“Aku ke sana, Tante.”
“Hujannya deras sekali, sayang. Tante bisa suruh sopir...”
“Sopir Tante sampai sini bisa sejam, jalanan pasti macet.” Nadia sudah menarik tas kain ke bahunya dan menyelipkan ponsel ke saku jaket. “Tante jaga Felix aja. Kompres dia. Aku jalan sekarang.”
Telepon terputus. Nadia mendorong pintu belakang kantor dengan bahu, dan hujan langsung menamparnya dari segala arah. Payung lipatnya sudah terbalik sebelum dia sempat membukanya penuh.
“Mbak Nadia! Mau ke mana hujan-hujan begini?” teriak satpam dari pos.
“Cari ojek, Pak! Orang saya lagi sakit!”
“Mobilnya kan di bengkel, Mbak!”
“Makanya itu!”
Dia berlari ke tepi jalan sambil mengetik aplikasi dengan jempol basah. Layar ponsel menolak membaca sentuhan dua kali. Pada percobaan ketiga akhirnya muncul: pengemudi ditemukan, empat menit. Tujuh menit kemudian sebuah motor berjas hujan kuning berhenti di depannya.
“Mansion Caralos, Bang. Tolong kebut, tapi jangan sampai kita masuk selokan.”
“Siap, Neng! Pegangan!”
Motor itu melaju menembus tirai air. Jalanan berubah menjadi sungai kecil, lampu-lampu mobil memantul seperti kaca pecah, dan Nadia memeluk pinggang si abang sambil memejamkan mata setiap kali ban menyiprat genangan.
“Waduh, bisa-bisa gue sampai rumah tinggal nama,” batin Nadia.
Lalu terdengar bunyi batuk, tersedak, dan mesin motor mati.
“Wah.” Abang ojek menoleh dengan wajah bersalah di balik helm. “Businya kena air, Neng. Maaf banget. Di depan genangannya sepaha.”
Nadia menatap jalan di depan mereka. Genangan cokelat itu menutupi dua jalur, dan ujung gerbang perumahan Caralos tampak kecil di seberangnya, kira-kira lima belas menit berjalan kaki.
“Berapa, Bang?”
“Nggak usah, Neng, motornya aja mogok.”
“Bayar tetap. Abang udah berusaha.” Nadia menyodorkan uang, melompat turun, dan tenggelam sampai betis. “Brr! Dingin, ih!”
Dia berjalan menyusuri tepi trotoar dengan sepatu yang bunyinya crek-crek di setiap langkah. Rambutnya menempel di pipi, tas kain berat oleh air. Anehnya, dia tidak merasa ingin mengeluh. Setiap kali kakinya melambat, dia membayangkan Felix yang meringkuk sendirian di kamar dan melarang ibunya menelepon.
“Dasar gengsi tinggi,” gumamnya sambil menyeka air dari mata. “Sakit aja masih sok kuat.”
Di tengah genangan, sebuah mobil melintas pelan dan menyiramkan ombak cokelat ke seluruh sisi kiri tubuhnya. Nadia berdiri kaku selama tiga detik, lalu menjerit ke arah lampu belakang mobil itu.
“Woi! Gue lagi galau, jangan ditambahin dong!”
Mobil itu tentu saja tidak menjawab. Nadia mengusap wajahnya dengan lengan basah dan melanjutkan berjalan, sekarang dengan langkah yang lebih lebar dan kepala yang lebih dingin.
Gerbang mansion akhirnya muncul. Satpam berlari keluar membawa payung besar dan melongo melihat penampilannya.
“Neng Nadia?! Jalan kaki?!”
“Ojeknya mogok, Pak. Tolong bukain.”
Pintu kecil di samping gerbang berderit terbuka.
***
Lampu teras menyala hangat, kontras dengan Nadia yang menetes di atas keset. Dia belum sempat menekan bel ketika pintu depan terbuka dari dalam.
Gladys berdiri di sana dengan cardigan abu-abu dan rambut diikat longgar. Di tangannya ada selembar kain basah yang masih terlipat. Matanya membesar melihat Nadia.
“Nad. Kamu basah kuyup.”
“Tante Gladys.” Nadia melangkah maju. “Felix di mana? Di kamar?”
Gladys tidak bergeser dari ambang pintu. “Di kamarnya. Dokter baru pulang setengah jam lalu. Katanya Felix harus istirahat total, tidak boleh diganggu dulu, apalagi ada tamu. Demamnya...”
“Aku bukan tamu.”
“Aku cuma menyampaikan apa kata dokter.” Suara Gladys halus, tanpa nada menantang, justru itu yang membuat Nadia kesal. “Besok pagi saja kamu datang lagi. Kamu juga bisa sakit kalau terus begini.”
“Tante.” Nadia menarik napas supaya suaranya tidak meninggi. “Aku udah jalan dari perempatan sambil nyeberang banjir. Aku nggak akan pulang.”
