Pertanyaan itu keluar dari suara serak seperti pintu berkarat, lalu menggantung di antara mereka. Nadia menarik tangannya dari genggaman itu terlalu cepat, lalu menyesal dan menyentuhnya lagi, lalu bingung harus menaruh tangan itu di mana.
“Iya,” katanya akhirnya. “Kamu tiga puluh sembilan koma empat. Aku nggak mungkin pulang dan tidur sambil mikirin kamu mati.”
“Saya tidak akan mati karena demam.”
“Itu yang dikatakan orang sebelum mati karena demam.” Nadia menempelkan punggung tangan ke dahinya, mencoba bersikap seperti perawat profesional. “Masih panas. Tapi nggak segila semalam. Kamu mau minum?”
Felix mengangguk. Nadia mengangkat gelas, ingat soal sendok, dan memilih langsung menyodorkan sedotan. Felix meminum setengah gelas dengan mata terpejam. Ketika dia membukanya lagi, tatapannya turun ke kaus flamingo bernoda air yang masih melekat di tubuh Nadia.
“Itu apa?”
“Kaus Tante Mamah.”
“Burungnya.”
“Flamingo.” Nadia mengangkat dagu. “Jangan komentar. Aku basah kuyup.”
Sudut bibir Felix bergerak setengah senti, lalu dia batuk dan wajahnya kembali pucat. Nadia buru-buru membenarkan bantalnya, dan di saat itu dia memutuskan: igauan semalam bukan sesuatu yang ditagih dari orang yang baru bisa menelan air putih. Dia menyimpannya di saku, dengan kancing tertutup.
Pagi itu Nadia mengirim izin pada Lucas. Balasannya hanya satu kata, Alasan?, dan setelah Nadia menjawab, Keluarga sakit, datang pesan kedua yang lebih panjang: Selesaikan sepuluh klausul hari ini. Sambil menjaga orang sakit. Itu disiplin.
Demam Felix turun ke tiga puluh delapan menjelang siang, tiga puluh tujuh koma enam menjelang malam. Gisel menyuruh Nadia pulang dengan mobil sopir keluarga. Dia mandi lama, tidur seperti batu, dan tidak mendengar alarm yang berbunyi empat kali.
***
Rabu pagi, Nadia masuk ruangan Lucas empat puluh menit terlambat dengan rambut yang masih basah.
Lucas duduk di balik mejanya dengan masker baru dan botol sanitizer di sisi kiri. Dia tidak mengangkat kepala. “Kamu terlambat.”
“Maaf, Pak. Alarm saya...”
“Dan kamu bau minyak kayu putih.” Lucas mengangkat kepala sekarang. Matanya menyipit di atas masker. “Felix tidak masuk kantor dua hari. Kamu menghilang dua hari. Kebetulan?”
Nadia menggaruk tengkuk yang tak gatal. “Pak Felix demam, Pak. Saya cuma bawakan bubur.”
“Bubur.”
“Bubur gosong.”
“Dan kamu menularinya?”
“Saya nggak sakit, Pak!”
“Kuman tidak menunggu orang merasa sakit.” Lucas menyemprotkan sanitizer ke udara di antara mereka, lalu ke permukaan meja yang sama sekali tidak disentuh Nadia. “Berdiri tiga langkah dari saya selama tiga hari. Sepuluh klausul harus selesai Jumat, bukan Rabu. Saya baik, kan?”
“Baik banget, Pak.”
“Jumat. Sepuluh klausul. Pintunya di belakangmu.”
Di lorong, Nadia menepuk dadanya dua kali. “Selamat, Nad. Hidup.”
Jam makan siang, Anggit menjatuhkan semangkuk bakso panas di mejanya di pantri dengan gaya orang menepati janji.
“Traktiran. Sesuai perjanjian chat Senin malam.”
“Gue nggak lapar.”
“Lo ngomong gitu dua menit lalu, terus perut lo bunyi sampai Bu Nara noleh.” Anggit duduk, mengaduk sambalnya. “Jadi gimana? Lo masih ngerasa nggak tahu apa-apa soal cowok lo?”
Nadia mengaduk kuah tanpa mengangkat sendok. “Gue tahu satu hal baru. Dia takut.”
“Felix? Takut apa? Takut kuman? Itu Lucas.”
“Takut gue pergi.” Nadia mengunyah satu bakso. Dia mengucapkannya pelan, lalu baru sadar suaranya bergetar sedikit. “Nanti sore gue mau nanya langsung.”
Anggit berhenti mengaduk. Dia memandang Nadia lama, lalu menggeser botol kecap ke sisinya. “Gue tungguin di bawah kalau lo butuh digendong lagi.”
“Awas lo.”
***
Sore itu langit kembali cerah, seperti hujan dua hari lalu hanyalah mimpi buruk kolektif. Felix duduk di kursi rotan teras belakang mansion dengan jaket tipis dan segelas teh jahe di pangkuan. Wajahnya sudah punya warna lagi. Rambutnya masih agak berantakan, dan itu membuatnya tampak seperti orang yang baru dibangunkan dari tidur panjang.
