Malam, di bawa langit yang gelap gulita di terangi cahaya bulan, seorang perempuan duduk di halaman belakang rumahnya menikmati api bakar yang menghangat kan tubuh dari dingin nya angin malam
disini Alina sendiri duduk menatap api yang menyala itu, tiba tiba di dalam lamunannya
dia di kejutkan oleh sang ibu, "lagi mikiran apa? kok dalam banget mama liatnya" ujar sang ibu
yang bernama krisa, sembari duduk di sebelah anaknya, namun hanya di balas gelengan, dari alina, "kamu mikirin apa yang oma bilang tadi pagi?" kali ini di balas anggukan.
FLASHBACK ON
"Kamu nggak ada niatan mau menikah?"
tanya oma alina, yang duduk di hadapannya dekat ruang tamu, "hmm" angguknya kembali
dengan senyuman, "Maksud oma, oma pengen liat kamu nikah, kamu cucu oma satu satunya, ntar oma udah nggak ada nggak bisa lagi liat kamu menikah" ujarnya, kedua orang tua alina hanya menggeleng dengan ucapan mbah lastri itu sudah berpuluh kali oma nya alina bertanya kapan alina mau menikah
"Oma jangan ngomong kayak gitu, iya iya nanti alin nikah yah sekarang alin nggak punya pasangan" jelas sang cucu, ada rasa sedikit
kasian dengan omanya, maklum lah oma nya sudah tua lagipun alina hanya cucu satu satunya, benar kata omanya,
"oma punya kenalan yang anaknya belum nikah cocok sama kamu, dia anak dari keluarga berada ganteng lagi di tambah kamu jadi cocok, kamu pikirin aja dulu nanti kalau udah nemu jawaban kasih tau oma yah"
Hanya senyuman dan anggukan di berikan,
"kalau itu yang bisa bikin oma bahagia aku akan turuti".
FLASHBACK OFF
"mama nggak ngemaksa kamu, terserah kamu aja asal jodoh mu tepat maka papa sama mama restui" alina menatap ibunya sejenak lalu memeluknya, "makasih ma alin udah punya keputusan sendiri" ucap nya di dalam pelukan.
Jam 12:00 malam, alina mematikan laptopnya setelah selesai menonton drama favoritnya, dia menarik selimut hingga ke paras d**a nya, "baiklah selamat malam dunia" lalu ia memejam kan mata, dan akhirnya tertidur.
sementara itu di sebuah rumah besar layaknya istana, 1 ahli keluarga berkumpul di meja makan bersama, "kapan kau menikah??" tanya seorang wanita tua, bernama ros, "ma..",
"tidak yah!, aku sudah bilang jodohkan saja dia dengan fia!, tapi kalian bandel nggak mau dengarin!"
marah ros, "ma..fia itu bukan perempuan bagus bagus, kita carikan saja yang lain" kata kayla, ibu kepada Devin itu menenangkan mertuanya, "devin..nenek udah tua kamu nggak kasian kah sama nenek?, mami sama papi juga pengen punya mantu..apalagi cucu.." ujar sang ibu pada devin
devin yang dari tadi hanya duduk dan diam dia menatap drama nenek ibu dan ayahnya, yang tidak habis habis tentang menantu, cucu, jika pertanyaan itu hanya sekali di katakan, maka otaknya akan tenang, ini kan sudah beratus kali bertanya 'KAPAN KAMU NIKAH??'
BRUK..
"mama!" panik ibu devin begitu mertuanya itu pingsan tiba tiba, "ma..call ambulans!! buruan!" di ikuti dengan ayah devin, entah sedang berakting atau memang benar neneknya itu pingsan, "yaudah perjodohan" ucap devin lalu beranjak pergi, memasukkan tangannya ke saku celana, "aiyaa.. aku tiba tiba jadi segar gini yaudah mama mau tidur dulu besok mau ke rumah teman"
Anaknya dan menantunya justru, kaget dikira mereka mertua/ibu, nya itu memang beneran pingsan akibat kepepet mau cucunya nikah.
"hati ku senang...cucuku mau di jodohkan...eeaa".
Pagi menjelma, suara burung kakak tua terdengar membangunkan babunya
"hoaamm" alina mengusap usap matanya mengikat rambut panjang sesiku, lalu berjalan menuju kamar mandi.
