“Ulangi,” kata Lucas.
“Buenos días, Señora Manriko.” Nadia menarik napas. “Bienvenida a Yakarta.” (Selamat pagi, Bu Manriko. Selamat datang di Jakarta.)
“Huruf ‘r’-nya kurang.”
“Manrrriko.” Nadia menggulung lidah sampai bunyinya mirip motor tua dihidupkan. “Rrrr.”
“Bagus. Jangan bunyikan itu di depan tamu. Kamu bukan knalpot.” Lucas melirik gagang troli bagasi yang kebetulan lewat, lalu mundur setengah langkah darinya.
Sabtu pukul tujuh lewat empat puluh, lobi hotel berbau melati dan cairan pel. Lima malam les di mansion Felix meninggalkan Nadia dengan tiga warisan: tenggorokan serak, kamus bersampul rapi yang kini kusut dan bernoda kecap, dan suara Felix yang masih mengiang, Lagi. Lebih pelan. Lagi. Pagi tadi Felix hanya mengirim satu pesan, Napas dulu, baru bicara. Menurut aturan Lucas, selama jam kerja tidak boleh lebih dari itu.
Di sebelah Nadia, Rere memegang tablet. Pintu putar berdesir, dan Evan masuk dengan map biru dan senyum sopan. Dia mengangguk pada Lucas, pada Rere, lalu pada Nadia, dan berhenti tiga langkah dari mereka. Tiga langkah persis. Nadia menyadari dia sedang menghitung.
“Pagi, Pak. Pagi, Nad.”
“Pagi, Mas,” sahut Nadia, setengah ke arah lantai.
Ting! Pintu lift terbuka.
Topi bulu hijau zamrud muncul lebih dulu, disusul kipas, gaun beludru, dan seorang sekretaris muda berkacamata yang menyeret dua koper. Sra. Manriko berhenti di tengah lobi. Kipasnya terhenti di depan dada. Matanya menyipit ke arah Nadia.
“¡La chica del lobby!”
“Mampus gue,” batin Nadia. Tapi lidahnya sudah berlatih lima malam. “Buenos días, Señora Manriko. Bienvenida a Yakarta.”
Hening dua detik. Lalu kipas itu mengibas girang.
“¡Ahora sí hablas!” (Sekarang kamu bisa bicara!)
Sebelum Nadia sempat menyengir, Manriko sudah menangkap kedua pipinya dan mencium udara di sisi kiri dan kanan. Mmuah, mmuah. Dia lalu berpaling ke Lucas dan melakukan hal yang sama.
Lucas membeku seperti tiang bendera. Sanitizer di tangannya terangkat setengah jalan. Dia baru bergerak ketika Manriko sudah melangkah ke Evan, dan gerakan pertamanya adalah mengelap pipi kiri dengan punggung tangan.
“Itu tidak dihitung,” bisiknya pada Nadia. “Itu budaya.”
“Iya, Pak. Budaya.”
“Diam.”
“Pak, saya nggak ngomong apa-apa.”
“Wajahmu yang ngomong.” Lucas merapikan jasnya, lalu menatap sekretaris Manriko yang sedang menyeret koper. “Evan, bantu beliau. Rere, mobil. Nadia, kamu jalan di sebelah Bu Manriko dan tersenyum. Jangan jelaskan apa-apa kecuali ditanya.”
“Kalau ditanya pakai Spanyol cepat?”
“Tersenyum lebih lebar.”
***
Pukul sembilan, ruang rapat lantai tiga sudah dipenuhi harum parfum Manriko dan aroma antiseptik Lucas, yang bertarung tanpa pemenang. Lucas menetapkan tempat duduk seperti panitia perang: Nadia di antara dia dan Rere, Evan di seberang meja, sekretaris Manriko di sisi tuan rumahnya. Tidak ada yang duduk berdua saja dengan siapa pun.
Evan menerjemahkan dengan cekatan. Candaan Manriko tentang macet Jakarta dia ubah menjadi kalimat yang lucu dalam bahasa Indonesia, dan keluhan soal kopi hotel jadi pujian bagi keramahan tuan rumah. Lucas mengangguk kecil. Nadia mencatat dan berusaha tidak merasa terharu pada seseorang yang pernah membuatnya merinding di lobi.
Lalu Manriko meletakkan kipasnya di meja. Bunyinya tek, seperti palu hakim.
“Explique la cláusula doce.” (Jelaskan klausul dua belas.)
Evan membuka mulut. “Beliau meminta...”
“Sin intérprete.” Kipas diangkat, telunjuk Manriko menunjuk Nadia. “Ella sola.” (Tanpa juru bahasa. Dia sendiri.)
Evan mengatupkan bibir dan tersenyum. Lucas menahan napas sampai bahunya naik. Di bawah meja, Nadia meremas map sampai kusut. Klausul dua belas. Pembagian pendapatan. Ingresos compartidos. Kata yang dulu hampir mematahkan pensilnya.
“Em.” Dia berdeham. “La cláusula doce... es sobre el dinero.” (Klausul dua belas... soal uang.)
