Felix tidak berteriak. Itu yang paling menakutkan bagi Nadia.
Dia berlutut di depan ibunya dengan kedua tangan menggenggam tangan Gisel yang dingin dan gemetar. Suaranya turun satu tingkat, lalu satu tingkat lagi, hingga hampir seperti bisikan.
“Mah. Ceritakan dari awal. Pelan-pelan.”
Gisel menarik napas dan kertas di pangkuannya berderak. “Kami minum teh di ruang tamu, aku dan Gladys. Pukul tujuh kurang. Satpam menelepon dari pos, katanya ada tamu laki-laki di gerbang yang tidak mau menyebut nama. Aku lihat monitor.” Dia berhenti. “Itu dia. Berdiri tegak di depan kamera, memakai jaket kulit, tersenyum. Aron.”
“Dia masuk?”
“Tidak. Satpam tidak membuka. Aku suruh dia masuk ke dapur dan kunci pintu. Aku matikan semua lampu taman.” Gisel tertawa kering, pendek. “Bodoh. Kupikir kalau gelap, dia akan mengira rumah kosong.”
“Itu tidak bodoh, Mah.”
“Dia tidak pergi. Dia bicara ke interkom. Pelan, sopan, seperti orang yang menawarkan kopi.” Mata Gisel terpejam. “Katanya, ‘Gladys, saya tidak akan marah. Saya hanya mau bicara. Tapi kalau saya harus memanjat pagar ini, Bu Gisel yang akan kena.’ Dia tahu namaku. Dia tahu aku tinggal sendirian di rumah ini malam ini. Dia sebut itu satu per satu.”
Nadia mendengar napasnya sendiri terlalu keras. Felix tidak bergerak.
“Gladys tidak mau kamu terluka,” lanjut Gisel. “Aku bilang jangan keluar. Aku bilang kita telepon polisi. Dia memegang tanganku seperti ini.” Dia menunjuk punggung tangannya sendiri. “Dia bilang, ‘Bu Gisel sudah terlalu baik. Saya tidak mau Ibu yang membayar.’ Lalu dia menaruh ini di tanganku dan berjalan ke pintu.”
Kertas itu terbuka ketika Felix menariknya pelan. Tulisan tangan Gladys, rapi dan miring. Jangan cari. Terima kasih untuk semuanya.
Felix membacanya sekali. Dia melipatnya tanpa suara dan memasukkannya ke saku jas.
“Jam berapa?”
“Kira-kira pukul tujuh. Aku langsung menelepon kamu. Kamu tidak mengangkat.”
“Ponsel saya senyap,” kata Felix, dan Nadia melihat rahangnya mengeras karena menyadari apa arti kalimat itu. Jam kerja, aturan Lucas, dan satu jam yang dia ambil untuk dirinya sendiri. Dia menarik ponsel dari saku, menekan satu nama. “Lucas.”
***
Setengah jam kemudian ruang tamu mansion yang biasanya lega itu terasa sempit. Lucas tiba lebih dulu dengan wajah tanpa masker, tanpa sanitizer, dan tanpa satu pun sindiran. Dia berdiri di dekat jendela dan menelepon seseorang dengan suara rendah. Satpam gerbang keluar dari dapur dan menunduk dalam-dalam di hadapan Felix, meminta maaf berulang kali.
Pak Harun tiba menjelang pukul sembilan. Seorang pria enam puluhan dengan rambut putih tersisir rapi, jas kusut, dan tas kulit yang kelihatan sudah menemaninya sejak Felix kecil. Dia menjabat tangan Felix, lalu tangan Nadia dengan hormat.
“Mbak Nadia. Saya Harun.”
“Nadia, Pak.”
“Pak Lucas sudah bercerita banyak tentang Mbak,” tambahnya. “Kebanyakan soal fotokopi.”
“Itu benar, Pak. Maaf.”
“Jangan minta maaf. Fotokopi sering menyelamatkan perkara.” Pak Harun membuka laptop di meja. “Pak Felix, rekaman kamera gerbang. Boleh saya lihat?”
Layar menyala. Hitam putih, butir kasar, tetapi cukup terang. Sebuah sedan abu-abu berhenti di depan gerbang dan seorang pria turun. Jaket kulit, tubuh tegap, rambut tersisir licin. Dia menekan interkom dan memandang lurus ke lensa dengan senyum tenang.
Nadia mencengkeram sandaran kursi.
Sembilan menit kemudian, pintu pagar kecil di samping gerbang terbuka. Gladys melangkah keluar dengan cardigan krem dan tangan terlipat di dada. Dia berhenti satu langkah sebelum Aron, menoleh kembali ke arah rumah, menatap kamera tanpa tahu bahwa dia sedang menatap mereka. Lalu dia menunduk dan masuk ke kursi penumpang.
Sedan itu melaju.
“Berhenti,” kata Pak Harun. “Mundur tiga detik.”
Layar bergeser. Pada detik terakhir sebelum lampu belakang menghilang, terlihat plat nomor, buram tapi terbaca. Pak Harun menuliskannya di buku kecil dan menelepon seseorang tanpa menunggu persetujuan siapa pun.
