Di tengah keramaian pasar malam itu, Nadia menyodorkan layar ponselnya ke Felix, yang masih mengepit kodok raksasa di satu lengan. Felix membaca pesan Evan sekali. Rahangnya mengeras sedetik, lalu rata lagi. “Jawab dengan jelas, atau jangan jawab sama sekali,” katanya, pendek dan tanpa nada, lalu mengembalikan ponsel itu. Nadia, yang biasanya alergi disuruh, kali ini mengangguk.
Senin pagi, lima hari sesudahnya, Evan sudah menunggu di pantri lantai tiga dengan secangkir kopi dan satu pelajaran lafal yang tidak diminta. Pesan yang dia kirim hari Rabu belum juga Nadia balas.
“Bukan ‘ju-ntos’. J-nya dibaca seperti ‘h’ yang keras. Juntos.”
“Huntos.”
“Hampir. Sekali lagi.”
Nadia menekan cangkir kopi di antara kedua telapak tangannya dan menahan napas sebelum mengulang. Ruangan itu masih lengang. Lampu putih menyala redup, mesin kopi mendesis di sudut, dan Evan berdiri bersandar di meja dapur kecil dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku.
“Huntos.”
“Bagus.” Evan tersenyum. “Kamu cepat belajar.”
“Cepat salah, lebih tepatnya.” Nadia meneguk kopinya. “Mas Evan kok jago banget, sih? Pelafalannya mulus.”
“Dulu saya sempat kuliah pertukaran di Madrid, satu semester saja. Lidah saya dipaksa belajar.” Evan merogoh map tipis di bawah lengannya dan menyodorkan beberapa lembar kertas. “Saya sudah menyalin istilah-istilah kontrak yang sering muncul. Mungkin berguna. Gratis.”
Nadia menerima kertas itu. Tulisan tangan Evan rapi, huruf-hurufnya tegak, dengan terjemahan di sebelah kanan dan contoh kalimat di bawahnya. Satu halaman penuh hanya untuk kata-kata seperti cláusula, parte contratante, rescisión. Dia menelan kata terima kasih yang sudah di ujung lidah, lalu menggantinya dengan yang lebih sederhana.
“Terima kasih, Mas. Ini pasti berguna.”
“Sama-sama.” Evan memasukkan tangan ke saku. “Oh ya, soal pesan saya waktu itu. Senin makan siang bersama, jadi atau tidak?”
“Hari ini ya, Mas?”
“Hari ini.”
Nadia meletakkan cangkir dan menatapnya langsung. Ada saat singkat di dalam kepalanya ketika dia mempertimbangkan beberapa cara menolak yang paling halus. Lalu dia memilih yang paling jelas.
“Maaf, Mas. Aku nggak bisa makan siang bareng. Dan sebaiknya jangan diajak lagi.”
Senyum Evan tidak berubah. “Karena saya tidak sopan?”
“Karena aku nggak mau salah paham. Mas Evan baik banget sama aku, dan aku hargai. Tapi aku nggak ingin Mas berpikir aku membalas lebih dari yang aku bisa.” Nadia mengangkat dagunya, tangannya yang menggenggam kertas catatan itu sedikit gemetar. “Kalau catatan ini nggak enak, aku balikin.”
“Tidak perlu.” Evan menepuk map kosongnya. “Simpan saja. Saya mengerti.”
Dia berbalik dan keluar dari pantri dengan langkah ringan. Nadia berdiri di tempatnya sampai bunyi sepatu itu menghilang di lorong, lalu menghembuskan napas yang tadi dia tahan sejak lama. Kopinya sudah dingin.
Di lift, Anggit menyelinap masuk persis sebelum pintunya menutup. “Muka lo kayak abis ujian skripsi. Kenapa?”
“Gue nolak Mas Evan.”
“Nolak apa?”
“Makan siang. Dan gue minta dia berhenti ngajak.” Nadia menyandarkan kepala ke dinding lift. “Rasanya kayak ngusir kucing yang nggak salah apa-apa.”
“Kucing yang tiap malam ada di deket apartemen lo.” Anggit mengangkat alis. “Bagus. Sekali-sekali lo tegas. Gue ikut bangga.”
“Berisik.”
Ting! Pintu lift terbuka di lantai dua, tempat ruang rapat kecil menunggu. Anggit melangkah keluar lebih dulu sambil pura-pura tidak mengenalnya.
***
Minggu malam sebelumnya, di ruang kerja mansion, ketika kalimat Spanyol terakhir akhirnya keluar dari mulut Nadia tanpa tersangkut, Felix batuk dua kali ke kepalan tangannya.
“Kamu sakit?” tanya Nadia.
“Tenggorokan kering.”
“Minum, sana. Atau aku bikinin teh jahe.”
“Saya baik-baik saja.” Felix menutup buku catatan dengan tangan yang sedikit lebih hangat dari biasanya waktu dia menyentuh dahi Nadia untuk menyentilnya. “Kamu yang harus tidur.”
