“Ulangi.”
“Bu-enas ta-r-des.”
“Buenas tardes. Hurufnya ‘u’ dan ‘e’ nyambung. Jangan dipenggal seperti kamu sedang mengeja nomor antrean.”
Nadia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ruang kerja Felix di lantai bawah mansion penuh rak buku, satu meja panjang, dan satu papan tulis putih kecil yang entah sejak kapan diseret keluar dari gudang. Di papan itu sudah tertulis tiga kalimat Spanyol dengan spidol hitam, dan tiga kali Nadia gagal membacakannya dengan benar.
Pukul tujuh lewat dua puluh. Felix berdiri di depan papan dengan lengan kemeja digulung sampai siku, wajah serius seperti seorang jenderal yang sedang mengajar perang. Di tangannya ada penunjuk laser yang sama sekali tidak diperlukan.
“Sekali lagi. Buenas tardes (selamat sore).”
“Buenas tardes,” kata Nadia dengan percaya diri yang dibuat-buat.
“Bagus. Berikutnya. Mucho gusto (senang berkenalan).”
“Mucho gosto.”
“Gus-to. Bukan gosong.”
“Tapi kedengarannya enak. Gosto. Kayak sate.”
“Nadia.”
“Iya, iya.” Nadia menegakkan duduk. “Eh, tapi Felix, bukannya tadi pagi Pak Lucas bilang kamu nggak boleh bantu?”
“Di jam kerja.” Felix tidak berpaling dari papan. “Sekarang pukul tujuh malam, di rumah saya, dan Lucas tidak pernah menyebut rumah. Itu celahnya.”
“Licik.”
“Teliti.”
“Mucho gusto,” ulang Nadia cepat-cepat, dan kali ini hampir benar.
Felix mengangguk sekali, nyaris tak kelihatan. “Hampir. Ucapkan lagi, pelan. Lidahmu menyentuh langit-langit, bukan gigi.”
“Kamu galak banget kalau ngajar. Kamu tau nggak?”
“Kamu kalau belajar juga tidak serius.”
“Aku serius. Cuma bibirku belum ngerti kamu.” Nadia mengangkat dagu. “Lagian empat minggu lagi aku ngomong sama klien. Nanti dia salah paham, dikira aku nawarin sate.”
Sudut bibir Felix berkedut. Dia cepat-cepat menunduk menatap papan, menyembunyikan itu. “Lanjut. El contrato (kontraknya).”
“El contrato.”
“Tepat. La firma (tanda tangan).”
“La firma.”
“Bagus. Dan kalimat terakhir: ¿Puede repetir, por favor? (Bisa diulang, tolong?)”
Nadia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. “Aku… boleh nyerah sampai di sini?”
“Tidak.”
“Aku mau pipis.”
“Kamu tadi sudah ke toilet.”
“Aku mau pipis lagi.”
Felix menurunkan penunjuk lasernya. Dia berjalan ke kursi di sebelah Nadia dan duduk, hal yang jarang dia lakukan saat sedang marah, lalu menarik buku catatan kecil dari saku kemejanya. “Dengar. Kamu tidak perlu fasih. Kamu perlu berani bicara. Klien itu lebih menghargai orang yang salah tapi mencoba daripada orang yang diam dan sempurna.”
“Itu dari pengalaman?”
“Itu dari Sra. Manriko. Dia pernah bilang itu dua kali waktu kontrak pertama kami.”
Nadia tersenyum miring. “Jadi kamu tuh bisa ngomong panjang kalau lagi mau.”
“Hanya soal pekerjaan.” Felix kembali berdiri dan mengetuk papan. “Ulang dari awal.”
Nadia mengerang, tetapi berdiri juga. Pukul delapan lewat sedikit, dia nyaris hafal tiga kalimat itu, kecuali bagian akhir.
Felix menurunkan pandangannya sebentar ke jam tangan, lalu ke Nadia, yang kini bersandar di meja dengan mata setengah tertutup. “Kamu mengantuk.”
“Nggak.”
“Kamu menguap.”
“Itu napas dalam.”
“Itu menguap yang kamu tahan.”
“Bukan, itu latihan pernapasan buat ujian lisan.”
Felix mengusap wajahnya dan menahan senyum untuk kedua kalinya malam itu. Dia menghela napas panjang, bukan marah, tetapi lelah dengan cara yang nyaris lucu. Nadia menyeringai dan menyandarkan dagu ke meja, memandangi punggung pria itu yang kembali menulis di papan tulis dengan huruf rapi.
Dari ambang pintu terdengar ketukan halus.
“Permisi.”
Gladys masuk membawa nampan kayu berisi dua cangkir teh dan sepiring biskuit kecil. Dia berhenti satu langkah di dalam ruangan, menunduk. “Maaf mengganggu. Bu Gisel meminta aku membawakan teh. Katanya orang belajar bahasa asing butuh yang hangat.”
“Taruh saja di meja,” kata Felix tanpa menoleh.
Gladys meletakkan nampan di ujung meja yang paling jauh dari Nadia, mengatur cangkir-cangkir itu satu per satu dengan gerakan hati-hati. Aroma melati menyebar pelan.
