Lorong lantai dua belas mendadak seperti ruang tunggu dokter gigi: semua orang menatap layar ponsel dan tidak ada yang berani bicara.
“Dikirim dari nomor yang tidak ada di kontak,” kata Felix akhirnya. Suaranya pelan, tapi rahangnya mengeras. “Rere.”
Rere muncul dari tikungan lift entah sejak kapan, membawa tablet dan wajah yang sudah siap bekerja. “Sudah saya catat, Pak. Sejak foto itu masuk, grup kantor sudah dua ratus lebih pesan.”
“Telusuri nomornya. Malam ini juga.”
“Baik.”
“Gue sudah telepon polisi tadi, waktu Aron di lobi.” Lucas menggulirkan layar ponselnya dengan satu jari dan menyipitkan mata. “Sekarang gue telepon Pak Harun juga. Pengacara kita nggak boleh tidur duluan.”
Gisel menghela napas panjang dan memeluk tasnya. Di belakangnya, Gladys sudah duduk di tepi tempat tidur kamar 1208 dengan kedua tangan terlipat di pangkuan, tidak berani menatap siapa pun.
Lucas menurunkan ponselnya dan menoleh pada Evan, yang berdiri setengah langkah di belakang Nadia. “Pertanyaan saya belum dijawab. Kamu ngapain di lantai ini?”
“Mencari Nadia, Pak.” Evan menjawab tanpa jeda. “Katanya ada perubahan susunan acara. Saya salah dengar. Maaf.”
“Salah dengar,” ulang Lucas datar. Dia tidak menuduh. Dia hanya mengangguk sekali, pelan, seperti orang menyimpan angka ke dalam kepala.
Nadia merasa seperti satu-satunya orang yang tidak punya tugas. Dia melirik Felix, dan Felix balas menatapnya, singkat dan terang.
“Nad. Pulang bersama Anggit. Besok pagi datang ke mansion. Kita bicara semuanya. Saya tidak akan menyembunyikan apa pun.”
Nadia mengangguk. Tidak ada kata lain yang keluar dari tenggorokannya.
Di lobi bawah, Anggit dan Anet menunggu di dekat pintu putar dengan wajah cemas. Anet langsung meraih tangan Nadia begitu dia keluar dari lift.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Kak. Cuma lemes.” Nadia memaksakan senyum. “Gue baru tau pesta kantor bisa selengkap sinetron.”
“Ini bukan sinetron,” kata Anggit pelan. Dia menyerahkan kunci mobil ke Anet dan menggamit lengan Nadia. “Ayo pulang. Mas Evan tadi turun duluan, katanya mau nganterin lo pulang. Gue bilang lo udah dijemput taksi.”
“Hah? Kok bohong?”
“Gue males aja.” Anggit mengangkat bahu. “Dia kayaknya terlalu sering nongol malam ini.”
Nadia membuka mulut untuk membantah, tetapi tidak menemukan alasannya.
***
Grup kantor masih ramai ketika taksi Nadia berhenti di depan gerbang mansion Felix keesokan paginya. Dia menatap layar ponselnya sekali lagi, untuk entah ke berapa kalinya sejak bangun.
“Itu yang di meja utama kan? Katanya teman lama Pak Felix.”
“Teman lama kok dipegang-pegang?”
“Jangan nyebar dulu, belum jelas.”
“Eh, Pak Felix itu bukannya nggak punya pacar?”
“Nadia magang jangan-jangan tau nggak ya?”
Nadia menekan tombol kunci layar. Menarik napas panjang. Gerbang besi hitam itu terbuka otomatis saat penjaga mengenalinya, dan dia melewati jalan setapak berpaving menuju pintu depan dengan langkah yang dia paksakan tidak ragu.
Felix sendiri yang membuka pintu. Dia memakai kaus polos dan celana panjang rumah, rambutnya belum disisir. Kantung hitam di bawah matanya jelas, tanda tidur yang tidak nyenyak.
“Kamu datang.”
“Aku bilang bakal datang.” Nadia melewatinya masuk. “Mana sarapan? Tanya langsung itu butuh tenaga.”
Sudut bibir Felix naik tipis. “Dapur.”
Di dapur, Felix menumis nasi dengan telur dan bawang putih sambil membelakangi Nadia. Aroma gurih langsung memenuhi ruangan. Nadia duduk di kursi tinggi di seberang meja pulau, memeluk lututnya sendiri.
“Kamu mau mulai dari mana?” tanyanya.
“Dari yang paling penting.” Felix mematikan kompor dan menaruh dua piring di meja. Dia duduk tepat di seberang Nadia. “Lucas sudah melapor ke polisi semalam. Pagi tadi dia juga bicara dengan Pak Harun, pengacara keluarga kami. Rere menelusuri nomor yang mengirim foto itu. Hasil sementara: nomor prabayar, tidak terdaftar atas nama siapa pun.”
“Jadi pengirimnya bisa siapa aja.” Nadia menggigit bibir. “Semalam Mas Evan bilang kamu minta susunan acara. Kayaknya dia salah dengar, ya?”
