Gladys meletakkan baskom di nakas tanpa menimbulkan bunyi, lalu memeras kain kompres sampai tinggal lembap.
“Obat terakhir diminum jam enam,” katanya pada Gisel, suaranya rendah dan teratur. “Jam sepuluh boleh diulang. Aku sudah siapkan di piring kecil. Selimutnya jangan yang tebal, Bu. Panasnya terperangkap, nanti demamnya makin naik.”
Gisel mengangguk dan menarik selimut tebal itu pelan-pelan. Gladys langsung menggantinya dengan selimut katun tipis dari lemari tanpa perlu mencari. Nadia, yang masih duduk kaku di tepi ranjang dengan termometer di tangan, menatap gerakan itu seperti menonton orang yang sedang mengerjakan soal yang dia kira sudah dia hafal.
“Aku bisa bantu,” kata Nadia.
“Tentu.” Gladys menyodorkan kain kompres. “Taruh di dahi, tapi jangan terlalu dingin. Lipat dua.”
Nadia melipat kain itu dua kali dan meletakkannya di dahi Felix. Felix mengerang, menggeleng, dan menepis kain itu dengan tangan yang lemas.
“Lho, kok ditepis?”
“Terlalu basah.” Gladys mengambil kain itu, memerasnya lagi lebih lama, lalu menaruhnya kembali. Kali ini Felix diam. “Dia nggak suka air menetes ke pelipis.”
Nadia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dua tahun, dan dia tidak tahu itu.
“Minyak anginnya mau?” tanya Gisel dari belakang sambil membuka botol hijau kecil.
“Di tengkuk saja, Bu. Jangan di dada, dia batuk. Dan jangan dekat hidung.” Gladys mengangkat sedikit bahu Felix dan mengoleskan minyak itu dengan dua jari. “Dia benci baunya, tapi kalau di tengkuk dia nggak menolak.”
Benar saja. Felix mengerutkan hidung, sekejap, lalu napasnya melambat kembali seperti anak kecil yang pasrah dibedaki. Nadia memandangi tangan Gladys dan wajah Felix, dan mendadak ruangan itu terasa terlalu sempit untuknya.
“Mampus gue,” batin Nadia. “Gue pacarnya dua tahun, dan gue nggak tahu dia bakal ditepuk di tengkuk.”
Dia mencoba sekali lagi menjadi berguna. Diambilnya sendok dari gelas air di nakas, dicondongkannya ke bibir Felix, dan seketika air itu mengalir turun ke leher dan bantal.
“Aduh! Maaf! Maaf!” Nadia menyambar tisu. “Kok nggak masuk, sih?”
“Kepalanya diangkat sedikit dulu, Nad.” Gladys sudah berdiri di sisi lain ranjang, menyelipkan tangan di bawah tengkuk Felix. “Satu sendok, tunggu dia menelan, baru sendok berikutnya.”
Nadia mengulang dengan hati-hati. Felix menelan. Satu sendok, dua sendok. Pada sendok ketiga bibir Felix bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu, lalu dia tertidur lagi. Nadia menegakkan punggung dengan napas lega yang berlebihan, dan Gladys tersenyum tipis tanpa berkomentar. Justru itu yang membuat dada Nadia makin sesak.
Dia berdiri. “Aku ambil air putih dulu.”
“Di meja ada,” kata Gladys.
“Aku mau ambil yang hangat.”
Dia keluar sebelum ada yang sempat membalas.
***
Dapur mansion Felix luas dan sepi. Lampu di atas kompor menyala kuning, dan Nadia berdiri lama menatap panci bubur yang masih mengepul di atas api kecil. Aroma jahe dan kaldu ayam memenuhi ruangan. Bubur itu dibuat bukan oleh pelayan, tetapi menurut catatan di kertas yang ditempel di tudung saji, oleh Gladys. Tulisannya rapi: tanpa seledri, bawang goreng sedikit, jangan diaduk terlalu keras.
“Kamu mau makan?”
Nadia menoleh. Gisel berdiri di ambang pintu dapur dengan dua cangkir teh jahe di tangan. Dia menyodorkan satu cangkir, lalu duduk di kursi tinggi dekat meja marmer, dan menepuk kursi di sebelahnya.
“Duduk. Kamu belum makan dari siang, kan? Muka kamu kayak kertas basah.”
Nadia duduk dan memegang cangkir dengan kedua tangan. Uapnya menghangatkan wajahnya. “Tante Mamah, aku nggak tahu apa-apa soal Felix.”
“Siapa bilang?”
“Tadi. Selimut tipis. Kompres jangan menetes. Minyak angin di tengkuk.” Nadia menunduk. “Aku cuma tahu dia suka masak dan benci kuman jalan-jalan di kantor. Padahal itu Pak Lucas.”
