Dua hari sesudah rumah sakit, Nadia akhirnya bangun tanpa perlu dibangunkan siapa-siapa. Rekor pribadi. Dia turun ke ruang makan mansion dengan rambut berantakan dan kaus pinjaman Gisel bergambar flamingo, mencari nasi uduk, dan menemukan Pak Harun sudah duduk di meja panjang dengan map tebal dan segelas teh yang tidak disentuh.
“Selamat pagi, Mbak Nadia.”
“Pagi, Pak.” Nadia menarik kursi. “Kabarnya baik atau kabarnya yang bikin saya nggak jadi sarapan?”
“Dua-duanya.” Pak Harun menutup map dengan telapak tangan. “Yang baik: Aron ditahan, dengan dua pasal. Pembawaan paksa dan penganiayaan dalam rumah tangga. Rekaman gerbang, keterangan Bu Gladys, visum, dan keterangan tiga petugas yang hadir sudah cukup untuk penahanan awal.”
“Berapa lama?”
“Itu yang kurang baik.” Pak Harun menyesap teh dingin itu tanpa ekspresi. “Masa tahanan awal terbatas. Dua puluh hari, bisa diperpanjang bila penyidik mengajukan. Pengacara Aron akan meminta penangguhan, dan hakim kadang mengabulkan bila ada penjamin. Kemungkinan terburuk, dalam beberapa minggu dia bebas bersyarat.”
“Terus Gladys?”
“Aman di sini selama Bu Gisel di Jakarta. Tapi kita tidak bisa mengandalkan satu hal itu.”
Nadia meletakkan sendok. Nasi uduk di depannya tiba-tiba kurang menggoda. “Jadi maksud Bapak, ini belum selesai.”
“Ini baru permulaan.” Pak Harun menatap Nadia dari atas kacamata, hangat dan jujur. “Saya tidak mau Mbak mengira kemenangan dua malam lalu berarti bahaya hilang. Bahaya hanya pindah ke tempat yang lebih tenang.”
Dari pintu terdengar langkah sepatu mengkilap. Felix masuk membawa tablet, mengenakan setelan abu-abu, wajah sudah mengeras menjadi wajah bos.
“Pak Harun, terima kasih. Saya sudah membaca ringkasannya.” Dia duduk di seberang Nadia dan menggeser tablet itu ke tengah meja. “Nadia, ini jadwalmu.”
“Jadwal apa?”
“Mulai hari ini sampai situasi aman.”
Nadia menatap layar. Tabel berwarna rapi: 06.30 sopir menjemput di mansion, 07.15 tiba di kantor, 12.00 makan siang di ruang Lucas atau pantri lantai tiga bersama Rere, 17.00 pulang diantar sopir yang sama, lalu apartemen. Jalan kaki dicoret. Ojek dicoret. Mampir ke toko Abang tanpa pengawal juga dicoret. Di bagian bawah, dua baris dalam huruf tebal: Pengawal 1 dan Pengawal 2.
“Dua pengawal?” tanya Nadia pelan.
“Mereka sudah tiba di gerbang pagi ini.” Felix mengetuk layar. “Berseragam biasa, bukan polisi, tidak akan menarik perhatian. Saya yang memilih mereka.”
“Sendirian?”
“Saya yang menyusun jadwal bersama Rere kemarin sore. Lucas juga setuju.”
“Kemarin sore,” ulang Nadia.
“Ya.”
“Waktu aku masih tidur.”
“Kamu perlu tidur.”
Nadia menatap Felix. Lama. Pak Harun mendadak sibuk menekuni mapnya.
“Felix.”
“Hm?”
“Kamu nanya aku dulu?”
Felix menggosok tengkuknya. Matanya turun ke tablet.
“Nggak,” kata Nadia sendiri. “Kamu nggak nanya.”
“Nadia, ini untuk keselamatanmu.”
“Aku ngerti itu.” Nadia mengambil napas, dan kali ini nadanya tidak naik. “Aku nggak keberatan sama pengawal. Aku mungkin setuju sama pengawal, kalau kamu tanya. Tapi kamu udah nulis jadwalku, jam makan siangku, siapa yang nganter aku pulang, dan kamu nunjukkin ini kayak laporan.” Dia menggeser tablet itu kembali ke depannya. “Kita sepakat. Tanya aku dulu.”
“Saya sedang menunjukkan—”
“Kamu sedang memberi tahu. Beda.”
Hening. Di ujung meja, Pak Harun membetulkan kacamata dan memilih menatap tembok. Felix mengepalkan tangan di atas paha, sebentar, lalu perlahan membukanya.
“Saya salah,” katanya.
“Iya.”
“Saya takut.” Dia mendongak. “Dua malam lalu saya duduk di rumah sakit itu dan berpikir bagaimana kalau Aron bebas lagi dan saya tidak tahu kamu di mana. Saya menyusun jadwal itu supaya saya bisa tahu. Itu keliru. Itu jalan pintas.”
“Aku ngerti.” Nadia menggigit bibir. “Tapi ada hal lain, Felix. Aku juga pengin tahu mana yang aku mau, mana yang cuma aku turuti karena itu kamu. Kalau kamu yang nulis, aku bisa langsung bilang ‘ya’ tanpa mikir. Dan itu yang bikin aku takut.”
