Kursi Gladys sudah kosong sebelum Nadia sempat berkedip.
Felix dan Lucas menyusul hampir bersamaan, melewati meja-meja bundar tanpa menoleh, diikuti dua petugas keamanan. Gisel berdiri dan merangkul bahu Gladys dengan sikap yang lebih mirip menahan daripada menenangkan. Musik masih mengalun. Sebagian besar tamu bahkan belum sadar apa yang terjadi.
Nadia meletakkan serbetnya. “Gue ke toilet bentar.”
“Toilet kok lewat pintu lobi, Nad?” kata Anggit pelan tanpa menoleh.
“Lo diem aja, Nggit.”
Dia menyelinap lewat pintu samping ballroom, menyusuri lorong berkarpet, dan berhenti di balik pot palem raksasa di dekat pintu lobi. Dari celah daun, dia bisa melihat semuanya. Di belakangnya terdengar langkah tergesa, dan sebuah kepala menyembul di antara pelepah.
“Toilet-nya di sini, ya?” bisik Anggit.
“Nggit! Ngapain ikut?”
“Gue nemenin lo. Anet nunggu di meja sambil pura-pura nggak ngerti.” Anggit ikut mengintip dan wajahnya langsung berubah. “Wah. Itu orangnya?”
“Diem, nanti kedengaran.”
Seorang pria bertubuh besar berdiri di tengah lobi, lengannya dicengkeram dua petugas hotel. Kemejanya kusut, rambutnya basah entah karena keringat atau hujan, dan matanya liar seperti orang yang tidak tidur beberapa hari. Itu pasti Aron. Nadia belum pernah melihatnya, tetapi dia mengenalinya dari cara Gladys tadi memucat.
“Saya mau menjemput istri saya.” Suaranya serak tapi tenang, tenang yang tidak enak didengar. “Tidak ada hukum yang melarang suami mencari istrinya.”
“Ada,” kata Felix. Dia berdiri dua langkah di depan Aron dengan tangan di saku jas. “Salah satunya yang mengatur apa yang terjadi pada orang yang memukul istrinya.”
Aron tersenyum miring. “Felix. Pahlawan kesiangan. Dari dulu kamu suka mengambil barang orang.”
“Dia bukan barang.”
“Dia milikku.” Senyum itu lenyap. Aron memajukan tubuh sampai petugas di kiri-kanannya menahan lebih keras. “Hari ini kamu bawa dia ke pesta. Besok kamu sembunyikan di mansion. Tapi kapan pun aku mau, aku ambil kembali yang jadi milikku. Ingat itu.”
Nadia menggenggam gaunnya erat-erat. Dadanya berdegup seperti genderang.
“Saya ingatkan juga,” kata Lucas, melangkah di samping Felix. Suaranya datar. “Hotel ini punya kamera di setiap sudut. Kamu baru saja mengancam seseorang di depan banyak saksi, dan pengacara kami lebih cepat datang daripada taksimu. Mau urusan ini diperpanjang, atau mau pergi?”
“Saya pergi.” Aron menegakkan badan. Dia menatap lurus ke arah lift tempat bayangan Gisel dan Gladys sudah lenyap. “Untuk malam ini.”
Dua petugas menyeretnya ke pintu putar. Dia tidak melawan. Sebelum menghilang di balik kaca, dia menoleh sekali dan menatap tepat ke arah Felix. Kemudian dia pergi, meninggalkan lobi yang mendadak terlalu sunyi.
Felix menghembuskan napas lambat. “Lucas. Kamar yang atas nama Caralos masih kosong?”
“1208. Rere sudah mengurus kuncinya.” Lucas menyemprotkan sanitizer ke tangan, menggosoknya kuat-kuat. “Dan gue butuh satu botol lagi.”
Anggit menarik napas panjang di sebelahnya. “Gue balik ke meja. Lo urus aja sendiri, gue nggak mau jadi saksi pot tanaman.” Dia menghilang secepat datangnya.
Nadia mundur dari balik pot palem. Dia berbalik, dan nyaris menabrak seseorang.
“Nad.”
Evan. Dia berdiri dengan wajah serius, dasi sedikit longgar. “Maaf, saya mencarimu. Pak Felix minta tolong. Katanya ada susunan acara yang harus dicek ulang karena ada perubahan mendadak. Dia bilang kamu membawa fotokopinya.”
“Fotokopi?” Nadia refleks meraba tasnya. “Ada. Di meja.”
“Sebaiknya kita bawa sekarang. Dia di lantai dua belas, di kamar tamu keluarga.”
Nadia ragu sebentar. Tetapi kata fotokopi sudah menekan tombol dalam dirinya. Dia kembali ke meja 14, mengambil lembar yang dia lipat rapi di tas kain, lalu mengikuti Evan menuju lift sambil mengabaikan tatapan bingung Anggit dan Anet.
