“Kamu serius?”
Nadia menahan suaranya supaya tidak terdengar sampai ke ruang makan. Mereka berdiri di teras samping mansion Bramantyo, di bawah lampu taman yang dikerubuti laron, sementara dari balik pintu kaca terdengar tawa Edgar dan dentingan sendok Sandra yang membagi puding.
“Saya serius.” Felix menyandarkan punggung ke pilar, tangan di saku celana, wajahnya sama datarnya dengan waktu dia mengatakan hal paling berani dalam hidupnya beberapa menit lalu. “Saya sudah bilang pada Om Bram.”
“Kamu bahkan nggak nanya aku dulu! Kamu langsung bilang saya terima, kayak lagi setuju beli kulkas!”
“Karena tenggat itu masuk akal.”
“Masuk akal buat siapa?”
“Buat kamu.” Felix menoleh. “Dua tahun, Nad. Kamu tidak pernah protes, tapi saya tahu kamu ingin berjalan di lorong kantor tanpa menengok dulu ke belakang.”
Nadia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia menyipitkan mata. “Kamu tahu terlalu banyak.”
“Saya memperhatikan.”
“Dan alasan kamu nyembunyiin? Kamu nggak mau jelasin juga?”
Felix terdiam cukup lama sampai satu laron jatuh di pundaknya. Dia menepisnya pelan. “Saya akan memenuhi tenggat itu. Itu janji saya pada Om Bram dan pada kamu. Alasannya… belum saatnya, Nad. Bukan karena saya tidak percaya padamu. Karena saya sendiri belum rapi menjelaskannya.”
Nadia mengamati wajahnya di bawah cahaya kuning itu. Ada garis halus di antara kedua alis yang biasanya tersembunyi di balik wajah dinginnya. Dia menghela napas pendek.
“Oke. Tapi suatu hari kamu jelasin.”
“Suatu hari.”
“Janji?”
“Janji.” Felix berhenti sebentar. “Besok malam kosongkan jadwalmu.”
“Hah? Les Spanyol?”
“Kita libur satu malam. Saya mau mengajakmu keluar.”
***
Mobil Felix melaju pelan di jalan yang basah, dan Nadia duduk di kursi penumpang dengan topi baseball kebesaran yang menutupi setengah wajahnya. Di dasbor tergeletak dua masker. Felix menyetir dengan satu tangan, tangan lain mengetuk-ngetuk setir seperti orang menghitung langkah.
“Kamu gugup,” kata Nadia.
“Saya tidak gugup.”
“Kamu ngetuk setir tiga ketukan, jeda, tiga ketukan. Itu gugup.”
“Itu ritme.”
“Ritme apa?”
Felix terdiam. “Lagu yang kemarin Edgar nyanyikan.”
Nadia terbahak sampai topinya melorot menutupi mata. Dia menariknya naik dan menatap Felix yang pura-pura fokus menyetir. “Kamu tau lagu Uncle? Yang sumbang itu?”
“Dia menyanyikannya sepuluh kali. Mau tidak mau terekam.”
Nadia menekan tombol radio, lalu mematikannya lagi karena Felix langsung mengerutkan kening pada dangdut yang keluar. Mereka berhenti di lampu merah. Lampu jalan memantul di kaca, di wajah Felix, di topi Nadia.
“Ini pertama kali kita keluar bareng tanpa pakai alasan kerja,” kata Nadia pelan. “Di luar apartemen, di luar kantor.”
“Saya tahu.”
“Aneh nggak?”
“Aneh.” Felix menoleh. “Tapi saya tidak keberatan.”
Lampu berubah hijau. Mobil melaju lagi.
***
Mereka memarkir mobil di lapangan kosong di belakang pasar. Nadia mampir membeli es teh di warung depan lapangan sementara Felix mengunci mobil. Topi hitam dan masker kain abu-abu: itu seluruh penyamaran Felix, dan Nadia hampir menjatuhkan es tehnya ketika berbalik dan melihat Felix berjalan ke gerbang pasar malam seperti bintang film yang kebingungan.
“Kamu kayak buronan,” bisik Nadia, menggandeng lengannya.
“Kamu bilang sendiri pakai masker.”
“Tapi aku nggak bilang pakai topi baseball dan kacamata hitam di malam hari, Felix.”
“Kacamatanya saya lepas.” Felix menunjuk saku kemejanya. “Karena tidak kelihatan jalan.”
Pasar malam itu penuh cahaya dan bau gorengan. Lampu warna-warni berkedip di tenda-tenda kecil, speaker menggelegar dangdut remix, dan anak-anak berlarian membawa balon karakter. Nadia menarik napas dalam-dalam, mata berbinar seperti anak kecil di depan etalase mainan.
“Lihat! Itu lempar gelang! Itu kerak telor! Itu… itu sate usus!”
“Jangan lari,” kata Felix.
“Siapa yang lari?”
“Kakimu.”
Nadia berhenti di depan stan lempar gelang. Seorang bapak berkaus oranye menyodorkan lima gelang plastik. Hadiahnya berderet di atas rak: boneka beruang jelek berwarna cokelat tua, boneka kelinci mata satu, dan sebuah boneka kodok raksasa yang tampak lebih mahal dari seluruh isi stan.
“Yang kodok itu,” kata Nadia sambil menunjuk. “Aku mau yang kodok.”