Sekretaris menutup mulut dengan buku catatan. Manriko mengibaskan tangan, lanjutkan.
“Caralos recibe... cincuenta y cuatro por ciento.”
Lucas menarik napas tajam.
“No! No, no.” Nadia menepuk dahinya sendiri. “Cincuenta y cinco. Lima puluh lima. Y ustedes, cuarenta y cinco.” (Dan Anda, empat puluh lima.)
Satu detik. Dua. Lalu tawa Manriko meledak sampai topi bulunya bergoyang.
“¡Cincuenta y cinco! Muy bien.” Dia menepuk meja. “Es la primera extranjera que corrige su propio error.” Sekretarisnya menerjemahkan sambil tersenyum: beliau bilang, kamu orang asing pertama yang mengoreksi kesalahannya sendiri sebelum dikoreksi.
Lucas menyemprot meja dengan sanitizer, dua kali, tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
“Pak,” bisik Nadia, “meja itu nggak kena apa-apa.”
“Saya sedang merayakan.”
“Selamat, Nad.” Evan merapikan mapnya dengan senyum yang pas. “Kalau mau, nanti saya periksa catatan klausulmu sebelum kamu cetak.”
“Lewat surel,” potong Lucas, tanpa menoleh. “Tembusan Rere.”
“Tentu, Pak.”
“Tentu juga bagi Mbak Nadia,” tambah Rere pelan, mengetuk tabletnya. “Semua yang dibuka sudah tercatat.”
“Iya, Re,” sahut Nadia. “Aku cuma mau minum.”
“Air putih sudah saya siapkan,” kata Evan. Lucas menoleh begitu pelan sampai Evan sendiri menambahkan, “Di meja tamu, Pak. Bukan khusus untuk Nad.”
“Bagus,” kata Lucas. “Berhenti di situ.”
***
Pukul setengah dua belas, pintu ruang rapat terbuka dan Felix masuk dengan setelan biru tua, wajah bos, dan sorot mata yang hanya mampir pada Nadia selama setengah detik. Cukup lama untuk Nadia membaca Napas dulu di situ.
Manriko berdiri menyambutnya. Felix menjawab dalam Spanyol yang mengalir seperti air dari keran, tanpa jeda mencari kata, sampai Evan di seberang meja mengerutkan dahi sedikit. Nadia menunduk menahan senyum. Pria itu mengajarinya lima malam dengan kejam, padahal dia sendiri selancar itu.
Draf bahasa Indonesia yang sudah final diletakkan di meja. Lucas memaraf tiap halaman, lalu Felix. Dua puluh dua halaman, dua puluh dua kali tanda tangan kecil di sudut, dan Nadia menghitung semuanya diam-diam. Manriko hanya mengangguk puas, karena draf Spanyol baru akan diserahkan sekretarisnya besok.
“Fotokopi,” kata Lucas tanpa menoleh. “Kamu pasti sudah menyiapkan.”
“Sudah, Pak.” Nadia menarik tas dari kolong kursi. “Saya sekalian bawa cetakan email konfirmasi dari sekretaris Bu Manriko, yang Kamis lalu. Lima puluh lima dan empat puluh lima. Siapa tahu.”
“Siapa tahu,” ulang Lucas, nyaris dengan hormat.
Mesin fotokopi lantai tiga biasanya antre. Hari Sabtu, dia kosong dan berkedip hijau. Nadia merasa seperti pulang kampung. Dia menggandakan dua puluh dua halaman yang sudah dipenuhi paraf, dua rangkap, lalu menyelipkannya ke map terpisah bersama cetakan email itu. Brrrt. Brrrt. Klik.
“Mbak Nadia sedang menggandakan apa?” Rere muncul di sampingnya tanpa suara langkah.
“Draf yang barusan diparaf. Satu buat tas, satu buat laci.”
“Boleh saya minta satu untuk arsip?”
“Boleh, Re.” Nadia menyodorkan lembar teratas. “Kamu kok kayak detektif, sih?”
“Saya hanya mengikuti perintah Pak Lucas.” Rere menyimpan lembar itu ke tabletnya, lalu menurunkan suara. “Dan saya senang ada yang menyimpan salinan.”
Ketika dia kembali ke ruang rapat, Manriko sudah berdiri di ambang pintu dengan kipas terkembang dan Felix di sisinya.
“Mañana, golf,” kata Manriko riang. “Usted y yo, Don Félix. Y la chica lleva mi bolsa.” (Besok golf. Anda dan saya, Tuan Felix. Dan gadis itu yang membawa tas saya.)
Nadia menatap Felix. Felix menatap kipas.
“Dia mengundang kamu,” katanya datar, seperti membaca pengumuman evakuasi. “Sebagai caddy.”
“Hah?” Nadia menunjuk dirinya sendiri. “Pak, saya bisa kesasar di lapangan parkir.”
“Kamu bisa mendorong golf cart.” Sudut bibir Felix nyaris bergerak, lalu urung karena Lucas berdeham. “Pakai sepatu datar. Jemputan pukul enam pagi.”