Kamus dari Evan dia bawa ke kantor, bukan karena dia mau berterima kasih, tetapi karena kamus setebal itu terlalu mahal untuk dibiarkan nganggur di rumah.
Satu hal tidak ikut dia taruh di laci: pertanyaan kemarin, kontrak yang mana. Semalam dia mengetiknya di catatan ponsel dengan huruf besar, EVAN TAHU DARI MANA, lalu memutuskan menyimpannya dulu. Satu-satunya cara bertanya adalah bertanya pada Evan, dan itu persis hal yang paling tidak ingin dia lakukan.
Pagi itu Nadia berjalan cepat menuju toko fotokopi di seberang kantor. Pintu kacanya penuh stiker tarif, dan di balik mesin besar yang berdengung, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang menyusun kertas dengan gerakan hafal.
“Neng Nadia!” Abang mengangkat tangan. “Balik lagi? Mesin di kantor akhirnya rusak total, ya?”
“Antre, Bang. Antre terus. Lagian saya lebih suka ke sini, lebih cepat.” Nadia meletakkan kamus di meja kaca. “Saya mau gandain bagian-bagian ini. Dua belas halaman, tiga rangkap.”
“Siap.” Abang membuka buku besar bersampul cokelat yang sudah kumal di samping mesin, mencelupkan ujung pulpen ke lidahnya, lalu menulis dengan huruf miring yang rapi. “Delapan lewat dua puluh. Neng Nadia. Dua belas lembar, tiga rangkap. Gitu ya.”
“Abang masih nyatet semuanya?”
“Kalau nggak dicatet, besok Abang lupa siapa yang belum bayar.” Abang menunjuk halaman penuh coretan. “Jam, nama, jumlah. Dulu ada pelanggan bilang fotokopinya cuma lima lembar padahal lima puluh. Abang buka buku, ketahuan.”
“Hebat. Abang kayak notaris.”
“Notaris kertas.” Abang tertawa sambil menekan tombol. Lampu mesin menyapu halaman demi halaman. “Eh, Neng. Si Akang galak yang dulu rebutan mesin sama Neng, masih suka ketemu?”
Nadia mengerang. “Bang, jangan ingetin. Ternyata Akang galak itu bos baru saya.”
“Hah?” Abang menahan lembaran yang baru keluar. “Yang pakai tisu buat megang gagang pintu?”
“Yang itu. Sekarang saya jadi asisten dia.”
Abang tertawa begitu keras sampai kacamatanya turun. “Neng, kalau gitu bawa aja stok tisu dari sini, Abang kasih gratis. Siapa tahu bikin dia kasihan.”
“Dia nggak kasihan, Bang. Dia cuma nyuruh saya cuci tangan dua puluh detik.”
“Bagus. Orang bersih rezekinya bersih.” Abang menyerahkan tiga tumpuk kertas hangat itu. “Delapan ribu, Neng.”
Nadia membayar, memeluk hasil fotokopi, dan melangkah keluar toko dengan hati lebih ringan dari saat masuk. Mesin berdengung lagi di belakangnya.
***
Sandra menunggu di dapur ketika Nadia masuk lewat pintu samping, sendirian, setengah jam sebelum Felix tiba. Dia sedang menata puding di piring kaca, dan tanpa menoleh dia berkata, “Kamu sengaja datang lebih dulu supaya tidak ketahuan gugup, ya?”
“Kok Mamah tau?”
“Karena Mamah dulu begitu waktu mau kenalan sama Mbah Kakung.” Sandra mengelap tangan dan menatap putrinya. “Nanad, Papah kamu cuma takut. Dia tidak marah pada Felix. Dia marah karena melihat anaknya dua tahun tidak boleh bilang sayang di depan orang lain.”
“Tapi aku yang setuju backstreet, Mah.”
“Kamu setuju karena kamu cinta. Itu beda dengan hubungan yang sehat.” Sandra menyentuh pipi Nadia dengan punggung jarinya. “Pokoknya malam ini kamu jangan ikut membela terlalu cepat. Biar Felix sendiri yang bicara.”
“Kalau Papah galak banget?”
“Papah memang galak. Tapi pudingnya enak. Kamu tahu kan cara Mamah menyelesaikan masalah.”
Nadia menyengir. Itu satu-satunya hal yang membuatnya sanggup berjalan ke ruang makan.
Mansion keluarga Bramantyo malam itu terang benderang. Meja makan panjang sudah tertata lengkap, lilin kecil di tengahnya, dan Sandra duduk di ujung dengan senyum yang terlalu manis untuk disebut santai.