“Selamat malam, Komandan. Harun di sini. Plat B 7721 TQ, sedan abu-abu, arah utara dari kawasan Caralos. Korban kekerasan rumah tangga, diduga dibawa paksa. Laporannya menyusul, kamera gerbang ada.” Hening. “Dua unit, ya. Dan jangan siaran.”
Felix sudah berdiri sambil meraih kunci mobil.
“Saya ikut mobil polisi.”
“Pak Felix, sebaiknya Bapak menunggu,” kata Pak Harun hati-hati.
“Tidak.”
“Aku ikut,” kata Nadia.
Felix berbalik. “Tidak.”
“Aku ikut.”
“Nadia. Aron bukan orang yang bisa diajak bicara. Kamu tidak akan berdiri di dekatnya.”
“Aku bukan minta izin.” Nadia menahan suaranya supaya tidak pecah. “Aku bilang aku ikut. Kamu bisa setuju atau nggak, aku tetap pergi. Aku cuma pengin kamu tahu duluan.”
Mereka berpandangan. Di belakang mereka, Gisel menutup mulutnya dengan tangan dan Lucas menurunkan ponselnya.
Felix menarik napas panjang. Nadia melihat sesuatu bergulat di wajahnya: keinginan untuk memerintah, ketakutan, dan satu hal lagi yang dia pelajari beberapa hari terakhir dengan susah payah.
“Anggit,” kata Felix pelan. “Panggil dia. Kalian ikut di belakang mobil saya, dalam mobilnya, pintu terkunci. Kalau saya bilang tinggal, kamu tinggal.”
“Aku nggak bisa janji soal yang itu.”
“Saya tahu.” Felix menutup mata sebentar. “Saya tetap bertanya.”
***
Anggit tiba dua puluh menit kemudian dengan sedan tua yang mesinnya berderum seperti kaleng berisi kerikil. Dia melompat keluar dengan kaus lusuh dan sandal jepit berbeda warna.
“Gue dateng.” Dia terengah. “Gue nggak tahu kenapa. Lo cuma bilang ‘Nggit, sekarang, mansion’ dan gue lari. Gue lupa makan malem, gue lupa pakai sepatu, gue lupa—”
“Gladys dibawa Aron,” kata Nadia.
Anggit berhenti. Wajahnya berubah, tak ada lagi jenaka.
“Naik,” katanya. “Gue bawa lo.”
Di depan mereka, mobil Felix menyalakan lampu. Di belakangnya dua mobil polisi tanpa sirene menyusul keluar gerbang. Nadia membanting pintu Anggit dan mengunci semuanya. Ponselnya bergetar di pangkuan: pesan dari Pak Harun, satu alamat awal dan satu baris pendek. Ikuti mobil Pak Felix. Jangan mendahului.
“Lo siap?” tanya Anggit.
“Enggak,” jawab Nadia. “Jalan aja.”
***
Lewat pukul sebelas malam, iring-iringan itu berhenti di sebuah pom bensin di pinggir tol. Dua mobil polisi menepi di ujung area, lampunya dimatikan. Felix turun dari mobilnya, berbicara dengan seorang petugas berseragam gelap, lalu berdiri dengan ponsel di telinga, punggungnya tegak seperti tiang.
Di dalam sedan Anggit, mesin dimatikan. Hening yang ditinggalkannya terasa berat.
“Gue bilang berani tadi,” kata Nadia pelan. Dia merentangkan jari di depan wajah. Jari-jari itu bergetar. “Tangan gue dingin banget, Nggit.”
Anggit melepas jaket tipisnya dan menyampirkannya di bahu Nadia tanpa berkata apa-apa. Lalu dia membuka kantong plastik di dasbor dan mengeluarkan roti sobek setengah habis.
“Makan.”
“Gue nggak laper.”
“Gue juga nggak. Tapi lo sendiri yang bilang lo pingsan kalau laper.” Anggit menyodorkan roti itu. “Makan, atau gue bilang ke Pak Bos.”
Nadia menerima roti itu dan menggigitnya. Rasanya seperti kardus, dan dia menangis sedikit sambil mengunyah, diam-diam.
“Gue takut Gladys kenapa-kenapa,” bisiknya. “Gue pernah nggak suka sama dia. Gue gigit tangannya. Tapi bukan gini maksud gue.”
“Gue tahu.”
“Kalau terjadi apa-apa sama dia karena gue…”
“Karena lo apa? Karena lo nggak suka dia?” Anggit menggeleng. “Nad, yang nyulik Gladys itu Aron. Bukan lo. Jangan nambah beban yang bukan punya lo.”
Ponsel di pangkuan Nadia bergetar. Pak Harun lagi. Polisi menemukan alamat. Rumah kontrakan di pinggiran kota. Tunggu perintah di sini.
Nadia membaca pesan itu dua kali. Di luar kaca, Felix mengakhiri teleponnya dan berbalik, mencari-cari mobil Anggit di antara lampu pom bensin. Ketika pandangan mereka bertemu lewat kaca depan, dia mengangguk satu kali, pendek, dan Nadia mengangguk balik.