“Makasih, Tante Gladys,” kata Nadia setelah jeda yang agak terlalu lama.
“Sama-sama, Nad.” Gladys tersenyum kecil, lalu keluar tanpa suara.
Nadia menatap pintu yang menutup pelan itu. Felix, di sebelahnya, tidak berkomentar dan sibuk menulis sesuatu di buku catatan, seolah tidak ada yang lewat barusan. Dia meraih cangkir dan menyesap tehnya. Enak. Tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. Itu yang membuatnya sedikit kesal.
Pukul sembilan kurang sepuluh, Gisel muncul di ambang pintu dengan daster batik dan kacamata di dahi. Dia mengetuk kusen pintu dua kali dengan buku jarinya.
“Sudah. Cukup.”
“Mamah, belum…”
“Belum apa? Belum jam sembilan, tapi anak magang butuh tidur supaya besok tidak salah cetak dokumen.” Gisel menuding jam dinding. “Les selesai tepat jam sembilan. Itu peraturan rumah ini mulai malam ini. Mengerti, Felix?”
“Mengerti.”
“Dan kamu, bocah nakal, jangan pulang sebelum makan kue yang Tante simpan.”
“Siap, Tante Mamah.”
***
Teras belakang mansion Felix menghadap kolam kecil dengan lampu taman yang berpendar kuning pucat. Nadia berdiri di tepi teras dengan sepiring kue sus di tangan, sengaja menjauh dari dalam rumah supaya bisa mengunyah dengan tenang sebelum pulang.
“Nad.”
Nadia nyaris tersedak krim. Dia menoleh. Gladys berdiri di pintu kaca, cahaya dari dalam menyorot siluet tubuhnya yang ramping. Wajahnya tak terlihat jelas, tapi suaranya terdengar jelas.
“Aku tidak akan lama,” kata Gladys. “Aku hanya ingin mengatakan satu hal.”
Nadia menaruh piringnya di pagar teras. Sikapnya waspada, tetapi tidak menutup diri. “Silakan, Tante.”
Gladys menarik napas pelan, seperti memilih kata-kata yang paling pendek. “Aku tidak datang untuk merebutnya. Aku tidak punya siapa-siapa.”
Hening. Jangkrik di taman berbunyi beberapa kali.
Nadia membuka mulut, tapi tidak ada yang keluar. Dia mencari kemarahan di dalam dirinya, yang selama ini mudah ditemukan setiap kali nama Gladys disebut. Anehnya, kemarahan itu tidak ada di tempat biasanya.
“Tante…”
“Itu saja.” Gladys menunduk sedikit. “Selamat malam.”
Dia masuk dan menutup pintu kaca dengan hati-hati. Nadia tinggal sendirian di teras dengan sepiring kue sus yang mulai melembek dan kepala yang penuh pertanyaan. Dia ngomong gitu buat apa? Jujur? Pencitraan? Nadia menggeleng. Dia terlalu kenyang untuk menimbang-nimbang. Dia mengambil kuenya lagi dan menggigit separuhnya dengan gusar. Kalau Gladys benar sebatang kara, dia bisa membayangkan sendiri rasanya: rumah besar, lampu terang, dan tidak ada satu pun orang yang benar-benar menunggu. Pikiran itu membuatnya tidak nyaman, bukan karena dia iba, tapi karena dia tidak mau iba pada orang yang pernah membuatnya menggigit tangan.
“Bingung banget gue,” gumamnya dengan mulut penuh.
Setengah jam kemudian, Nadia turun dari taksi di depan apartemen dan naik lift sambil menenteng tas dan kantong kecil berisi kue titipan Gisel. Lampu lorong lantainya redup. Dia hampir melewati unit A dengan langkah ngantuk, ketika pintu unit B terbuka dan kepala Anggit menyembul dengan masker wajah putih.
“Nad! Itu paket udah dari sore nangkring di depan pintu lo. Gue kira bom.”
“Lo ngapain pake masker wajah?”
“Perawatan. Janda apartemen lebih suka pria kinclong.”
“Anet itu janda apartemen lo, bukan janda bohay yang lo cari di pasar.”
“Diem lo.” Pintu unit B menutup lagi. Nadia terkekeh, lalu kakinya membentur sesuatu di depan pintu.
Sebuah bungkusan.
Nadia berjongkok. Bungkusan itu dibungkus kertas cokelat polos dengan pita biru tua, rapi sekali, seperti baru keluar dari toko buku mahal. Dia menariknya pelan. Di dalamnya ada sebuah kamus Spanyol-Indonesia bersampul keras, tebal, dengan penanda halaman berwarna merah. Di bagian dalam sampul terselip kartu kecil bertinta hitam.
Semoga membantu urusan kontrakmu. — Evan
Nadia memandangi kartu itu lama.
“Kontrak yang mana?” bisiknya. Dia baru diberi tugas itu pagi tadi di ruangan Lucas, dan seingatnya belum ada satu pun pengumuman yang menyebut namanya.