Pukul lima lewat lima puluh pagi, Nadia keluar dari lift apartemen dengan kaus kebesaran, sepatu datar, dan mata yang masih separuh tidur. Rambutnya diikat asal. Di tangannya ada sebungkus roti yang dia gigit sambil berjalan.
Mobil hitam itu menunggu di depan lobi. Felix duduk di balik kemudi dengan polo putih dan topi golf, sudah rapi seperti iklan majalah.
“Kamu terlambat sepuluh menit.”
“Aku keluar pukul lima lewat lima puluh. Jemputannya pukul enam.” Nadia membanting pintu penumpang dan menyandar. “Kamu yang datang setengah jam lebih awal, terus nyalahin jam.”
“Saya sampai pukul setengah enam. Menurut jam saya, kamu terlambat sepuluh menit.”
“Berarti jam kamu yang kecepatan.”
Felix menarik napas pendek lewat hidung, seperti orang menghitung sampai tiga. Dia menyalakan mobil. Dari laci dasbor dia mengeluarkan kotak makan kecil dan meletakkannya di pangkuan Nadia tanpa berkata apa-apa.
Nadia membuka tutupnya. Sandwich telur, irisan apel, dan satu potong cokelat dibungkus rapi.
“Kamu bangun jam berapa?”
“Cukup pagi.” Mata Felix tetap di jalan. “Makan. Lucas bilang kamu pingsan kalau terlalu lapar.”
“Lucas bilang? Kamu ngobrol sama Lucas soal makanku?”
“Saya bertanya soal tugasmu. Makanmu ikut disebut.” Telinga Felix sedikit memerah. “Jangan dibahas.”
Nadia menggigit sandwich itu sambil menyembunyikan senyumnya di balik roti.
***
Lapangan golf pagi itu seluas padang pengembaraan. Embun masih menempel di rumput, dan kabut tipis menggantung di sela pepohonan. Manriko sudah menunggu di dekat teras klub dengan topi bulu berwarna jingga, kipas bulu menggantung di pergelangan, dan seorang sekretaris yang menguap tanpa suara di belakangnya.
“¡Don Félix!” Manriko merentangkan tangan. “¡Y la chica!”
Nadia menyengir dan mengangkat tangan. Felix menjawab dalam Spanyol, dan keduanya tertawa pada sesuatu yang tidak Nadia tangkap. Lalu seorang petugas lapangan menyerahkan satu set tongkat golf ke tangan Nadia.
“Pak.” Nadia menimbang tas berat itu seperti orang mengangkat bayi gajah. “Ini caddy yang mana? Saya kira cuma mendorong.”
“Itu tas Bu Manriko.” Felix berjalan lebih dulu tanpa menoleh. “Yang kamu dorong golf cart-nya. Tasnya ditaruh di belakang.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Saya baru bilang sekarang.”
Golf cart itu kecil, putih, dan terlihat jinak. Nadia duduk di kursi pengemudi dengan Manriko di sebelahnya, sekretaris di belakang, dan tas tongkat terikat di bagian bagasi. Felix berjalan kaki menuju titik pukul pertama.
“Pelan-pelan,” kata Nadia pada dirinya sendiri. “Pelan. Kamu bukan Dominic Toretto.”
Mesin menderu halus. Cart merayap. Manriko mengibaskan kipas dan berseru gembira. Nadia menginjak pedal, cart bergerak lebih cepat dari yang dia kira, dan ketika dia berbelok mengikuti jalan setapak, roda depan menyentuh lereng berumput yang masih basah.
Crrrt.
Cart tergelincir ke samping. Pelan, anggun, seperti penari yang kelelahan, dia meluncur menuruni lereng kecil dan berhenti dengan satu roda terbenam dalam gundukan pasir.
Hening.
Lalu terdengar tawa Manriko yang melengking seperti peluit kereta api. Sekretarisnya terjatuh sebagian dari kursi sambil memegang topi. Dari kejauhan, Felix menoleh. Wajahnya berubah dari tenang menjadi tegang, lalu menjadi sesuatu yang tidak bisa Nadia artikan, karena dia sibuk memegang setir yang sudah tidak berguna.
“¡Es un bunker!” (Ini bunker pasir!) teriak Manriko di sela tawa. “¡Excelente!”
Felix tiba dalam hitungan detik. Dia membungkuk melihat roda, memeriksa Manriko, lalu sekretaris, dan baru terakhir Nadia, yang duduk kaku seperti patung.
“Ada yang terluka?”
“Cuma harga diri,” bisik Nadia.
“Itu urusan berikutnya.” Felix mengulurkan tangan. “Pegang.”
Nadia memandang telapak tangan itu, lalu mengangguk. Genggaman Felix kuat dan hangat, dan dia ditarik keluar dari kursi dengan gerak yang hati-hati sekali. Felix melepas tangannya begitu kaki Nadia menyentuh rumput, bahkan sebelum dia sempat berterima kasih.
Dua petugas lapangan datang menarik cart itu ke jalan setapak sambil menahan senyum. Manriko menepuk bahu Nadia sampai dia terhuyung.
“Esta chica es divertida.” (Gadis ini lucu.) Lalu dia menoleh pada Felix dan mengedip. “Tu novia, ¿verdad?”
