Jumat pukul empat lewat, Lucas memeriksa sepuluh klausul Nadia dengan pulpen merah seperti dokter bedah memeriksa hasil rontgen.
“Klausul tiga,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Kamu menulis ‘rescisión’ dengan satu s.”
“Saya tulis dua, Pak.”
“Kamu menulis satu, lalu menambahkan satu sesudah sadar.” Lucas mengetuk kertas dengan ujung pulpen. “Tulisan tambahan kelihatan. Tinta berbeda.”
Nadia menelan ludah. “Mata Bapak tajam banget.”
“Kuman juga kelihatan kalau kamu tahu cara melihatnya.” Lucas menandai tiga tempat lagi, membaca klausul sepuluh keras-keras dalam bahasa Spanyol yang membuat Nadia nyaris bertepuk tangan, lalu menutup map dan menyerahkannya. “Cukup. Selama tiga hari kamu terlambat dua kali. Hari ini kamu datang tepat waktu dan tidak bau minyak kayu putih. Pulang.”
“Terima kasih, Pak!”
“Berdiri tiga langkah dari pintu. Jangan menyentuh gagangnya dengan telapak.”
Di lift, ponsel Nadia bergetar. Pesan dari Felix: Gladys di taman belakang, setelah kamu pulang kerja. Kalau kamu tidak mau, saya yang bilang kamu lelah. Nadia menatap layar sebentar, lalu mengetik: Aku datang. Sebelum mengirim, dia menambahkan satu kalimat lagi: Dan kamu jangan ngintip.
Balasan datang dalam hitungan detik. Saya di ruang kerja. Pintunya tertutup.
***
Taman belakang mansion Felix sore itu berbau tanah basah dan bunga kamboja. Sebuah bangku kayu berdiri di bawah pohon besar, dengan dua cangkir teh di atas meja kecil. Gladys sudah duduk di sana dengan blus putih sederhana, kedua tangan terlipat di pangkuan. Ketika Nadia mendekat, dia berdiri, lalu duduk lagi seakan ragu apakah berdiri itu terlalu resmi.
“Terima kasih sudah mau datang, Nad.”
“Mobil aku baru keluar bengkel kemarin, jadi bisa kabur kalau kepepet,” kata Nadia, setengah bercanda. Dia duduk di ujung bangku yang satunya. “Tante mau ngomong apa?”
Gladys mengambil napas. Dia memandang kamboja yang jatuh di rumput, bukan wajah Nadia.
“Aku ingin menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah kujelaskan sejak hari pertama. Aku meninggalkan Felix dulu.” Suaranya tenang, seperti membaca naskah yang sudah dia hafal dalam kepala berkali-kali. “Bukan karena dia salah. Aku memilih Aron karena dia kaya, karena dia menjanjikan hidup tanpa cemas soal uang atau masa depan. Aku yang menyakiti Felix. Bukan dia yang menyakitiku.”
Nadia mengangkat cangkir tehnya agar tangannya punya kegiatan. “Terus kenapa Tante kembali?”
“Karena Aron bukan laki-laki yang kuduga.” Gladys mengusap pergelangan tangannya, tepat di tempat bekas yang sudah memudar dan hanya kelihatan kalau diperhatikan. “Dan karena Felix satu-satunya orang di dunia ini yang akan membuka pintu tanpa menanyakan apa-apa dulu.”
“Terus kekacauan di pesta?”
“Itu kesalahanku.” Gladys menoleh sekarang. “Aku seharusnya tidak datang dengan Bu Gisel. Aku seharusnya tahu Aron akan melacakku ke sana. Kamu sampai melihat Felix memegang bahuku di depan kamar dan aku tahu bagaimana kelihatannya. Maaf.”
Kalimat itu keluar sederhana, tanpa embel-embel. Nadia menahan sesuatu yang aneh di dadanya, yang bukan marah dan bukan kasihan.
“Tante nggak nyalahin siapa-siapa?”
“Aku sudah terlalu lama menyalahkan orang. Aron, nasib, kota ini. Capek.” Gladys tersenyum kecil. “Lebih mudah menyalahkan diri sendiri. Setidaknya itu benar.”
Nadia memandang uap teh di cangkirnya. Kemudian dia memutuskan untuk menanyakan hal yang sudah mengendap di kepalanya sejak Gladys muncul di ruang tamu mansion orang tuanya.
“Tante masih cinta dia?”
Pertanyaan itu mengambang di antara mereka. Seekor burung hinggap di dahan lalu terbang lagi. Gladys menatap tangannya sendiri cukup lama.
“Aku mencintai rasa aman yang dia berikan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu satu-satunya jawaban jujur yang kupunya.” Gladys mengangkat bahu, gerakan kecil. “Aku tidak bisa bilang aku tidak mencintainya, karena itu bohong yang akan kamu cium dari jauh. Aku juga tidak bisa bilang aku mencintainya seperti dulu. Aku tidak tahu lagi seperti apa cinta itu kalau tidak ada rasa takut di dalamnya.”
