“Dia udah di situ satu jam,” bisik Anet dari celah pintu unit B. “Berdiri doang. Kayak patung toko.”
Yang dia maksud adalah Felix Caralos, yang berdiri di lorong lantai atas dengan tiga kantong belanja, menghadap pintu unit A seperti tukang sales yang tidak diizinkan masuk. Nadia melihatnya dari ujung lorong, baru saja keluar dari lift. Di belakangnya, pengawal bertopi baseball yang sejak Jumat selalu mengikutinya berhenti tiga langkah dan memilih menekuni dinding. Pria itu baru mengantarnya pulang dari mansion, dan tadi siang di mansion, sebelum Felix berangkat, Nadia sendiri yang bilang kepadanya: boleh datang membawa makan malam, tapi jam enam, bukan jam lima seperti yang Felix minta.
“Kak Anet,” desis Nadia, “kamu ngapain?”
“Nonton,” kata Anet tanpa malu. “Tadi aku tawarin kursi, katanya nggak usah. Tadi aku tawarin teh, katanya terima kasih. Terus dia berdiri lagi.”
“Aku bilang jam enam,” kata Nadia, mendekat pada Felix.
“Saya datang lebih awal.”
“Satu jam lebih awal.”
“Saya takut macet.” Felix menatap sensor di pintu, lampu kecilnya menyala merah. “Dan aksesnya masih diblokir.”
Nadia menatap sensor itu. Dia menatap Felix. Di belakang mereka, pintu unit B menutup perlahan dengan bunyi klik yang sangat disengaja.
“Kenapa kamu nggak telepon?”
“Kamu bilang jam enam.” Felix berkata dengan wajah serius seolah itu penjelasan yang masuk akal. “Saya tidak mau memaksa.”
Nadia menekan jari ke sensor. Lampu merah berubah hijau, dan pintu terbuka. Dia mengambil dua kantong dari tangan Felix, dan Felix tidak membantahnya.
“Masuk.”
***
Apartemen Nadia tidak dirapikan. Sepatu bertebaran dekat pintu, bantal sofa berserakan, selimut flamingo menggantung di lengan kursi, dan di meja makan ada tiga bungkus mi instan serta satu bungkus snack yang sudah bolong. Felix berdiri di ambang dapur, melihat kulkas yang dia buka, lalu menutupnya pelan.
“Isi kulkasmu tiga botol saus dan satu telur.”
“Telurnya masih bagus.”
“Itu tanggal kedaluwarsanya empat hari lalu.”
“Berarti masih bagus tiga hari lalu.”
Felix memejamkan mata sebentar dan mulai membuka kantong belanja. Ayam, jahe, bawang, kecap, kangkung, tahu, dan dua kotak es krim yang langsung dia selipkan ke freezer. Nadia duduk di kursi bar dan memangku dagu di kedua tangan. Pengawal itu sudah dia suruh duduk di lobi dan disuguhi kopi oleh satpam, dan setelah dua hari dia akhirnya merasa bernapas tanpa dipantau.
Suara pisau bertemu talenan terdengar teratur. Aroma jahe dan bawang putih memenuhi dapur.
“Kamu tahu,” kata Nadia, “kamu masak lebih rapi daripada aku mikir.”
“Memasak itu cuma instruksi.” Felix menumis tanpa menoleh. “Kamu tahu apa yang tidak bisa dibuat dari instruksi?”
“Apa?”
“Kamu.”
“Itu pujian atau hinaan?”
“Saya belum memutuskan.”
Nadia melempar bungkus snack kosong ke punggungnya. Felix menangkap tanpa menoleh dan membuangnya ke tempat sampah dengan satu gerakan.
Mereka makan di meja kecil, nasi hangat, ayam kecap jahe, tumis kangkung yang berkilau, dan tahu goreng yang terlalu renyah untuk dianggap sederhana. Nadia menghabiskan dua piring tanpa bicara. Felix memperhatikan, tidak menghitung, tidak mengomentari, hanya menambahkan nasi setiap kali piringnya hampir kosong.
“Syarat ketigaku masih berlaku,” kata Nadia sambil mengunyah. “Gladys harus punya rencana pindah.”
“Saya tahu. Saya tanyakan pada Pak Harun.” Felix menuang air putih untuknya. “Beliau bilang Gladys tetap di mansion sampai sidang Aron selesai. Terlalu berbahaya sendirian. Gladys sendiri yang minta begitu, sebelum saya sempat bilang.”
“Dia minta?”
“Dia bilang tidak mau jadi beban dua kali.” Felix menggeleng pelan. “Saya bilang dia tidak pernah jadi beban. Dia tidak percaya.”
“Kasih waktu.” Nadia menyendok nasi lagi. “Orang yang bertahun-tahun dikasih tahu dirinya salah nggak bisa langsung percaya dalam semalam.”
Felix menatapnya dengan sesuatu yang lembut dan sulit dibaca. “Kamu bicara seperti Sandra.”
“Aku bicara kayak orang yang lagi makan kangkung. Enak banget, by the way.”