“Itu hadiah utama, Neng,” kata si bapak. “Susah banget.”
“Susah buat orang lain.”
Gelang pertama meleset. Kedua meleset. Ketiga menyangkut di ujung botol sebelah. Nadia menggulung lengan bajunya dan mengeluarkan suara seperti pegulat. Felix berdiri di belakangnya dengan tangan di saku, kaku seperti tiang listrik, memperhatikan kerumunan di sekitar mereka dengan mata waspada.
“Kamu terlalu tegang,” kata Nadia tanpa menoleh.
“Banyak orang.”
“Ini pasar malam. Memang banyak orang.”
Gelang keempat melayang tinggi, berputar dua kali, dan jatuh tepat di leher botol hijau di barisan belakang. Nadia terpekik. Si bapak melongo.
“Kodok!” teriak Nadia. “Kodok punyaku! Felix! Lihat!”
“Saya lihat.”
“Kamu tadi senyum!”
“Saya tidak senyum.”
“Maskermu bergerak!”
Si bapak menyerahkan kodok raksasa itu dengan wajah pasrah, dan Nadia langsung menjejalkannya ke pelukan Felix. “Bawain. Aku mau jajan.”
Felix menatap kodok itu, boneka hijau berbintik kuning dengan mata melotot, dan kodok itu menatap balik. “Saya tidak membawa boneka di tempat umum.”
“Kamu bawa. Kalau enggak aku bilang ke semua orang kamu CEO.”
Felix memeluk kodok itu lebih erat.
Di dekat tenda foto kilat, Nadia menarik tangan Felix dan mendorongnya ke kursi sempit di balik tirai biru. “Satu kali aja! Kita nggak punya foto berdua yang bisa dipajang!”
“Karena kita tidak boleh memajang.”
“Karena itu sekarang kita foto, nanti disimpan di dompet.” Nadia memasukkan uang ke mesin. Lampu kilat menyambar empat kali. Di foto pertama Felix menatap kamera seperti menatap pengacara. Di foto kedua kodok menutupi setengah wajahnya. Di foto ketiga Nadia mencium pipinya cepat-cepat, dan di foto keempat Felix, yang masih kaget, menoleh dengan mulut terbuka.
Nadia memegang strip foto itu dan terkekeh. “Ini langka. Kamu kelihatan manusia.”
“Hapus yang ketiga.”
“Nggak mau.”
“Nadia.”
“Satu lembar buat aku, satu lembar buat kamu. Kamu simpan di dompet. Kalau Pak Lucas nemu, bilang itu foto kolega.”
Felix menatap strip foto itu agak lama. Lalu dia melipatnya dengan sangat hati-hati dan memasukkannya ke dompet tanpa berkata apa-apa.
Pada tenda martabak, Nadia memesan dua porsi. Pada tenda sate usus, tiga tusuk. Pada tenda minuman, es cendol yang mengalir turun ke dagunya. Felix menurunkan maskernya ke dagu untuk menggigit satu tusuk sate, dan wajahnya berubah bingung seperti ilmuwan yang baru menemukan senyawa tak dikenal.
“Ini apa?”
“Usus ayam.”
“Kenapa renyah?”
“Karena digoreng. Enak, kan?”
“Mengerikan,” kata Felix pelan, lalu mengambil tusuk kedua.
Nadia terbahak. Dia baru hendak menyuapkan martabak ke mulut Felix ketika sebuah suara menyapa dari samping.
“Nad?”
Evan berdiri di samping tenda cendol dengan kaus abu-abu dan jaket tipis, tersenyum seperti biasa. Satu tangannya menenteng boneka kecil berbentuk kucing.
Nadia membeku, martabaknya masih setengah jalan. “Eh, Mas Evan. Kok di sini?”
“Kebetulan lewat. Saya sering ke sini kalau malam, cari makan.” Matanya bergeser sekilas ke Felix, yang segera menunduk memperbaiki topi. “Oh, kamu bersama teman?”
“Iya, temen, hehe.” Nadia menggaruk tengkuk. “Dia pemalu. Jangan ditanyain.”
“Tentu.” Evan menyodorkan kucing kecil itu. “Saya menang ini di stan sebelah tadi, tapi tidak tahu mau dikasih siapa. Untuk kamu saja.”
“Wah, makasih banyak, Mas.” Nadia menerimanya dengan senyum canggung. “Lucu banget.”
“Sampai ketemu di kantor.” Evan mengangguk pada Felix dengan sopan, kemudian berbalik dan menghilang di antara kerumunan.
Felix menatap punggungnya lama, topi menutupi separuh wajahnya, sorot matanya tajam seperti mata elang.
“Felix?”
“Saya tidak suka cara dia melihat kamu.”
Nadia menahan tawa, mengangkat boneka kucing itu di depan hidung Felix. “Cemburu?”
Hening sebentar. Dua anak berlari lewat sambil membawa kembang gula.
“Sedikit,” gumam Felix.
“Sedikit apa?”
“Banyak.”
Nadia tertawa terbahak dan menepuk lengannya. “Kamu lucu kalau cemburu, tau! Kayak kodok marah.”
Ponselnya bergetar di dalam tas. Dia merogoh sambil masih tertawa, lalu tawanya mereda ketika membaca nama pengirim di layar.
Mas Evan: Senin makan siang?