"lu kenapa sih, pusing?" tanya nila sahabat sejati sehati sejiwanya alina, " iya dikit sih" jawab nya, walau sebenarnya pusingnya banyak, dua hari dia tidak masuk kerja memikirkan jawaban apa yang mau ia berikan pada nek ros tentang perjodohan itu
"udah udah, gue hantarin lu pulang aja nggak usah terlalu mikirin nanti bisa stres lu, udah ayo" mereka pun keluar dari cafe, menuju mobil nila. "makasih ya nil, masuk dulu yah dah" setelah di hantar pulang nila alina langsung masuk ke dalam rumah merebakan tubuhnya ke sofa
"Ahhhh stres" batinnya dia mengacak acak rambutnya, gimana tidak stres kata kata nek ros masih menghantui nya 2 hari 2 malam dua jam 2 detik 2 saat, fikirannya makin berantakan sekarang tidak di terima serba salah nerima pun serba salah
"Dari mana kamu?" tanya wija tiba tiba muncul di belakang alina, "ini dari cafenya nila" jawab alina, sambil membenarnya rambutnya yang berantakan, "nggak kerja? cuti?" tanya kembali ibunya, lalu duduk di samping alina
"hmm iya.. alin naik dulu yah" jawabnya tanpa basa basi dia naik ke atas, terlihat di dari wajah putrinya yang cantik itu keletihan, wija hanya menghela nafas lembut.
JAM 7:00
Alina yang duduk di meja riasnya itu memandang cermin yang ada di hadapannya lalu berkata, "okay lin keputusan sudah bulat! kau pasti bisa!" kemudian memakai blush on tipis tipis di pipinya, TOK TOK TOK.
"udah siap lin?, ayo udah di tunggu pak supir itu" panggil wija dari luar pintu, "iya ma" dia bangun dari duduknya lalu membuka pintu terlihat lah sosok sang ibu yang cantik sama seperti alina, berdiri menunggu putrinya
"Gaun mama cantik banget..." pujinya dengan iklas memang gaun pilihan emak emak tuu cakep semua, "gaun kamu juga, yaudah yuk udah nggak ada ketinggalan kan?" alina menggeleng dan mereka turun ke bawa menuju parkiran mobil.
SATU JAM LALU
"alina, lin" panggil wija berlari ke kamar anaknya itu, "hah iya ma kenapa??" tanya sang anak begitu membuka pintu kamarnya, " buruan kamu siap, kita di undang makan malam ama keluarganya nek ros" jelas wija pada anak perempuan nya
"hah??, malam ini?? jam berapa??" tanya alina mengambil handuk nya buru buru, "jam 7:30 yaudah cepat gih buruan mama juga mau bersiap" kata wija.
sesampainya di mansion milik herson, mobil mereka terparkir di area parkiran mansion itu, luas jangan di tanya lagi, mereka berjalan ke arah pintu mansion itu berada
omanya lina opa nya lina orang tuanya lina juga lina, hanya mereka yang datang.