Ponsel di sebelah cangkir Gladys menyala dan bergetar. Gladys menunduk sekilas pada layar, lalu membalik ponsel itu hingga menghadap meja, tanpa membaca.
Nadia mencatat gerakan itu tanpa mengerti kenapa. Dia meletakkan cangkir dan menegakkan punggung.
“Tante.”
“Ya?”
“Makasih udah jagain Felix Senin malam.” Nadia menahan napas sebentar. “Jujur, kalau Tante nggak ada, aku nggak tahu mesti ngapain. Aku nggak tahu selimut tipis, aku nggak tahu kompres jangan menetes. Aku bahkan bikin buburnya gosong.”
“Aku dengar,” kata Gladys, dan sudut bibirnya naik. “Baunya sampai kamar tamu.”
“Itu dia.” Nadia tertawa pendek, lalu tawanya berhenti. “Tapi ada satu hal yang harus Tante tahu. Felix itu pilihan. Bukan hadiah.”
Gladys diam.
“Bukan hadiah buat Tante, bukan hadiah buat aku, bukan hadiah buat siapa pun yang kebetulan paling lama nunggu. Dia orang. Dia milih, dan aku milih.” Nadia menekankan kata terakhir itu hingga dia sendiri nyaris tersandung. “Kalau suatu hari dia milih orang lain, itu urusannya. Tapi nggak akan pernah karena orang lain ditaruh di meja kayak kue ulang tahun.”
Gladys menunduk. Bahunya bergetar sekali, dan Nadia sempat mengira dia menangis, tetapi ketika Gladys mengangkat kepala, wajahnya justru nyaris geli.
“Kue ulang tahun,” ulangnya. “Aku belum pernah dibandingkan dengan kue.”
“Maaf, aku kalau lagi tegang suka nyeletuk.”
“Tidak apa-apa.” Gladys menyeruput tehnya. “Aku tidak akan bersaing, Nad. Aku sudah kalah dari diriku sendiri. Yang kuminta cuma tinggal di sini sampai Aron berhenti mencariku. Setelah itu aku pergi.”
Nadia mengangguk. Dia tidak mempercayai seluruhnya, tetapi dia juga tidak menemukan alasan untuk membantah satu pun kata.
***
Pukul enam, Nadia berjalan keluar lewat gerbang samping. Dari jendela ruang kerja di lantai satu, tirai bergerak sedikit lalu menutup lagi. Nadia menyipitkan mata.
“Katanya nggak ngintip,” gumamnya. “Tirainya yang ngintip.”
Dia belum sempat melangkah dua kali ketika pintu samping terbuka dan Felix keluar dengan jaket tipis, tangan di saku, berjalan seolah kebetulan lewat. Wajahnya sudah hampir seperti semula, hanya matanya masih cekung.
“Tirainya tertiup angin,” kata Felix.
“Jendelanya tertutup.”
“Anginnya dari dalam.”
Nadia mendengus sambil menahan senyum. Dia menyandarkan bahu ke tiang gerbang. “Kamu nggak boleh berdiri lama-lama. Dokter bilang istirahat.”
“Dokter juga bilang jangan stres. Menunggu kamu di ruang kerja tanpa tahu apa yang dikatakan Gladys membuat saya stres.”
“Dia minta maaf soal pesta. Dia bilang dia ninggalin kamu dulu karena Aron kaya.” Nadia memilih kalimatnya satu per satu. “Dia bilang dia nggak bakal bersaing. Cuma mau tinggal di sini sampai Aron berhenti nyari dia.”
Felix menatap jalanan di balik pagar. “Kamu percaya?”
“Sebagian.” Nadia mengedikkan bahu. “Aku percaya dia takut. Aku nggak tahu sisanya. Tapi aku udah bilang ke dia, kamu bukan hadiah.”
“Kamu bilang begitu?”
“Pakai analogi kue ulang tahun.”
Felix menatapnya beberapa detik, lalu menunduk, dan Nadia yakin bahunya bergetar karena tertawa tanpa suara. “Kue ulang tahun,” ulangnya. “Saya akan memikirkan itu sampai Senin.”
“Jangan, istirahat aja.”
Ponselnya bergetar sebelum dia sempat membalas. Nama pengirim membuat senyumnya mereda: Gracia.
Nad, cetakan foto acara sudah jadi. Aku kirim ke kantormu Senin pagi lewat kurir. Ada satu yang mau aku tunjukin ke kamu langsung, tidak lewat chat.
Nadia mengetik cepat: Foto apa?
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.
Senin aja. Bawa kopi. Dan jangan bilang siapa-siapa dulu, ya.