Dua hari Nadia mematikan notifikasi grup kantor dan memaksa diri tidak membuka ponsel sebelum makan. Tidak berhasil. Pagi itu, pukul delapan kurang lima, dia berdiri di depan pintu ruangan Lucas dengan perut kosong dan jantung berlari.
Di sebelahnya, Felix berdiri dengan setelan abu-abu dan wajah yang tidak bisa dibaca. Mereka datang dari arah lift yang berbeda, sengaja, tetapi bertemu di depan pintu yang sama dengan tatapan yang sama: pasrah.
“Masuk,” kata suara dari dalam.
Lucas duduk di balik mejanya dengan tangan terlipat. Sebotol sanitizer besar berdiri di sudut meja seperti penjaga. Satu lembar cetakan foto tergeletak di tengah, menghadap ke pintu: Felix di ambang pintu 1208, tangannya di bahu Gladys.
“Duduk,” kata Lucas. “Jangan sentuh gagang kursinya, saya sudah lap.”
Nadia dan Felix duduk berdampingan. Lucas menatap mereka bergantian, lama, dengan wajah yang sama seperti ketika dia menghitung sisa kuman di mouse komputer.
“Pertama.” Lucas menepuk foto itu dengan ujung pulpen. “Saya tidak peduli siapa yang memotret ini. Itu urusan Rere dan polisi. Yang saya peduli: ada ratusan karyawan yang sekarang punya dua ruang di kepala mereka. Ruang pertama untuk pekerjaan, ruang kedua untuk gosip. Saya tidak suka ruang kedua.”
“Gue yang klarifikasi, Lucas,” kata Felix.
“Nggak perlu. Biar gue yang atur.” Lucas beralih menatap Nadia. “Nadia.”
“Ya, Pak.” Nadia menegakkan duduk.
“Kamu pikir saya baru tahu hari ini?”
Nadia berkedip. “Tahu… apa, Pak?”
“Tentang kalian berdua.” Lucas menunjuk Felix dan Nadia dengan pulpen, dua kali, seperti mencentang daftar. “Saya sudah tahu sejak hari pertama saya ambil alih kantor ini. Sejak saya bertemu kamu di toko fotokopi, lalu melihat kamu menyelinap masuk ke ruangan pemilik perusahaan dengan wajah seperti pencuri kue.”
“Tapi, Pak…”
“Dan sejak itu saya diam saja.” Mata Lucas menyipit puas. “Sambil menonton kamu mengumpat saya di depan saya sendiri. Pak Kuman. Pak Sanitizer. Setan Kebersihan. Oh, ini favorit saya: Bos Gerbang Neraka yang Wangi.”
Hening sepersekian detik. Felix menunduk, bahunya bergetar, menahan sesuatu yang kemungkinan besar tawa.
“Itu…” Nadia menelan ludah. “Itu terjemahan bebas, Pak. Maksud saya artistik.”
“Saya sudah tahu.”
“Saya minta maaf.”
“Kamu tidak perlu minta maaf. Saya senang.” Lucas menyandarkan punggung. “Yang perlu kamu ingat: pangkat dan hubungan tidak menurunkan standar saya. Foto ini tidak mengubah apa pun. Kamu masih magang. Pekerjaanmu masih saya nilai dengan penggaris yang sama.”
“Siap, Pak.”
“Kuman gosip tidak dibersihkan dengan klarifikasi. Kuman gosip dibersihkan dengan hasil kerja.” Lucas meraih map di sisi meja dan meletakkannya di depan Nadia. “Empat minggu lagi, Sra. Manriko datang ke sini untuk penandatanganan kontrak golf. Kamu pegang seluruh dokumen dan terjemahannya. Bersama saya, bukan Felix.”
Nadia membuka map itu. Tumpukan kertas berbahasa Spanyol dan Inggris menatap balik dari sana. “Seluruhnya, Pak? Saya?”
“Kamu.”
“Tapi saya nggak bisa Spanyol.”
“Belajar.” Lucas mengangkat satu jari. “Taruhannya: kalau kontrak ini selesai dengan baik, magangmu saya perpanjang dan saya tulis rekomendasi. Kalau gagal, selesai.”
Nadia memeluk map itu seperti perisai. “Pak… berat banget.”
“Karena itu saya menawarkannya.” Lucas beralih menatap Felix. “Dan lo, Felix. Jangan bantu. Tidak di jam kerja. Tidak dengan terjemahan, tidak dengan saran, tidak dengan membawakan makan siangnya. Kalau lo bantu, gue anggap taruhannya batal dan nilainya nol.”
Felix menghembuskan napas pendek. “Gue ngerti.”
“Pak,” kata Nadia sebelum berdiri. Suaranya lebih kecil dari yang dia inginkan. “Kalau Bapak sudah tahu dari awal, kenapa diam saja? Bapak kan bisa langsung lapor ke… siapa saja.”
Lucas memutar pulpen di jarinya. “Karena yang saya nilai itu pekerjaan, bukan siapa yang kamu cintai. Dan saya punya rumus sendiri.” Dia menatap Nadia lurus. “Orang yang punya jalan pintas biasanya memakainya. Kamu malah merevisi laporan tiga kali di depan saya sambil mengumpat, dan tidak sekali pun mengadu ke Felix. Saya menghormati itu. Sedikit.”
