya ke bawah. Meja 14. Nadia. Anggit. Anet. Evan. Posisinya pas di dekat pintu dapur, tempat pelayan lalu-lalang membawa nampan.
“Kok meja gue di dekat dapur?” bisiknya.
“Biar dekat sama makanan,” jawab Anggit pelan. “Logis.”
“Dan ada Mas Evan di meja kita.”
“Dia panitia, masa duduk sendirian di pojok.” Anggit mengangkat bahu. “Nad, santai. Meja utama itu buat keluarga bos. Wajar Mbak Gladys di situ kalau Tante Gisel yang bawa.”
Evan menghampiri dengan papan kliknya. “Maaf, Nad, tadi saya dengar. Saya sengaja minta duduk di meja kalian. Kalau ada yang kurang di acaranya, kamu tinggal bilang saja ke saya.”
“Makasih, Mas. Tapi aku baik-baik aja.”
“Tentu.” Evan tersenyum dan kembali ke sudut ruangan. Nadia memandang punggungnya sebentar. Ada yang terasa seperti kerikil kecil di dalam sepatu, tidak sakit, hanya mengganggu.
Nadia mengangguk, tetapi jarinya masih berhenti di baris pertama denah. Gladys. Persis di sebelah Gisel, dua kursi dari Felix. Bukan satu kursi, dua. Mungkin itu sengaja, mungkin hanya kebetulan susunan angka.
“Tanya langsung,” katanya pada diri sendiri. Lalu dia menutup kertas itu dan menyimpannya kembali ke tas.
***
Sore tiba lebih cepat dari yang Nadia kira.
“Diam dulu, Nad, nanti eyeliner-nya miring.”
“Gue geli, Kak Anet…”
“Itu bulu mata, bukan racun.”
Nadia duduk di kursi rias dadakan di ruang tamu unit B, sementara Anet mengangkat dagunya dengan dua jari. Di belakang mereka, Anggit bersandar di sofa sambil memegang seplastik kerupuk dan memberikan komentar tidak berguna setiap sepuluh detik.
“Kurang merah.”
“Mas, jangan ikut campur.”
“Gue cuma kasih masukan teknis.”
“Masukan teknis dari orang yang bajunya kemarin kebalik?”
Anggit memegang dadanya seolah tertusuk. Nadia tertawa, dan Anet buru-buru menahan wajahnya supaya bulu matanya tidak tergores. Gaun hijau botol yang dipinjamkan Anet sudah tergantung di pintu lemari, dan di cermin Nadia melihat dirinya yang kelihatan beda: lebih dewasa, rambut disanggul longgar, bibir warna teh.
“Cantik banget,” kata Anet puas.
“Gue hampir nggak ngenalin diri sendiri.”
“Itu maksudnya.” Anggit berdiri sambil membersihkan remah di celana. “Ayo, berangkat. Kalau telat, Lucas bisa nyuruh kita cuci tangan dua puluh detik di depan semua orang.”
Di dalam mobil, Anggit menyetir sambil bersenandung. Anet duduk di sebelahnya dan Nadia di kursi belakang, memegangi ponsel baru dengan kedua tangan. Satu pesan masuk dari Felix.
Jangan telat. Dan jangan makan terlalu banyak sebelum acara dimulai.
“Dih,” gumam Nadia. Dia mengetik: Emang aku ada tampang tukang makan? Lalu menghapusnya karena memang ada. Dia mengetik lagi: Iya, Pak. Kali ini dia kirim.
“Lo senyum-senyum sendiri,” kata Anggit lewat kaca spion.
“Siapa yang senyum? Mata gue kelilipan.”
“Kelilipan kok bibirnya naik.”
Anet tertawa di kursi depan. “Nad, tadi aku lihat denahnya di tas kamu. Mbak Gladys duduk dekat Pak Felix, ya?”
“Dua kursi dari dia,” jawab Nadia cepat. Terlalu cepat. Dia berdehem. “Tante Gisel yang bawa, jadi ya, wajar.”
“Wajar kok,” kata Anet lembut. “Kamu hebat tidak cemberut.”
“Gue sedang latihan, Kak.”
Hotel malam itu terang benderang. Lampu kristal di lobi, karpet merah, dan petugas valet berbaris seperti pasukan kehormatan. Nadia turun dari mobil Anggit sambil menahan ujung gaun, Anet menggandeng lengannya, dan dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sebuah sedan hitam berhenti di depan mereka. Pintu belakangnya terbuka, dan seorang wanita bersanggul rapi dengan jaket bulu putih turun lebih dulu. Tas bermerek berayun di lengan. Gisel.
Dia tidak sendirian. Tangan kirinya mencengkeram siku seorang wanita lain dengan gaun krem yang sederhana, wajah tirus, mata yang menunduk.
Gladys.
Gisel menarik Gladys melewati karpet merah seperti orang menggandeng anak yang tidak boleh lepas dari genggaman. Lalu, tepat sebelum pintu kaca, dia menoleh ke arah Nadia di seberang halaman. Alisnya naik sekali, dan dia mengedip.
Nadia berdiri kaku. Anggit dan Anet berhenti di kanan-kirinya.
“Nad,” bisik Anggit, “itu tadi… Tante Gisel ngedip ke lo, ya?”
“Gue juga nggak tau,” kata Nadia lirih, matanya tidak lepas dari punggung dua wanita yang menghilang di balik pintu. “Gue nggak tau itu artinya apa.”