Senin pagi, Nadia berdiri di lobi kantor memegang dua gelas kopi seperti orang yang menunggu kurir narkoba. Akhir pekannya dihabiskan dengan tidur dua belas jam, makan nasi uduk bersama Anggit, dan menghafal klausul sebelas sampai tiga belas sampai kepalanya berdenging dalam bahasa Spanyol.
Pintu kaca bergeser. Gracia masuk dengan tas kamera di satu bahu, tripod terselempang di bahu lain, dan kotak karton besar yang dia pegang dengan dagunya.
“Nad!”
“Grace! Sini, sini, jangan jatuh.” Nadia menyambar kotak karton itu, menyerahkan segelas kopi, dan melihat Gracia menciumnya seperti orang yang baru selamat dari gurun. “Gue bawa kopi. Sesuai perintah.”
“Kamu penyelamat.” Gracia meneguk setengah gelas. “Kurir bilang paketnya bisa telat. Jadi aku antar sendiri. Mana ruang rapatnya?”
“Lantai dua. Tapi hati-hati sama...”
“Pak Lucas?” Gracia menyeringai. “Aku sudah siap.”
Mereka naik lift. Di ruang rapat kecil di lantai dua, Nadia membuka kotak karton dan mengeluarkan tumpukan cetakan foto ukuran besar. Ballroom hotel muncul lagi di tangannya: lampu kristal, meja bundar, wajah-wajah karyawan yang terkejut kena kilat kamera. Dia menemukan Anggit sedang menyuap tiga potong lumpia sekaligus dan nyaris tertawa keras.
Pintu terbuka.
Lucas berdiri di ambang dengan jas rapi dan masker baru. Pandangannya jatuh pada tripod yang bersandar di sudut ruangan.
“Itu apa?”
“Tripod, Pak.” Gracia berdiri dengan sopan. “Selamat pagi.”
“Alat luar. Masuk ke ruang yang saya bersihkan setiap pagi.” Lucas melangkah masuk dan menyodorkan selembar tisu alkohol ke Gracia, seolah sudah menyiapkannya sejak lobi. “Kakinya bersentuhan dengan apa?”
“Bagasi taksi, trotoar depan, dan satu bangku taman tempat saya menunggu kurir,” kata Gracia tenang. “Tapi sebelum naik lift saya seka dengan tisu alkohol. Lift gedung ini yang tidak saya seka.”
Lucas menatap Gracia selama tiga detik. Nadia menahan napas.
“Lift saya bersihkan hari Kamis,” kata Lucas.
“Hari ini Senin, Pak.”
“...Saya akan menyuruh orang membersihkannya hari ini.” Lucas menarik kembali tisunya, memandangi tripod itu sekali lagi, lalu mengangguk kaku. Dia mengambil satu foto dari kotak dengan dua jari, seperti memegang kertas bekas pakai. “Foto ini. Gelas saya terlihat. Ada sidik jari di bibir gelasnya.”
“Itu goresan lampu, Pak.”
“Itu sidik jari.” Lucas meletakkan foto itu kembali. “Taruh tripodnya di luar ruang rapat sebelum tamu datang. Lainnya silakan.”
Dia keluar. Pintu menutup. Gracia menepuk dadanya sendiri.
“Aku pikir dia bakal menyuruh aku mandi.”
“Dia hampir.” Nadia tertawa. “Itu rekor. Biasanya orang langsung disemprot.”
***
Mereka memilah foto sambil menyeruput kopi. Nadia menaruh yang bagus di sebelah kanan dan yang matanya terpejam di sebelah kiri. Karin, rekan kantor yang mengintip lewat pintu, meminta foto dirinya yang sedang menguap, dan Gracia, tertawa, menyerahkannya tanpa berpikir panjang.
Pada tumpukan kelima, tangan Nadia berhenti.
Foto itu diambil dari sudut rendah, dari balik pilar besar di dekat panggung. Di latar, meja utama tampak buram: Felix berdiri dengan gelas, Gisel di sebelahnya, Lucas dengan punggung tegak. Di depan pilar, agak miring ke kiri, Evan berjalan memegang nampan kecil dengan dua gelas. Wajahnya tidak menghadap kamera. Matanya menatap meja utama.
“Ini ada Mas Evan,” kata Nadia.
“Hm?” Gracia mendongak. “Oh, itu. Aku mengambil banyak foto dari balik pilar. Aku nggak sadar dia lewat.”
“Dia bawa dua gelas ke meja utama.”
“Panitia, kan. Mungkin bersulang.”
Nadia mengamati foto itu lebih lama. Dia mengingat malam itu: Lucas memerintahkan semua gelas diganti, wajah Evan yang sempat menegang, lalu Aron di lobi dan semuanya meledak. Dia tidak menemukan apa pun yang janggal. Hanya karyawan yang membawa minuman.
“Kenapa dia sendiri yang bawa?” gumam Nadia. “Kan ada pelayan.”
“Mungkin dia orang yang suka bantu.”