“Sedikit?”
“Sedikit sekali. Jangan GR.” Lucas menunjuk pintu. “Bagus. Bubar. Cuci tangan dua puluh detik sebelum keluar.”
***
Di luar, lantai tiga sudah ramai. Karyawan-karyawan berdiri di dekat papan pengumuman dengan wajah ingin tahu, dan begitu Nadia lewat, sebagian buru-buru pura-pura membaca sesuatu. Seorang rekan di kubikel dekat jendela menyenggol temannya, lalu keduanya menunduk ke layar komputer seolah tiba-tiba menemukan angka yang menarik.
Nadia berjalan tegak, mengabaikan semuanya, memegang map seperti memegang paspor.
“Nad.”
Rere muncul di sisinya dengan tablet. Dia tidak memandang Nadia, melainkan lurus ke depan, seperti sedang melaporkan sesuatu kepada orang yang sama sekali bukan Nadia. “Nomor pengirim foto sudah tidak aktif sejak semalam pukul sebelas. Untuk sementara buntu.”
“Terus gimana?”
“Pak Lucas minta saya tetap telusuri lewat jalur lain. Itu saja yang bisa saya sampaikan.” Rere berhenti sebentar. “Satu lagi. Di papan sebelah sana ada pengumuman dari Bu Wati, kepala HRD. Sudah dicetak dan dipasang pagi ini.”
Nadia menghampiri papan itu. Selembar kertas putih dengan kop perusahaan, tulisan hitam tegas:
Kepada seluruh karyawan, harap menghentikan penyebaran foto dan komentar pribadi mengenai rekan kerja di grup atau media apa pun. Pelanggaran akan ditindaklanjuti sesuai peraturan perusahaan.
Di bawahnya, tanda tangan seorang wanita bernama Wati dengan tinta biru.
“Wah,” gumam Nadia. “Tegas juga.”
“Beliau kepala HRD yang adil,” kata Rere, lalu pergi secepat datangnya.
“Mbak Nadia!” Seorang rekan perempuan berbisik dari kubikel seberang. “Itu bener Pak Felix sama…”
“Yang bener itu,” kata Nadia sambil menunjuk papan pengumuman, “baca dulu pengumuman Bu Wati baik-baik. Sampai habis. Dua kali.”
Rekan itu menciut ke kursinya.
“Nadia!” Bu Nara muncul dari balik partisi dengan alis setajam biasanya dan map di dada. “Kamu ke mana saja? Briefing divisi sudah dimulai dua puluh menit lalu.”
“Briefing?” Nadia mengerjap. “Bu, tadi pagi nggak ada pemberitahuan.”
“Oh.” Bu Nara berhenti. Alisnya turun satu milimeter. “Saya lupa memberi tahu, ya. Ya sudah, dengarkan nanti dari Mbak Arsa. Intinya: jangan ada yang bicara soal foto itu di divisi ini.”
“Baik, Bu.”
“Dan bawa dokumen itu ke mejamu, jangan berdiri seperti itu. Orang mengira kamu mau lari.” Bu Nara menghilang lagi di balik partisi.
Nadia menarik napas panjang lalu duduk di kursinya. Dia membuka laci mejanya, mengeluarkan tiga map kosong, dan menempelkan satu per satu label kecil bertuliskan KONTRAK MANRIKO. Lalu dia memotret semua halaman dokumen itu dengan ponsel, mengirimnya ke printer kantor, dan mencetak satu rangkap, dua rangkap, tiga rangkap.
“Nad, itu buat apa tiga?” bisik Anggit yang lewat membawa kopi.
“Kontrak ini taruhan hidup mati gue. Kalau satu hilang, gue masih punya dua.”
“Kebiasaan jelek yang berguna.”
“Gue sebut itu strategi.”
Pesan Felix masuk pukul empat sore, pendek seperti biasa: Les Spanyol malam ini, pukul tujuh, di mansion. Jangan terlambat. Nadia membalas dengan satu kata, Siap, dan sisa sorenya dia habiskan menyalin klausul tanpa benar-benar membacanya.
Pukul enam lewat lima puluh, taksi Nadia berhenti di depan gerbang mansion. Dia turun dengan map tiga rangkap di dada, catatan klausul di kantong jaket, dan perut yang sudah mengirim protes sejak jam makan siang.
Pintu kecil di samping gerbang terbuka sebelum bunyi bel habis. Felix berdiri di baliknya dengan lengan kemeja digulung dan spidol hitam terselip di telinga.
“Kamu datang sepuluh menit lebih awal,” katanya.
“Kamu yang nyuruh jangan terlambat.”
“Saya tidak menyuruh datang sebelum waktunya.” Sudut bibirnya nyaris bergerak. “Masuk. Kita mulai dari ‘selamat sore’. Kamu akan mengucapkannya seratus kali.”
Nadia menatap spidol di telinganya, lalu map di dadanya. “Seratus tiga rangkap?”
“Satu rangkap saja. Saya yang akan menghitung.”