Felix berhenti sebentar dengan sendok di tangan. “Mungkin.” Hanya itu, tetapi alisnya bertaut sedikit sebelum dia kembali ke piringnya.
“Soal nomor itu belum bisa dipastikan.” Felix menyodorkan sendok. “Makan dulu.”
Nadia menyuap dua kali, mengunyah, lalu berhenti. “Terus Tante Gladys gimana? Dia kan dulu numpang di rumah Papah.”
“Papah kamu menelepon saya subuh tadi.” Felix mengusap tengkuknya. “Beliau menolak Gladys kembali ke rumah. Aron tahu alamat itu, dan beliau tidak mau Mamah kamu atau kamu berada di satu atap dengan masalah ini. Saya mengerti.”
“Terus Tante Gladys tidur di mana?”
“Di sini. Sayap tamu.” Felix menatap piringnya. “Mamah yang memutuskan. Seperti kamu tahu, Mamah biasanya tinggal di luar Jakarta. Tapi selama Aron berkeliaran, Mamah menunda pulang. Mungkin lima bulan, mungkin lebih. Beliau meminta Gladys tinggal di sini supaya tetap dalam pengawasannya.”
Nadia berhenti mengunyah. Sendoknya menggantung di udara. “Dalam pengawasannya. Bukan karena Tante Mamah percaya sama dia?”
“Mamah tidak mempercayainya.” Felix mengangkat bahu. “Mamah hanya tidak mau terjadi sesuatu pada orang yang pernah dekat dengan keluarga kita, dan tidak mau Gladys sendirian di tempat Aron bisa mencarinya.”
Hening. Hanya terdengar dentingan jam dinding dan suara burung di taman.
Nadia menaruh sendoknya perlahan. “Felix. Boleh aku ngomong sebagai orang dewasa, bukan sebagai pacar yang merajuk?”
Felix mengangkat alis. “Silakan.”
“Aku nggak minta Tante Gladys diusir ke jalan. Aku bukan orang kayak gitu.” Nadia mengangkat jari satu per satu. “Tapi ada syarat. Satu, kamu cerita semuanya tentang Tante Gladys. Dari awal, nggak ada yang disisipin atau disembunyiin. Aku mau tahu dia siapa buat kamu dulu dan sekarang.”
“Setuju.”
“Dua, aku boleh datang ke sini kapan pun. Tanpa izin, tanpa janji dulu, tanpa diantar-jemput. Ini rumah pacarku, bukan istana.”
“Setuju.”
“Tiga, Tante Gladys harus punya rencana pindah sendiri. Bukan buat selamanya di sini. Aku nggak tega, tapi aku juga nggak mau tiap pulang kerja ketemu dia di ruang tamu kamu.”
Felix terdiam lebih lama kali ini. Dia menatap Nadia seolah baru pertama kali melihatnya dari sudut itu: duduk tegak, dagu terangkat sedikit, jari-jarinya masih terangkat di udara.
“Setuju,” katanya akhirnya. “Semuanya.”
Nadia menurunkan tangan. Dia menarik napas panjang seperti baru turun dari tali yang menegang. “Oke. Aku cuma… aku takut juga, tau. Semalam di lorong itu aku takut banget.”
“Saya tahu.”
“Tapi aku inget janjiku, jadi aku tanya.”
“Saya juga ingat.” Felix mengulurkan tangan melintasi meja dan menyentuh punggung tangan Nadia sebentar. “Kamu bertumbuh, Nad.”
“Jangan puji aku, nanti aku besar kepala.”
“Kepalamu sudah besar dari dulu.”
“FELIX!”
Dari ambang pintu dapur terdengar dehaman kecil. Gisel berdiri di sana dengan daster rumah bermotif bunga dan kacamata di ujung hidung, mengamati keduanya dengan wajah tertahan-tahan geli. “Tante tidak mengganggu, kan? Tante cuma mau ambil kopi.”
“Tante Mamah,” kata Nadia, pipinya panas. “Pagi.”
“Pagi, bocah nakal. Itu nasi gorengnya masih ada?” Gisel mengintip piring Nadia. “Ya ampun, banyak sekali. Bagus, makan yang banyak.”
Dari balik pintu dapur yang terbuka, Nadia sempat melihat Gladys melintas di lorong membawa nampan berisi teh. Rambutnya diikat seadanya dan wajahnya tanpa riasan. Dia berhenti sebentar, menunduk sopan ke arah dapur, lalu berjalan lagi tanpa suara.
“Kalau kamu mau bicara dengannya,” kata Felix pelan, “saya temani.”
Nadia memandang pintu kosong itu agak lama. “Nanti. Bukan hari ini. Aku masih kenyang sama nasi goreng.”
“Itu bukan alasan.”
“Itu alasan paling jujur yang aku punya.”
Ponsel Felix bergetar di meja. Dia melirik layar, membaca, lalu mengangkatnya supaya Nadia ikut melihat.
Pesan dari Lucas: Senin pagi jam 8 ruangan gue. Lo dan Nadia. Foto itu udah sampai di meja gue.