Nadia menelan ludah. “Dia nggak pernah cerita ke aku, Tante. Soal obat, soal bau, soal apa pun yang bikin dia lemah.”
“Dia tidak cerita karena menganggap lemah itu hal yang harus disembunyikan. Sama seperti perasaannya.” Gisel tertawa kecil, lalu tawanya padam. “Tante tidak akan bilang itu bukan masalah, sayang. Karena itu masalah. Tapi masalahnya bukan di kamu.”
“Terus di siapa?”
Gisel menatap cangkirnya lama. “Dua tahun, kamu tidak pernah bertanya kenapa dia menyembunyikanmu?”
Nadia mengangkat kepala. “Pernah. Dia bilang aku harus sukses karier dulu. Waktu Tante datang ke apartemen, Felix bilang gitu juga.”
“Itu jawaban yang dia berikan pada Tante. Tante tanya, jawaban apa yang dia berikan padamu?”
“Sama.”
“Dan kamu percaya.”
“Aku percaya.”
“Percaya dan tidak bertanya itu dua hal yang berbeda, anak nakal.” Gisel menyesap teh jahenya. Suaranya tidak keras, tidak menghakimi, hanya jelas. “Tante tidak sedang menyuruh kamu curiga. Tante cuma ingin kamu berhenti hanya menunggu dia siap. Anak itu pintar sekali menyimpan sesuatu sampai orang lain lupa bahwa ada sesuatu di dalamnya.”
Nadia menggigit bibir. “Tante tahu alasannya?”
“Tante punya dugaan. Tapi dugaan Tante bukan jawabannya. Itu harus keluar dari mulutnya sendiri.” Gisel menyentuh pipi Nadia dengan punggung jari yang dingin. “Sekarang minum tehmu dan makan bubur separuh mangkuk. Gladys menawarkan giliran jaga. Dia sampai tengah malam, kamu menyusul dini hari. Terima saja.”
“Tante, aku...”
“Terima, Nadia.” Gisel mengangkat alis. “Kamu mau menjaga dia dengan tubuh yang tumbang di sebelahnya? Nanti Tante yang harus mengurus dua orang.”
Nadia menarik napas lalu mengangguk.
***
Dia makan setengah mangkuk bubur yang ternyata enak sekali, dan itu justru membuatnya makin sebal. Setelah itu Gisel menggiringnya ke kamar tamu di sebelah kamar Felix dan menyuruhnya tidur. Nadia berbaring di bawah selimut wangi sabun, memandangi langit-langit, mendengarkan hujan yang mulai melemah menjadi rintik.
Dia tidak bisa tidur. Ponsel barunya menyala di nakas, dan dia mengetik pada satu-satunya orang yang pasti belum tidur.
Nadia: Nggit, gue di mansion Felix. Dia demam 39,4.
Anggit: Hah?! Lo di sana dari tadi? Lo nggak apa-apa?
Nadia: Gue baik. Cuma baru sadar gue nggak tahu apa-apa soal cowok gue sendiri.
Anggit: Lo tahu dia penggila kerja, suka masak, dan galak ke lo. Itu data valid.
Nadia: Itu data jurnal kantor, bukan data pacar.
Anggit: Dih, lagi melankolis. Tidur sana. Besok kalau lo masih ngerasa gitu, gue traktir bakso.
Nadia mematikan layar tanpa membalas, tetapi sudut bibirnya naik sedikit.
Jam dinding berdetak. Sepuluh lewat tiga puluh. Sebelas. Sebelas lewat empat puluh. Setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat jari Gladys di tengkuk Felix dan kain kompres yang diperas tanpa menetes. Akhirnya dia menyibak selimut, memakai kaus flamingo kebesaran itu lagi, dan berjingkat ke lorong.
Pintu kamar Felix terbuka sedikit. Lampu meja masih redup. Dari celah itu dia melihat Gladys duduk di kursi di sisi ranjang, punggungnya lurus, tangannya memegang kain kompres. Dia tidak bicara. Dia hanya menatap Felix dengan raut yang tidak bisa Nadia baca.
Nadia mengangkat tangan untuk mengetuk, tetapi berhenti.
Dari ranjang terdengar suara serak dan patah-patah.
“...Nad.”
Gladys membeku. Kain di tangannya berhenti bergerak.
“Nad... jangan...”
Felix menggeser kepala di bantal, gelisah, alisnya berkerut dalam, dan sekali lagi bibir keringnya menyebut nama yang sama.
“Nad.”
Gladys perlahan menoleh ke arah pintu, ke celah sempit tempat Nadia berdiri dengan tangan tergantung di udara. Dia tidak tampak terkejut.
“Dia sudah memanggilmu sejak tadi,” katanya pelan.