sungguh menjelaskan dengan kata kata saja susah, begitu masuk, rasanya ada puluhan pelayan di dalam mansion itu tersusun rapi menyambut kedatangan tamu
mereka yang melangkah masuk itu shok
sudah seperti di keluarga kerajaan saja
"silakan ikut saya" ujar sang pelayan wanita itu, memandu arah
tak jauh tak dekat juga, mereka sudah tiba di meja makan ruang keluarga, ada banyak keluarga devin yang datang namun hanya sikit keluarga alina yang datang, pelayanan di mansion itu mengalahkan hotel 10 bintang
bahkan mau duduk saja, di keluarkan kursi lebih dulu baru duduk, wahh orang kata emang beda, "siapa cewek itu??!" semua mata tertuju pada alina, tak salah dia memang menawan malam ini
dari wajahnya, gaunnya berwarna hitam yang elegan dan terkesan mewah, gaya rambutnya yang simple tapi terlihat mahal,
"nona cantik siapa nama kamu?" tanya ibu devin pada alina, suasana sepi itu memecah seketika, apabila alina senyum
"buset... senyumannya"
"mimisan gua"
"duhh neng udah neng iman abang nggak kuat"
"nama saya alina andrea" ucapnya, suasana tak sunyi krikk seperti tadi di awal sekarang mereka berbisik bisik, seperti bisik bisik tetangga, "Namanya cocok yah sama orangnya" alina hanya senyum mengangguk, dan menjawab semua pertanyaan dari keluarga itu sudah seperti di interview ya
"Cih" dengus devin, menatap alina lalu menjeling nya entah apa masalah pria itu tak ada angin ribut taufan, tiba tiba kesal sendiri
"eih! sopan kamu calon istri itu!" tegur sang nenek, memukul paha cucunya
"maaf yah emang anak ini begini sifatnya soalnya bapaknya juga gitu dulu, makanya saya mau jodohin ke alina pasti bisa kan jinakkan?" devin dan alina menatap kaget, dan semua ketawa ketiwi, entah apa yang lucu alina juga tidak tau
makan malam megah itu berlangsung hingga jam 9 malam, takda gangguan dari siapa pun dan damai, hanya saja alina merasa bersalah melihat devin tidak menyukai kedatangan nya.
2 minggu telah berlalu kini alina akan memberi tahukan keputusannya sendiri, cukup lama namun memanh begitu nyatanya nikah dari perjodohan tak senang seperti memasukkan benang di jarum, "iya saya setuju" bermula dari kata setuju kini alina dan devin sudah berada di pelaminan yang megah dan mewah itu
"sial, berapa lama lagi aku mau menunggu?!" cetus devin di dalam hatinya, dia tidak suka dengan alina, bersama di atas pelamin, entah kenapa alina dapat merasakan yang devin itu tak nyaman dengan nya, "Tuan kalau mau istirahat bisa duluan biar saya yang salaman dengan para tetamu"
ujar alina, jika di teruskan bersama di atas pelamin mungkin akan terkesan seperti pasangan bohongan, tak mengapa lah biar lah alina yang sibuk hari ini, "hmm aku butuh istirahat" lalu dia turun ke belakang meninggalkan alina yang masih di atas pelamin
seperti mempelai wanita yang kehilangan mempelai pria saat ingin menikah.satu persatu orang di salam nya, hingga habis, baru lah dia bisa duduk istirahat meminum air putihnya, ehh tau taunya datang lain sekeluarga, bukan sekeluarga sedesa ini datang
"kamu biarin istri kamu di pelamin sendiri?! kamu nggak kasian ke dia?!!" kesal sang ibu pada anaknya itu devin, dia main hp di dalam kamar bersantai berbaring sedang alina berdiri menyalam mengambil foto tak henti dengan para tetamu
"dia yang nyuruh devin turun istirahat yaudah biarin lah" jawab devin, memainkan ponselnya,
"kamu yah! hmph" ibunya pergi dari kamar itu dia tak habis pikir bagaimana bisa lah putra nya sebegitu sekali.
"lin lu nggak cape berdirikah? yuk makan dulu" ajak teman teman nya alina. ziya, nila,laura
"tolong ambilin gue aja yah thanks" balasnya sudah seperti penjual yang pembelinya datang tak henti, "yaudah tunggu yah".
Jam sudah menunjukkan pukul 2 tengah hari, akhirnya selesai juga acara resepsi pernikahan HERSON DEVINO & ALINA ANDREA. yang bermula jam 10 pagi tadi, "alina, jaga diri kamu baik baik yah? kapan kapan datang kesini" ucapan perpisahan wija pada putrinya yang akan ikut suami di sertai air mata
"iya, titip kitty yah, oma opa, papa alina pergi dulu" di cium nya pipi mereka, lalu menarik koper nya, naik ke mobil alpha milik devin itu
"mulai hidup baru kau pasti bisa alina" batin alina, dia duduk di samping devin sementara kedua orang tua devin ada di depan
"alina nanti kamu tinggal di rumah mami dulu ya, rumahnya devin masih berantakkan belum lagi mau di renovasi" jelas kayla pada menantu yang baru selesai menikah itu