Tiga jam menunggu di pom bensin berakhir ketika iring-iringan itu merayap masuk ke gang. Pukul dua lewat sepuluh dini hari, lorong itu sempit dan bau selokan.
Deretan rumah kontrakan berpagar besi berkarat berbaris di kedua sisi, lampu jalannya padam satu-satu seperti gigi ompong. Tiga mobil berhenti di ujung gang dengan lampu dimatikan. Di tikungan, dua petugas berpakaian gelap bersandar pada tembok seolah sedang menunggu kendaraan. Satu lagi berjongkok di balik tong sampah.
Di dalam sedan Anggit, Nadia menempelkan kening ke kaca. Rumah nomor tujuh belas, yang catnya mengelupas, memiliki satu jendela menyala dan bayangan bergerak di baliknya. Di depan pagarnya terparkir sedan abu-abu yang platnya sudah dia hafal.
“Itu dia,” bisik Anggit. “Itu mobilnya.”
“Aku lihat.”
Felix berdiri di samping mobil polisi bersama Pak Harun dan seorang perwira yang berbicara pelan dengan telapak tangan terbuka. Nadia tidak mendengar kata-katanya, tetapi dia melihat Felix menggeleng, lalu Pak Harun menyentuh lengannya dan mengatakan sesuatu. Perwira itu mengangguk, memandang Felix dari atas ke bawah, lalu memberi isyarat pada dua petugas lain.
Felix menoleh ke arah mobil Anggit. Dia berjalan mendekat dan mengetuk kaca jendela Nadia dua kali. Nadia menurunkannya.
“Mereka mengizinkan saya masuk bersama dua petugas,” katanya rendah. “Gladys mengenal saya. Kalau polisi masuk sendirian, dia akan panik.”
“Hati-hati.”
“Kamu tinggal di sini.” Suaranya tidak naik, tidak memerintah. Hampir seperti permintaan yang ditulis dengan huruf tegak. “Tolong.”
Nadia menggigit bibir. “Aku usahain.”
“Itu bukan janji.”
“Aku udah bilang aku nggak bisa janji.”
Felix menarik napas lewat hidung. Lalu, untuk sesaat yang sangat singkat, jemarinya menyentuh punggung tangan Nadia di atas bingkai kaca, hangat, kering, sedikit dingin di ujung. Dia melepasnya dan berbalik.
“Dia bakal ngerjain Aron habis-habisan,” gumam Anggit.
“Dia bakal diem aja,” kata Nadia, “dan itu yang bikin gue takut.”
***
Felix dan dua petugas berjalan menyusuri pagar sebelah. Nadia menahan napas. Pintu rumah nomor tujuh belas diketuk, tiga kali, sopan. Satu detik. Dua. Lalu pintu terbuka dan ada suara laki-laki, rendah dan tenang, seperti orang yang menyambut tamu.
Setelah itu semuanya terjadi dalam sekejap.
“LEPAS!”
Teriakan itu tinggi, pecah, seperti suara orang yang sudah terlalu lama menahan. Nadia mengenalnya sebelum otaknya sempat menamai: Gladys. Disusul suara benda berat terjatuh dan seseorang berteriak “Jangan mendekat!”
Tangan Nadia sudah di pegangan pintu.
“Nad!” Anggit menangkap lengan bajunya. “Dia bilang tinggal!”
“Dia bilang tolong.”
“Nadia—”
“Nggit.” Nadia menoleh. Matanya basah tapi tidak goyah. “Gue nggak bisa duduk di sini. Gue nggak bisa.”
Dia membuka pintu dan berlari. Seorang petugas di tikungan mengangkat tangan dan berbisik keras, “Mbak! Jangan!”, tetapi Nadia sudah menunduk di bawah lengannya dan melesat seperti kucing yang kabur dari kamar mandi. Pagar besi rumah nomor tujuh belas berdecit, pintu depan terbuka separuh, dan di baliknya ruang tamu sempit dengan sofa kulit sobek, televisi menyala tanpa suara, dan satu lampu neon berkedip.
Aron berdiri di tengah ruangan.
Pria yang pernah dia lihat sekilas di rekaman itu lebih tinggi dari yang dia kira. Jaket kulitnya terbuka. Tangan kanannya mencengkeram lengan atas Gladys, jari-jari memutih menekan kulit pucat, dan Gladys menggeliat dengan wajah basah, tidak lagi memakai cardigan krem. Dua petugas berdiri satu meter di depan dengan telapak tangan terbuka. Felix di sebelah kiri, tidak mendekat.
“Aron,” kata Felix pelan. “Lepaskan dia.”