Nadia mengira itu hanya kelelahan, dan dia tidak bertanya lagi. Hari-hari lain berlalu dengan cara yang sama. Hampir setiap malam Nadia belajar dengan Felix dan tertidur di meja dengan wajah menempel di kertas. Mobilnya masuk bengkel sejak akhir pekan karena aki mati, dan Felix menjemputnya di pintu belakang kantor setiap pukul setengah tujuh, kaca mobil gelap, tanpa bicara selama lima menit pertama sampai Nadia selesai menggerutu.
Senin siang, Lucas menggelar laptop di ruang rapat kecil dan menyuruh Nadia duduk di kursi paling dekat dengan layar.
“Pukul dua belas Sra. Manriko dan sekretarisnya bergabung,” katanya sambil menyemprotkan sanitizer ke mouse. “Mereka ingin melihat bahwa kita serius. Kamu tidak perlu bicara banyak. Perkenalkan diri, tanyakan kabar, selesai.”
“Siap, Pak.”
“Jangan melambai ke kamera.”
“Saya nggak akan melambai.”
“Kamu sudah melambai di kepalamu. Hentikan.”
Layar menyala. Wajah Sra. Manriko muncul dengan topi bulu merah dan kipas besar di tangan, di balik kaca ruang kantor yang penuh patung kecil. Di sebelahnya duduk seorang wanita muda berkacamata dengan buku catatan.
“Buenas tardes,” sapa Manriko lantang.
“Buenas tardes,” balas Lucas, kaku seperti pidato. “Terima kasih sudah bergabung. Ini Nadia, staf yang akan memegang dokumen kontrak.”
Sekretarisnya menerjemahkan dengan cepat. Manriko mengangguk, mengipasi wajahnya, lalu bicara cepat dalam Spanyol. Nadia hanya menangkap tiga kata: chica, lobby, sí.
Sekretarisnya berdehem. “Beliau bertanya, apakah ini ‘la chica del lobby’. Gadis dari lobi waktu pertemuan terdahulu. Beliau ingat sekali.”
Nadia menoleh pada Lucas. Lucas menatap layar dengan raut tak terbaca. Nadia menelan ludah, menegakkan punggung, dan memutuskan bahwa mengaku lebih baik daripada pura-pura.
“Sí, señora. (Ya, Nyonya.) Soy yo. (Itu saya.) Perdón por la última vez. (Maaf soal waktu itu.)”
Kalimat itu keluar belepotan dengan aksen yang pasti membuat guru bahasa mana pun menangis. Tetapi Sra. Manriko justru terdiam, lalu pecah dalam tawa keras yang membuat kipas bulunya bergoyang. Sekretarisnya menutup mulut menahan senyum. Lucas menghela napas di sebelah Nadia, nyaris tak terdengar.
“¡Me gusta esta chica! (Aku suka gadis ini!)” seru Manriko sambil menepuk meja.
“Beliau menyatakan setuju,” kata sekretarisnya. “Beliau ingin bekerja dengan Anda, Nona Nadia.”
“Terima kasih, Bu,” kata Nadia. “Gracias.”
Layar mati. Hening di ruang rapat. Nadia tidak berani menoleh.
“Nadia.”
“Ya, Pak.”
“Aksenmu mengerikan.”
“Saya tahu, Pak.”
“Tapi dia tertawa.” Lucas memutar kursi menghadapnya. Sudut mulutnya bergerak sedikit, seperti otot yang jarang dipakai. “Mulai besok target belajarmu saya naikkan. Bukan lima klausul per minggu. Sepuluh. Dan saya mau kamu bisa membaca klausul terakhir tanpa kamus.”
“Sepuluh?!”
“Sebelas, kalau kamu protes lagi.”
“Sepuluh, Pak. Siap.”
“Bagus.” Lucas berdiri. Dia melirik Nadia sekali lagi dan, untuk sepersekian detik, tampak hampir tersenyum. “Cuci tangan.”
***
Sore itu hujan turun tiba-tiba. Mula-mula gerimis tipis di kaca jendela lantai tiga, lalu dalam sepuluh menit berubah menjadi deras yang membuat lampu-lampu jalan kabur. Nadia berdiri di dekat pintu belakang kantor dengan tas kain dan payung lipat yang tidak berguna, menunggu mobil hitam yang selalu muncul pukul setengah tujuh.
Setengah tujuh. Tujuh kurang sepuluh. Tujuh lewat lima.
Dia mengecek ponsel. Tidak ada pesan. Dia mengirim satu pesan: Felix, kamu di mana? Centang satu, tidak dibaca. Dia menelepon. Nada sambung panjang, lalu mati.
“Aneh,” gumam Nadia. “Felix nggak pernah telat.”
Ponselnya bergetar di tangan sebelum dia sempat mencoba lagi. Nama yang muncul bukan Felix. Gisel.
“Halo, Tante Mamah?”
“Nadia.” Suara Gisel terdengar tegang, jauh dari kebiasaannya yang lantang dan jenaka. “Kamu masih di kantor?”
“Iya, Tante. Felix nggak datang jemput, aku telepon juga nggak diangkat. Dia…”
“Dia demam, sayang. Tinggi sekali. Sejak sore dia mengurung diri di kamar, dan baru tadi Tante masuk karena ketukan Tante tidak dijawab.” Gisel menarik napas. “Dia melarang Tante meneleponmu. Katanya kamu pasti repot. Tante melanggar larangan itu.”