TING TONG..TING TONG
"ya sebentar" sahut lastri begitu ada yang menekan bel rumah, "Siap_ ehh jeng masuk masuk" ajak lastri membuka pintu pagar berwarna hitam itu, "ayo masuk dulu, astaga jeng masuk masuk", kata lastri, "wija.. bikinin air ada tamu ini" titah lastri pada menantunya itu, "iya ma" sahut ibu alina dari dalam dapur
"makk ehh, besar nya rumah mu ini ya" kata ros melepas kaca mata pink meronanya itu, lalu duduk di sofa yang empuk, "iya rumah nya alina ini bukan rumah ku" jelas lastri
"ini ma minumnya, ehh bu ros?" kaget wija, tidak di sangka nya teman emaknya mertuanya itu datang benaran, ros hanya senyum lalu memeluk wija, "kok nggak kabarin datang kan wija bisa masak enak" ujar wija, melepas pelukan dan duduk di sofa sebelah mertuanya
"alahai, nggak usah, repotin aja tujuan ku kesini mau bahas soal itu lah, anak mu dan cucuku si devin" sudah seperti ibu ibu prepare persiapan makanan sebelum gosip, di tengah ros menjelaskan
Bolak balik lastri membawa makanan dari dapur, "Banyak kali ini kau pikir perut ku muat makan nya??" kata ros, melihat setumpuk snack, peyek, kueh lebaran, kueh china di atas meja itu
"alah jeng sekali sekala, hmm mau bahas apa?" tanya lastri merobekkan snack ciki itu,lalu di masukkan ke mulut "hmm ma, ingat kesehatan jangan berlebihan" tegur wija melihat mertuanya dengan lahap memakan snack ciki
"nggak deh sekali sekala"
degil lastri melanjutkan makannya, "begini, tujuan ku kesini mau bahas soal cucu mu dan cucuku."
di tengah pembicaraan mereka bertiga, alina yang mau turun ke dapur untuk minum membahaskan tenggorokan nya, dia tak sengaja menguping pembicaraan para orang tua itu. dia kembali ke kamarnya menutup pintu menghempaskan diri di kasur nya yang nyaman itu
"menikah? perjodohan? ahhh kepala ku pusing" batinya alina, sembari mengacak ngacak rambutnya, TOK TOK TOK. "alin..mama masuk yah" tanya wija, membuka pintu kamar anaknya itu
"ada apa ma?" tanya kembali alina yang berpura pura tak tau, dan merapikan kasurnya
"itu ada tamu di bawa nek ros mau ketemu kamu katanya" DEG 99x lebih cepat berdetak jantung alina, tanganya mulai berkeringat apakah dia harus turun?? atau hanya berkurung?.
nope akhirnya dia memilih turun,
"alin! sini ini salim nek rok eh ros maksudnya" tertawa kedua orang nenek itu, sedang alina berdebar, "cantik kali anak mu ini ija!, udah punya pacar kamu?" DUARR, belum lagi duduk nek ros langsung to the point
"hah?, hmm nggak punya" alina sudah terbiasa dengan pertanyaan begitu sudah seperti makanan sehari harinya, "begini..saya mau jodohin nak lina dengan cucu saya"
tak kaget tak ada respon tak ada ekspresi ingin menangis marah kesal, dan hanya ada senyuman seadanya dari alina, "ya tau, terus aku harus gimana harus ngomong apa?" batin alina dengan beribu pertanyaan
dia duduk di sebelah nek ros, "hmm alina..." dia menatap omanya dan mama nya, secara bergantian, kedua mata orang itu sudah seperti puppy yang bercahaya, alina yang merasa kasian dan rasa bersalah kalau menolak, dia memandang nek ros
"bisa bagi alina masa nggak nek?" tanya alina, di sertakan dengan senyumannya, "bisa bisa aja, kalau udah tiba masanya kamu mau terima perjodohan ini dengan senang hati nek ros terima" seperti tertanam harapan nek ros di diri alina, berharap supaya dia menerima.
 ̄ ̄
"ada apa dengan mu bro apa pesta ini kurang menarik?" tanya kerel, sepupu devin, mereka ada di pesta sekarang, lebih tepatnya di club.
"Kau pernah di jodohkan?" tanya kembali devin memukar topik "hmm tidak, kenapa?" dari wajah devin kerel bisa melihat sepupunya itu mengalami masalah tentang topik barusan perjodohan, "kau mau di jodohkan?? dengan siapa??" dari pertanyaan yang penasaran itu
kerel mendapatkan tatapan tajam yang ingin membunuh dari sepupunya, "eitss baiklah, perjodohan itu mungkin bagi setengah orang ada yang membencinya, karna yah di jodohkan dengan orang yang tak kita cintai, apalagi kenali, ada juga yang menerima, karna mereka tidak lelah mencari pasangan hidup, yah menurut ku begitu" jelas kerel.