Nadia hanya mengerti satu kata. Novia. Kata itu terselip di kamusnya, tepat sebelum novio. Dia membeku.
Felix membuka mulut, menutupnya lagi, lalu membuka sekali lagi. Dari leher sampai ujung telinga, kulitnya berubah sewarna kepiting rebus. Nadia belum pernah melihat bos dingin yang dulu menyuruhnya keluar dari ruangan itu memerah sampai ke topinya.
“Señora,” katanya dengan suara yang agak serak. “El golf.” (Bu. Golfnya.)
“¡Ja!” Manriko terkekeh puas. “Lo sabía.” (Saya sudah tahu.)
Felix berjalan pergi menuju titik pukul dengan langkah yang terlalu lurus. Nadia mengejarnya dua langkah, pura-pura merapikan tas.
“Pak,” bisiknya. “Novia itu pacar kan? Bukan pengantin?”
“Dua-duanya.”
“Hah?”
“Pegang tongkatnya, Nadia.”
“Pak, kuping Bapak merah.”
“Itu matahari.”
“Jam segini matahari belum naik.”
“Nadia.”
“Siap, Pak.” Nadia mengelap mulut supaya tawanya tidak keluar, lalu menunduk menatap sepatu datarnya. Dadanya hangat dan geli sekaligus, seperti minum teh jahe terlalu cepat.
Di lubang ketiga, Manriko memaksa Nadia mencoba satu pukulan. Felix mengerutkan dahi dan membuka mulut untuk menolak, tetapi kipas bulu sudah menunjuk ke arah bola putih di atas tee.
“Cuma satu,” kata sekretaris, yang akhirnya terjaga dan sedikit tersenyum. “Beliau tidak pernah menertawakan orang yang berusaha. Hanya orang yang berpura-pura mahir.”
“Berarti saya aman,” gumam Nadia. “Saya nggak mahir, dan saya nggak pura-pura.”
Dia berdiri dengan kaki terlalu lebar, tongkat terlalu tinggi, dan lidah terjepit di gigi. Manriko berseru sesuatu yang diterjemahkan sekretaris menjadi, “Beliau bilang, bayangkan bolanya adalah atasan yang menyebalkan.”
“Gampang,” kata Nadia.
Wuuush. Tongkat menyapu rumput. Bola tetap diam. Tongkat kembali, kali ini menyentuh bola dengan sisi yang salah, dan bola terbang ke samping, menabrak roda golf cart dengan bunyi tung! lalu menggelinding ke kolam kecil dan tenggelam dengan plung yang sangat puas.
Manriko bertepuk tangan seperti penonton opera. Felix menutup mata sebentar.
“Itu tiga ratus ribu rupiah,” katanya.
“Bola golf semahal itu?”
“Kamu tahu apa yang lebih mahal? Tawa Manriko.” Felix membuka mata, dan Nadia bersumpah dia melihat sudut bibir itu melengkung. “Saya rela.”
***
Menjelang pukul sepuluh, terasa ada tatapan yang menempel di tengkuknya. Nadia menoleh dari tepi lapangan. Di teras klub, jauh di belakang pagar kayu, Evan berdiri bersama sekretaris Manriko dan dua orang staf klub. Dia datang sebagai juru bahasa makan siang, begitu pesan Lucas semalam. Tiga orang, tidak ada yang berdua. Sesuai aturan.
Tangan kanan Evan memegang gelas kopi. Tangan kirinya menggenggam pagar teras, dan dari jarak itu Nadia bisa melihat buku jarinya memutih. Rahangnya mengatup rapat. Dia memandang Felix dan Manriko yang sedang tertawa di bawah pohon, lalu bergeser memandang Nadia.
Lalu dia mengangguk dan meneguk kopinya pelan, seperti orang yang sedang menghitung giliran.
Nadia membalas dengan anggukan sopan sekecil mungkin dan segera memunggunginya.
Sekitar pukul sebelas mereka duduk di teras klub. Manriko menghabiskan jus mangga dan mendiktekan lelucon pada Felix, yang sekarang menjawab dengan senyum tipis. Sekretaris Manriko, yang sejak pagi hanya menguap, akhirnya mengeluarkan map tipis dari tasnya dan meletakkannya di meja, di dekat Felix.
“Don Félix, el borrador final del contrato.” (Draf final kontraknya.)
Felix tidak menyentuhnya. Dia menggeser map itu dengan satu jari ke arah Nadia.
“Itu milik Nadia,” katanya dalam bahasa Indonesia, lalu mengulanginya dalam Spanyol. “Es de ella.” Kemudian lebih pelan, hanya untuk Nadia, “Saya tidak akan membacanya. Kesepakatan dengan Lucas.”
Nadia mengambil map itu. Setebal dua jari, bahasa Spanyol dari halaman pertama sampai terakhir. Perutnya terasa jatuh sedikit.
Sekretaris itu membetulkan kacamata. “Beliau berharap Nona membacanya malam ini. Senin pagi beliau akan menelepon, dan beliau ingin tahu apakah ada yang janggal.”
“Malam ini,” ulang Nadia.
“Malam ini.” Manriko mengangkat gelas jusnya, tersenyum lebar. “Buena suerte, chica.” (Semoga beruntung, gadis.)