Nadia mendorong pintu dan melangkah masuk. Gladys meletakkan kain kompres ke dalam baskom, mengusap tangannya pada cardigan, lalu berdiri tanpa terburu-buru.
“Sudah hampir tengah malam,” katanya. “Giliranku selesai.”
“Dia memanggil aku?”
“Tiga kali dalam satu jam.” Gladys merapikan piring kecil berisi obat di nakas. “Jam tiga ada obat kedua. Airnya sudah kusiapkan di termos. Kalau suhunya naik lewat empat puluh, bangunkan aku atau Bu Gisel. Jangan menunggu pagi.”
“Iya, Tante.” Nadia ragu sebentar. “Tante nggak capek? Dari sore jagain dia.”
“Capek itu urusan besok.” Gladys menyampirkan kain di lengan. “Dia pernah menjagaku waktu aku jauh lebih sakit dari ini. Anggap saja aku membayar utang.”
Nadia tidak tahu harus menjawab apa, jadi dia hanya mengangguk.
“Nad.” Gladys berhenti di ambang pintu, memunggungi cahaya lampu. Nadia mengira dia akan mengucapkan sesuatu yang panjang. Tetapi Gladys hanya berkata, “Selamat malam,” lalu menutup pintu dengan sangat pelan.
Kamar itu sunyi. Nadia menarik kursi ke sisi ranjang, duduk, dan memandangi wajah Felix di bawah lampu redup. Napasnya masih berat. Alisnya masih berkerut.
“Aku di sini,” bisiknya. “Jangan marah-marah, ya. Kamu lagi sakit, nggak punya hak marah.”
Felix tidak menjawab.
“Kamu tuh ya. Minggu malam kamu batuk, aku tanya, kamu bilang tenggorokan kering. Tenggorokan kering apaan, demam tiga puluh sembilan.” Nadia menyentil pelan punggung tangannya, persis seperti yang biasa Felix lakukan pada dahinya. “Nih, balas. Impas.”
***
Pukul satu lewat sepuluh, perut Nadia berbunyi keras. Dia teringat sisa bubur di dapur dan memutuskan bahwa kalau Felix terbangun, dia harus makan sesuatu yang hangat. Dia turun dengan sandal tidur kebesaran, menyalakan kompor, dan menuang bubur ke panci kecil.
“Api kecil,” gumamnya, mengutip catatan di tudung saji. “Jangan diaduk terlalu keras.”
Dia menyalakan api besar. Dia mengaduk keras-keras. Dia lalu terhanyut membaca ponsel selama dua menit, dan ketika mengangkat kepala, bau gosong sudah naik sampai ke langit-langit.
“Aduh! Aduh! Jangan, jangan!”
Dia menyambar panci dengan kain lap, menjatuhkannya ke wastafel, dan menatap bubur hitam di dasar panci seperti menatap jenazah. Langkah sandal terdengar menuruni tangga. Gisel muncul di pintu dapur dengan rambut dijepit asal dan wajah mengantuk.
“Ada kebakaran?”
“Bukan, Tante Mamah. Cuma bubur gugur di medan perang.”
Gisel menghampiri wastafel, mengendus, lalu menatap Nadia lama. “Api besar?”
“Api besar,” akui Nadia dengan suara kecil.
“Pantas.” Gisel membuka lemari, mengeluarkan roti tawar dan selai kacang, lalu menyodorkannya. “Makan ini. Felix tidak pernah mau menyentuh masakan gosong siapa pun, kecuali masakannya sendiri. Jadi jangan merasa sendirian.” Dia berhenti di tangga dapur. “Dia sempat bangun?”
Nadia menggigit roti dan menggeleng. “Belum, Tante. Cuma manggil-manggil nama aku. Terus tidur lagi.”
“Hm.” Gisel mengangguk, hampir tersenyum. “Kalau suhunya naik, bangunkan Tante.”
Dia pergi. Nadia memandangi punggungnya sampai hilang di tikungan tangga, lalu menghabiskan rotinya sambil menatap panci hitam di wastafel.
Dia mencuci panci sampai ujung jarinya merah, menaruh air hangat dalam termos, dan kembali ke atas membawa segelas air putih saja. Di kamar, Felix sudah menggeser kepala ke sisi lain bantal. Nadia mengambil kain kompres dari baskom, melipatnya dua kali seperti yang diajarkan Gladys, dan menempelkannya di dahi.
Felix mengerang kesal.
“Kenapa lagi?” Nadia memeriksa kain itu. Lipatannya terbalik, sisi yang basah berada di luar, tetesnya mengalir lurus ke pelipis. “Oh. Maaf. Maaf.”