Bram duduk di kepala meja. Setelan batik, kacamata baca di dahi, tangan terlipat di atas taplak. Di seberang Nadia, Felix duduk lurus seperti prajurit menghadap komandan, dan di sebelah Felix, Edgar sibuk memotong ayam dengan ketenangan orang yang sudah menebak apa yang akan terjadi.
“Jadi,” kata Bram.
Satu kata, dan seluruh meja terdiam.
“Felix.” Bram melepas kacamatanya dan menaruhnya di meja. “Papah tidak akan bertele-tele. Papah tahu kalian berpacaran. Mamah tahu. Orang tua kamu tahu. Kami semua tahu, dan Papah tidak keberatan. Tapi Papah baru tahu dari foto itu bahwa di kantor, tidak ada satu orang pun yang tahu.”
“Pah,” bisik Nadia.
“Biarkan Papah selesai.”
Felix mengangguk. “Silakan, Om.”
“Sudah dua tahun.” Bram menunjuk dengan telunjuk. “Dua tahun anak Papah berangkat kerja, pulang kerja, makan siang di kantin sendirian, sementara pacarnya adalah pemilik gedungnya. Apa itu yang kamu sebut menghormati anak saya?”
“Bukan menghormati yang saya maksud, Om.” Suara Felix tenang, tetapi punggungnya tidak bersandar sedikit pun. “Waktu itu saya memintanya sukses dulu. Saya tidak ingin dia diperlakukan sebagai pacar bos. Saya ingin dia dinilai sendiri.”
“Dan dalam dua tahun itu, kamu tanya dia mau atau tidak?”
Felix terdiam. Nadia menunduk ke piringnya, tidak berani melirik siapa pun.
“Tidak,” kata Felix akhirnya. “Saya tidak bertanya. Saya memutuskan sendiri, dan itu salah saya.”
Bram mengangkat alis. Dia tidak menduga jawaban sejujur itu, dan kerutan di dahinya sedikit mengendur sebelum kembali mengeras.
“Mas,” kata Sandra lembut. “Makanannya mulai dingin.”
“Mah, Papah sedang bicara.”
“Ya, Mas bicara. Dan Mamah ingin Felix makan sambil menjawab. Orang menjawab lebih baik kalau perutnya terisi.”
“Itu teori dari mana?”
“Dari menikahi Mas sejak sebelum Nanad lahir.”
Edgar tersedak ayam. Nadia menutup mulut dengan serbet untuk menyembunyikan tawa yang nyaris pecah. Bram mengangkat alis dan menarik napas panjang, tetapi tidak membantah.
Edgar menaruh garpunya. Dia membersihkan tangan dengan serbet dan menatap kakak iparnya. “Mas Bram. Boleh saya ngomong?”
“Tidak.”
“Tetap saya omongin.” Edgar tersenyum ringan, lalu menoleh pada Felix. “Felix, dengar. Dulu saya bilang ke Nanad, melakukan yang terbaik untuk orang yang kita cintai itu seperti sulap. Orang cuma melihat kelincinya keluar, nggak lihat latihan di belakangnya. Kamu sudah menyembunyikan latihan terlalu lama. Sekarang saatnya kelincinya keluar.”
“Edgar, kamu bicara soal kelinci di meja makan?” Bram menggeleng.
“Soal keberanian, Mas.” Edgar mengangkat bahu. “Cuma pakai kelinci supaya Nanad paham.”
“Uncle!” protes Nadia.
Sandra menyentuh lengan suaminya. “Mas. Anak kita sudah dewasa. Dia memilih. Yang bisa kita minta hanyalah supaya pilihannya tidak disembunyikan.”
Bram menatap istrinya lama, lalu menatap Felix. Ketika dia bicara lagi, nadanya lebih rendah, tetapi tidak lebih ringan.
“Felix. Papah tetapkan satu hal. Bos pengganti itu, Pak Lucas, pergi dalam enam setengah minggu, kata Nanad. Perpisahannya jatuh pada hari Jumat.”
“Betul, Om.”
“Pada hari itu, di depan seluruh karyawan, kamu akui Nadia sebagai pasanganmu. Terang-terangan, tanpa embel-embel. Kalau tidak,” Bram berhenti, “Nadia berhenti magang. Papah tidak mau anak Papah bekerja di tempat di mana dia harus berpura-pura bukan siapa-siapa.”
“Pah!” Nadia berdiri setengah dari kursi. “Itu… itu nggak adil! Aku magang karena aku mau!”
“Duduk, Nanad.”
“Tapi…”
“Saya terima.”
Dua kata itu keluar dari mulut Felix tanpa jeda, tanpa gentar. Semua kepala berputar padanya, termasuk Nadia, yang mendadak merasa lantai berguncang.
“Kamu… apa?”
“Saya terima, Om.” Felix menatap Bram lurus-lurus. “Pada hari itu, saya akan melakukannya.”