“Terima kasih.”
“Lucas akan menyebar undangan perpisahannya minggu ini,” kata Felix setelah beberapa waktu.
“Jumat dua minggu lagi, kan?”
“Jumat itu. Sesuai tenggat Om Bram.” Dia meletakkan sendok. “Saya akan bicara di sana. Di depan semua orang.”
Nadia menaruh sumpitnya.
“Saya mau menanyakan sesuatu,” lanjut Felix, tangannya terlipat di atas meja. “Bukan memberi tahu. Kamu siap?”
“Siap buat apa?”
“Dilihat. Ditunjuk. Dijadikan cerita.” Dia berhenti sebentar. “Setelah malam itu, tidak ada lagi tempat bersembunyi. Termasuk saya.”
Nadia memandang piringnya yang kosong. Hatinya bergetar kecil, bukan takut, bukan juga yakin.
“Aku siap,” katanya pelan. “Tapi aku punya satu syarat.”
“Katakan.”
“Jangan umumkan aku sebagai korban yang diselamatkan.” Nadia mengangkat wajah. “Aku bukan tokoh yang kamu angkat dari rumah penculik. Aku bukan trofi dari kejadian minggu ini. Kalau kamu berdiri di panggung itu, aku mau kamu bilang aku pasangan kamu, karena aku pilihan kamu dan kamu pilihan aku. Bukan karena kamu nolong aku.”
“Kamu yang menolong,” kata Felix pelan. “Malam itu, bukan saya.”
“Kamu juga masuk.”
“Saya masuk bersama dua petugas. Kamu masuk sendirian.” Dia menatap tangannya sendiri. “Tapi saya mengerti. Syaratmu diterima.”
Nadia mengangguk. Rasanya seperti menahan sesuatu yang berat lalu diangkat.
“Boleh nambah syarat?”
“Silakan.”
“Aku mau es krim rasa mangga. Sekarang.”
Felix berdiri, membuka freezer, mengeluarkan satu kotak, dan meletakkannya di depan Nadia dengan sendok bersih.
“Kamu sudah memikirkan ini,” kata Nadia.
“Mangga. Kamu selalu memilih mangga lebih dulu.” Felix kembali duduk. “Saya hafal.”
Nadia tertawa sampai sendok es krimnya hampir jatuh.
***
Pukul sembilan, bel pintu berbunyi dua kali, pendek, ragu. Felix berhenti mengelap piring. Nadia membuka pintu dan menemukan Anet berdiri membawa sepiring jeruk kupas, dengan wajah paling tidak bersalah yang pernah dipakai manusia.
“Aku cuma ngasih jeruk.”
“Kak Anet.”
“Buat Pak Felix juga. Eh, kalau beliau mau.” Anet menjulurkan leher melewati bahu Nadia. “Pak, masakannya wangi sampai unit sebelah. Anggit sampai nanya, itu bau masakan atau bau cinta.”
“Anggit bilang begitu?” tanya Felix datar dari dapur.
“Anggit bilang itu sambil nangis,” kata Anet khidmat. “Tapi ini jeruknya. Daah!”
Pintu menutup. Nadia dan Felix berpandangan dalam diam yang sempurna.
“Saya mulai paham kenapa Lucas membenci kuman,” kata Felix akhirnya. “Gosip lebih menular.”
“Kamu baru sadar?”
Pukul sembilan lewat sepuluh, Felix berpamitan di ambang pintu. Dia menatap sensor sebentar, jemarinya terangkat setengah, lalu turun lagi.
“Boleh saya bertanya?”
“Tanya aja.”
“Kapan saya bisa masuk tanpa mengetuk?”
Pertanyaan itu menggantung di lorong. Nadia menggigit bibir.
“Belum sekarang,” katanya jujur. “Tapi aku nggak bilang nggak.”
“Itu cukup.” Felix mengangguk. “Selamat malam, Nadia.”
“Malam, Felix.”
Dia menutup pintu, bersandar sebentar, dan berjalan ke jendela besar yang menghadap jalan. Dari lantai atas, mobil hitam Felix keluar dari halaman dan menyatu dengan lampu-lampu jalan. Di bawah, pengawal bertopi baseball berdiri di dekat pos satpam. Nadia menyalakan lampu kamar, menarik tirai setengah, dan mengambil ponsel.
Di seberang jalan, di bawah pohon yang lampunya mati, sebuah mobil putih terparkir dengan mesin padam. Kaca jendela pengemudi turun dua jari. Asap tipis keluar dari celah itu.
Pria di dalamnya duduk tanpa bergerak. Wajahnya setengah terang oleh cahaya ujung rokok, dan matanya terarah pada satu jendela di lantai atas, tempat lampu kamar baru saja menyala. Dia memandangnya lama. Tidak ada ekspresi di wajahnya; hanya mata yang berkedip sesekali.
Evan menekan puntung rokoknya ke asbak mobil. Lampu kamar Nadia padam sepuluh menit kemudian, dan baru saat itu dia menyalakan mesin.