Nadia menyusuri lobi dan lorong dalam bersama Anggit dan Anet, dan pintu ballroom belum sempat dia sentuh ketika suara nyaring itu memanggil dari ujung lorong.
“Nadia! Bocah nakal!”
Nadia hampir tersandung ujung gaunnya sendiri. Gisel sudah berdiri di ujung lorong dengan satu tangan melambai dan tangan lain masih menggenggam siku Gladys. Di sisi mereka, seorang staf hotel menunggu dengan sabar sambil memegang papan nama tamu.
“Tante Mamah,” kata Nadia pelan, menyeret langkah. “Tante manggil kenceng banget. Nanti ada yang dengar.”
“Biar dengar. Tante bilang bocah nakal di acara anak Tante sendiri, memangnya kenapa?” Gisel mengamati gaun hijau itu dari atas sampai bawah, lalu tersenyum puas. “Cantik. Jangan cemberut. Mengerti?”
“Aku nggak cemberut kok.”
“Bibirmu maju dua senti.” Gisel mencondongkan tubuh dan merendahkan suara, sementara matanya melirik Gladys yang berdiri diam, memandang karpet. “Tante tahu apa yang ada di kepalamu. Tante punya alasan, dan alasan itu bukan yang kamu kira. Percaya saja pada Tante Mamah malam ini, ya?”
“Alasan apa, Tante?”
“Nanti. Duduk manis, makan yang banyak.” Gisel menepuk pipinya dua kali, lalu menarik Gladys masuk. Gladys sempat menoleh dan mengangguk kecil pada Nadia, sopan, hampir seperti minta maaf.
Anggit menyikut pinggang Nadia. “Lo diapain tadi?”
“Disuruh makan yang banyak.”
“Itu mah perintah favorit lo.”
***
Ballroom hotel itu terang benderang. Lampu kristal menggantung di langit-langit, meja-meja bundar tertutup taplak putih, dan di mana-mana orang berbicara dengan nada setengah berbisik, seolah suara keras bisa memecahkan piring.
Nadia duduk di meja 14, tegak seperti murid baru. Gaun hijau botolnya membuat dia tidak berani bersandar. Di kirinya Anggit sibuk mengintip menu, di kanannya Evan menarikkan kursi dengan gerakan yang terlalu tertata.
“Silakan, Nad.”
“Makasih, Mas, tapi tadi aku udah duduk.”
“Oh.” Evan tersenyum. “Kalau begitu saya geser sedikit supaya lebih lega.”
Dia menggeser kursinya sendiri, lalu menuangkan air ke gelas Nadia sebelum Nadia sempat meraih teko. Nadia menatap gelas yang sudah terisi itu, lalu menatap Anggit. Anggit mengangkat alis tinggi-tinggi, seperti bertanya: ini normal?
Nadia menyengir kuda dan meneguk airnya. “Wah, pelayanannya bintang lima.”
Tok, tok, tok. Mikrofon di podium berbunyi. Lampu ruangan meredup sedikit.
Felix naik ke panggung kecil dengan jas hitam, rambut tertata, wajah datar. Semua orang langsung diam. Nadia menahan napas tanpa dia sadari.
“Selamat malam.” Suara Felix dalam dan dingin. “Terima kasih sudah bekerja keras setahun ini. Perusahaan ini tidak berdiri karena saya. Perusahaan ini berdiri karena kalian datang tepat waktu.” Dia berhenti sedetik. “Sebagian dari kalian.”
Beberapa orang tertawa gugup. Nadia ikut tertawa lalu berhenti sendiri karena merasa sindirannya mengenai dirinya.
“Nikmati makan malamnya. Selesai.” Felix turun dari panggung tanpa menunggu tepuk tangan. Tepuk tangan pecah, tapi sebagian karyawan saling pandang seolah tidak yakin itu pidato atau pengumuman penutupan kantor.
“Dinginnya kayak AC dua puluh derajat,” bisik Anggit.
“Gue pikir itu udah paling hangat,” jawab Nadia.
Hidangan pembuka datang. Nadia menyendok supnya dengan khidmat, tapi telinganya menangkap bisik-bisik dari meja sebelah, tempat Mbak Arsa dan Mbak Karin duduk berdempetan.
“Itu yang di meja utama siapa sih? Cantik banget.”
“Katanya teman lama Pak Felix. Aku lihat tadi datang bareng ibunya.”
“Ya ampun, anggun banget. Kayak aktris.”
Sendok Nadia berhenti di udara. Dia melirik ke arah panggung, ke meja utama dengan karangan bunga besar. Gisel dalam jaket bulunya duduk tegak di tengah. Di sebelah kanan, Gladys menunduk sopan menyendok sup, senyumnya pas, rambutnya jatuh lembut ke bahu. Dua kursi dari situ, Felix membaca sesuatu di ponselnya dan tidak melihat siapa-siapa.
“Dua kursi,” gumam Nadia.
“Nad, kamu mau saya ambilkan roti?” Evan menyodorkan keranjang.