“Dia istri saya.” Senyum Aron masih tenang, dan itu yang paling mengerikan. “Dia pulang sendiri, kan, Sayang? Kamu yang jalan keluar dari rumah itu. Saya tidak memaksa siapa-siapa.”
“Aku… aku nggak…” Gladys tersedak. “Aku nggak mau…”
“Lepaskan dia dan kita bicara di kantor polisi.”
“Tidak ada yang akan bicara di mana pun.” Aron menarik Gladys lebih dekat, dan Gladys memejamkan mata, bahunya turun seperti orang menunggu pukulan. “Saya mau istri saya pulang.”
Nadia tidak sempat berpikir. Dia bergerak dari sisi pintu, dari bayangan di samping lemari, dan menendang sekuat tenaga dengan ujung sepatunya ke tulang kering Aron.
Duk!
Aron mengaum, bukan teriakan sakit tetapi lebih pada kaget, dan tangannya terlepas dari lengan Gladys. Dia menunduk memegang kakinya. Felix bergerak di detik yang sama. Dia menarik Gladys ke belakang punggungnya dengan satu tangan dan mendorong bahu Aron dengan tangan lainnya. Satu dorongan, satu sapuan di mata kaki. Aron jatuh ke sofa dan dua petugas menerkam lengannya.
“Jangan bergerak!”
“Lepas! Kalian tidak punya hak!”
Dari pintu terdengar langkah kaki berdebam, dan Anggit muncul dengan napas tersengal, mengayunkan sebelah sandal jepit di atas kepalanya.
“GUE DI SINI!”
“Mas,” kata salah satu petugas tanpa menoleh, suaranya capek. “Turunkan sandalnya.”
“Oh.” Anggit menurunkan sandalnya. “Maaf.”
Nadia, dengan lutut lemas, merasakan tubuh Gladys jatuh ke arahnya. Dia menangkap bahu wanita itu sebelum lututnya menyentuh lantai. Gladys memeluk lehernya dengan kuat, tubuhnya gemetar, dan tangisnya pecah di bahu Nadia, tanpa suara dulu, lalu bergelombang.
“Maaf,” isak Gladys. “Maaf, maaf, maaf…”
“Udah.” Nadia mengelus punggungnya. “Udah. Kamu aman. Udah.”
“Aku nggak mau ke sini. Aku pikir kalau aku ikut, Bu Gisel…”
“Aku tahu. Aku tahu, Tante.”
Kata itu keluar tanpa pikir panjang, dan Gladys tidak mengoreksinya.
Di sofa, Aron telah diborgol. Wajahnya tidak lagi tenang. Rambutnya acak, matanya liar mencari-cari seseorang, dan akhirnya berhenti pada Gladys yang bersembunyi di pelukan Nadia.
“Kamu pikir kamu bisa sembunyi?” teriaknya. “Kamu pikir kamu bisa kabur kalau tidak ada yang memberi tahu aku di mana kamu?”
“Diam,” kata petugas.
“Teman kamu yang selalu kasih tahu! Dia yang kasih tahu aku kamu di mana! Tanya dia, tanya temanmu itu!” Aron tertawa terbahak, getir. “Mereka bilang aku gila. Tanya dia!”
Dua petugas menyeretnya keluar. Perwira di pintu mengangkat bahu pada Felix, seolah berkata igauan orang yang panik, hal biasa. Felix tidak menanggapi. Dia menatap pintu tempat Aron menghilang, lama, dengan rahang yang tidak bergerak.
Di dalam pelukan Nadia, tubuh Gladys mengeras. Hanya sepersekian detik, seperti tali ditarik dari dua ujung. Nadia mengira dia takut mendengar suara Aron lagi, dan memeluknya lebih erat.
Felix berlutut di samping mereka. Jarak mereka tinggal satu lengan, dan di bawah lampu neon yang berkedip, Nadia melihat urat di pelipisnya masih menonjol.
“Kamu terluka?”
“Enggak.” Nadia menelan ludah. “Kamu?”
“Tidak.” Dia melirik Gladys, lalu Nadia. “Saya bilang tinggal.”
“Aku bilang aku nggak janji.”
“Saya tahu.” Felix menghembuskan napas panjang. “Saya sedang menghitung sampai sepuluh supaya tidak marah.”
“Udah sampai berapa?”
“Tiga.”
Dari dalam pelukan Nadia terdengar cegukan kecil, setengah isak setengah tawa, dan Gladys mengangkat wajah sembab. Felix menepuk bahu Gladys sekali, hati-hati, dan berdiri memanggil petugas medis yang menunggu di luar.
“Teman siapa sih yang dia maksud?” bisik Anggit di belakangnya.
Tidak ada yang menjawab.