Felix tidak menjawab. Tetapi Nadia melihat sesuatu di wajahnya bergeser, seperti orang yang menemukan angka di kolom yang salah.
“Saya batalkan,” kata Felix akhirnya. Dia menghapus tabel itu dengan satu usapan jari. “Semuanya. Saya tanya dari awal. Kamu mau pengawal atau tidak? Bagaimana caranya kamu merasa aman? Dan apa yang kamu mau di jam makan siang?”
Nadia mengerjap. Dia tidak menyangka sepenuhnya. “Sekarang?”
“Sekarang.”
“Aku… mau satu pengawal. Bukan dua. Yang nggak pakai kacamata hitam.”
“Satu pengawal tanpa kacamata hitam,” ulang Felix serius, mencatat.
“Dan makan siang di kantin. Sama Anggit.”
“Kantin.”
“Dan sesekali aku boleh jalan kaki ke toko Abang kalau siang. Tapi aku kabarin dulu.”
“Kabari saya. Bukan izin.” Felix menekan tombol simpan. “Saya mengerti bedanya sekarang.”
“Belum sepenuhnya.”
“Belum,” akunya. Sudut bibirnya naik. “Tapi sedang belajar.”
***
Siang itu kantin lantai satu seperti biasa: bau gorengan, dentang sendok, dan Anggit yang menyuap nasi sambil bercerita tanpa jeda. Di meja seberang, seorang pria berbadan lemari duduk menghadap pintu dengan sepiring gado-gado yang dia santap seperti menjinakkan bom. Tidak ada kacamata hitam. Hanya topi baseball yang ditarik rendah.
“Itu pengawal lo?” bisik Anggit.
“Iya.”
“Dia pesen gado-gado, tapi nggak ngambil kerupuknya. Kenapa?”
“Mungkin takut bunyi.”
“Gila. Pengawal profesional itu kerupuk aja dicurigai.” Anggit mengangkat gelas teh ke arah pria itu. Pria itu mengangguk sekilas tanpa mengubah ekspresi, dan Anggit menurunkan gelasnya dengan hormat. “Lo tahu, Nad? Gue ngerasa lagi nonton film mafia versi kantin.”
“Gue ngerasa lagi bayar utang makan siang,” sahut Nadia.
“Utang apa?”
“Ponsel. Gue tetep inget. Hari ini gue yang traktir.”
“Gue ikhlas, serius.”
“Nggak boleh. Utang itu penting buat Tuhan.”
Anggit menatapnya, lalu memegang dadanya seolah tersentuh. “Lo bukan Nadia. Lo Nadia versi dewasa. Tolong balikin Nadia yang gue kenal.”
Nadia menendang kaki kursinya pelan, dan pria berbadan lemari itu menegang sepersekian detik sebelum menyadari ancamannya hanya lelucon.
***
Sore itu langit mendung. Gladys duduk di teras belakang dengan selimut tipis di bahu dan secangkir teh yang uapnya tipis. Perban di lengan atasnya sudah diganti plester kulit. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya lebih jernih daripada dua malam sebelumnya.
“Nad.”
Nadia, yang melintas membawa sepiring pisang goreng, berhenti. “Hm?”
“Duduk sebentar, kalau tidak sibuk.”
Nadia menaruh piring di meja rotan dan duduk di ayunan. Ayunan itu berderit. Untuk beberapa detik hanya ada suara jangkrik sore.
“Aku nggak pantas bilang ini,” kata Gladys pelan, tanpa menatap. “Setelah semua yang kulakukan padamu, setelah pesta itu, setelah aku bilang aku tidak datang untuk merebut apa-apa padahal aku datang membawa banyak urusan. Tapi aku mau bilang terima kasih.”
“Tante—”
“Dengarkan dulu.” Gladys menoleh. Matanya basah, tapi suaranya mantap. “Waktu Aron mencengkeram lenganku, aku sudah pasrah. Aku sudah memutuskan menerima apa pun supaya Bu Gisel tidak kena. Lalu ada seseorang menendang tulang keringnya. Dan seseorang itu kamu. Wanita yang kupanggil bocah, yang kuremehkan, yang kupikir hanya anak magang manja.”
“Aku emang anak magang manja.” Nadia menyeringai. “Tapi kakiku kuat.”
Tawa Gladys pecah, pendek dan basah, lalu berubah menjadi tarikan napas yang berat.
“Aku tidak tahu bagaimana membalasnya.”
“Tante nggak perlu balas.” Nadia mengambil sepotong pisang goreng dan menyodorkannya. “Makan aja. Tante kurus. Kalau Aron nongol lagi, Tante harus kuat lari.”
Gladys menerima pisang goreng itu dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang terlalu berharga untuk digigit. Dia menggigitnya kecil-kecil. Nadia memperhatikan, dan untuk satu kali ini tidak ada rasa curiga di dadanya, hanya sesak yang dia tidak bisa namai.
“Enak,” bisik Gladys.
“Iya. Aku yang pilih.”