“Nggak usah, Mas, makasih.”
“Ada jaket di mobil kalau AC-nya terlalu dingin.”
“Saya nggak kedinginan.” Nadia menatap sendoknya. “Cuma sedikit panas.”
Anggit terbatuk di balik serbet. Anet menahan senyum dengan menunduk.
Pas saat itu, mata Nadia menangkap gerakan di meja utama. Gisel mengangkat garpunya sedikit, memutarnya satu putaran kecil, lalu mengetuk pelipisnya dua kali. Setelah itu dia menunjuk Nadia dengan dagu, nyaris tak kelihatan. Nadia berkedip. Apa artinya itu? Sabar? Hati-hati? Makan yang banyak?
Dia membalas dengan mengacungkan jempol bodoh, dan Gisel memejamkan mata sekali sebagai tanda puas.
“Tante Mamah ngomong apa tadi?” tanya Anggit.
“Gue nggak ngerti. Mungkin dia lagi nanyain gue bawa tas apa.”
“Itu bukan bahasa tas, Nad.”
Hidangan utama tiba. Gracia berkeliling dengan kameranya, jongkok di sudut-sudut yang tidak terduga, memotret karyawan yang sedang mengunyah dengan wajah kaget. Setiap kali dia lewat dekat meja utama, dia menunduk di balik pilar besar yang berdiri di samping panggung, mengatur fokus, lalu menghilang lagi.
Lalu Evan berdiri. “Permisi sebentar. Waktunya bersulang.”
Pelayan membawa nampan berisi gelas kristal tinggi. Evan mengambil dua gelas dan berjalan pelan menuju meja utama. Nadia mengikutinya dengan mata, sebagian karena penasaran, sebagian karena bayangan Gladys di meja utama mulai terasa terlalu dekat. Evan melewati pilar, lalu hilang dari pandangan sesaat, lalu muncul lagi di sisi meja utama sambil tersenyum sopan.
“Selamat malam, Pak Felix, Bu Gisel. Mohon izin, bersulang untuk malam ini.”
Gisel mengangkat alis. Felix menengadah dari ponselnya. Evan meletakkan satu gelas di depan Felix dan satu di depan Gladys.
Dan Lucas, yang sejak tadi duduk di ujung meja sambil mengamati taplak seperti sedang mencari bakteri, mendadak berdiri.
“Tunggu.”
Semua kepala menoleh.
“Itu gelas dari mana?” tanya Lucas.
“Dari nampan pelayan, Pak,” jawab Evan tenang.
“Bibirnya berminyak.” Lucas mengangkat gelas Felix tanpa menyentuh bagian atasnya, memiringkannya ke cahaya lampu. “Itu noda sidik jari. Tidak, tidak boleh. Semua gelas di meja ini, ganti. Sekarang. Termasuk gelas Felix.”
“Lucas, itu cuma…”
“Gue nggak mau tahu, Felix.” Lucas menatap sahabatnya tanpa berkedip. “Besok lo sakit perut, gue yang disalahin karena membiarkan lo minum dari gelas berkuman.”
Gisel menahan tawa dengan serbetnya. Gladys menunduk. Seorang pelayan buru-buru datang, mengambil semua gelas satu per satu, termasuk dua yang tadi dibawa Evan. Di meja 14, Nadia memperhatikan wajah Evan. Dia hanya melihat sebentar: rahangnya mengeras, kilat tipis melintas di matanya, lalu tertutup lagi dengan senyum yang sama seperti tadi.
“Mas Evan nggak papa?” bisik Nadia ketika Evan kembali duduk.
“Tidak apa-apa. Pak Lucas memang sangat teliti.” Evan merapikan serbetnya. “Saya sampai malu.”
Anggit menunduk ke telinga Nadia. “Gue baru tau ada orang yang bisa lebih galak dari Felix dan lebih lucu dari lo.”
“Berisik, Nggit.”
Waktu bergerak ke pukul sembilan lebih, dan musik mulai mengalun. Beberapa pasangan berdiri dan menari pelan. Nadia menyuap dessert sambil berpikir dia harus mengirim pesan ke Felix soal Gisel dan isyarat garpunya. Tangannya baru saja menyentuh ponsel di bawah meja ketika dia melihat seorang petugas keamanan berjas hitam menyelinap di antara meja dan berhenti di sisi Lucas.
Petugas itu membungkuk dan membisikkan sesuatu. Lucas mendengarkan, wajahnya yang biasanya mengeras karena kuman kini mengeras karena hal lain. Dia melirik Felix. Felix menegakkan punggung.
Di sebelah Gisel, Gladys meletakkan sendoknya perlahan. Tangannya gemetar, bergetar sampai dentingnya terdengar sampai ke meja 14. Pukul dua puluh satu empat puluh. Gladys mengangkat wajah, dan warna di pipinya hilang seluruhnya, putih seperti taplak meja.
Bibirnya bergerak tanpa suara, dan Nadia membaca dengan jelas dari kejauhan.
“Aron ada di lobi.”