“Klausul sembilan,” gumam Nadia, telunjuknya menyusuri baris Spanyol, “sanciones. Sanksi. Kalau telat bayar... apa itu... penalti.”
“Gue ikut deg-degan,” kata Anggit dari ujung sofa, memeluk bantal sambil mengunyah keripik. Dia datang pukul sembilan malam membawa nasi goreng dan sudah menghabiskan separuh milik Nadia. “Ini kayak nonton drakor, tapi tokohnya pasal.”
“Diem, Nggit. Gue lagi nyari kata.”
“Kata apa?”
“Kalau gue tahu, gue nggak nyari.”
Pukul sebelas lewat empat puluh, Nadia membaca klausul sembilan untuk ketiga kalinya. Pukul dua belas kurang lima, kepalanya turun perlahan ke atas kamus. Ketika Anggit mengintip sambil membawa selimut, dia mendengar dengkuran kecil yang rapi dan teratur, seperti mesin kulkas tua.
“Kebo,” bisik Anggit, menyelimutinya. “Tapi kebo yang mulia.”
Nadia terbangun pukul empat lewat lima puluh dengan huruf Z tercetak di pipi kirinya dan map Spanyol menempel di dada. Dia melompat. Anggit sudah pulang, meninggalkan sepotong kertas: Gue matiin lampu. Jangan mati. Dia menyeduh kopi, menyalakan lampu meja, dan membaca seperti orang mengejar kereta terakhir.
Klausul sepuluh. Sebelas. Dua belas.
Jarinya berhenti.
Caralos recibe el cuarenta y cinco por ciento. La empresa de golf, el cincuenta y cinco. Dia membacanya dua kali, tiga kali, lalu menjauhkan kertas itu seperti menjauhkan kecoak. Empat puluh lima untuk Caralos. Lima puluh lima untuk perusahaan golf. Padahal baru dua hari lalu, di depan Manriko sendiri, mulutnya berkata sebaliknya.
“Nggak,” bisik Nadia. “Ini kebalik.”
Dia menarik tas dari kolong meja dan mengeluarkan map kedua. Fotokopi dua puluh dua halaman bertanda paraf Felix dan Lucas di sudut tiap lembar. Halaman keempat belas. Lima puluh lima persen bagi Caralos. Dan di bawahnya, cetakan email konfirmasi dari sekretaris Manriko yang dia cetak Kamis lalu: lima puluh lima dan empat puluh lima, dalam tiga baris yang tidak bisa ditafsirkan lain.
Dia menatap tiga lembar kertas itu lama sekali, sampai kopinya dingin.
***
Pukul delapan kurang sepuluh, ruangan Lucas sudah terasa seperti ruang bedah. Lucas berdiri dengan masker dan sarung tangan karet, Rere di sampingnya membawa tablet, dan Evan duduk di kursi tamu dengan map biru di pangkuannya. Tiga orang, ditambah Nadia. Tidak ada yang berdua.
Nadia meletakkan ketiga lembar itu berjajar di meja. Spanyol, Indonesia berparaf, dan email.
“Klausul dua belas,” katanya. “Angkanya terbalik, Pak.”
Lucas membaca. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, lalu naik ke wajah Nadia. “Draf yang diserahkan sekretaris kemarin?”
“Iya, Pak. Saya baca semalam, sampai subuh tadi.”
“Kamu yakin yang Indonesia ini versi yang kami paraf?”
“Ada paraf Bapak di pojok, ada paraf Pak Felix. Dua puluh dua halaman, saya hitung.” Nadia menunjuk. “Dan email dari sekretaris Bu Manriko, tanggal Kamis lalu, lima puluh lima untuk Caralos. Draf Spanyol ini memberi Caralos empat puluh lima.”
“Saya lihat.” Evan mencondongkan badan. Wajahnya serius, dahinya berkerut seperti orang menemukan noda di kemeja bagus. “Ah. Astaga. Pak, kemungkinan besar itu salah versi berkas.”
Lucas memutar kepala pelan. “Jelaskan.”
“Terjemahan awal klausul itu saya kerjakan dua minggu lalu, sebelum angka final disepakati. Waktu itu urutan persentasenya memang berbeda.” Evan mengusap tengkuknya, tampak menyesal. “Saya sudah menandai berkas lama itu sebagai usang, tetapi sekretaris Bu Manriko meminta salinan lengkap seluruh folder, dan mungkin yang terbawa adalah versi lama. Itu kelalaian saya, Pak. Saya minta maaf. Saya seharusnya memastikan.”
“Berapa banyak versi yang ada?” tanya Lucas.
“Tiga, Pak. Versi pertama, revisi, dan final.”
“Rere.”
“Tercatat di akses folder, Pak.” Rere mengetuk tabletnya. “Tiga versi dibuka Evan, dua versi dibuka Mbak Nadia. Semuanya dalam jam kerja.”