Nadia berdiri di ujung teras dengan tas kain di bahu dan tangan bersedekap.
“Kamu mau marah?” tanya Felix.
“Aku belum tentuin.”
“Duduk dulu.”
“Aku berdiri aja.” Nadia menarik napas. “Dua malam lalu kamu ngigau.”
Felix menurunkan cangkir ke meja kecil. Gerakannya tenang, tetapi pundaknya mengeras. “Saya bicara apa?”
“Kamu bilang, ‘Jangan pilih saya karena kebiasaan.’ Kamu bilang aku belum lihat dunia selain kamu. Kamu bilang aku terbiasa.” Nadia mengulang kalimat-kalimat itu dengan suara datar, supaya tidak pecah. “Kamu bilang kamu nggak mau jadi kesalahanku.”
Felix tidak menjawab. Angin menggerakkan daun mangga di halaman. Dari kejauhan terdengar tukang sapu menggesek aspal.
“Itu benar?”
“Yang saya ucapkan dalam demam?” Felix menatap cangkirnya. “Saya tidak menyusunnya. Tapi itu bukan hal baru di kepala saya.”
Nadia mendekat dan akhirnya duduk di kursi seberangnya. “Jelasin.”
Felix diam begitu lama sampai Nadia hampir menyerah. Lalu dia berbicara, pelan dan hati-hati, seperti orang menaruh barang yang mudah pecah.
“Keluarga kita dekat. Kita sudah terlalu dekat terlalu lama.” Dia mengangkat mata. “Saya tidak pernah bisa memastikan apakah yang kamu rasakan adalah cinta, atau hanya kebiasaan yang sudah nyaman karena saya selalu ada di dekatmu. Saya takut suatu hari kamu bangun, melihat orang lain, lalu sadar bahwa kamu tidak pernah benar-benar memilih saya.”
“Itu alasannya?”
“Itu salah satunya.”
“Itu alasan kamu nyembunyiin aku di kantor?”
“Selama belum jelas bagi saya, saya tidak mau mengikatmu di depan semua orang. Kalau kamu ingin pergi, kamu tidak perlu menanggung malu.” Felix mengusap wajah. “Saya ingin kamu punya pintu keluar.”
Hening.
“Kamu nggak berhak memutuskan itu untukku,” kata Nadia.
Felix tidak membantah.
“Kamu pikir pintu keluar itu hadiah? Dua tahun aku nyelinap kayak maling, nunduk kalau ketemu Bu Nara, pura-pura asing sama kamu di lift. Itu pintu keluar yang kamu kasih?” Suara Nadia naik, lalu turun lagi sebelum dia sempat mengendalikannya. “Kamu bahkan nggak nanya aku mau pintu itu atau enggak.”
“Kamu benar.”
“Dan satu lagi.” Nadia menggigit bibir. “Aku nggak bisa jawab pertanyaan kamu.”
Felix mengerutkan dahi.
“Aku nggak bisa bilang pasti kalau aku bukan cuma terbiasa.” Nadia memaksakan matanya tetap menatap Felix. “Aku sayang kamu. Itu aku tahu. Tapi kamu minta aku yakin ini pilihan, dan aku belum pernah ngerasain bedanya. Malam itu aku duduk di lantai dan baru sadar aku nggak pernah nanya diri sendiri.” Dia menarik napas panjang. “Aku mau jawab. Tapi dengan mata terbuka, bukan karena kamu yang nentuin.”
Felix menatapnya lama. Garis di antara alisnya melunak, bukan karena lega, tetapi karena tidak ada yang bisa dia bantah.
“Apa yang kamu mau?” tanyanya.
“Sampai perpisahan Pak Lucas. Aku buktiin diriku lewat kontrak Manriko, tanpa kamu bantu. Kamu jawab dengan tindakan, terbuka, di depan semua orang. Setelah itu kita lihat.”
“Itu kesepakatan?”
“Itu kesepakatan. Dan kamu nggak boleh mutusin lagi tanpa nanya.”
Felix menjulurkan tangan. Nadia menatapnya, ragu sebentar, lalu menyambutnya dan menjabat seperti dua orang yang baru menyetujui kontrak. Mereka sama-sama tertawa kecil, canggung.
Felix merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar kertas terlipat. “Ini.”
“Apa itu?”
“Jadwal saya seminggu ke depan. Ke mana, dengan siapa, jam berapa.”
“Aku nggak minta.”
“Saya tahu.” Felix menunggu sampai Nadia membukanya. “Baris paling bawah, Jumat sore. Gladys minta waktu bicara denganmu di taman. Saya tidak tahu apa isinya. Saya tulis di situ supaya kamu tahu lebih dulu, bukan dari orang lain.”