“Iya, kayaknya.” Nadia menaruh foto itu di tumpukan kanan, tetapi menyelipkannya paling bawah. “Mas Evan memang baik banget.” Kalimat itu keluar sambil lalu, lalu tersangkut: kamus Spanyol di depan pintu apartemennya, dan pertanyaan yang belum dijawab siapa pun, kontrak yang mana. Nadia menepisnya dengan sadar. Orang baik memang kadang tahu terlalu banyak soal kantor, katanya pada diri sendiri.
Gracia tidak menjawab. Dia mengambil foto itu lagi dan memandangi Evan sebentar sebelum meletakkannya kembali.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Evan berdiri di ambang dengan kemeja biru muda dan senyum yang selalu terpasang sebelum orangnya masuk.
“Selamat pagi. Saya dengar cetakannya sudah datang.”
“Pagi, Mas.” Nadia menggeser tumpukan foto itu agar kelihatan. “Baru dipilah.”
“Mbak Gracia, terima kasih sudah antar langsung.” Evan masuk dan berdiri di sisi meja. Dia mengambil satu foto dari tumpukan kanan. “Bagus sekali. Saya yang merekomendasikan Mbak ke panitia, lho. Syukurlah tidak mengecewakan.”
“Terima kasih, Pak Evan. Atas rekomendasinya.”
“Pak? Panggil Evan saja.” Evan mengambil foto berikutnya, lalu berhenti. Nadia sempat melihat ibu jarinya menekan tepi kertas pada foto pilar itu sedetik terlalu kuat. “Oh. Ini saya.”
“Iya, Mas bawa gelas ke meja utama.” Nadia tertawa kecil. “Aku tadi bilang, kenapa nggak pelayan aja.”
“Mereka kekurangan tangan malam itu. Saya kasihan.” Evan meletakkan foto itu kembali ke tumpukan, rapi, dengan sisi sama seperti sebelumnya. “Kebiasaan saya. Susah lihat orang kerepotan.”
“Tuh, kan,” kata Nadia pada Gracia.
Evan menoleh padanya. “Nad, siang ini...”
“Maaf, Mas. Aku harus nyelesain klausul.” Nadia tersenyum, sopan tetapi tidak membuka celah. “Lain kali aja ya, kalau urusan kantor.”
“Tentu. Saya cuma tanya.” Evan mengangguk, pamit pada Gracia, dan keluar tanpa suara langkah. Pintu menutup dengan klik yang halus.
Gracia mengikuti punggungnya dengan mata sampai kaca pintu kosong. Nadia membuka mulut hendak bicara, tetapi Gracia sudah menunduk lagi memilah foto seolah tak terjadi apa-apa.
Pintu terbuka lagi dan Anggit menjulurkan kepala. “Lo di sini. Gue dengar ada pembagian foto gratis.”
“Foto lo ada dua belas,” kata Nadia. “Sebelas mulut penuh.”
“Itu seni, Nad. Itu kejujuran.” Anggit menyeruput kopi Gracia tanpa permisi dan terlihat tidak peduli. “Grace, thanks ya, gue kelihatan ganteng.”
“Kamu kelihatan sedang makan.”
“Ganteng sambil makan.”
Mereka tertawa. Anggit menghilang dengan dua foto di saku, dan ruang rapat kembali tenang. Nadia merapikan tumpukan sambil bersiul pelan.
“Grace,” katanya setelah beberapa saat. “Tadi tuh, waktu Mas Evan datang, lo kenapa langsung diam?”
“Diam gimana?”
“Kayak ngitung sesuatu.”
“Aku selalu begitu kalau ada orang baru yang terlalu ramah.” Gracia menyingkirkan rambut dari dahi. “Kebiasaan fotografer. Kami lebih percaya kamera daripada senyum.”
“Mas Evan nggak bahaya, kok.”
“Aku nggak bilang bahaya.” Gracia tersenyum, tetapi senyum itu berhenti di bibir dan tidak naik ke matanya. “Aku cuma suka melihat orang dari sudut yang berbeda.”
***
Pukul sebelas, ketika Nadia menyusun foto-foto itu ke dalam map besar untuk diserahkan pada panitia, Gracia berdiri di dekat jendela memegang cangkir kosongnya. Dia terlihat gelisah, seperti orang yang berlatih kalimat di dalam kepala sampai kata-katanya sendiri terasa asing.
“Nad.”
“Ya?”
“Kamu ada waktu besok sepulang kerja?”
“Besok?” Nadia menutup map. “Ada. Lagi pengin ngopi lagi?”
“Sedikit lebih dari ngopi.” Gracia memutar cangkirnya. “Soal pesan Jumat kemarin. Ada sesuatu yang mau aku tunjukin. Aku bukan ahli menafsirkan, jadi aku nggak mau salah ngomong. Aku mau kamu lihat sendiri.”
Nadia menatapnya. “Serius gitu, ya?”
“Serius.” Gracia menarik napas, lalu menatap mata Nadia langsung. “Foto New Zealand itu masih aku simpan. Sekarang aku tahu siapa wanita di dalamnya. Mau lihat lagi? Besok sepulang kerja?”