Dia memutar kain itu. Tangannya tersenggol baskom, dan seluruh air dingin menumpahkan diri ke pangkuannya.
“Hiii!” Nadia melompat sambil menahan jerit supaya tidak membangunkan seisi rumah. Kaus flamingonya basah dari dada sampai lutut. Dia berdiri mematung di tengah kamar dengan air menetes dari ujung celana, lalu tiba-tiba ingin tertawa dan menangis sekaligus. “Gue sumpah, kalau Felix bangun dan lihat ini...”
“Nad.”
Nadia berhenti.
Dia menoleh ke ranjang. Mata Felix masih terpejam, tetapi bibirnya bergerak.
***
“Nad... jangan...”
Nadia mendekat dengan langkah berjinjit, lalu berlutut di sisi ranjang supaya telinganya dekat. “Jangan apa? Aku di sini.”
“Jangan pilih saya...”
Kain kompres di tangan Nadia berhenti bergerak.
“...karena kebiasaan.” Suara Felix serak, patah-patah. “Kamu belum lihat dunia... selain saya. Kamu terbiasa. Itu saja. Kamu terbiasa.”
“Felix?” Nadia menahan napas. “Siapa yang bilang aku cuma terbiasa?”
“Nanti... kamu bangun. Sadar. Kamu pergi.” Alisnya berkerut makin dalam, tangannya mencengkeram selimut. “Saya... tidak mau jadi kesalahanmu.”
Nadia tak bergerak. Hujan sudah berhenti, dan kini kamar itu hanya diisi napas Felix yang tersengal. Dia menunggu kalimat berikutnya, tetapi igauan itu tenggelam lagi menjadi desah. Felix menelan ludah dan kembali tidur.
Nadia terduduk di lantai dengan punggung bersandar ke ranjang.
Dia sering mengira dia tahu persis kenapa Felix menyimpannya di balik layar. Mungkin gengsi. Mungkin kantor. Mungkin karena Felix memang tidak suka pamer. Dia tidak pernah membayangkan alasan itu bisa berbentuk ketakutan.
“Dia takut,” gumamnya, nyaris tak bersuara. “Bukan malu. Takut.”
Dia bisa saja membangunkan Felix sekarang dan menuntut penjelasan. Tangan sudah terangkat. Tetapi wajah di bantal itu terlalu rapuh. Dia menurunkan tangannya, mengambil kain kompres yang jatuh, dan memerasnya lagi.
“Nanti,” katanya pelan. “Kalau kamu sudah bisa berdiri. Kita ngomong nanti.”
Dia kembali ke kursi dan menggigit bibir bawahnya keras-keras, karena satu pertanyaan muncul di kepalanya, pertanyaan yang tidak pernah dia ajukan pada siapa pun, terutama pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya Nadia mengucapkannya dalam hati dengan kalimat utuh.
“Gue milih dia, atau gue cuma kebiasaan?” batin Nadia.
Dia menatap profil Felix yang basah oleh keringat. Dia mencari jawaban cepat, yang biasanya ada di ujung lidah setiap kali orang bertanya tentang Felix. Jawaban itu masih ada. Tetapi kali ini dia merasa belum cukup diuji.
“Ish,” bisiknya. “Padahal tadi cuma bubur gosong.”
***
Subuh menyelinap lewat celah tirai. Gladys membawa nampan berisi segelas teh dan obat pagi, mengetuk dua kali, lalu membuka pintu tanpa menunggu.
Di kamar, Nadia tertidur dengan kepala terkulai di tepi ranjang. Tangan kanannya menggenggam tangan Felix, jari-jarinya mengunci di antara jari-jari Felix seperti orang yang takut dilepas. Kaus flamingonya masih lembap di bagian bawah, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.
Gladys berdiri lama di ambang pintu dengan nampan di tangan. Sorot matanya tidak marah, tidak sedih, hanya diam. Dia menatap dua tangan itu sampai teh di cangkir berhenti bergetar. Lalu, tanpa suara, dia mundur dan menutup pintu perlahan-lahan hingga bunyi klik terdengar sangat kecil.
Klik itu cukup untuk membuat Nadia menggerakkan bahu. Dia mengerjap, merasakan hangat di telapak tangannya dan tidak mengerti kenapa.
Ketika dia mengangkat kepala, mata Felix sudah terbuka. Mata itu keruh dan merah, tetapi jelas sedang menatapnya.
“Kamu semalaman di sini?” tanya Felix.