Nadia memandang Evan. Evan tersenyum kecil padanya, sopan, dengan sorot seorang pria yang baru saja minta maaf dan berharap dimaafkan. Dia tidak mengatakan apa pun lagi.
Pintu diketuk. Felix masuk, jasnya sudah terpasang, dasinya sedikit miring. Dia berhenti begitu melihat tiga lembar di meja.
“Saya tidak akan menyentuhnya,” katanya sebelum ada yang berbicara. “Saya hanya ingin tahu satu hal. Itu paraf saya?”
Nadia mengangkat fotokopi itu. “Halaman empat belas, Pak.”
Felix melihatnya dari jarak satu meter, tanpa mendekat. “Itu paraf saya. Dan itu angka yang kami sepakati dengan Manriko di rapat pertama.” Dia menoleh pada Lucas. “Hubungi sekretarisnya. Pakai surel, bukan gue. Gue duduk di ruangan gue dan nggak baca apa pun.”
“Akhirnya lo belajar,” gumam Lucas.
“Gue belajar dari yang terbaik.”
Sudut bibir Felix tidak bergerak. Tetapi sebelum pintu menutup di belakangnya, matanya bertemu mata Nadia sekejap, dan Nadia membaca satu kalimat di sana: Kamu yang menemukan ini.
***
Sekretaris Manriko membalas dalam empat puluh menit, meminta maaf panjang lebar lewat surel Spanyol, yang Nadia terjemahkan sendiri dengan kamus dan dibenarkan Lucas dari balik masker. Berkas yang benar dikirim ulang pukul sebelas. Nadia membacanya sendiri dari kalimat pertama, bergantian dengan Lucas, sementara Evan duduk di ujung meja dan memegang daftar istilah, tidak diminta apa-apa lagi.
Kali ini klausul dua belas benar. Tapi Lucas menolak berhenti.
“Baca semua,” katanya. “Sekali lagi. Satu kata tidak cocok, kita ulang dari awal.”
“Pak, kita sudah baca—”
“Satu klausul terbalik bisa jadi kerugian miliaran. Kamu mau menjadi orang yang melewatkannya?”
“Tidak, Pak.”
“Maka baca.”
Hari itu berjalan seperti lomba maraton. Siang, Nadia makan sambil membaca. Anggit mengetuk pintu ruang rapat dengan kantong plastik berisi dua bungkus nasi ayam dan wajah orang yang baru menyelundupkan barang berbahaya.
“Gue nggak boleh masuk, ya?”
“Saya yang bilang boleh, asal tiga menit.” Lucas tidak mengangkat kepala dari halaman sebelas. “Taruh di meja yang saya semprot. Jangan sentuh yang lain.”
“Siap, Bos Kuman.”
“Apa?”
“Siap, Pak.” Anggit meletakkan bungkusan itu, lalu merunduk ke telinga Nadia. “Lo masih hidup?”
“Setengah.”
“Semalam lo ngorok pas klausul sembilan. Gue rekam.”
“Hapus.”
“Gue simpen buat pernikahan lo nanti.”
“Anggit.”
“Iya, iya, gue keluar.” Dia menyodorkan sendok plastik pada Nadia dengan ekspresi khidmat. “Makan. Spanyol nggak bisa dibaca perut kosong.”
Setelah dia pergi, Nadia memandang pintu yang masih bergoyang. Dari semua hal hari itu, ayam tanpa pertanyaan terasa paling melegakan. Sore, Rere mencetak draf final dua rangkap dan Lucas memeriksa tiap halaman dengan sarung tangan. Tinta printer kehabisan di halaman sembilan belas, Rere berlari ke gudang, dan Nadia menahan jeritan ketika lembar terakhir masuk ke mesin dengan bunyi kreeek yang mencurigakan.
Pukul lima lewat dua puluh, draf Spanyol dan Indonesia itu sama persis, kata demi kata. Nadia menyandarkan kening ke tumpukan kertas hangat itu.
“Aku mau pulang,” katanya pada tumpukan kertas. “Aku mau tidur seminggu.”
Lucas menyemprot map terakhir dengan sanitizer dan meletakkannya di depan Nadia. “Tanda tangan besok pukul sembilan di ruang rapat. Pastikan kamu tidak terlambat, tidak sakit, dan tidak membawa fotokopi yang salah.”
“Fotokopi saya tidak pernah salah, Pak.”
“Itulah masalahnya,” kata Lucas, hampir tersenyum. “Itu satu-satunya hal di kantor ini yang bisa saya percaya.”
Di dalam lift, ponsel Nadia bergetar. Pesan dari Felix, hanya dua kata: Tidur, tolong.
Nadia menatap layar itu sambil bersandar di dinding cermin. “Tolong yang bagus, ya,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Bawain kasur.” Bayangan itu menyengir balik, dan Nadia baru sadar dia tersenyum sendirian di dalam lift.