Mereka berdiri berhadapan, dipisahkan hanya oleh satu langkah dan bunyi hujan di atap teras. Gladys membuka mulut.
“Gladys.”
Suara itu datang dari tangga. Gisel turun dengan daster bermotif bunga besar dan jaket bulunya yang tak pernah ketinggalan, wajahnya lelah tetapi tegas. “Biarkan dia masuk.”
“Bu Gisel, dokter bilang kita harus menjaga supaya dia tenang.”
“Dokter bilang Felix tidak boleh stres, bukan tidak boleh ditengok orang yang dia cari.” Gisel menghampiri, memegang dagu Nadia, dan menatapnya dari atas ke bawah. “Anak nakal. Kamu jalan kaki?”
“Ojeknya mogok, Tante Mamah.”
“Ya Tuhan. Gladys, tolong ambilkan handuk besar dari lemari kamar tamu. Dan satu setelan kering milik Tante.” Gisel menoleh lagi pada Nadia. “Ganti dulu. Kalau kamu ikut sakit, Tante repot dua kali.”
Gladys diam sebentar, lalu mengangguk dan berbalik tanpa berkata apa-apa. Langkahnya tak terdengar di lantai marmer.
Lima menit kemudian Nadia berdiri di kamar mandi tamu dengan kaus kebesaran bergambar flamingo dan celana kain yang tiga kali lipat lebih panjang dari kakinya. Dia menggulung ujung celana itu sambil mengomel pada pantulan cermin.
“Gue nggak ada gaya-gayanya banget. Felix lihat begini bisa langsung sembuh karena ngakak.”
Dia mengeringkan rambut dengan handuk, menyerahkan jaket basahnya pada pelayan, lalu mengikuti Gisel menaiki tangga. Gladys berjalan di belakang mereka membawa baskom kecil. Tak seorang pun berbicara. Hanya ada bunyi hujan yang menghantam jendela besar di tengah tangga dan bunyi kayu berderit di bawah kaki.
Gisel berhenti di depan pintu kamar paling ujung, mengetuk satu kali, dan membukanya.
***
Kamar itu temaram. Lampu meja menyala redup di sudut, tirai tertutup rapat, dan udara terasa pengap oleh bau minyak kayu putih yang samar. Di tengah ranjang besar, Felix terbaring miring dengan selimut tersingkap sampai pinggang. Rambutnya menempel di dahi. Pipinya merah, bibirnya kering, dan napasnya terdengar berat seperti orang berlari jauh.
Nadia berhenti di ambang pintu.
Dia sudah melihat Felix dalam banyak keadaan. Dingin di ruang rapat, kesal di dapur, kaku seperti tiang di pasar malam. Dia belum pernah melihatnya sekecil ini, terkulai di atas bantal tanpa kemeja yang rapi dan tanpa tatapan yang menaklukkan seisi ruangan.
“Dia sempat bangun satu jam lalu,” kata Gisel pelan di sampingnya. “Minta air, lalu tidur lagi. Tante ukur suhunya tadi. Kamu lihat sendiri.”
Gisel menyerahkan sebuah termometer digital. Nadia mendekat, duduk di tepi ranjang, dan menempelkan benda itu ke telinga Felix dengan tangan yang gemetar karena dingin. Felix mengerang kecil tetapi tidak membuka mata.
“Felix,” bisik Nadia. “Ini aku.”
Tidak ada jawaban. Hanya alis yang berkerut sedikit, seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari ruangan lain. Nadia meletakkan punggung tangannya di dahi Felix dan buru-buru menariknya kembali. Panasnya menembus sampai ke pergelangan.
“Ya ampun, ini mah bukan demam. Ini kompor,” gumamnya, setengah panik. “Dari kapan, Tante?”
“Pagi tadi dia tetap berangkat ke kantor, bilang cuma masuk angin.” Gisel menghela napas panjang. “Kebiasaan. Kalau sakit, dia menyembunyikannya dulu sampai tidak bisa berdiri.”
Nadia mengingat batuk kecil Felix di Minggu malam dan tangannya yang terasa lebih hangat ketika menyentil dahinya. Dia menggigit bibir. Seharusnya dia bertanya sekali lagi saat itu.
Bip.
Layar kecil itu menyala. Nadia membaca angkanya, lalu membacanya sekali lagi karena berharap salah lihat. Tiga puluh sembilan koma empat.
“Tadi sore tiga puluh sembilan,” Gisel menambahkan, suaranya turun jadi hampir berbisik. “Dokter bilang kalau sampai lewat empat puluh dan tidak turun, kita harus bawa dia ke rumah sakit malam ini juga.”
Di belakang mereka, baskom di tangan Gladys berbunyi pelan saat air di dalamnya bergoyang.