***
Ting!
Lantai dua belas sunyi dan beraroma pengharum ruangan. Lorong panjangnya diterangi lampu dinding kekuningan, dan di ujung sana pintu bertanda 1208 terbuka separuh. Seorang pria berdiri di ambangnya, membelakangi lorong.
Felix.
Dia memegang bahu seorang wanita yang berdiri di dalam kamar. Wanita itu menunduk, tubuhnya gemetar, dan suara Felix terdengar rendah. “Kamu aman. Kamar ini tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa masuk.”
Gladys tidak menjawab. Bahunya naik turun dalam napas yang tersendat.
Nadia berhenti melangkah.
“Mungkin…” Evan berbisik di sampingnya. Suaranya hati-hati dan lembut. “Mungkin kita sebaiknya kembali. Ini bukan urusan kita, Nad. Kamu tidak perlu melihat ini.”
Nadia menoleh sekilas. Evan sedang menunduk, menatap ponselnya seolah mengecek pesan. Cahaya layar memantul di wajahnya.
Dada Nadia mencelos. Pikirannya sudah mulai berlari ke arah yang tidak enak: Felix memegang bahu Gladys. Felix membelai suaranya jadi lembut. Felix yang bilang jangan terlihat dekat di depan umum, dan sekarang…
Apa pun yang kamu lihat besok, tanyakan langsung ke saya.
Suara Felix di telepon semalam muncul begitu jernih di kepalanya. Nadia menarik napas panjang, mengencangkan genggaman pada kertas fotokopi, lalu melangkah maju. Bukan mundur. Bukan lari.
“Felix.”
Felix menoleh. Matanya melebar. “Nad?”
“Aku mau tanya.” Suara Nadia sedikit bergetar tapi jelas. Dia berhenti tiga langkah dari pintu. “Aku nggak lagi nuduh. Aku cuma mau tahu. Itu tadi apa?”
Sepi sepersekian detik. Gladys mengangkat kepala, matanya merah. Felix menurunkan tangannya dari bahu Gladys dan menghadap Nadia sepenuhnya.
“Aron di lobi,” katanya terus terang. “Gladys hampir jatuh karena kakinya lemas. Saya memegang bahunya supaya dia bisa berdiri sampai dia duduk. Itu saja. Tidak lebih.”
“Itu saja?”
“Itu saja.” Felix tidak mengalihkan tatapan. “Kalau kamu tidak percaya, tanya Mamah.”
“Tante di sini.” Gisel melangkah keluar dari kamar dengan tas mereknya terkepit di lengan. Di belakangnya Lucas muncul sambil mengelap tangannya dengan tisu basah. “Tante di dalam sejak tadi. Anak Tante tidak berbohong.”
“Saya juga lihat dari awal sampai akhir,” kata Lucas. “Lantai ini steril dari gosip. Sampai sekarang.”
Nadia menatap mereka satu per satu. Lega datang pelan-pelan dari tumit sampai ke dada, membuat lututnya sedikit lemas. Dia menunduk sebentar dan menghembuskan napas.
“Oke,” katanya. “Aku percaya.”
Felix melangkah mendekat, cukup dekat untuk bicara tanpa didengar Lucas. “Terima kasih sudah bertanya.”
“Aku udah janji, kan?” Nadia menyengir lemah. “Lagian kalau nuduh duluan, kamu pasti bilang aku kebanyakan nonton drama.”
“Memang kebanyakan.”
“Dih.” Nadia berdehem, lalu menyodorkan kertas fotokopi yang masih dia genggam.
“Katanya kamu butuh ini. Susunan acara. Mas Evan yang bilang.”
Felix mengerutkan kening. “Saya tidak meminta susunan acara.”
“Hah?”
Nadia menoleh. Evan berdiri dua langkah di belakangnya, ponsel di saku, wajahnya rapi. “Mungkin saya salah dengar, Pak. Maaf.”
“Evan.” Lucas memicingkan mata. “Kamu ngapain di lantai ini?”
Belum sempat Evan menjawab, suara itu muncul dari mana-mana.
Bzzzt. Bzzzt. Ting! Ting-ting! Ponsel Nadia bergetar di tangannya, ponsel Felix di sakunya, ponsel Lucas, ponsel Gisel, ponsel Evan. Sebuah riak notifikasi berderet dari ujung lorong sampai ke ujung lain, seperti ribuan serangga kecil terbang bersamaan.
Nadia menunduk. Grup kantor. Dikirim dari nomor tanpa nama.
Sebuah foto. Felix, di ambang pintu kamar 1208, memegang bahu Gladys yang menunduk. Dari sudut itu, lorong tampak sepi, dan hanya ada mereka berdua.
Di bawahnya, satu kalimat: Jadi ini yang Pak Bos lakukan di pesta tahun ini?